21. Permintaan Maaf Rendy

1660 Kata
"Aku besok balik ke Bali" Ucap Bayu di sela-sela pesta barbeque mereka. Seharusnya malam ini Bayu kembali tapi karena ingin menikmati momen bersama Lani Ia membatalkan dan memilih penerbangan paling pagi. "Sebentar amat Ka" Lani mengelap bibirnya dengan tissue setelah menghabiskan makanannya yang mereka buat sendiri. "Maunya lama, tapi Hotel Aku di Bali ga bisa di tinggal lama. Aku kira Kamu jadi stay di sana" Bayu mengaduk-aduk minumannya, baginya sudah bertemu dengan Lani malam ini membuat Ia cukup senang. Ia bisa saja lebih lama di Jakarta, tapi ada kendala yang hanya Bayu yang bisa menyelesaikannya. "Iya ga jadi, syukurlah!" "Kamu seneng ga jadi deket sama Aku?" Bayu terkekeh "Ya bukan gitu maksudku, Ka! Aku cuma belum siap aja ninggalin Jakarta dalam waktu lama" "Jadi suatu saat Kamu bakal siap dong ninggalin Jakarta jadi Nyonya Hartawan" Lani memutar bola matanya "Mulai deh Ka Bayu nih" selalu saja Nyonya Hartawan yang Bayu sebutkan mana mungkin jadi Nyonya Hartawan, kekasihnya saat ini adalah Arka. Ia berharap bisa menjadi Nyonya Arka nantinya, meskipun sekarang Ia mulai terbiasa tanpa Arka. Bayu hanya tertawa melihat wajah Lani yang semakin lucu dan menggemaskan ketika merah. Lani tidak tahu kalau yang Bayu ucapkan itu memang ungkapan isi hatinya. "Tapi Aku sesekali tetap kunjungan ke Bali, Ka! Cek proyek secara langsung, Pak Rendy minta Aku merangkap jadi Cost Control juga" Lani sendiri sebenarnya heran kenapa Dia yang hanya anak baru malah di bebani dua tugas. Ingin protes tapi Ia masih anak baru jadi tidak berani melakukannya. "Oh ya, asyik dong, pokonya kalau Kamu ke Bali nanti biar Aku temenin supaya gada yang isengin Kamu di sana!" Bayu sumringah mendengar Lani akan tetap sesekali ke sana, setidaknya kesempatan dia mendekati Lani lebih besar peluangnya. "Janji ya!" todong Lani pada Bayu "waktu tiga hari kemarin Aku belum puasa di Bali, ditambah lagi waktunya lebih banyak di ganggu oleh bos anehnya. "Janji!" Bayu membuat angka dua dengan jarinya dan tersenyum sangat tampan. Entah mengapa Lani malah membayangkan Rendy, sekilas mereka memiliki wajah yang sama, hanya wajah Bayu lebih ramah dan bad boy sementara Rendy lebih cool dan misterius, Dewa adiknya malah tidak terlalu mirip dengan Rendy. Lani mengerjapkan matanya menyadari dirinya membayangkan Rendy 'Haduh, whats wrong with me? Ada yang ga beres' bisik Lani dalam hati. "Emang penerbangan Ka Bayu jam berapa?" "Jam 4. Mau anter?" "Emmm... Ngga sih. Kan Aku besok ngantor" "Kalau mau nanti biar Aku yang izinin Kamu ke Rendy" Bayu bisa saja menggunakan kekuasaannya untuk meminta Lani menemaninya besok, karena dia masih memiliki saham di Megatama masalah alasan bisa saja ia buat-buat. "Jangan Ka, Aku kan masih baru, ga enak kalau keseringan izin" sergah Lani. "Baiklah, lagi pula penerbangannya jam 4 pagi bukan sore, pasti jam segitu Kamu masih berlayar di pulau kapuk" "Pulau Kapuk?" Lani tidak mengerti bahasa Bayu. "Pulau kapuk itu kasur, zaman dulu kan orang tidur menggunakan kasur dari kapuk bukan dari spring bed seperti sekarang, masa gitu aja Kamu ga ngerti" Bayu menjelaskan panjang kali lebar ucapannya tadi. "Ohya, Aku baru tau loh Ka, serius" Lani tertawa mendengar istilah pulau kapuk menurut Bayu, menurutnya itu sangat lucu. "By the way, kalo besok subuh kaka nanti kesiangan loh, sekarang udah mau jam 10 malem" Lani melihat jam tangan yang melingkar di lengan kokoh milik Bayu karena kebetulan Ia sedang tidak memakai jam tangan. "Balik sana! nanti kesiangan!" usir Lani "Gapapa, Asal kesiangannya sama Kamu" lagi-lagi gombalan Bayu keluar dari mulutnya. "Stop it, Ka! Berhenti merayuku terus" Ia meninju lengan Bayu