Lani mendadak menjadi pendiam setelah bertemu Rendy di CGV, moodnya jadi hilang begitu saja karena ulah bosnya itu.
"Kamu kenapa? Ko keliatan BT?" tanya Bayu yang menyadari perubahan sikap Lani. "Mau pulang aja?"
"Gapapa Ka?" tanya Lani tidak enak tapi Ia enggan menjelaskan alasan dibalik diamnya dia. Bayu tidak memaksa Lani untuk berbicara, Ia memberikan ruang untuk Lani karena Ia tidak mau terlalu ikut campur masalahnya, masih dalam tahap pendekatan kalau memang Lani nyaman dengannya Ia pasti akan cerita sendiri. Pikir Bayu seperti itu.
"It's OK senyamannya Kamu, Aku anter yah!" kali ini Lani tidak menolak untuk di antar, Ia memilih untuk kembali ke rumah kostnya. Ia akan mengabari Gunawan lewat ponsel. Mobil berjalan ke arah rumah kost Lani setelah Lani menentukan tujuan rumahnya berbekal aplikasi map online jadi tidak perlu repot mengarahkan jalan secara manual.
Sepanjang perjalanan mereka ngobrol hal-hal yang ringan saja, seputar kehidupan pribadi Bayu dan Lani. Lani juga tidak bercerita tentang Arka karena Bayu juga tidak bertanya buat apa menceritakan hal yang tidak dipertanyakan.
"Mampir dulu Ka!" tawar Lani ketika sampai di rumahnya.
"Boleh?"
"Ya kalau Aku tawarin berarti boleh"
"Hmmm... Maybe next time Aku mampir udah sore juga nih, Aku ada janji lagi, tadinya mau ajak Kamu tapi berhubung Kamu kayanya lagi ga bagus Aku berangkat sendiri aja" Bayu memang berencana membawa Lani ke acara peresmian cafe milik mantan pacarnya, tidak mengenalkannya sebagai pacar hanya ingin menunjukan pada wanita itu bahwa hidupnya tidak selalu tentang dia. Tapi karena Lani tidak bisa, Ia juga membatalkannya dan memutuskan untuk kembali ke rumah Rendy saja.
"Iya Kakek, Lani di kostan"
[Baru semalam pulang udah ke kostan lagi? Cepet kembali ke rumah] Perintah Gunawan sudah mutlak, Lani tidak mengelak baru saja akan masuk ke dalam rumah kostnya Gunawan menyuruh Lani kembali ke rumahnya, akhirnya Lani memesan taksi online untuk pulang ke rumah.
###
"Pagi semua!" Lani menyapa teman-temannya di kantor, Ia langsung duduk di mejanya dan menyalakan CPU nya.
"Pagi Lani, wuih cantik banget Non hari ini" Anton memuji penampilan Lani yang sedikit lebih girly, Ia memakai Rok Flared skirt warna salem yang mengembang di bawahnya dan Atasan ruffle terlihat manis dengan aksen tumpuk pada bagian lengan yang tetap memberi kesan elegan.
"Emang setiap hari cantik Mas" ucap Lani sambil menyalakan CPU di depannya.
"PEDE abissss, jadi makin cinta" Anton memberikan finger heart ke wajah Lani. Lani melayangkan tangan di udara. Ponsel Lani berbunyi tanda ada panggilan masuk, Lani terenyum melihat nama yang tertera di layar. Ia mengusap icon hijau.
"Pagi Sayang!" sapa Lani
[Pagi Sayang Aku, udah sampe kantor?]
"Udah, baru aja! Kamu udah di kantor?" Lani mengeluarkan Usb dari tas kecil khusus alat kerja dan mencolokannya ke CPU.
[Sama baru aja sampe kantor nih]
"Sarapan belum?"
[Udah dong, Kamu udah sarapan?]
"Udah, Aku berangkat dari rumah tadi sarapan di rumah"
[Gimana Kakek Gunawan dan Om Andreas? Mereka sehat semua?] tanya Arka basa-basi pada Lani.
"Mereka baik-baik saja sayang! Aku yang sedang tidak baik" Anton diam-diam menguping pembicaraan Lani di telpon, obrolan Lani dan orang di seberamg cukup romantis sudah dapat di ambil kesimpulan pasti Lani sedang bicara dengan kekasihnya.
[Kenapa?] belum sempat Lani menjelaskan pada Arka sebuah deheman berat terdengar dari depan mereka.
"Ehmm..."
