Alunan musik Isyana Sarasvati Kau Adalah terdengar dari Ponsel Lani, Lani membuka selimutnya dengan cepat dan meraih ponsel yang terletak di atas nakas mematikan alarmnya, sudah jam setengah lima pagi. Ia harus sampai bandara cengkareng jam 8 pesawat take off jam setengah sepuluh, Ia janjian dengan Bos besar nya dan Darma di bandara langsung, jadi tidak perlu clock in di kantor.
Lani bercermin merapikan make up nya kembali memastikan semuanya sudah rapi, ia memoleskan lipstik berwarna peach ke bibirnya, sempurna, ucapnya memuji dirinya sendiri. Ia segera keluar rumah kosannya menghampiri taxi yang sudah Ia pesan. Ia bertemu Prita saat akan keluar.
"Berangkat dulu ya Mba Prita"
"Ehhh, kopermu mana?" Ya ampun, Lani menepuk jidatnya, untung bertemu dengan Prita kalau tidak bisa kacau urusannya lupa membawa koper. Ia segera berbalik ke kamarnya dan menyeret kopernya. sementara tangan kirinya menyantol tas kecil.
Di dalam taksi Lani menghubungi Arka "Morning Yank, Aku otewe ke bandara nih" terdengar suara berat dari seberang sana khas orang baru tidur.
"Aku masih selimutan Yank, berangkat sama siapa?"
"Naik taksi, ya udah Kamu mau lanjut tidur atau bangun?"
"Bangun aja deh, nemenin Kamu dijalan ya"
Mereka teleponan sampai Lani tiba di bandara jam 8, setelah sampai bandara Lani langsung check in menunggu Bos nya di dalam. Karena tiket yang dipesan kelas bisnis Lani tidak perlu menunggu di ruang tunggu, Ia langsung ke Lounge menikmati sarapan yang di sediakan maskapai. Limabelas menit kemudian Rendy dan Darma juga tiba di bandara.
"Pagi Pak Rendy, Pak Darma" Lani membungkuk menyapa para bosnya.
"Pagi Lani" balas Darma, sementara Rendy hanya menganggukan kepalanya saja. Mereka langsung masuk ke pesawat begitu pesawat tiba di bandara, Lani duduk tepat di samping Rendy, sementara Darma bersebrangan dengan Rendy.
Dalam perjalanan Rendy tidak banyak berbicara, lagi pula semalam Lani tidur cukup larut jadi Ia tidur di pesawat. Ketika Lani bangun ternyata kepala Lani sudah bersandar di bahu Rendy dan Rendy tidak tertidur tapi tidak pula membangunkan Lani, begitu sadar Lani sudah bangun Rendy berkata sambil meregangkan otot-ototnya "Nyenyak sekali tidurmu, apa semalam Kamu ga tidur?"
Lani menggigit bibir bawahnya "Maaf Pak, semalam saya begadang sama temen-temen di Kosan"
"Jangan gigit bibirmu, Kau berniat menggoda Saya?"
Mendapat pertanyaan seperti itu Lani mengernyitkan dahinya "Saya? menggoda Bapak?"
"Sudah lupakan!" Rendy kembali sibuk dengan layar di depannya. Lani hanya bertanya dalam hati maksud dari perkataan bosnya tadi.
Tiba di bandara Ngurah Rai mereka di jemput oleh orang suruhan Rendy dengan sebuah mobil Alphard keluaran terbaru tipe 3,5 Q A/T, design yang mewah dan udara yang sangat sejuk karena menggunakan AC plasmacluster yang dapat menyaring debu dan ion-ion negatif, kelembaban suhu udara otomatis mengikuti suhu ideal sesuai yang kita inginkan.
Lani duduk di samping Rendy, sementara Darma di kursi co driver. Lani hanya diam di mobil kecuali di ajak bicara oleh salah satu di antaranya, mobil melaju menuju kawasan Seminyak. Perjalanan memakan waktu duapuluh menit untuk sampai di seminyak. Mereka menginap di hotel Alila dengan kamar yang menghadap langsung ke laut lepas pemandangan yang sangat menawan dan memanjakan mata siapapun yang memandang.
Lani merentangkan tangan dan memejamkan matanya melihat pemandangan ini, "Mau sampai kapan Kamu di situ?" sebuah suara mengagetkan Lani, duh bisa-bisanya Lani tidak fokus.
"Maaf Pak"
"Apa cuma kata maaf yang bisa kamu omongin?" ucap Rendy ketus
"Eh iya pak, maaf!" lagi-lagi kata maaf Lani menepuk mulutnya pelan, Rendy masih menatapnya datar kemudian berjalan ke dalam hotel, kopernya di bawa pelayan hotel yang sudah siap menunggu ketika turun dari mobil. Lani mengikuti langkah Rendy. setelah check in mereka menuju kamar masing-masing, kamar Lani tidak jauh dari kamar Rendy dan Darma.
"Lani, Kamu udah tau agendanya?" tanya Darma
"Udah Pak"
"Ok, setelah makan siang kita akan meninjau lokasi proyek langsung" Darma menegaskan kepada Lani. "Kamu sabar-sabar sama big bos ya, bos emang gitu" rupanya daritadi Darma memerhatikan perlakuan bosnya ke Lani.
"Iya Pak, terimakasih sudah diingatkan, kalo gitu saya permisi ke kamar dulu"
"Ok"
Lani merebahkan badannya begitu sampai di kamar, badannya berasa remuk karena kurang istirahat tapi Ia tetap harus kuat karena agenda padat. Lani mengusapkan minyak aromaterapi ke tengkuknya yang lumayan pegal, nyaman yang ia rasakan! sepertinya jika Ia tidur sepuluh menit masih cukup waktu sebelum makan siang. Ia menyetel alarmnya agar tidak telat. ia mulai terlelap ke alam mimpi.