pelan dan ditangkap Bayu kepalan tangan Lani. "Aku tidak merayumu Lani, hanya mengatakan apa yang Aku rasa, itu saja!" Lani terdiam Ia menatap mata Bayu memang ia lihat kejujuran, ah tapi dia kan baru mengenal Bayu bisa saja Bayu memang tipe pria yang senang merayu wanita. Lani menarik tangannya dengan halus, membuat Bayu semakin penasaran. Semakin mendapat penolakan semakin Ia tertantang mendekati wanita ini. "Hoy. Pacaran terussss. Inget pacar!" Dinda meledek Lani, Bayu meringis mendengar sindiran Dinda memang tidak seharusnya Ia mengganggu hubungan Lani dan Arka, tapi perasaan Dia tetap ingin meraih hati Lani sebab Ia sudah menyukai Lani semenjak bertemu yang kedua kali di Bali setelah yang pertama hampir menabraknya. #### Lani merapikan berkas di mejanya dan bersiap pulang, ketika akan menuju lift Rendy mensejajari langkahnya dan berbicara pada Lani. "Lani. Masih ada yang harus Saya bahas dengan Kamu sekarang" Lani menghentikan langkahnya dan menurut begitu saja. "Mau bahas apa Pak, biar Saya siapkan dulu bahannya" Ucap Lani profesional, walaupun sudah jam pulang kantor jika atasan membutuhkan data yang urgent karyawan harus siap sedia untuk lembur. "Proyek di Tangerang, ya Tangerang!" "Sebentar Saya ambil berkasnya di meja" Lani mengambil berkasnya di meja dan menghampiri kembali Rendy. "Ayo ikut Saya! Saya mau bahas di luar saja sekalian cari restoran" mau tidak mau Lani mengikuti Rendy. Mereka masuk lift dan turun di lantai basement tempat Rendy memarkirkan mobilnya. Bip bip. Alarm mobil Rendy di bunyikan, Ia membuka pintu kemudi, sementara Lani membuka pintu sebelahnya. Mereka sekarang hanya berdua di dalam mobil membuat Lani sedikit waspada. Tiba-tiba saja Rendy mendekatkan wajahnya pada wajah Lani membuat Lani menahan nafas mata mereka saling bertatapan sekian detik. Rendy sangat menikmati ekspresi kaget Lani, "Bernafaslah!" ucap Rendy sedikit menarik bibirnya sebelum akhirnya Ia menarik seatbelt di kursi Lani dan memakaikannya. Lani menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah ke arah jendela 'Kenapa Gue harus gugup tatapan mata sama dia sih?' bisik hati kecil Lani. "Kenapa diam? Bukannya sama Bayu Kamu banyak bicara?" Lani menoleh menatap tajam Rendy "Apa ada yang harus Saya bicarakan pada Bapak selain pekerjaan?" Lani kembali membuang muka "Saya tidak ingin di anggap mvrahan dan merayu bapak hanya karena mengajak ngobrol Bapak" lanjutnya ketus. Rendy hampir saja lupa dengan tujuannya mengajak Lani. Ia ingin meminta maaf tapi gengsi untuk mengatakannya. Jadi Ia diam saja. Perjalanan cukup jauh mereka berangkat dari Jakarta Barat masuk tol dalam kota menuju Kota Bekasi. "Mau kemana Kita?" Lani melihat Rendy membawa mobil ke sebuah Apartemen. "Makan!" "Tapi ini apartemen bukan resto" Lani tidak tahu Apartemen yang Ia anggap restoran ini memang memiliki konsep Mall di bawahnya Lagoon Avenue, sebuah Mall yang terkoneksi langsung dengan hunian apartemen. Rendy memilh coffee bar di sudut dekat dengan marketing gallery, coffe bar ini tidak hanya menawarkan biji kopi yang digiling langsung dan menjadi kopi dengan cita rasa yang enak bagi para pecinta kopi. Penjual menyediakan juga makanan berat sebagai pelengkapnya. "Saya pesan roti bakar, friench potatoes, americano coffee dan air mineral" "Saya pesan spageti bolognaise dengan tambahan parutan keju dan hazelnut latte saja" Lani memberikan buku menu pada pelayannya. "Baik ditunggu pesanannya" Lani meletakan map di atas meja, Ia mulai membuka isi map tersebut berniat menjelaskannya pada Rendy. "Nanti saja, setelah makan!" Rendy menutup kembali map itu, Ia sama sekali tidak mood untuk membahas pekerjaan. Ia hanya ingin mengajak Lani berduaan saja. "Saya