"Pagi Pak Rendy" Sapa semua karyawan pada Rendy, sudah menjadi kebiasaan mereka pasti akan menyapa Rendy jika lewat depan mereka, hanya Lani yang tidak menyapa Ia hanya menganggukan kepala disertai senyuman yang sangat tipis sekali sekedar menghargai atasan. Lani tetap menundukan kepalanya sampai Rendy masuk ke dalam ruangannya, Rendy melirik Lani dari sudut matanya tanpa menoleh. Ia hanya melewati Lani dan juga tidak menjawab salam bawahannya.
"Kayanya Pak Bos lagi bad mood nih, semoga hari ini gada yang aneh-aneh" celetuk Tisya sambil merapihkan dokumen yang akan Ia bawa ke meja Bu Serly. "Oh my Lord, He is so handsome!" mata Tisya berbinar-binar ketika seorang pria memberi senyum kepadanya "Demi apa Gue di senyumin dia, ahhh bisa mimpi indah malam ini" Tisya masih menatap pria itu sampai menghilang tapi wangi parfumnya masih tertinggal di ruangan mereka.
Saat Lani sedang mengerjakan tugasnya tiba-tiba ada pesan masuk.
[Serius amat kerjanya, Non] bunyi pesan itu. Lani celingukan mencari si pengirim pesan.
[Ka Bayu dimana?] balas Lani karena tidak mendapati Bayu dari pesan yang dikirim seolah-olah Bayu sedang melihatnya.
[Lagi di ruang Rendy]
[Ooo... Kapan datang? Ko Aku ga lihat?]
[Bareng Rendy tadi, Kamu terlalu serius sampe ga sadar Aku di belakang Rendy]
[Oh ya? hehe, namanya juga lagi kerja Ka] elak Lani padahal Ia memang tidak tertarik berinteraksi langsung dengan Rendy. [Ka Bayu ngapain ke sini?] Lani bertanya basa-basi.
[Mau ketemu sama Kamu?]
[Ish, serius, baru juga kemarin ketemu, ntar jatuh cinta sama Aku repot loh, ?] Lani mengajak becanda Bayu karena Bayu ga berhenti modusin dia.
[Kalo beneran jatuh cinta mau tanggung jawab?]
[Haha, gembel lah Ka Bayu ?]
[Gembel?]
[Gombal! Dah ah Aku mau kerja lagi] tanpa Lani sadari ia senyum-senyum sendiri membalas pesan Bayu. Sementara di ruangan Rendy pun sama, Bayu senyum-senyum membaca pesan dari Lani. Hari ini akan ada meeting pemegang saham, karena ini perusahaan Hartawan, Bayu masih memiliki 10% saham atas namanya, saham terbanyak masih di miliki keluarga Rendy 50%, sisanya di miliki keluarga Hartawan yang lain.
Jam istirahat tiba Lani dan Tisya ke kantin untuk makan siang.
"Demi apa itu Pak Bayu ganteng banget senyum-senyum sama Gue" dengan pedenya Tisya membalas senyuman Bayu. Lani menengadahkan kepalanya melihat arah yang dimaksud Tisya.
"Makan apa?" Bayu duduk di depan mereka berdua, Tisya menatap Bayu tak berkedip tanpa sadar ia menuangkan bakso yang ia pesan dengan sambal pedas sangat banyak.
"Tisya, Lo mau makan bakso pake sambel atau sambel pake bakso" Lani menyenggol tangan Tisya yang terus menerus menyendokan sambal ke mangkoknya, Bayu tertawa melihat Tisya dan melambaikan tangannya di depan Tisya, dengan refleks Tisya meraih tangan Bayu dan membawanya ke pipinya seperti membelai.
"Tisya!" Lani berkata sedikit keras, barulah Tisya sadar.
"Maaf Pak, maaf!" Bukan melepaskan tangan Bayu Tisya malah menggenggam tangan Bayu dan mengguncangkannya. Bayu tertawa geli mendapat perlakuan seperti itu, untung saja bukan Rendy yang diperlakukan seperti itu bisa tamat riwayat mereka, tapi mana mungkin Rendy mau ikut berbaur dengan mereka di kantin kantor.
"Maaf Pak bayu, Maaf!" ia baru melepas genggab tangannya.
"Tuhannn, bakso Gue kenapa jadi begini?" Tisya syok melihat separuh sambel berpindah ke mangkuknya. "Laniiii..." Lani dan Bayu tertawa kompak
"Pesen lagi aja sana!" perintah Lani kasihan melihat sambal bakso Lani. Tisya berdiri meninggalkan mereka berdua, sepasang mata mengawasi mereka intens.
"Makan Ka Bayu!" Lani basa-basi menawari Bayu makan, Bayu dengan cekatan mengambil satu tusuk bakso dari mangkuk Lani menggunakan garpu. Lani lupa kejadian di Hotel Bali saat Bayu meminum Jus kunyit asem miliknya, ia tidak menyangka Bayu akan melakukannya lagi.
"Halo Pak Bayu, ikut duduk di sini yah!" Sarah sekretaris Rendy duduk di samping Bayu sangat dekat. Bayu sedikit menggeser posisinya menjauh, sekretaris Rendy itu sering mencari perhatiannya padahal tidak pernah Bayu hiraukan. Tisya datang membawa bakso yang baru, aura Tisya memasang wajah siap perang begitu melihat Sarah berada di samping Bayu.
Entah mendapat ide dari mana Bayu mengambil mangkuk Lani kemudian menyuapi Lani makan.
"Aaa...." ucap Bayu. Lani bingung menolak atau menerima suapan dari Bayu, Bayu menatap Lani dan menyodorkan sendoknya persis di depan Lani sampai mulut Lani mau tak mau menerima suapannya,
'Duh, bakalan rame nih' Lani bergumam pelan, Sarah menatap sengit pada Lani.
"Lani kamu kenapa sih ga pesen sendiri, malah ambil mangkok Pak Bayu" Sarah mengambil mangkuk Lani dan menggesernya ke depan Lani,
"Ini Pak Bayu makan punya Aku aja, ga usah suapin Lani, udah gede masih aja di suapin"
"Sarah cukup!" Bayu berkata tegas pada Sarah. Baru kali ini Lani melihat muka Bayu yang biasanya ramah berubah galak, Sarah syok mendengar Bayu membentaknya cukup kuat sampai seluruh mata tertuju padanya.
"P-Pak Bayu!" wajah Sarah berubah memerah, air matanya hampir lolos baru kali ini Bayu berkata keras padanya meskipun sering dicuekin tapi biasanya tidak sampai berteriak.
'Kenapa pria ini?' Tisya yang hendak duduk di samping Lani jadi takut untuk duduk, takut di perlakukan sama seperti Sarah.
"Lebih baik Kita cari meja lain saja" Bayu menarik tangan Lani mencari tempat duduk baru.
Sarah meremas-remas jari tangannya hingga buku jarinya memutih, Ia merasa dipermalukan apalagi hanya karena Lani. Tingkat kebencian Sarah semakin bertambah pada Lani. Lani yang tidak tau apa-apa menjadi sasaran Sarah nanti.
"Ka Bayu Ok?" Lani berkata pelan
"Ah Ya, Aku baik, wanita ular itu harus di waspadai" Bayu tahu kalau Sarah bekerja sama dengan Rachel, bahkan beberapa karyawan Andromeda sering mendapat intimidasi darinya jika tidak sejalan dengan Dia, Bayu juga tau kalau Sarah meyukainya tapi sama seperti Rachel ia hanha mengincar pria kaya saja, setelah puas bermain-main dengannya akan Ia tinggalkan.
"Wanita ular?" Lani berkata heran
"Ya, karena Dia dulu rumah tangga sahabat Saya hampir hancur, Ia memfitnah sahabat saya selingkuh dengan pria lain, padahal selingkuhan sebenarnya dia, Dia tidak mengenal Saya adalah sahabat yang Ia fitnah" Lani mendengarkan dengan seksama cerita Bayu. Tisya hanya menjadi pendengar saja sambil memakan baksonya yang hampir tandas.
"Saya turut prihatin, tapi kenapa Dia masih di pertahankan di Andromeda?"
"Profesionalitas tidak bisa dicampur adukan dengan masalah pribadi, pekerjaan Dia termasuk bagus, lagipula Rendy tidak mengenal sahabat Saya, percuma kalau dibicarakan juga" Bayu terdiam sejenak "Kecuali Dia ganggu Kamu, baru Aku bisa pertimbangkan Dia dipecat dari sini"
"Saya?"
"Ya karena Kamu kandidat calon Nyonya Hartawan" Bayu berkata serius menatap dalam mata Lani, kemudian menjawil hidung Lani lembut. Tisya dibuat salah tingkah melihat keuwuan bukan pasangan ini tanpa sengaja Bakso terakhir Tisya loncat ke meja Sarah dan jatuh tepat di mangkoknya, hasilnya kuah bakso yang pedas muncrat ke wajah Sarah.
"Tisyaaaaa!!!" teriak Sarah geram tapi tidak berani menghampirinya hanya kawannya saja datang menolong Sarah, satu kantin di buat tertawa karenanya. Sarah langsung berlari meninggalkan kantin dengan membawa malu.
###
Wah, ada bendera perang nih di Andromeda, kira-kira Sarah bakalan barbar ngga ya sama Lani and the gengs?