warning adegan 21+
Author tidak bertanggung jawab apa yang akan terjadi nanti.haha
Lani memutar bola mata jengah, jika Bayu sangat suka merayunya, Rendy lebih suka dengan tindakan yang tidak dibayangkan tapi membuat jantung Lani sedikit berguncang karenanya. Lagipula apa yang dibayangkan Lani, bisa-bisanya Ia membayangkan kejadin seperti sebelumnya.
"Pak Rendy bilang mau bahas pekerjaan, sekarang sudah jam 8 lewat mau sampai jam berapa Saya di rumah?" Ucap Lani mengalihkan pembahasan tadi. Sebenarnya bisa saja Rendy meminta Lani untuk menjelaskan di kantor tapi nanti ketahuan bahwa Ia hanya ingin mengajak Lani berduaan saja.
"Silakan Kamu jelaskan pada Saya konsep yang Kamu buat"
"Seperti ini design apartemen dan condotel proyek the royal harmony menggabungkan hunian dan condominium hotel, di lantai bawah sendiri kita buat satu area khusus ramah anak-anak, kita buat konsep untuk ibu bekerja kita sediakan day care, lalu ada private pool dan main pool, kita sediakan juga minimarket di area Ground floor supaya penghuni tidak perlu keluar dari area apartmen jika kehabisan bahan pokok dan kita sediakan beberapa ruangan khusus kantin, ..........." Lani menjelaskan konsep yang Ia buat untuk proyek mereka di Tangerang secara jelas, Rendy menopangkan dagunya di bantal yang ia letakan di pahanya. Bukannya fokus mendengarkan penjelasan Lani ia malah fokus pada yang lain yang semerah cherry.
"Kurang lebih seperti itu konsep yang Saya buat Pak, Pak, Pak Rendy?" Lani memanggil-manggil Rendy yang malah bengong mendengar penjelasan Lani, dengan usil Lani membalas meniup wajah Rendy gantian.
"Fuhhh...." Rendy mengedip-ngedipkan matanya dan salah tingkah kepergok sedang memerhatikan Lani.
"Y-ya gimana tadi? oke bagus!" jawabnya asal, Lani menahan tawa melihat tingkah bosnya. Ia sudah enggan menjelaskan lagi pada Rendy.
"Sudahlah nanti Kita lanjut bahas di kantor!" Rendy melambaikan tangan pada Lani,
'Dasar orang aneh, ngapain ngajak Gue jauh-jauh ke Bekasi kalau akhirnya bakal double ngejelasin di kantor' Batin Lani berbicara
"Oke, sepertiny Pak Rendy sudah terlalu lelah juga, kalau gitu Saya pamit dulu, Pak Rendy bisa bantu Saya anter ke lift? Saya kan ga ad akses lift"
"Siapa yang izinkan Kamu pulang, belum selesai!"
"Tapi ini sudah malam Pak Rendy, Saya mau sampai rumah jam berapa? Pak Rendy bilang sendiri tadi Kita lanjut di kantor"
"Ya Saya masih mau bertanya hal lain! Kamu menentang Saya?" Tuh kan kumat lagi arogannya, tiba-tiba Lani teringat foto yang Ia ambil diam-diam di Bali. Ia rasa ini saat yang tepat untuk memberitahu Rendy, mumpung hatinya sedang baik.
"Gimana Pak Rendy sama Rachel?" kali ini tidak ada embel-embel 'BU' di depan nama Rachel.
"Kami baik-baik saja"
"Walaupun Bapak lihat Rachel dan Alex jalan berdua?" Ada sedikit perasaan tidak rela Rachel berbuat curang pada Rendy, ini pasti murni karena rasa kemanusiaan bukan yang lain.
"Memangnya tau apa Kamu tentang Rachel?" Rendy berkata sedikit ketus, nah kan mulai lagi galaknya.
Lani menyodorkan ponselnya menunjukan foto-foto sepasang pria dan wanita dengan pose bersandaran mesra saling menggenggam tangan satu sama lain dan satu pose lagi ketika mereka berdiri saling bertatap-tatapan.
Rendy memokuskan pada gambar yang di ambil dari jarak jauh itu, Ia sangat mengenal siluet tubuh wanita itu tapi Ia berusaha mengelak 'tidak mungkin Rachel' hatinya menolak jika Rachel benar-benar mengkhianatinya.
"Apa ini?" Rendy pura-pura berkata tidak peduli.
"Bapak tidak kenal?" tanya Lani meyakinkan, sebab tidak mungkin pria yang sudah sepuluh tahun lebih bersama tidak mengenal sosok wanita yang selama ini menemaninya.