Sebuah ketukan pintu terdengar dari luar, Lani terbangun ia merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan kemudian melirik jam tangannya khawatir telat, jam 12 tidak telat, Ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Rendy sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Iya Pak!"
"Kenapa lama sekali?"
"Tadi lagi di kamar mandi pak! " terpaksa Lani berbohong, kalau Ia bilang tidur bisa dipastikan bosnya bakal ngomel-ngomel lagi.
"Ini, pelajari!" Rendy menyerahkan berkas ke Lani. "Sekarang turun ke restoran, abis makan siang kita langsung berangkat"
"Iya Pak" Lani menerima berkasnya dan membawanya ke dalam setelah Rendy pergi. Ia menyiapkan tas dan berkas yang akan di bawa ke proyek.
Mereka menuju proyek menggunakan mobil yang menjemputnya tadi. Lani bertemu lagi dengan pria yang kemarin ia temui bersama Rendy.
"Hei, Kamu yang kemarin kan?" merasa tidak enak karena Lani hampir saja menabrak mobilnya.
"Iya Pak, maaf yang kemarin"
"Ga apa-apa, Aku Bayu, sepupu Rendy merangkap direktur di sini juga" Pria yang tidak kalah tampan dari bosnya itu ternyata sepupu Rendy, sepertinya keluarga Rendy memang dari klan peri, tidak ada cacat secara visual, tampan-tampan.
"Pak Bayu direktur di hotel Alila? Saya Lani"
"Ya, Saya masih inget" ucapnya tersenyum simpel sambil menaikan alisnya
"Ck, kelamaan intermezonya, Ayo kita keliling proyek" ucap Rendy menyela pembicaraan mereka, Darma tertawa pelan melihat tingkah bosnya, Ia memang orang kepercayaan ayahnya Rendy dan cukup dekat dengan Rendy, jadi sudah terbiasa dengan sikap Rendy, mungkin kalau baru kenal akan kesal atau takut melihat sikapnya seperti Lani.
Lani mencatat setiap ide yang ia temui untuk proyek ini, Ia cukup terlibat obrolan serius dengan Bayu, Bayu pun merasa Lani bukan cewek sembarangan di usianya yang masih tergolong muda.
Selesai keliling proyek jam 4 sore, mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap, Bayu menyusul dari belakang dengan mobilnya sendiri, karena Bayu tinggal di sini jadi Ia terbiasa menyetir sendiri.
Bayu mensejajari langkah Lani, berbeda dengan sepupunya Rendy pembawaan Bayu lebih hangat dan friendly membuat siapapun di dekatnya merasa nyaman.
"Nanti sore ga ada acara kan, gimana kalo Aku temenin ke pantai?"
"Eh. Pak Bayu ga sibuk?"
"Ya ga terlalu lah, masih bisa di handel asistenku"
"Saya ga enak sama Pak Rendy, Pak!"
"Gapapa, lagian ntar pacarnya juga sampe kok, nyusul, biasa kalo Rendy jalan ke luar kota pasti disusul"
"Sebucin itu?" oops lani menepuk mulutnya khawatir Rendy mendengar ucapannya, Rendy menoleh merasa di omongin
"Hahaha, bucin? maybe" Bayu mengedikan bahunya sambil melihat ke arah Rendy, sementara Rendy menatap sengit ke arah Bayu "Aku tinggal dulu ya, Kamu bisa bersih-bersih dulu" merasa tidak enak menolak ajakan Bayu, Lani menurut perintahnya.
"Kamu ke sini bukan untuk bergosip" Ucap Rendy di depan pintu ketika akan masuk ke dalam kamarnya. Lani tertegun siapa juga yang bergosip, bukannya sepupunya sendiri yang ngomong tanpa Lani tanya. Demi menghindari omelan bos nya Lani hanya mengangguk.
Kali ini tampilan Lani sedikit lebih feminin, Ia mengenakan dress floral 5cm di atas lutut hingga menampakan kaki jenjangnya dan bahu mulusnya yang sedikit terekspose, ia memakai topi lebar pantai berwarna cream.
Ia keluar dari kamarnya melewati kamar Rendy bersamaan dengan itu Rendy juga keluar bersama pacarnya dari kamarnya, Rendy terkesiap melihat Lani mulutnya sedikit terbuka, Ia menatap Lani dari atas sampai bawah.
"Hei Lani, You look so beautiful" ucapan Bayu menyadarkan Rendy dari lamunannya, sementara pacar Rendy menggoyangkan lengan Rendy karena melihat Rendy seperti terpesona dengan bawahannya.
Lani tersenyum ke arah Bayu, "Pak bayu bisa aja, makasih" ia kemudian menatap Rendy dengan pacarnya, keningnya berkerut seperti kenal.
"Ahh, ini pacarnya bos Kamu, namanya Rachel"
"Rachel?" Lani mengulang namanya.
"Kamu kenal?"
"Ah ngga Pak, baru ketemu" Lani masih belum mengingatnya.
"Ya ngga mungkinlah Kamu kenal Saya" ucap Rachel pongah, Lani hanya tersenyum canggung menanggapinya.
"Udah cepet, ayo kita jalan sekarang!" Rendy menengahi. sementara Darma tidak ikut mereka, karena memang acara anak muda Ia lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya di hotel.