23. Gosip Hangat

1580 Kata
Lani membuka lemari milik Rendy, Ia memilih pakaian yang akan Ia gunakan hari ini untuk berangkat ke kantor. "Baju-baju di sini seksi semuanya, huft!" Lani mengambil salah satu kemeja warna putih yang cukup sempit jika di pakai Lani. Pandangannya jatuh pada sebuah coat berwarna kuning gading, Ia menggunakan coat itu untuk menutupi kemejanya yang kesempitan, ia menggunakan rok span lima centi meter di atas lutut. Rambutnya Ia biarkan tergerai, lipstik berwarna merah bata Ia ombre dengan warna lebih muda sebagai dasarnya. Ia menyemprotkan minyak wangi di pergelangan tangan kemudian mengolesinya di leher. Cara ini digunakan supaya wanginya bertahan lama. Cklek Suara pintu kamar terbuka. Rendy terpaku melihat Lani, sangat cantik menggunakan outfit hari ini. Hari-hari lainnya sudah cantik, cuma karena hari ini Ia melihat Lani pakai hati apapun yang Lani gunakan bisa menghipnotis Rendy. Kakinya melangkah mendekati Lani, Lani sedikit salah tingkah dibuatnya. "Kemejanya sempit di bagian depan, jadi Aku pinjam coat ini sekalian Pak" Ucap Lani merapatkan coatnya yang juga sedikit sempit "Sepertinya size Saya di atas pakaian ini" lanjut Lani. "Cantik! Memang sedikit ngepress di tubuh Kamu, mungkin size di sini yang sedikit lebih besar" Rendy menunjuk bagian atas tubuh Lani, "Dasar mesvm" "Bukan m3svm memang lebih berisi" elak Rendy, matanya menatap lekat tubuh Lani. Merasa di perhatikan seperti itu Lani semakin kikuk. Rendy mendekati Lani, jantung Lani seperti berlari-larian tubuhnya tak bisa di gerakan. Jarak mereka saat ini hanya sepuluh centimeter, Rendy menghirup wangi yang sangat menenangkan dari aroma parfum Lani, Ia mengangkat tangannya ke arah pundak Lani. Lani memejamkan matanya "Kalau Kamu berada di sini bagaimana Aku bisa mengambil seragamku" ucapnya mengagetkan Lani, Rendy menyunggingkan senyumnya tipis. Lani menjadi malu sendiri, Ia merapatkan bibirnya ingin tersenyum tapi di tahan. Ia menggeser posisi tubuhnya hingga tidak menghalangi lemari. 'Duh mikir apa sih Gue, bener-bener jadi b*ego deh ko deket Rendy' Rendy mengambil kemeja berwarna kuning gading dan dasi yang senada. Ia memakai jas hitam kemudian merapikan dasinya. "Hei mengapa Kamu pakai baju yang warnanya sama denganku" Lani mengerutkan keningnya. Rendy hanya mengangkat alisnya tanda tidak peduli. Lani melihat dasi yang Rendy gunakan sedikit miring, Ia memberanikan diri membenarkan dasi Rendy. "Sory Ren, Aku benerin yah, sedikit miring!" ucapnya, lalu menepuk pelan d**a Rendy pelan "sudah rapih" ucapnya. Rendy menahan pergelangan tangan Lani yang berada di dadanya mata mereka saling mengunci. Wajah Rendy semakin deket hingga tidak berjarak, kemudian kepalanya sedikit di miringkan kali ini Lani diam saja, Rendy berbisik tepat di telinga Lani "Kamu sangat cantik, Aku suka" Wajah Lani menghangat aliran darah seolah-olah berkumpul di wajahnya. Pasti kulitnya sekarang sudah semerah tomat, memiliki kulit berwarna cerah memang gampang sekali kelihatan kalau sedang seperti ini. Ia tidak bisa lagi menahan groginya, kebiasaan Lani jika sedang grogi akan menggigit bibir bawahnya. Cup. Rendy mencuri ciuman di bibir Lani lagi "Sudah ku katakan dari awal jangan sering menggigit bibirmu jika didepan ku atau...." sebelum Rendy melanjutkan perkataannya Lani melepas gigitannya, berusaha menarik tangannya yang di genggam Rendy. Ia tidak tahan jika harus berlama-lama seperti ini bisa runtuh pertahanannya. "Ayo kita berangkat Pak!" Ucap Lani mengalihkan perhatian. Rendy menahan sedikit tawanya, rasa ini sangat berbeda bahkan jauh lebih indah tidak seperti Ia rasakan pada Rachel. Karena dulu Rachel lah yang mengejar-ngejar Rendy, hingga akhirnya Rendy luluh pada tiap perhatian Rachel. Mereka menuju lift dan turun di lantai basement. Rendy berdiri sangat dekat dengan Lani. Mengikiskan jarak antara mereka. Saat keluar lift semua mata tertuju pada Lani, Rendy menatap tidak suka Ia memeluk pinggang Lani menyatakan kepemilikan padahal mereka hanya partner kerja. Lani berusaha melepas pelukan Rendy. Tapi Rendy malah mengeratkan pegangannya. "Kamu terlalu berlebihan Rend" ucap Lani di dalan mobil. "Aku tidak suka mata mereka melihat tubuhmu jelalatan, Kamu bukan bahan objek m3svm mereka" Lani tersenyum hangat mendengar jawaban Rendy. Entah mengapa hatinya sedikit berbunga mendengar jawaban Rendy yang kelihatan cuek tapi dalam maknanya. "Mungkin karena bajuku sedikit sempit, mereka menatapku seperti itu. Kalau Aku izin pulang dulu ganti baju bagaimana?" usul Lani "Tidak usah nanti Kamu telat masuk kantor, mau gajinya Aku potong" Lani cemberut mendengar ancaman Rendy, seenaknya saja memotong gaji, padahal Dia yang membuatku seperti ini. Rendy melirik dia sedikit menarik sudut bibirnya melihat Lani cemberut. "Aku janji tidak telat Rend, rumah kostku tidak terlalu jauh dari kantor hanya 15 menit jika menggunakan ojek motor" "Kalau Aku bilang tidak usah berarti tidak" ucap Rendy galak. "Huft, kumat lagi" gumam Lani pelan tapi masih terdengar. "Kalau mengumpat jangan terlalu besar, Aku mendengarnya" Lani memutar bola mata "Terserah Kamu lah, Pak Bos!" Lani menekankan kata Bos di suaranya. Bukannya marah Rendy malah tertawa. Lani menatap sengit karena Rendy malah tertawa. Tapi Lani suka melihatnya, Ia sangat tampan auranya sangat berbeda. Lani ikut tersenyum. "Sebaiknya nanti Aku jalan duluan, Aku ga mau menjadi bahan gosip berangkat denganmu" "Tidak usah Kamu pedulikan ucapan mereka" "Kamu kan Bos, tidak akan ada yang berani mengintimidasimu, kalau Aku kan hanya bawahan belum lagi nanti sekretarismu yang selalu mengajak perang" "Hahaha, Kamu merebut incarannya makanya Dia mengajakmu perang" Rendy mengetahui arah pembicaraan Lani mengenai Sarah, bukan rahasia umum jika Sarah suka pada sepupunya. "Lagipula siapa yang mau merebut Ka Bayu darinya. Ka Bayu saja ga suka sama Sarah" "Kalau Kamu suka Bayu?" tanya Rendy, "Ka Bayu baik, ramah sama semua orang Dia juga tampan, Aku rasa siapapun akan menyukainya" Rendy tidak suka mendengar jawaban Lani, mukanya kembali galak. "Jadi Kamu suka Bayu?" ucapnya datar. Lani menoleh heran melihat Rendy. Ia tidak peka pada perasaan Rendy. "Ya, Aku suka berteman dengannya" "Kalau begitu Aku akan menempatkanmu di Bali supaya Kamu bisa dekat sama Dia terus" Rendy berkata datar sambil fokus menyetir. "Jangan Pak! Aku ga mau stay di Bali, please!" Lani refleks memegang lengan Rendy yang sedang memegang kemudi. "Aku hanya mendekatkan Kalian" ucapnya tenang tapi matanya menyimpan cemburu. "Bukan dekat seperti itu Pak!" kali ini Lani memanggil formal pada Rendy. Tepat lampu merah Rendy menarik tuas rem tangannya. "Kalau begitu jangan harap Aku memberikan kalian celah untuk bersama" Rendy tau jika Bayu memang sangat menyukai Lani juga, Ia memegang tangan Lani yang memegang lengan kirinya dengan tangan kanannya. Kenapalah ini Rendy, mengapa jadi posefif. Mereka telah tiba di kantor, mata para Pria tidak lepas dari Lani, Ia terbiasa menggunaan pakaian longgar berangkat ke kantor. Padahal Ia sudah menutupi tubuhnya dengan coat. Tetap saja para pria terhipnotis melihatnya, Rendy menyadari tatapan karyawannya