"Rachel?" Ucap Lani menyunggingkan senyum dark angelnya "Foto ini Saya ambil ketika visit ke Bali beberapa pekan lalu"
"Jangan bikin fitnah!" Rendy menyangkal meskipun Ia tidak yakin sangkalannya.
"Untuk apa Saya fitnah Bapak?" Lani mengangkat alisnya menampilkan wajah penuh tanya.
"Bisa saja Kamu menginginkan Kami putus" Rendy membuang pandangannya ke depan.
Lani mengeratkan giginya menahan kesal "Apa untungnya buat Saya?" Ia tersenyum sinis.
"Mungkin saja Kamu menyukai Saya dan ingin menggeser Rachel di hati Saya" ucap Rendy penuh percaya diri.
Lani menganga tidak percaya 'tinggi sekali rasa percaya diri dia'
"Dengar Pak Rendy, niat Saya baik mengingatkan Pak Rendy agar tidak tertipu wanita itu" Lani menjeda ucapannya menarik nafas dalam-dalam melanjutkan ucapannya "Pak Rendy ingat waktu mobil Pak Rendy hampir menabrak Saya?"
Rendy mengedikan bahunya tidak ingat.
"Saat itu Saya habis berantem sama sepasang pria-wanita yang sedang bertengkar, mereka adalah RACHEL dan ALEX" Lani menekankan nama mereka di ucapannya.
"So? Alex dan rachel hanya sepupu" Rendy masih mendengarkan cerita Lani tapi masih tidak percaya.
"Sepupu? Apa ada sepupu yang semesra itu? Mungkin Pak Rendy tidak percaya apa yang saya dengar tentang obrolan mereka"
Lani menatap meremehkan "Saya tidak akan memberi tahu karena percuma saja, Bapak pasti tidak percaya pada Saya, silakan Pak Rendy selidiki sendiri, buka mata hati Pak Rendy, jangan BUCIN!" entah mendapat keberanian dari mana Lani senekat itu.
Rendy tersinggung dengan ucapan Lani apalagi tatapan meremehkan Lani. Ia memegang rahang Lani "Bibir kamu sangat tajam sekali, nampaknya harus Saya melembutkannya kembali"
Ia menyapukan ibu jarinya di bibir Lani dengan sangat lembut, kemudian menempelkan bibirnya mengecupnya sangat lembut "Bagaimana kalau begini. Kamu menyukainya kan?" Lani memalingkan wajahnya menolak ciuman Rendy kali ini tapi Rendy membalikan kepalanya kembali sehingga mereka saling bertatapan.
"Lepaskan Pak Rendy! Jangan macam-macam" Lani memejamkan mata dan menahan nafasnya.
"Tapi matamu menginginkannya!" Rendy kembali mengecupnya sangat pelan. Ia sebenarnya sangat marah mengetahui kalau Ia di curangi Rachel tapi Lani menganggap Rendy marah karena tuduhan Lani pada Rachel, Rendy ingin membuktikan sendiri tuduhan Lani pada Rachel. Ia akan mencari tahu sendiri nanti.
Di raupnya kembali dengan rakus bibir Lani tanpa henti, Ia berusaha memasukan lidahnya ke celah bibir Rachel, benar yang dikatakan Rendy otak Lani menolak sentuhan Rendy tapi tubuhnya menikmati tiap sentuhan Rendy. Bahkan pada Arka sekalipun Lani tidak terlalu seperti ini. Kali ini Lani tidak memberikan akses pada Rendy, Ia tidak mau hanya dijadikan pelampiasan nafsu bosnya saja. Melihat tidak ada perlawanan dari Lani, Rendy akhirnya menghentikan ciumannya. Entah mengapa kali ini Lani kecewa Rendy tidak memaksanya seperti sebelumnya.
"Maaf!" hanya itu yang keluar dari bibir Rendy.
"Saya permisi Pak sudah terlalu malam, tolong antar Saya ke lift" Wajah Lani sudah semakin memerah akibat ulah Rendy, Ia ingin marah tapi tidak bisa. Tidak mungkin kan Ia menyukai Rendy hanya dalam sebulan saja.
"Ini sudah terlalu malam, bahaya Kamu pulang sendiri" Bisa saja Rendy mengantarnya kan, tapi ini salah satu modus dia agar tetap bersama Lani.
"Lebih baik Kamu bermalam di sini" usul Rendy meraih pinggang Lani yang cukup berisi tapi tidak berlebihan.
"Lebih bahaya mana Saya bermalam di sini atau pulang dengan taksi malam ini?" ucap Lani ketika mereka hanya berjarak satu cm, Lani merasakan ada yang memberontak dibalik celana Rendy karena jarak mereka yang sangat dekat.
Lani pun bisa saja meminta Ivan menjemputnya tapi Ia tidak mau merepotkan orang, apalagi minta jemput sopir pribadi bisa-bisa Gunawan Atmadja tidak mengizinkan Ia untuk bekerja di sini lagi.
"Hey, Kamu pikir Saya akan memperkosamu?" ucap Rendy sarkas, Lani mengerucutkan bibirnya. Rendy sangat bernafsu melihat Rachel seperti ini, Ia semakin merapatkan pelukannya. Lani menahan kedua tangannya di d**a Rendy.
"Saya ga bawa baju salin Pak! Masa besok ke kantor pakai baju ini lagi"
"Kamu lihat di dalam lemari ada baju wanita yang bisa Kamu pakai"
"Saya pakai punya Rachel? No Way!" enak saja memakai bekas Rachel.
"Siapa bilang itu milik Rachel, itu semua Saya beli baru belum di pakai satupun"
"O, jadi persiapan bapak kalo ada wanita yang bermalam di sini"
"Jangan asal menuduh, baju itu milik Andrea kekasih Dewa yang belum di pakai"
"Perhatian sekali Pak Rendy pada kekasih Pak dewa, ya sudah Saya tidur di sini malam ini, tapi Pak Rendy jangan macam-macam!" Lani mengacungkan tangan takut-takut padanya.
Rendy melepaskan pelukan di pinggang Lani, Ia merasakan perbedaan ketika melihat Lani bersama Bayu tidak seintim ini, Lani berusaha mengelak tapi mengapa dengannya Lani tenang.
Sepertinya Rendy salah lagi memberi alasan. Lani memasuki kamar Rendy Ia membuka lemari pakaian yang sangat besar, memang sangat banyak baju-baju wanita yang sangat modis, pilihannya untuk tidur Ia menggunakan gaun tidur bahan satin berwarna hitam dengan outer lengan panjang.
Tok tok tok
Lani membuka pintu kamar Rendy, Rendy takjub dengan pemandangan di depannya, matanya menatap lekat pada belahan d**a yang terlihat menyembul malu-malu dari dalam.
"Saya mau ambil baju ganti" rendy menggunakan kamar mandi luar untuk bersih-bersih. Lani membuka pintu lebar-lebar mempersilakan Rendy masuk.
Rendy masuk ke dalam kamarnya dan mengambil kaos slim fit berwarna hitam kemudian membuka kemejanya begitu saja di depan Lani, sekarang jelas terlihat roti sobek yang ditumbuhi bulu-bulu halus, Lani menelan ludah melihatnya Ia merapatkan tubuhnya di dinding dan memejamkan matanya kembali.
'Tuhan, semoga Aku dilindungi dari godaan Rendy yang memang menggoda' bisa-bisanya Lani berpikir seperti ini. Lani sama sekali tidak mendengar ada suara, Ia membuka matanya pelan-pelan di dapatinya Rendy sedang menatapnya. Lani terpaku menatap rahang kokoh Rendy, mulut Lani sedikit terbuka membuat Rendy tidak tahan untuk melewatinya.
Rendy meraih tengkuk Lani pelan dan mencium bibir Lani pelan, berulang-ulang jika kali ini Lani tidak meresponnya lagi maka Rendy akan menghentikannya. Rendy menghentikan ciumannya dan menatap mata Lani sayu.
"Selamat tidur, jika Kamu berubah pikiran mau Saya temani panggil Saya saja" ucapnya lirih hendak melepaskan pelukan di pinggang Lani. Tapi Lani menahan tubuh Rendy dan melumat balik bibir Rendy, Rendy sedikit terkejut tapi segera mengimbangi permainan Lani, lidahnya menyusuri seluruh rongga mulut Lani. sehingga ciuman mereka semakin membara, Rendy meremas p****t Lani pelan hingga juniornya menempel persis di miss v Lani hanya terhalang gaun dan celana Rendy.
"Ahhh..." Desah Lani pelan. Rendy menggendong Lani sehingga kaki Lani menjepit pinggang Rendy. Ia membawa Lani ke atas kasur dan melanjutkan kembali ciuman mereka. posisi Lani sudah berada di bawah kungkungan Rendy
"Kamu sangat manis Lani" Rendy menggigit pelan bibir Lani "Apakah kamu seperti ini juga pada Bayu" Rendy masih cemburu membayangkannya.
"Kenapa Pa Rendy berpikir seperti itu"
"Saya tidak rela Bayu ikut menikmati bibir ini" lanjutnya kemudian meraup kasar bibir Lani.
