Seorang pria dengan jas berwarna navy dengan dasi berwarna senada keluar dari co driver, ‘Mampus Gue kenapa bisa kebetulan Pak Rendy sih' bos nya yang berwajah datar yang dia tabrak.
“Pak Rendy, maaf Saya ga sengaja hampir nabrak bapak, itu…” Lani tersenyum kikuk berusaha menjelaskan alasan mengapa dia hampir menabrak mobil yang ditumpangi bosnya. Belum sempat Lani menjelaskan pria sebelah Lani memotong pembicaraan Lani.
“Kamu kenal Ren?” tanya pria di samping pintu kemudi.
“Ahh, siapa Kamu namanya? Saya lupa ” Dasar Bos Datar sama bawahan sendiri lupa, ya wajar sih anak buah dia banyak ditambah Lani juga masih karyawan baru pasti sulit buat bos mengingat namanya dalam waktu singkat.
“Lani Pak, nama saya Lany, karyawan baru bagian Marketing Engineer” jelas Lani panjang kali lebar
“Ah Iya, kenapa Kamu ada di sini? Kamu tau tadi Kamu hampir saja membuat Kamu celaka, kecerobohan Kamu bisa membuat orang lain ikut celaka juga” Bosnya yang jarang sekali bicara mendadak cerewet menceramahi Lani, Lani pasrah karena Ia juga salah, rusaklah citra dia di mata bos datarnya itu.
“Iya Pak, Maaf Saya salah tadi ga lihat ke depan” Lani menggigit bibirnya takut-takut bosnya semakin marah.
“Its Ok Ren, come on We must go, hei Kamu siapa tadi Lani yah, next harus lebih hati-hati” Ia menepuk bahu Lani dua kali, baik sekali Pria ini batin Lani, syukurlah pria ini menyelamatkan Lani dari amukan bosnya.
“Kamu belom selesai dengan Saya, jangan lupa besok Kamu harus berangkat ke Bali, Saya tidak suka orang yang tidak disiplin” Rendy berkata dengan datar kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya. Pria satunya melambaikan tangan perpisahan kepada Lani.
Lani kembali mengendarai sepeda motornya kembali ke kosan, hari ini dia merasa kurang beruntung pertama bertemu pasangan ga jelas yang marah-marah dan gara-gara itu membuat Lani tidak fokus hampir menabrak mobil yang sialnya itu adalah mobil yang ditumpangi bosnya.
Sesampainya di kostan Lani menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasaknya tadi, Ia menumis bawang putih membuat seisi ruangan harum masakan. Franda si cewek cantik berwajah oriental keluar dari kamarnya.
“Hmmm, harum banget, Lani bisa masak?” tanya franda antusias, di kupingnya terpasang headset sepertinya sedang mendengarkan lagu.
“Dikit…oseng-osengan aja mah jago” Lani melanjutkan aktifitas masaknya, sementara Franda menemaninya duduk di meja makan.
“Wah, enak yah bisa masak, kalo Franda ga bisa pegang spatula, takut kecipratan minyak” wajar saja sih, Lani juga tidak memojokan cewek yang ga bisa masak, lagipula Franda cantik dan kaya, dia bisa menggaji orang lain untuk memasak, malah menciptakan lapangan kerja buat orang lain bukan? tiba-tiba saja Franda menyalakan Live IG nya, dan menyorot ke arah Lani.
“Hi teman Franda… Franda punya teman baru di kostan nih, cantik kan namanya Lani, Dia ini Engineer yang jago masak loh” wajah Lani langsung di sorot ke kamera handphone Franda, Lani tersenyum ke kamera dan melambaikan tangan menyapa follower Franda. dasar selebgram jadi ikutan terkenal deh, untung Paman Lani tidak terlalu sering bermain medsos, dan sampai saat ini jati diri Lani sebagai pewaris perusahaan Angkasa Jaya milik Kakeknya pun masih belum terekspos, isi media social Lani hanya berisi foto-foto dia dan pemandangan saja, ada beberapa foto-foto Arka itu juga tidak terlalu banyak Lani tidak suka mengumbar kemesraan di dunia maya.
“Lani lagi masak apa?” tanya Franda
“Cah kailan sama ayam teriyaki”
“Franda udah makan loh sebenernya, tapi nyium wangi masakan Lani bikin Franda laper lagi” Franda mengelus-ngelus perut ratanya, body goals banget pujaan para kaum adam banget. Mau makan sebanyak apapun timbangan ga nganan, entah apa resepnya.
“Cantik Ci, temennya, salamin ya dari Aku, Iya-iya Aku salamin”
“Ci Franda bisa masak juga ngga? Franda bisa masak, masak air, hihi”
Franda membaca komentar-komentar followernya, Lani masih sibuk dengan masakannya hingga selesai Franda menyorot ke piring-piring cantik yang sudah Ia tata di meja makan.
“Nih hasil masakan Lani, dari baunya sih harum banget, pasti rasanya juga enak, Franda boleh icip ga Lani?” dilahirkan dari keluarga kaya lantas tidak membuat Franda menjadi arogan Ia masih punya nilai kesopanan, sebelum mencicipi makanan yang dibuat Lani Franda meminta izin terlebih dahulu.
“Boleh bangettt donk, Yuk makan sama-sama” Lani tersenyum sambil menyipitkan matanya.
“Hei Franda, calon istri Gue emang jago masak yah” sebuah komen dibaca lagi oleh Franda, Lani mengerutkan kening dan membaca si pemilik komentar, Anton, Ya ampun Anton teman kerja Lani ternyata followernya Franda. Lagi-lagi Lani hanya bisa tersenyum, awas saja nanti di kantor.
Disela-sela live IG nya Franda sebuah pesan masuk ke handphone Lani
‘Lanii cantikkk, Aku mampir yaaa ke kostan icip makanan buatan Kamu’
‘followernya Franda yaaa, Ga boleh, nanti ketagihan’ balas Lani
‘Emot sedih, Lani pelit tapi kalo main ke kostan Lani boleh kan, bukan Follower Franda itu adik teman kuliah Aku, jadi Franda di situ juga? ’ Dunia sempit sekali ternyata.
'Udah malam Mas Anton, besok kan harus kerja , Iya, serumah sama Franda'
‘Berarti kalo malam lain boleh ya, Oke’ Anton menyimpulkan sendiri jawaban dari pertanyaannya.
‘Hmmm…’ hanya itu balasan Lani selanjutnya tidak ada lagi pesan masuk.
“Masakan Lani enak” sebuah jempol lentik di acungkan ke Lani. Franda telah mematikan live IG nya dan lanjut makan kembali
“Makasih Cici” tidak lama kemudian Prita dan Dinda tiba di rumah kosan mereka kebetulan sekali mereka belum makan malam, jadilah mereka berempat makan bersama di meja makan, hal yang jarang terjadi karena sebelum Lani masuk mereka terbiasa beli makanan di luar atau masak sekedar untuk diri sendiri. Dan sepertinya sekarang karena mereka mempunya koki baru akan sering makan masakan rumahan.
“Kalo gini sih, kita bakalan makin gendut nih, masakan Kamu enak Lani, cocok di lidahku” ucap prita memuji masakan Lani, cewek ini juga sebenarnya jago masak cuma karena terlalu sibuk Ia malas untuk sekedar memegang peralatan dapur, sudah lelah duluan.
Selesai makan mereka berkumpul di ruang tengah ngobrol-ngobrol ringan, Lani juga menanyakan Franda tentang Anton dan benar saja Franda yang dimaksud Anton memang dia, Franda malah menceritakan tentang Anton yang suka gonta-ganti cewek kalo main ke rumahnya. Franda juga bertanya Lani dan Anton apa mempunyai hubungan khusus, tentu saja tidak mereka kan hanya kebetulan sekantor.
“Aku dua hari ke depan mau ke Bali nih, di suruh ikut sama bos”
“Kamu kerja dimana sih Lan?” Prita yang belum terlalu mengenal Lani
“PT. Andromeda Megatama, Aku marketing engineer junior di sana” ucap Lani, Prita langsung bangun dari tidurnya di sofa mendengar nama andromega megatama di sebut.
“What? Andromeda yang di jalan sudirman itu? Bos kamu namanya Rendy kan?”
“Kamu kenal Pak Rendy, Prit?” Dinda ikut-ikutan kepo dengan Rendi, Lani memang sudah menceritakan bos datarnya itu ke Dinda, yak arena yang baru Lani kenal kan hanya Dinda.
“Prita, jangan dipotong-potong manggilnya, ga enak di dengernya” protes Prita namanya dipanggil setengah-setengah, Lani hanya tersenyum lebar “Iyalah Aku tau banget sama Rendy, dia itu dulu temen SMA Aku, dia dulu terkenal banget di sekolah, masih pacaran sama Rachel kan dia?”
