5. Pantai

1943 Kata
“Sayang, kalau kamu ingin memiliki muka dua, setidaknya buat salah satunya terlihat cantik” Marilyn Monroe   Mereka berempat berjalan menyusuri pantai sekitar hotel menikmati sunset , Rachel menggelayuti lengan Rendy sangat mesra, mereka berjalan lebih dulu sehingga menciptakan jarak yang cukup jauh antara mereka. Sementara Lani dan Bayu berjalan bersisian berbincang tentang pekerjaan sesekali tentang kehidupan pribadi mereka. Lani sedikit mendekat ke arah pantai hingga kakinya tersapu ombak. Tiupan angin memainkan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Wangi shampoo tercium dari rambut Lani. “Cantik” Ucap Bayu sementara matanya tidak lepas dari wajah Lani. “Iya cantik, Pak Bayu suka liatin sunset juga?” Lani tersenyum ke arah Bayu dan menyelipkan rambutnya yang menutupi wajahnya yang terkena terpaan angin, Ia tidak sadar bahwa yang Bayu puji itu dia bukan sunset. “Bukan sunset yang cantik, Kamu” “Eh?” Lani mengerjapkan matanya bingung hingga menambah kesan cute  “Pak Bayu ini punya stok gombalan berapa sih? Ga abis-abis” Lani tertawa renyah tidak menanggapi serius ucapan Bayu. “Gombal? Menurutku ini bukan gombal, tapi fakta” Bayu menggeser badannya dengan tangan sedekap di d**a menghadap Lani. Lani mendorong bahu Bayu pelan. “Kalo Pak Bayu gombal terus nanti saya jadi GR nih” Lani kembali menatap ke arah pantai. Bayu tertawa mendengar ucapan Lani, menambah kesan ramah pria ini. Bayu memang tidak sedang merayu Lani, ia hanya mengatakan apa yang ada di kepalanya saja. Kebetulan dia juga baru putus dengan pacarnya sebulan lalu, jadi sah-sah saja dia menggoda Lani menurutnya. Ya itu karena dia belum tahu kalau Lani sudah pacar. Rendy dan Rachel menghampiri Bayu dan Lani, Rachel cemberut sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang sedikit basah sepertinya ia jatuh di pantai. “Sayang, baju Aku basah semua, ini gara-gara anak-anak ga jelas tadi lari-lari di pantai” Ia menarik-narik lengan Rendy sambil ngomel-ngomel sendiri. Jika dengan bawahannya wajah Rendy terlihat datar tidak dengan Rachel Ia sangat lembut dan ramah. “Iya Sayang, sebentar yah Aku mau ajak  Bayu dulu” Rachel melepaskan pegangannya karena enggan dekat-dekat dengan Bayu. Ia memang tidak suka terlalu dekat dengan Bayu karena Bayu dengan terang-terangan menolak hubungannya dengan Rendy. “Ayo balik ke hotel” ucap Rendy pada Bayu dan Lani. “Lo duluan aja, Gue masih mau di sini sama Lani” Bayu mengusir Rendy, Rendy melirik ke arah Lani masih dengan wajah datarnya, hebat bener nih orang bisa ngerubah muka dalam waktu beberapa detik. Lani membatin tanpa sengaja memainkan bibirnya. “Kenapa?!” Rendy menatap Lani karena melihat Lani seperti bergumam tentang dia, tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada anak-anak yang berlari-lari menuju arah mereka, karena posisi Lani dan Rachel bersisian anak-anak itu menerobos di antara mereka, Lani terjerembab tapi ditangkap Rendy dengan pose Rendy memeluk Lani, tercium perpaduan aroma mint dan maskulin dari tubuh bosnya, mereka saling mengunci tatapan sekian detik sampai ada suara memecah tatapan mereka berdua. “Sayanggg, Kamu kok malah nangkep Dia sihhh” Lani menegakan tubuhnya kembali, Rendy melepaskan pelukannya cepat hampir saja Lani terjatuh kalau tidak sigap. Melihat adegan itu membuat Rachel bertambah dongkol, Rachel mengibaskan pasir yang mengotori tangannya. Rupanya Rachel ikut terjatuh untuk yang kedua kali tertabrak anak tadi, tapi karena Rendy berada di sebelah Lani mau tidak mau Ia menangkap Lani. “Maaf sayang, Kamu gapapa?” Rendy mengulurkan tangannya, Rachel menarik tangan Rendy tapi lagi-lagi anak kecil tadi berlari melewati mereka.“Woi, kalo lari-larian jangan nabrak-nabrak orang!” teriak Rendy kesal, anak kecil tadi berhenti membalikan badan lalu tertawa-tawa menunjuk Rachel dan memeletkan lidahnya. Rachel berdiri menghentakan kakinya di pasir, Ia hendak mengejar anak-anak itu tapi di tahan Rendy, karena kesal Ia menghentakan pegangan Rendy berlalu meninggalkannya, sepertinya ngambek. Bayu tertawa lepas setelah Rendy dan Rachel pergi, Ia memang tidak terlalu suka dengan pacar sepupunya itu, terlalu matre dan memanfaatkan Rendy. Semua barang yang Ia pakai itu dibelikan oleh Rendy, menurut Rendy itu hal yang wajar menyenangkan wanitanya, apalagi hubungan mereka sudah cukup lama. Tapi tidak untuk Bayu, kesan memanfaatkan terlalu kentara bagi orang yang melihatnya. “Ish, Pak Bayu jahat banget ngetawain Rachel, kasian loh Pak” Bayu menghentikan tawanya menatap Lani. “Kamu ga papa?” “Ya gak papa Pak, kan tadi Saya ditangkap Pak Rendy” ucap Lani sambil menendang-nendang ombak yang dateng, kurang kerjaan banget ya Lani ombak ga salah apa-apa di tendang-tendang. “Iya, coba Saya yang disamping Kamu, pasti Saya yang tangkap” ucapnya tersenyum mendekatkan wajahnya ke Lani, Lani mundur sedikit mendapat perlakuan mengejutkan dari sepupu bosnya itu. Bayu menarik lagi wajahnya kemudian menjawil hidung Lani, “wajah Kamu merah” ucapnya tanpa rasa dosa. Lani langsung menyentuh wajahnya refleks “Becanda”Lanjutnya, Ah apalah Bayu ini senang sekali menaik turunkan perasaan seseorang, tapi Lani sama sekali tidak tergoda dengan gombalan Bayu, meskipun cukup membuat hatinya tiba-tiba jedag-jedug tanpa persiapan. “Tapi Saya kok seperti pernah ngeliat Rachel ya, tapi dimana ya?” Lani mencoba membuka memorynya tapi tidak ketemu juga. “Mana Saya tau” Bayu mengedikan bahunya tidak peduli apa pun tentang Rachel, satu hal yang membuat Bayu semakin tidak suka pada Rachel, Ia pernah melihat Rachel berduaan dengan laki-laki sangat mesra di sebuah Mall, saat Bayu ingin mengambil gambarnya tapi keburu kehilangan jejak mereka, karena tidak ada bukti Bayu tidak mengatakan apapun ke Rendy, sebab percuma saja Rendy tidak akan percaya. Tiba-tiba ombak besar datang belum sempat melarikan diri baju mereka ikut basah terkena air laut. Mereka tertawa bersama. “Hahaha, ini gara-gara ngetawain Rachel pasti” Ucap Lani, karena terlanjur basah mereka malah Bayu sengaja menarik Lani lebih dekat ke pantai. Bajunya yang basah membuat lekukan tubuh proporsioal Lani sangat tercetak jelas. Berhubung ini di pantai jadi hal-hal seperti itu sudah biasa, apalagi melihat