"Tih..dak seh.pertii yahng Khahmuh bhaayangkan" Lani menjawab pertanyaan Rendy di sela-sela kegiatan mereka. Rendy tersenyum menang. tangannya mulai meremas gundukan yang menyembul dari gaun itu.
"Ahh.. ternyata ini begitu nikmat" fokus Lani sudah teralihkan pada Rendy sekarang, Rendy mencium dan menyapukan lidahnya di leher Lani tangannya masih memainkan gundukan itu pelan masih sangat kenyal berbeda dengan milik Rachel yang sedikit lembek.
Lidah Rendy terus menyapu tubuh Lani hingga ke belahan d**a milik Lani. kemudian meninggalkan kissmark yang tersembunyi di antara keduanya.
"Ahh.. Rendy!" Lani hampir gila di buatnya, junior Rendy menggesek terus di miss v miliknya yang tertutup gaun. Rendy menggigit kecil p****g Lani yang masih tertutup gaun.
"Boleh Aku membukanya?" Rendy menatap dalam mata Lani yang sudah sangat sayu. ia meminta persetujuan Lani untuk mengeluarkan squishy milik Lani yang sangat putih seperti s**u. Lani tidak menjawab tidak pula menolak. Rendy menganggap persetujuan. Ia mengeluarkan kedua p******a Lani yang masih tertutup bra kemudian menjilati dan menghisapnya pelan. ia tinggalkan jejak kepemilikan di sana. Lani melenguh pelan dan membusungkan dadanya.
"Stop it Rend, I wanna crazy, ahhh!"
"Tapi tubuhmu menyukainya sayang, Kamu tidak ingin memegang juniorku?" di arahkan tangan Lani yang mencengkeram sprei kasur pada junior Rendy.
"See! He want your catch" Lani memegang junior Rendy yang sudah membesar. Baru kali ini Ia memegang milik pria. Ia mengusapnyanya pelan.
"Ah... Kamu masih amatiran Sayang! haha " goda Rendy membuat wajah Lani memerah. posisi Rendy menyilang memudahkan Lani bebas menggenggam junior Rendy yang sangat keras. Rendy mengangkat gaun satin Lani hingga sekarang terpampang jelas di baliknya, kulit yang sangat putih dan halus bak pualam, sama sekali tidak ada noda. putingnya berwarna merah muda, miss v Lani hanya tertutup celana dalam berwarna hitam juga. ia memainkan jarinya di balik celana Lani.
"Ia sudah basah!" ucap Rendy berbisik di telinga Lani.
"Ahhh, Rend.. faster sayang!"
"Bagaimana kau memanggilku tadi?" Rendy ingin Lani mengulang panggilannya.
"Ini sangat enak sayang" Lani mengangkat kepalanya dan memasukan junior Rendy ke dalam mulutnya seperti film blue yang pernah ia tonton. ia menjilatinya seperti makan ice krim. sangat lembut
"Hmmphtt..." gumam Lani sementara tangan rendy masih bermain di balik celana dalam Lani. "Ahhh... Kamu sangat lembut membuatku gila" ucap Rendy. Rendy menukar posisinya membuat adegan 69, ia menarik celana dalam Lani dan membuka paksa paha Lani yang daritadi menghimpit.
Sebuah kenikmatan surga dunia, miss v Lani sangat rapi ditumbuhi bulu-bulu halus warnanya sangat pink seperti warna putingnya. Rendy menjilat k******s Lani dan memainkannya.
"HMmppptt. Renddd, No!" ucapnya masih memainkan junior Rendy tapi Rendy tidak mengindahkannya. malah menyapu lidahnya di seluruh miss v Lani yang wangi buah. Ia memasukan lidahnya di lubang kemaluan Lani membuat Lani mengangkat bokongnya.
"Do it sayang, mainkan yang cepat!" ucap Rendy tidak sabar karena Lani masih sangat amatiran, akhirnya Rendy memaju mundurkan juniornya di mulut Lani. lidahnya terus menyapukan miss v Lani yang sangat becek.
"Ahh..ahhh.. I wanna come" ucap Rendy" begitu akan keluar Ia menarik juniornya dan menyemburkan s****a miliknya di atas d**a Lani. ia tahu Lani belum mencapai puncaknya. Rendy berjongkok di depan kemaluan Lani, Lani merapatkannya malu-malu.
"Buka sayang, jangan malu, milikmu sangat menggairahkan. Tenang Aku tak akan menodaimu" Rendy membuka paha Lani dan menaikannya di bahunya, melihatnya junior Rendy kembali mengeras. ia harus menuntaskannya di jilatinya kemaluan Lani dan memainkan klitorisnya.
"Ahhh sayang. Aku mau pipis!" ucap Lani frustasi, ia tidak tahu bahwa ia akan mencapai puncaknya.
"Lepaskan sayang jangan ditahan!" Rendy menyeruput dan menggigit pelan k******s Lani hingga keluar cairan hangat milik Lani,
"Ahhh..Rendy...Ahhh.." Ia membenamkan kepala Rendy hingga merasakan ingin pipis. Ia menjilatinya sampai bersih tanpa rasa jijik. setelah mereka klimaks Rendy tidur di samping Lani.
"Kamu belum pernah sayang seperti ini?" Lani menggeleng pelan. "Tidurlah, Aku akan menjagamu" Rendy memeluk Lani dari belakang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut, Ia mengusap-usap perut rata milik Lani dan menciumi punggung Lani.
Pagi hari sudah tiba, jam menunjukan pukul lima subuh tangan kokoh Rendy masih melingkar di perut Lani, Ia teringat permainan mereka semalam. Lani tersenyum tipis, Ia menarik tangan Rendy pelan dari perutnya tapi di tahan Rendy.
"Biarkan seperti ini, Aku masih lelah!" ucapnya di tengkuk Lani. Rendy semakin mempererat pelukannya dan menaruh mukanya di leher belakang Lani. Lani merasakan ada yang menegang di bawah sana. wajahnya memerah mengingat pertempuran mereka semalam.
"Sudah pagi Pak, nanti Kita telat ke kantor!"
"Biar saja, Aku kan bosnya!" ucapnya tanpa melepaskan pelukannya.
"Tapi Saya hanya bawahan"
"Biar saja, siapa yang berani dengan Saya"
"Nanti kalau Rachel tau gimana?" pancing Lani.
"Biar Dia tau, dan satu lagi jangan panggil Aku Bapak!" ucap Rendy asal. Lani membalikan tubuhnya sehingga sekarang mereka saling berpandangan. Mata Rendy masih tertutup, Ia menikmati pemandangan di depannya.
"Sudah puas memandangnya?" sekarang panggilan mereka berubah Aku Kamu. Rendy membuka matanya tersenyum melihat wajah Lani. Lani menutup wajahnya malu-malu. membuat Rendy semakin gemas, Ia meraih tangan Lani dan memegangnya
"Aku akan menyelidiki siapa Alex dan ada hubungan apa dengan Rachel" Lani tersenyum akhirnya pikiran Rendy terbuka juga.
"Kamu senang?" tanya Rendy.
"Saya senang Pak Rendy mau membuka mata dan mencari tahu siapa wanita yang selama ini menemani Pak Rendy sekian lama"
"Saya bilang jangan panggil Bapak setidaknya jika kita sedang berdua, Hanya itu saja?" Rendy menatap jauh ke dalam mata Lani.
"Y-Ya.. hanya itu, Rend" ucap Lani pelan tapi seperti bertentangan dengan hatinya.
"Oke, sementara hanya karena itu, Aku pastikan akan karena hal lain" ucap Rendy kemudian mencium kening, berlanjut ke mata, kemudian bibir.
"Ayo cepat bangun, kalau tidak ada yang minta lagi di bawah sana!" ucap Rendy sambil menggesekan juniornya di paha Lani.
"Dasar mesvm!" Lani memukul bahu Rendy pelan.
"Tapi Kamu suka di mesvmin" Rendy menggoda Lani dan menggigit kecil hidung mancung Lani sementara bawahnya semakin menegang.
"No!" Lani membuka selimutnya kemudian ke dapur berniat membuat teh dan sarapan. Ia membuka kulkas masih ada sayuran hijau dan beberapa bungkus indomie. Ia mulai memasaknya hingga tercium aroma indomie di ruangan.
Rendy tersenyum tipis tidak menyangka hubungannya dengan bawahannya akan sejauh ini.
"Sarapan dulu sebelum berangkat!" dua mangkuk Indomie dengan sayur, sosis, bakso dan dua cangkir teh hangat sudah tersedia di meja. Mereka sarapan dalam diam dengan pikiran masing-masing, sangat sweet kan seandainya mereka pasangan suami istri.
"Terimakasih sarapannya, Sayang" Rendy memamerkan senyum terbaiknya pagi ini, wajah Lani bersemu merah mendapat panggilan Sayang dari Rendy. Lani membalas senyuman itu tidak kalah manis. Andai saja Rendy selalu menampilkan wajah ramah seperti ini. Mereka tersenyum menikmati sarapannya.