“Mana Aku tau Mbak, Aku kan baru seminggu kerja di sana, belum sampe seminggu malah” sepertinya circle pertemanan Lani saling terkait, Franda yang adik dari teman Anton, dan sekarang Rendy teman SMA Prita.”Pak Rendy itu mukanya datar banget, nih kalo kita sapa mana ada mau senyum dia, lempeng aja, malah tadi ga sengaja Aku hamper nabrak mobil dia pula”
“Hahaha, haduh kasian banget sih Kamu Lan, mudah-mudahan Kamu betah ya sama Rendy”
“Dibetah-betahin Mbak, namanya juga butuh, hihi”
“Tapi sebenernya Rendy baik loh, ya Cuma itu galak dan so cool” Prita mengedikan bahunya.
“Taraaa….Kopi nya udah dateng” Franda datang dari luar membawa 4 gelas kopi yang sedang hits lewat online. Langsung disambut para wanita, di tambah lagi ada roti bakar yang di dalamnya di isi keju mozzarella dan daging panggang, dalam hal makan Franda memang jagonya, “ngobrol-ngobrol tanpa cemilan itu hampa gaes, kaya hati yang kosong”
“Aduh bener-bener cici satu ini, makannya banyak tapi ga gendut-gendut, bikin Aku iri aja” ucap Dinda yang harus mati-matian menjaga berat badannya, sebab kalo ga di atur pipinya akan cepat mengembang.
“Udah makan aja, Diet mulai besok” Franda memasukan potongan roti ke mulutnya dengan lahap.
Tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 10 malam, Lani baru ingat ia belum packing baju-bajunya untuk di bawa ke Bali, Ia pamit duluan ke kamarnya bisa gawat kalau telat sampai bandara, dia tidak mau kena semprot bosnya lagi.
Lani mengepack barang-barang yang akan Ia bawa selama dua hari di Bali, dua stel baju kerja dan dua stel baju santai, peralatan mandi dan make upnya juga tidak lupa Ia masukan ke kopernya. Astaga ia sampai lupa belum menghubungi Arka saking asyiknya ngobrol dengan teman-temannya, ternyata sudah ada beberapa pesan masuk, ia langsung menyentuh tombol panggilan video.
“Sayang maaf, tadi abis masak ngobrol sama temen-temen, HP Aku tinggal di kamar”
‘Ngga apa-apa Sayang, Aku kira Kamu udah tidur’
“Belom Yank, nih lagi packing baju buat besok” Lani mengarahkan kamera handphonenya ke koper yang sedang ia susun. Arka terlihat sangat lelah, ia sedang rebahan di kasur mess nya untungnya fasilitas mess di sana cukup lengkap dan sudah ada asisten rumah tangga khusus untuk membersihkan rumah dan mencuci gosok para pegawainya, jadi mereka terima bersih begitu sampai rumah. Kecuali untuk makan mereka harus membeli sendiri-sendiri.
“Kamu capek banget sayang keliatannya”
‘Iya, tadi habis kunjungan ke pedalaman gitu, jalan kakinya jauh banget mobil ga bisa masuk”
“Sayang, kangen” tiba-tiba Lani mendadak mellow “pengen di peluk Kamu” Lani memasang wajah sedih, padahal baru 3 hari mereka tidak bertemu dan baru akan bertemu lagi 3 bulan lagi.
‘Aku juga kangen banget sama Kamu, tapi kamu harus sabar yah kan Aku mau buktiin ke keluarga Kamu kalo Aku layak bersanding sama Kamu’ pilihannya memang hanya itu, Arka merasa belum layak untuk Lani, meskipun Arka dari keluarga kaya masih terlalu jauh perbandingannya, Lani seorang calon CEO Angkasa Jaya sementara Arka karyawan biasa, sebenarnya bisa saja Arka langsung menjabat di perusahaan ayahnya bekerja, tapi Ia tidak suka yang instan terlebih pasti tekanan di sana akan kuat belum tentu ia akan di hargai bawahannya karena pengalaman dia belum ada sama sekali.
“Iya Aku ngerti, ya udah Kamu lanjut istirahat ya sayang, Aku mau lanjut packing supaya bisa tidur cepet, kalo telat bisa-bisa bos galak aku marah-marah nanti” Arka tertawa mendengar Lani menyebut atasannya bos galak, segalak apa sih bos nya itu, tapi Arka tidak tahu kalau bos galaknya Lani itu sangat tampan dan cerdas, jadi Ia belum terlalu khawatir dengan atasan Lani. Arka juga percaya Lani tidak akan macam-macam, karena Lani memang tipe cewek yang tidak banyak protes.
‘Ga apa-apa ya sayang Aku tidur duluan’
“Iya sayang, dadahhh”
“Bye Lani” bibir Arka membentuk tanda cium jarak jauh. Sambungan telepon terputus Lani melanjutkan packingannya dan segera tidur sesudahnya.
bersambung lagi