baru tau apartemen ini ada Mallnya juga" Lani membuka obrolan, Ia mengikat rambut dan mencepolnya sehingga lehernya terekspose sempurna. "Ehmm..." Baru melihat leher saja Rendy sudah panas "Ya, konsep yang mereka tawarkan seperti itu, Hartawan juga memiliki beberapa unit apartemen di sini untuk di sewakan kembali" "Oh ya? Wow, kenapa berminat ambil banyak di sini?" tanya Lani kepo. "Di sini cukup strategis dekat dengan jakarta dan sekitarnya, unit yang ditawarkannya cukup bagus sangat layak untuk dijadikan tempat beristirahat" makanan telah datang mereka menyantap makanan mereka hingga habis. "Ayo ikut Saya!" Rendy mengajaknya lagi jalan usai habis makanannya. Mereka masuk ke dalam lift, Rendy mengeluarkan akses card miliknya, lift terbuka di lantai 20. Rendy keluar lift menyusuri koridor apartemen, Ia membuka salahsatu unit apartemennya "Masuk! Kita akan membahasnya di dalam" Rendy memberikan titah. Lani melangkahkan kakinya ke dalam matanya meyapu seluruh ruangan, apartemen ini dua unit apartemen yang digabungkan menjadi satu jadi tampak begitu luas, di dalamnya terisi perabotan yang mewah begitu juga furniturenya sangat elegan dan kekinian. "Pak Rendy tinggal disini juga?" mata Lani menyiratkan kekaguman pada gaya yang dipilih Rendy untuk apartmennya. "Tidak setiap hari, hanya jika sedang ingin saja Saya ke sini" Rendy membuka jasnya dam menggantungkannya di sebuah tempat khusus, Ia membuka dua kancing atasnya sehingga mengekspose sedikit rotisobeknya yang ditumbuhi rambut halus. Ia menggulung kemeja putihnya hingga siku. Lani duduk di sebuah sofa lalu bersandar dengan kedua tangan disilangkan di d**a dan kaki menopang sebelah. Tidak lama Rendy datang membawa dua buah kaleng soft drink. "Ini minum!" "Terimakasih!" Lani membuka kaleng minumnnya dan meneguknya sedikit. "Saya minta maaf!" tiba-tiba saja kata maaf meluncur dari mulut Rendy. "Untuk?" Lani mengernyitkan keningnya heran karena jarang sekali bosnya ini mau meminta maaf. "mengenai ucapan Saya tempo dulu" "....." Lani masih menebak arah pembicaraan mereka. "Maaf sudah salah faham sama Kamu dan mengatakan kamu mvrhan" akhirny Rendy mengatakannya dengan jelas. "Untuk itu!?" Lani tersenyum malu-malu mendengar ucapan maaf bosnya, sebuah kemajuan yang pesat bosny mau berbesar hati mengatakannya. "Saya terima permintaan maaf Pak Rendy, Saya juga harap Bapak tidak membahas lagi kejadian pada saat jamuan makan malam minggu lalu" "Kissing?" Rendy menebak maksud Lani. Wajah Lani langsung bersemu merah. Rendy tersenyum sangat manis kali ini, Ia ingat kembali pada momen itu. Momen dimana Ia sangat menginginkan wanita selain Rachel dalam hidupnya, momen Ia merasa jiwa lelakinya sangat tertantang. Ia bahkan ingin mengulang momen itu lagi dengan izin si pemiliknya tanpa paksaan. "Sudah jangan di bahas Pak!" pinta Lani semakin membuat Rendy gemes pada wanita ini. "Bagaimana bisa Saya melupakannya, Kamu sangat kaku dan...." belum sempat Rendy melanjutkannya Lani refleks melempar bantal sofa yang ada dipangkuannya pada wajah Rendy. "Stop it, Ren! I wanna kill you if you try to talk about it again!" Rendy tertawa lepas mendengar ancaman Lani, Ia mendekatan diri duduk di samping Lani. Refleks Lani menggeser posisinya menjauh dari Rendy. "If I wanna try again, what did you want?" Rendy mendekatkan wajahnya di depan wajah Lani. 'Lagi-lagi aroma ini yang membuatku lupa segalanya' aroma tubuh maskulin Rendy dan wangi mint mulutnya sangat Lani suka. Ia memejamkan mata dan menahan nafasnya lagi. "Fuh, bernafaslah!" Rendy meniup wajah Lani dan menarik wajahnya kembali. "Kamu ingin saya cium lagi?" Rendy tersenyum jahil menggoda Lani.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN