"Jadi setelah Saya pelajari, Saya melihat harga-harga yang tidak wajar" Dave menyerahkan berkasnya untuk Rendy pelajari, memang Rendy jarang memeriksa satu persatu harga subkon ataupun supplier selama keuntungan project masih dalam batas minimum limabelas persen Ia hanya menandatanganinya, sebab sudah ada bagian masing-masing yang mengontrolnya.
"Siapa yang menangani Sejahtera, CV?"
"Mayoritas Dysa sebagai cost control-nya, dan sekarang Dia baru masuk lagi setelah kecelakaan"
"Sudah Kamu perhitungkan kerugian perusahaan akibat harga itu?"
"Keuntungan satu project jika dengan perusahaan pembanding Kita bisa meraih untung paling minim seratus juta rupiah per project, proyek yang memakai Sejahtera, CV ada 20 project, kurang lebih dua milyar"
"Kenapa bisa sampai lolos" Rendy melempar berkas ke atas meja.
"Cari siapa saja yang terkait dalam proyek ini, pecat mereka gantikan dengan staf lainnya"
"Baik Pak!" Dave mengangguk hormat "Kemudian mengenai Rachel, ... " belum sempat Dave melanjutkan ucapannya seseorang masuk ke ruangan Rendy tanpa permisi.
"Sayang, kenapa Kamu langsung tutup telpon Aku?"
"Maaf Pak Rendy, Bu Rachel memaksa masuk, Saya sudah bilang kalau Pak Rendy sedang meeting" Sarah menyusul Rachel ke dalam.
"Dave, Kamu keluar dulu dan bawa semua berkasnya nanti Kita lanjutkan kembali" ucap Rendy pada Dave dengan tatapan tajamnya.
"Baik Pak!" Dave keluar ruangan membawa semua berkas, Rachel tersenyum menggoda kepada Dave tapi Dave hanya membalas tersenyum simpel seraya menganggukan kepala.
"Maaf Sayang. Aku mengganggu waktumu" Rachel melingkarkan tangannya di pinggang Rendy bermanja pada Rendy. Rendy membalas melingkarkan tangannya di pinggang Rachel.
"Tidak mengapa" Rendy menatap dalam ke mata Rachel mencari kejujuran dalam matanya. "Bagaimana dengan sepupumu? Apakah masih suka mengganggu?" Rendy merapikan anakan rambut.
"Ya, Alex masih saja suka mengganggu, tapi tak mengapa, dia kan sepupuku" ucap Rachek sedikit kiku.
Meskipun Rendy curiga Rachel telah berbuat curang padanya, pada dasarnya Rendy sangat menyayangi Rachel, Ia rela mengorbankan apapun demi kesenangan Rachel tapi jika memang terbukti Rachel berbuat curang Ia tidak akan memberikan maaf pada Rachel.
"Bu Selly, ini data-data yang Ibu minta" Selly memeriksa berkas yang diberikan Lani dengan teliti. setelah memastikan tidak ada yang aneh.
"Oke Lani, Saya minta tolong sekalian serahkan pada Pak Rendy karena Saya sedang ada v-con dengan para supplier"
"Baik Bu, Saya hanya menyerahkan saja kan tidak perlu menjelaskan?" Lani memastikan lagi tugasnya saat ini di jawab anggukan oleh Selly.
Lani melangkah pasti menuju ruangan Rendy yang kebetulan masih satu lantai dengannya. Tidak mau mengulangi kesalahan kali ini Ia tidak bercermin di depan ruangan Rendy.
"Kemana perginya Sarah?" Lani tidak melihat Sarah duduk di tempatnya, Ia ragu langsung masuk ke dalam atau menunggu Sarah. Tapi bulannya Ia hanya menyerahkan laporan saja, seharusnya tak mengapa Ia langsung masuk saja.
Setelah mengetuk pintu dua kali Lani membuka pintu dan menongolkan kepalanya ke dalam ruangan Rendy. Ia sangat kaget melihat pemandangan di dalam. Rachel sedang duduk di pangkuan Rendy dan merangkul mesra Rendy.
"Maaf Pak, Saya sudah mengetuk tadi Nona Sarah sedang tidak ada di depan, ini Saya menyerahkan laporan dari Bu Selly, permisi" diletakannya laporan yang Ia buat di atas meja Rendy begitu saja.
Rendy berniat menahannya tapi Rachel sangat posesif padanya. Sh*t! Kenapa harus dia yang menyerahkan laporan, kemana saja Selly.
Lani blank begitu saja melihat pemandangan mesra tadi, Ia tertawa miris 'mana mungkin Rendy akan percaya padaku begitu saja! Sudahlah itu urusan mereka mau percaya atau tidak Aku tidak akan ikut campur lagi'
Rachel merajuk karena kali ini Rendy tidak menuruti keinginan Rachel, "Aku rasa Kamu jangan seperti ini di kantor Chel" Rendy mulai protes pada sikap Rachel.
"Memang kenapa? Aku kan kekasihmu Rend. Lagipula sejak kapan Kamu melarangku untuk manja dengan kekasihku sendiri. Ini kan kantormu!"
"Maksudku, bagaimana kalau tadi seandainya yang datang Kakek sedangkan posisi Kamu duduk di pangkuanku"
Rachel bangun dari duduknya kemudian menghentakan kakinya seperti anak kecil yang tidak di berikan jajanan, biasanya Rendy akan segera membujuknya jika Rachel seperti ini. Namun kali ini Ia enggan merayu Rachel, pikirannya masih terbagi pada bawahannya yang tadi memergoki mereka bermesraan di kantor.
"Sudahlah Aku pergi saja!" Rachel meninggalkan Rendy tapi tidak dicegah olehnya.
"Lan, diminta ke ruangan sama pak bos tuh!" panggil Anton memberi informasi pada Lani setelah menerima panggilan telpon internal. Lani sangat enggan kembali ke ruangan Rendy, Ia malas jika haris bertemu Rendy saat ini, tapi mau bagaimanapun Lani tetaplah bawahan Rendy yang harus mengikuti instruksi atasannya.
Lani sampai di depan ruangan Rendy dan sudah ada sarah di sana menatapnya tajam.
"Sebentar!" ucap Sarah ketus melihat Lani, Sarah sudah tau bosnya yang memanggil karena Sarah yang menghubungi ke ruangan Lani.
"Masuk!" Sarah membuka lebar pintu ruangan Rendy. Lani menurut dan masuk ke ruangan Rendy, seharusnya Ia biasa saja sekarang tidak usah cemburu atau marah karena mereka bukan pasangan yang sedang menjalin asmara.
"Ya Pak Rendy" Lani berdiri di depan Rendy kaku. Ingin rasanya Ia kembali ke ruangannya. Rendy menatap tajam
"Duduk!" Lani menarik nafas pelan dan duduk di hadapan Rendy. "Di sana! Bukan di sini!" Rendy menunjuk sofa warna putih tulang itu menyuruh Lani pindah. Lani menarik nafas pelan dan membawa berkas yang Ia letakan begitu saja di meja tadi, sudah pasti untuk minta hasil pekerjaannya kan bukan untuk yang lain.
Lani duduk di sofa dan menegakan badannya, Rendy mengikuti Lani dan duduk tepat di sampingnya.
"Kenapa Kamu diam saja?" dengan gerakan cepat Rendy memegang pipi Lani dan membawa ke arah wajahnya.
"Saya tidak apa-apa Pak!" jawab Lani sambil memalingkan wajahnya tapi tetap di tahan Rendy. Rendy mengusap lembut pipi Lani.
"Seharusnya Kamu tidak marah jika tidak ada rasa untuk Saya" Rendy tersenyum mengejek Lani, Ia tahu wanita di depannya ini sudah mulai memiliki rasa untuknya pers*tan dengan kekasih mereka masing-masing.
"Sudah Saya katakan Saya tidak marah. Untuk apa Saya cemburu?" Tanpa sadar Lani berubah ketus pada Rendy, seharusnya kalau memang benar baik-baik saja tidak usah seperti ini. Lani jadi salah tingkah sendiri menyadari kebod*hannya.
"Duh!" gumamnya pelan.
Rendy menurunkan tangannya yang ada di pipi Lani "Oke kalau Kamu tidak marah" Ia sengaja memancing Lani dan tersenyum tipis "Dan tidak cemburu, padahal Saya tidak bilang cemburu"
Plakkk!!!
Tanpa sadar Lani menepuk paha Rendy cukup keras. Rendy langsung menahan tangannya.
"Tangan ini harus di hukum karena telah berani menyakiti Saya" Rendy menatap Lani dengan tatapan yang sulit di artikan membuat Lani bergidik ngeri.
"Saya permisi Pak kalau tidak dibutuhkan lagi!" Lani bersiap berdiri hendak keluar ruangan, tapi tidak di tahan Rendy. 'Huh, Aku kira mau membicarakan pekerjaan'
Saat hendak membuka pintu, Lani menoleh ke belakang karena Ia sebenarnya ingin di tahan Rendy. Saat Lani menoleh ternyata pria itu sudah berada tepat di belakangnya.
Dengan berani Ia memeluk pinggang Lani dan berbisik di telinganya "Kalau Kau tidak mengharapkanku, Kau seharusnya jangan menoleh lagi ketika memutuskan pergi"
Lani membeku dan merasakan getaran aneh di hatinya "Benarkah secepat ini Aku menyukai Rendy? Bagaimana dengan Arka?"
Nafas Rendy begitu teratur terasa di leher Lani, Rendy mengigit kecil telinga Lani membuat Lani merasakan sensasi aneh yang sangat nikmat. Ia menikmati pelukan Rendy sampai ada seseorang yang mengetuk pintu barulah Rendy melepaskan rangkulannya di pinggang Lani.
"Kamu boleh pergi" Rendy tersenyum begitu manis, senyum yang baru-baru ini menjadi candu baginya. Rendy mencium pipi Lani sekilas sebelum benar-benar melepaskan Lani, Lani terkejut dan memegang pipi yang lagi-lagi ternoda oleh Rendy, tapi Ia suka. Ia tersenyum kecil lalu meninggalkan Rendy.