orang yang berlalu lalang menggunakan bikini bukan hal yang aneh. Namanya juga pantai. Dengan baju yang basah mereka kembali ke penginapan, untungnya Bayu pemilik penginapan tersebut, jadi Ia punya akses masuk dari pintu khusus ke dalam tanpa harus melalui Lobby Utama. Ia memiliki kamar sendiri yang lebih private untuk beristirahat. Sesampainya di hotel Lani melihat Rachel sedang menelepon seseorang. Rachel sudah ganti baju Ia melirik sekilas Lani. Lani tersenyum tapi di tanggapi datar oleh Rachel. Asem. Malam telah tiba mereka meeting jam tujuh malam, acara meeting tidak terlalu formal jadi di adakan di ruang meeting luar tapi tetap menjaga privacy. Meeting dihadiri oleh beberapa calon vendor rekanan PT. Andromeda Megatama dan beberapa investor. Lani merasa mengenali salah satu dari mereka, Ia baru ingat Pria itu adalah pria yang kemarin berantem dengan pacarnya dan menghalangi motor Lani. Ia baru mengetahui namanya Alex karena orang di sebelahnya memanggilnya, ternyata Ia salah satu calon vendor untuk proyek di Bali sini, berdasarkan informasi yang ia peroleh dari Darma perusahaan Alex sering bekerja sama dengan Andromeda Megatama. “Astaga, Alex, Rachel, jadi mereka bermain di belakang Rendy?” gumamnya pelan menutup mulutnya, pertanyaan itu memenuhi pikiran Lani membuat Ia tidak fokus, seharusnya ia tidak usah memikirkannya, tapi Lani merasa kasihan Bos bucinnya itu di bohongi oleh pacarnya, ya meskipun dia galak dan jutek tidak seharusnya juga di khianati, apalagi Bayu bilang Rendy sangat sayang pada Rachel. Bayu menyenggol tangan LanI, rupanya Ia daritadi mengajak ngobrol Lani tapi tidak dihiraukan. “Eh Iya Pak?” “Jadi selera Kamu itu model Alex?” ucap Bayu pelan. “Hah?” karena sedang tidak fokus, suara yang dikeluarkan Lani cukup keras membuat peserta meeting menoleh ke arahnya termasuk Alex. Menyadari kesalahannya Lani tersenyum kecut meminta maaf. “Kamu di ajak ke sini bukan untuk ngelamun” ucap Bosnya pedas di depan peserta meeting. Lani merasa tak enak hati, Ia akui ia memang salah, jadi pasrah saja menerima omelan bosnya. Sudahlah biarkan saja Rendy dibodohi Rachel, batinnya berbisik, tapi lagi-lagi sisi kemanusiaannya merasa kasihan dengan bosnya itu. Selesai meeting mereka menikmati santapan makan malam, Lani duduk di sofa sendirian mengaduk-aduk makanannya. Rendy menghampirinya. “Saya minta resume rapat tadi kirim ke Saya malam ini” Lani menoleh ke sumber suara, dan mengerjapkan matanya bingung “Eh, kenapa Pak?” “Apa ngelamun itu termasuk hobby Kamu? Saya minta resume meeting tadi kirim by email malam ini” ucapnya mendekatkan wajahnya ke muka Lani, sangat dekat sehingga tercium aroma mint dari nafasnya. Lani memundurkan wajahnya, apa dua orang ini senangnya ngomong sambil deketin muka ya, dua orang yang Lani maksud itu Rendy dan Bayu. “Oh Iya Pak, nanti Saya kirim via email, via vallen ga di ajak pak?” Oops, Lani menepuk mulutnya sendiri karena dengan lancangnya mengajak bercanda bosnya, lagi-lagi di balasnya dengan tatapan datar. Lani tersenyum kecut, fiuhh untungnya cuma balas muka datar, coba kalau ngomel lagi. “Apa Kamu bilang?” “Eh, Saya gak bilang apa-apa Pak” elaknya “Tadi Kamu bilang muka datar” “Hah?” Lani terkejut, bukannya tadi Ia ucapkan dalam hati saja, kenapa Bosnya bisa dengar. “Kamu ngedumel tapi kedengeran” Lani menggaruk kepalanya yang tidak gatal, untungnya Bayu segera datang sehingga menyelamatkan Lani dari amukan bosnya. Ia langsung duduk di antara Rendy dan Lani. Bayu ini orangnya ramah, tidak suka basa-basi, seperti tadi juga terlalu jujur mengungkapkan apa yang ada di kepalanya. Rendy menggeser posisinya. “Kaya gak ada tempat lain aja” Bayu menyeruput minuman milik Lani yang masih utuh ada di hadapannya. “Tuh liat!” Rachel berjalan menghampiri mereka dan duduk di sebelah Rendy. Bayu tahu betul Rachel tipe cewek yang cemburuan, Ia takut Rachel menganggap Lani saingannya makanya Ia ikut nimbrung di antara mereka, padahal Bayu tahu mereka pasti sedang bicara kerjaan. “Sayang, Aku cari-cari Kamu ternyata di sini” sepertinya Rachel tidak mengingat Lani, buktinya Ia asyik saja duduk di antara mereka. Ini hal yang bagus buat Lani, jadi Ia bisa leluasa bertindak, memangnya apa yang akan Lani lakukan, peduli amat dengan bosnya itu. “Pak Bayu minum minuman Saya?” “…” Bayu mengangguk tanpa rasa berdosa, “daripada di anggurin keburu ga enak” “Hehe, tapi itu minuman khusus wanita, ga ngerasa kecut-kecut gitu?” ucap Lani hati-hati, karena minuman yang di minum Bayu itu adalah kunyit asam kemasan yang ia buat, kebetulan Ia baru saja menstruasi untuk mengurangi nyeri Ia membelinya di gerai market yang ada di depan hotel. “Kecut sih, tapi gapapa, saya kan emang buat wanita” menyadari minuman yang ia minum khusus wanita Bayu paham apa yang baru saja diminumnya. Cuek saja ia menghabiskannya. “Ah, ha ha” Lani tertawa karena terkejut akan jawaban konyol sepupu Rendy. Rendy menoyor kepala sepupu sekaligus sahabatnya itu “Dasar modus!” Bayu mengelus-ngelus kepalanya yang ditoyor Rendy. “Gapapa modus, yang penting tulus, daripada punya akal bulus” balas Bayu menohok sambil melirik ke arah Rachel. “Apa sih Bayu, Lo kenapa sih sama Gue? Jutek amat” “Eh emang ngerasa Non? Gue ga ngomongin Lo, tapi syukur deh kalo ngerasa” “Apa sih Lo Bay? Jangan mulai deh, Kenapa sih kalian ga bisa akur?” “Sayanggg, bilangin tu sepupu Kamu, jangan usil sama Aku” Rachel merengek manja pada Rendy membuat Lani ingin muntah saja, mengingat kejadian kemarin, gara-gara dia hampir saja menabrak mobil yang ditumpangi Rendy dan Bayu. “Siapa juga yang usil. PD amat Lo” Bayu benar-benar ketus kepada Rachel, kasian sih sebenernya di bully habis-habisan cuma karena sudah tau kelakuan Rachel sepeti apa, Lani jadi tidak menaruh simpati sama sekali pada cewek ular itu, kasian Rendy. “Sayang, kalau kamu ingin memiliki muka dua, setidaknya buat salah satunya terlihat cantik” ucap Bayu tiba-tiba menggenggam tangan Lani, menyindir Rachel lebih tepatnya. Karena sudah tau itu hanya sindiran Lani terpaksa tersenyum. Bayu menarik  Lani menjauhi mereka, apa Lani harus cerita pada Bayu tentang Alex dan Rachel? Ia takut mereka memiliki niat buruk terhadap Rendy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN