“Semuanya duduk!” Perintah JeKo pada semua panitia yang sudah berada di dalam ruang organisasi.
“JeKo, kamu tidak perlu mendengarkan ucapan gadis itu. Jangan menjadikan kami sasaran amarahmu hanya karena ucapan bodoh gadis aneh itu!” Bujuk Jovanka sambil mengusap punggung JeKo dari sampingnya.
“Gadis aneh?! bodoh?! Jadi kamu masih bisa menganggap gadis dengan kecerdasan tingkat tinggi itu dengan sebutan bodoh?! Kalian semua yang bodoh! Sudah sejak awal aku menolak usulan gila kalian semua! Tapi kalian terus membujukku! gadis tadi benar sekali, sangat benar sekali! Aku sudah seperti gigolo saja yang menemani pemenang pergi kemanapun selama sehari!” seru JeKo dan seketika membuat semuanya diam.
Namun Jovanka justru semakin merasa kesal. JeKo memang marah, tapi kalimat ucapannya justru memuji gadis tadi.
“Jovanka, kamu juga seharusnya berpikir! Jika pemenangnya seorang peserta laki-laki, maka kamu yang harus menjadi hadiahnya! Apa kamu pernah berpikir tentang hal apa saja yang mungkin terjadi jika kamu sampai berkencan sehari dengan laki-laki itu?! Bagaimana jika laki-laki itu melakukan sebuah pelecehan atau bahkan kekerasan fisik padamu?! Bukankah pada hari kencan itu, kamu adalah hadiahnya yang bisa diperlakukan apapun yang diinginkan oleh pemenangnya?! Bukankah itu juga sama artinya bahwa kamu siap menjadi p*****r baginya?! Pernah kamu berpikir seperti itu?! Beruntung aku yang menjadi hadiahnya dan beruntung pula peserta itu punya pikiran yang sehat!” omel JeKo menyadarkan Jovanka.
Semua akhirnya semakin diam, begitu juga dengan Jovanka. Mereka semua sungguh baru menyadari tentang bahayanya akibat dari hadiah yang mereka pikir akan sangat menyenangkan dan membanggakan bagi peserta yang menang, berkencan sehari dengan senior idola terpopuler. Sejak awal mereka tak pernah berpikir dan menyadari bahwa ada resiko yang sangat berbahaya bagi JeKo dan Jovanka jika sampai terjadi sesuatu yang buruk saat kencan itu.
“Sekarang, aku minta kalian bisa mencari hadiah pengganti bagi pemenang tadi. Carilah hadiah terbaik baginya, soal harga mahal tak perlu dipikirkan. Aku yang akan membayar penuh, bukan dari kas organisasi atau dana sekolah! Aku mau besok pagi hadiah sudah diterima oleh pemenang itu sebelum kegiatan pertama dimulai. Apa kalian mengerti?!” perintah JeKo.
“Mengerti.” Sahut semua panitia dengan kompak, selain Jovanka yang tidak ikut setuju dengan perintah JeKo.
“Sekarang, kalian lanjutkan mengawasi para peserta yang belum pulang dan sedang menjalani hukuman mereka. Ingat! MOS tahun ini aku tidak mau ada korban seperti tahun yang lalu! Perhatikan sikap dan amarah kalian! Atau aku sendiri yang akan membawa kalian ke penjara jika ada tindak kekerasan atau perundungan terhadap peserta, mengerti?!” pesan JeKo lagi, dan kembali dijawab dengan kompak oleh panitia yang lainnya.
Mereka pun mengikuti langkah JeKo dan Jovanka keluar dari ruang organisasi, melanjutkan tugas mereka masing-masing mengawasi seluruh gedung sekolah dan para peserta yang sedang membersihkan semua sampah dan debu.
JeKo melihat seorang peserta yang sedang duduk di pinggir taman sambil bermain smartphonenya dan dengan santai menggunakan headphone, padahal teman lainnya sedang sibuk membersihkan taman sekolah dari daun kering dan sampah.
JeKo segera menghampiri peserta itu hendak memberinya peringatan tegas, namun dia menjadi terkejut saat sudah di dekatnya dan menyadari bahwa peserta itu adalah gadis pemenang hari ini.
“Apa yang sedang kamu lakukan disini? Bukankah seharusnya kamu sudah pulang?” tegur JeKo pada Citra sambil mengetuk pundak gadis itu dengan telunjuknya.
Gadis itupun segera melepas headphone nya dan menoleh pada JeKo.
“Eh, senior. Maaf, saya sedang menunggu sahabat saya, dia sedang menyelesaikan sangsi yang didapatnya.” Sahut Citra sopan.
“Siapa namamu tadi?” tanya JeKo yang tanpa diduga langsung duduk di samping Citra dalam satu bangku taman yang sama.
Citra langsung menggeser tubuhnya untuk lebih menjauh dari seniornya itu, membuat JeKo langsung tersenyum melihat sikap Citra yang sangat menjaga dirinya dengan baik.
“Nama?” tanya JeKo lagi karena belum dijawab oleh Citra.
“Eh, maaf. Nama saya Citra. Citra Adelia Hartawan.”sahut Citra dengan kaku dan sedikit gugup.
“Kenapa gugup? Takut denganku?” tanya J-Ko sadar dengan kegugupan Citra.
Citra hanya membalas dengan cengiran kudanya yang terlihat sangat kaku, membuat JeKo terkekeh melihat sikap gadis itu.
“Kamu lucu.” Ucap JeKo dan kembali Citra hanya menyengir kaku tanpa menyahut apapun.
“Apa kamu sudah punya pacar? jadi kamu menolak kencan denganku?” tanya JeKo.
“Tidak, saya belum mendapat ijin pacaran dari orangtua saya, lagipula tak akan ada laki-laki yang akan bertahan dengan saya.” Sahut Citra dengan polos, tapi seketika membuat penasaran JeKo.
“Kenapa begitu? Apa kamu suka menggigit atau memakan daging dan meminum darah laki-laki?” tanya JeKo menggoda Citra.
“Tidak! Tidak! Tidak seperti itu!” sahut Citra dengan cepat menyanggah pemikiran JeKo terhadapnya, JeKo pun tertawa mendengarnya.
“lalu kenapa?” tanya JeKo sangat penasaran pada penolakan Citra.
“Maaf, saya takut dianggap sombong.” Sahut Citra.
“Mungkin aku tidak akan berpikir seperti itu. Jadi kenapa?” tanya JeKo sungguh penasaran dengan gadis di sampingnya.
“Tidak, sebaiknya senior nanti melihat sendiri saat saya keluar dari gedung sekolah ini. Saya tidak mau menerima anggapan sombong dari satu orang lagi.” Sahut Citra.
“Seperti itu ya? oke! kalau begitu aku akan tunggu dan lihat saat kamu pulang nanti.” Ucap JeKo.
“Kenapa?” tanya Citra bingung.
“Maksudmu?” JeKo balik bertanya pada Citra.
“Kenapa senior ingin tahu?” tanya Citra bingung.
“Siapa tahu aku ingin mencalonkan diri jadi pacarmu.” Sahut JeKo dengan tetap tenang, tapi langsung membuat Citra senyum gugup.
Citra memang berusia 16 tahun, meski dia tahu gadis seusianya wajar jika punya pacar, namun dia masih takut untuk memiliki seorang pacar. Baginya laki-laki itu hanya akan membuatnya sedih dan menangis, lalu membuang waktu belajarnya dan akhirnya hanya akan merusak dan mengacaukan masa depannya. Karena begitulah yang dia pelajari dari pengamatannya pada pengalaman gadis-gadis lain.
“Maaf, bukankah senior sudah punya pacar? Senior... Jovanka?” tanya Citra menebak dengan sangat hati-hati.
“Jovanka? Bukan, dia bukan pacarku. Dia hanya sahabat dekatku saja sejak kami balita, kebetulan orang tua kami bersahabat dan kami juga selalu satu sekolah.” Sahut JeKo.
Citra hanya menanggapi dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tapi..., kalau melihat dari caranya menatap kesini dengan ekspresi seperti itu, sepertinya senior sedang membohongi saya.” Ucap Citra sambil menunjuk ke arah seberang dengan dagunya.
JeKo menoleh ke arah yang dimaksud oleh Citra, lalu dia melambaikan tangannya pada Jovanka, memanggilnya untuk datang mendekat dengan mereka. Jovanka pun segera melangkah cepat menuju ke tempat duduk JeKo dan Citra.
“Kenapa senior memanggilnya kemari?! Apa senior ingin dia memarahi saya lagi?!” tanya Citra dengan gelisah dan takut.
“Jangan takut, dia orang yang baik. Tak kenal maka tak sayang, jadi sebaiknya kalian berkenalan dulu supaya kamu tahu bahwa dia orang yang baik.” Sahut JeKo yang tersenyum lebar saat Jovanka sudah mendekat dengan tempatnya.
“Jo, ini pemenang hari ini, kamu ingat kan? dia Citra.” Ucap JeKo dengan santai mengenalkan Citra pada Jovanka.
“Tentu saja aku ingat! Gadis sombong yang berani menolak dirimu!” sinis Jovanka yang langsung membuat bulu kuduk Citra merinding mendengar nada bicaranya.
“Sudahlah, aku yang ditolak kenapa kamu yang marah?” ucap JeKo santai sambil tersenyum pada Jovanka.
“Hei! Kenapa kamu belum pulang?! Bukannya kamu tidak ikut dalam kegiatan bersih-bersih ini?! Apa jangan-jangan kamu memang sengaja menunggu senior JeKo ya?! Dasar munafik! Di depan banyak orang berlagak menolak, tapi di belakangnya malah merayu dan mengejar JeKo juga! Munafik!” rutuk Jovanka mengomeli Citra.
JeKo menatap ke arah Citra yang hanya diam dan malah menghela napas panjang dan berat, sangat tidak ingin menanggapi ucapan Jovanka.
“Jo, dia hanya menunggu temannya untuk pulang bersama. Aku tadi yang menghampirinya dan ikut duduk disini lalu mengajaknya mengobrol. Jangan selalu berpikiran buruk terhadap orang lain.” Ucap JeKo yang bukannya menenangkan hati Jovanka, tapi justru membuatnya semakin kesal terhadap Citra.
“Untuk apa kamu mengajaknya mengobrol?! Dia itu sudah menjatuhkan harga dirimu di hadapan banyak peserta MOS dan panitia! Kamu jangan terlalu baik terhadap semua peserta!” sahut Jovanka kesal.
“Maaf, teman saya sudah selesai, saya akan pulang. Silahkan jika kalian masih ingin disini.” Ucap Citra berpamitan dan segera berlari menghampiri Aqilla yang terlihat sedang berjalan ke arahnya.
“Ayo cepat kita pulang! Aku lelah sekali!” ajak Citra dengan buru-buru menggandeng lengan Aqilla dan mengajaknya berjalan cepat ke arah gerbang.
“Astaga Citra! Aku ini lebih lelah darimu! Jangan terlalu cepat jalannya! Ada apa sih?!” protes Aqilla bingung.
Saat Citra dan Aqilla sedang tergesa-gesa keluar dari lobby sekolah mereka, tanpa sadar di belakang mereka juga ada satu laki-laki yang ikut tergesa-gesa mengikuti langkah mereka. JeKo. Dia sungguh penasaran dengan alasan Citra tadi, dan bertekad untuk mencari tahu. Seketika JeKo cukup terkejut dan langkahnya langsung berhenti saat dia melihat sendiri.