yang sangat lekat pada Lani. Ia menatap tajam pada karyawan-karyawannya, barulah mereka mengalihkan matanya dari Lani. Karena ini di kantor Ia tidak bisa seenaknya memeluk Lani. Sedangkan para karyawan wanita menatap iri Lani, sudah dipastikan mereka akan menggosipkan Lani hari ini, padahal Lani dan Rendy tidak berbicara satu sama lain. Mereka telah di ruangan masing-masing, Tisya segera mendekat pada Lani. "O my God Lani, Lo tau, Lo jadi bahan gosip hari ini, Lo harus cerita kenapa bisa bareng sama Pak Rendy" ucap Tisya menggebu-gebu. "Kami hanya kebetulan bertemu di sebuah minimarket, karena Aku naik bis jadi Pak Rendy mengajak berangkat bareng sekalian" Lani mencoba memberikan alasan yang logis. "Yakin? Lo ga One Night Stand sama Pak Rendy kan?" tatap Tisya penuh selidik. "Jangan ngaco deh, Sya" Lani nenyalakan CPU nyax kemudian mengirim pesan pada Rendy mengenai gosip mereka hari ini. Lani meminta Rendy menjawab sama dengannya kalau ada yang kepo bertanya kenapa mereka bisa berangkat bareng, padahal tidak mungkin ada yang berani brtanya pada Rendy. "Masalahnya kenapa hari ini Lo bisa serasi banget sama Pak Rendy, Lo liat baju Lo sama kaya Rendy" kali ini Tisya tidak membawa embel-embel Pak di depannya saking curiganya. "Y-Ya kebetulan juga!" Lani sudah mengingatkan tentang ini pada Rendy. Tapi tidak diindahkan Rendy "Udah yu lanjut kerja, nanti si Bos marah" Tisya masih ingin bertanya tapi benar kata Lani nanti Ia bisa kena semprot. Rendy senyum-senyum sendiri di ruangannya, Ia mengingat foto yang dtunjukan Lani semalam. Ia menelpon Dave orang keuangan juga orang kepercayaan Rendy. "Ada yang bisa Saya bantu Pak?" tanya Dave "Saya ingin Kamu menyelidiki salah satu subkon Kita Sejahtera, CV termasuk atasannya janhan sampai ada yang terlewat satupun, ah ya Kamu pelajari laporan keuangan mereka juga" "Baik Pak!" "Kami boleh pergi sekarang. saya ingin dapat laporannya sore ini juga!" Ponsel Rendy berbunyi, panggilan masuk dari Rachel. [Halo sayang, Kamu lama sekali angkat telponnya?] "Aku sedang menyiapkan berkas untuk meeting, Rachel" [Kenapa bukan Sarah yang melakukannya?] "Ga apa-apa, klien ini sangat penting jadi Aku harus mempelajarinya" [Sayang, Kamu tau ngga kemarin Aku liat sepatu lucu bangettt, tapi sayang harganya mahal] biasanya dengan rajukan seperti ini Rendy akan mentransfer sejumlah uang untuk menuruti keinginan Rachel, tapi sebelum Ia tahu siapa Alex Rendy akan menahan dulu semuanya. "Sepatu Kamu kan banyak, baru bulan lalu Kamu beli 2 pasang sepatu ditahan dulu maunya" [Tumben banget sih Kamu pelit Yank, biasanya langsung transfer kalo aku kasih kode seperti tadi] Rachel menggerutu pelan. "Kantor Aku lagi ada ketimpangan laporan, jadi Aku lagi ga bisa ngeluarin uang sembarangan Rachel" [Uang pribadi Kamu lah Sayang, jangan pake uang kantor, sepatinya murah Ko cuma 10juta sepasang] Rachel masih mencoba merayu Rendy, entah karena Lani atau justru hati Rendy yang sedikit terbuka Ia merasa Rachel memang sangat boros dan berlebihan padahal mereka belum suami istri apalagi kalau jadi suami istri nanti. Hati Rendy mulai ragu pada pilihannya. Tok tok tok "Masuk!" Dave melangkah masuk membawa banyak berkas di tangannya. Rendy menyuruhnya duduk dengan isyarat tangan. "Sayang, Aku ada tamu nanti Aku telpon balik ya" belum sempat Rachel menjawabnya Rendy sudah mematikan telepon. Rendy berdiri menuju sofa, Ia menyandarkan tubuhnya di sofa dan menaruh kedua tangannya di sandaran. "Apa yang Kamu dapat dari laporan keuangan Sejahtera, CV"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN