Jeko memang anak dari keluarga kaya, namun dia tetap terkejut dengan kejadian yang dilihatnya. Citra langsung didatangi oleh lima orang pengawal berpakaian jas rapi dan juga seorang wanita muda yang menunduk hormat padanya, lalu membawakan tas Citra dan juga milik sahabatnya. Mereka berjalan di depan dan belakang kedua gadis itu.
Saat kedua gadis itu akan masuk ke dalam mobil yang sangat mewah itu, ada seorang sopir yang membukakan pintu baginya. Aqilla masuk terlebih dahulu, sedangkan Citra sejenak menoleh ke arah lobby, lalu matanya berhenti pada JeKo yang berdiri menatapnya dari sana. Citra mengangguk sopan pada laki-laki itu, lalu masuk ke dalam mobil. Mobil Citra dikawal oleh beberapa mobil lagi di belakangnya dan juga didepannya.
“Gila! Pengawalannya sangat ketat sekali! Siapa sebenarnya gadis itu?” tanya Jovanka yang ternyata ikut berdiri di samping JeKo.
“Jadi ini maksudmu takut dikatakan sombong, tapi siapa dirimu sebenarnya Citra Adelia Hartawan?”
Batin JeKo sungguh semakin penasaran dengan sosok adik kelasnya itu.
“JeKo! Kenapa kamu melamun?! Jangan menatapnya dengan bingung seperti itu! Bukankah sekolah ini memang tempat orang kaya menyekolahkan anak mereka?!” ucap Jovanka menyadarkan lamunan JeKo.
“Sudahlah! Ayo kita masuk ke dalam lagi dan mengakhiri kegiatan hari ini. Semua panitia pasti sudah lelah. Besok kita juga harus datang awal untuk persiapan kegiatan lagi.” Sahut JeKo lalu kembali masuk ke gedung sekolah.
“Gadis itu sangat berbeda, dia sangat kaya tapi cara berpikir dan ucapannya sangat sopan dan jauh dari sikap arogan manja seperti kebanyakan anak orang kaya lainnya. Aku harus menyelidikilebih detail lagi dan memeriksa rekaman CCTV sekolah untuk mengetahui bagaimana dia bisa mendapatkan banyak tanda tangan dari para senior disini, mungkinkah dia menggunakan uangnya?”
Pikir JeKo dalam otaknya.
“Jo, aku ada perlu di ruang operator CCTV, tolong kamu pimpin teman-teman panitia untuk menutup kegiatan hari ini ya. Kita jumpa lagi besok. Kamu berhati-hatilah dalam perjalanan pulang." pinta JeKo dan mendapat jempol setuju dari Jovanka.
"Terima kasih Jo.” Ucap JeKo lalu melangkah berbeda arah dengan Jovanka
JeKo sudah mendapatkan ijin untuk memeriksa rekaman CCTV sekolah. J-Ko melihat dengan teliti, bagaimana cara Citra mendapatkan banyak tanda tangan senior, sehingga menjadi pemenang hari ini tanpa memerlukan tanda tangan dirinya dan Jovanka.
JeKo terus tersenyum sendiri dan beberapa kali dia menggelengkan kepalanya, melihat betapa cerdasnya gadis itu. Citra sengaja mendatangi setiap basecamp dari ekstrakurikuler yang populer di sekolah ini, tentu saja dia akan langsung menemukan lebih dari lima senior bahkan ada yang belasan dan dua puluhan senior di satu basecamp, seperti basket, majalah dinding, climbing, futsal, pecinta alam, bahkan penyiar radio sekolah, dan studio televisi lokal milik sekolah. Minggu awal sekolah memang belum aktif pelajaran sehingga para siswa senior memang lebih aktif di kegiatan ekstra yang mereka sukai.
"Sungguh cerdas! selama ini belum pernah ada yang memiliki cara berpikir seperti dia. Dia sungguh pintar memasang wajah memohon pada para senior itu hehehehe, jadi dia sungguh langsung menemui para ketua basecamp itu, pantas saja semua anggotanya langsung menuruti perintah saja dan langsung memberikan tanda tangan juga data diri mereka pada anak itu. Hebat! sungguh belum pernah ada di pikiran peserta MOS. Benar-benar cerdas!" ucap JeKo terkekeh sendiri memuji Citra.
JeKo tidak hanya meminta ijin untuk melihat rekaman saja, tapi dia juga langsung menyiapkan sebuah flashdisk untuk menyalin file rekaman itu.
"Terima kasih pak, data rekaman ini sungguh berguna untuk panitia MOS." ucap JeKo pada penjaga ruang operator CCTV.
"Sama-sama, senang bisa membantu kalian." sahut petugas operator CCTV.
*****
"Citra, tadi kamu ngobrol apa sama senior JeKo dan Jovanka?" tanya Aqilla penasaran.
"Tidak ada yang penting, hanya sekedar berkenalan dan saling sapa aja." sahut Citra dengan tetap bermain game pada smartphone nya.
"Apa senior Jovanka marah lagi padamu? tadi kulihat wajahnya sangat serius dan jutek banget sama kamu." tanya Aqilla lagi.
"Nggak tahu deh. Cemburu mungkin ya karena pacarnya ngobrol sama cewek lain." sahut Citra tetap santai menanggapi pertanyaan Aqilla.
"Citra, sebaiknya kamu nggak ikut MOS sampai selesai deh, aku khawatir kalau senior Jovanka itu bakal menyiksa kamu." ucap Aqilla cemas.
Citra menghentikan kegiatannya bermain game dan menutup smartphone nya, lalu menoleh pada Aqilla.
"Aqilla, aku baik-baik saja. Janji! aku nggak akan membuat masalah dengan senior atau siapapun selama MOS. Please..., jangan cerita ke mama aku ya tentang kejadian hari ini. Kamu tahu sendiri, mama aku itu susah sekali melepaskan aku sekolah normal. Aqilla, aku sungguh bosan menjalani homeschooling selama ini. Aku janji, aku pasti baik-baik saja." sahut Citra memohon pada sahabatnya.
"Citra..., kamu masuk sekolahnya setelah MOS selesai aja ya..., please..., aku benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk padamu." pinta Aqilla lagi.
"Aqilla, ada kamu dan kak Ardi yang jaga aku di sekolah, aku pasti baik-baik aja. Janji deh! aku nggak akan pernah berbuat hal yang buruk dan berbahaya. janji!" sahut Citra meyakinkan sahabatnya bahkan membuat tanda janji dengan dua jari.
"Ya sudahlah, tapi sebaiknya kamu jangan pernah dekat sama senior JeKo dan Jovanka itu ya? aku benar-benar nggak percaya sama mereka berdua!" ucap Aqilla lagi, mengingatkan karena cemas dengan sahabatnya itu.
"Kenapa? apa kamu suka sama senior JeKo ya???" tanya Citra menggoda sahabatnya itu.
"Astaga Citra...!!!! aku ini serius takut terjadi hal buruk sama kamu! tapi kamu malah mikir yang aneh-aneh! hatiku ini cuma khusus punya kak Gio!" sahut Aqilla semakin geram dan kesal pada sahabatnya itu, bahkan dia sampai manyun dan membuang wajahnya dari Citra.
"Iya deh, yang sudah ketemu sama cinta sejatinya..." goda Citra sambil menggelitik pinggang Aqilla dengan sengaja untuk membuat sahabatnya itu tersenyum lagi padanya.
Keduanya kembali saling tertawa dan terus saling menggelitik, hingga akhirnya berpelukan karena sayang.
"Terima kasih ya, kamu selalu jaga aku. Aku janji nggak akan dekat-dekat dengan kedua senior itu dan nggak akan membuatmu khawatir." janji Citra dan Aqilla pun mengangguk tersenyum.
****
Esok harinya Citra dan Aqilla kembali datang ke sekolah untuk mengikuti kegiatan MOS hari kedua. Hari ini mereka datang lebih awal dari hari sebelumnya.
"Hai Ardi, kamu mau kemana? apa itu hadiah untuk pemenang kemarin?" sapa JeKo saat berpapasan dengan Ardi yang akan keluar dari basecamp kesiswaan.
"Hai, iya ini hadiah untuk pemenang kemarin. Aku ijin terlambat untuk briefing hari ini ya, kamu mulai saja dulu, tidak perlu menungguku." sahut Ardi.
"Berikan saja padaku, aku yang akan memberikannya setelah briefing, jadi kamu bisa langsung mempersiapkan kegiatan hari ini." ucap JeKo.
"tidak apa, hal sepele seperti ini tak perlu sampai merepotkan kamu. Lagipula ini memang tugasku." sahut Ardi.
"Tidak apa, berikan saja padaku. Aku juga harus berterima kasih padanya karena sudah menghargaiku kemarin." ucap JeKo terus membujuk Ardi.
"Ada apa JeKo? tidak biasanya kamu mau berhubungan dengan seorang siswi baru peserta MOS? Apa kamu menyukai pemenang ini? JeKo, aku tak mau Jovanka justru marah terhadap peserta ini, karena ulahmu. Jadi, sebaiknya aku saja yang memberikan hadiah ini padanya." sahut Ardi tanpa basa basi.
"Hei, jangan berpikir terlalu jauh! Lagipula aku dan Jovanka hanya sahabat dekat, untuk apa Jovanka marah dengannya hanya karena aku memberikan hadiah ini?" ucap JeKo.
"JeKo, jangan terus ingkar terhadap perasaan Jovanka yang sangat jelas menyukaimu! sudahlah! ini tugasku, jadi biarkan aku yang bertanggung jawab atas hadiah ini. Kamu sudah ditunggu anak-anak yang lain, masuklah!" sahut Ardi tetap menolak memberikan hadiah untuk Citra itu pada JeKo.
"Jangan katakan kalau justru kamu sebenarnya yang menyukai dia." selidik JeKo
Ardi hanya terkekeh geli mendengar kalimat yang tersirat nada cemburu dari kalimat JeKo.
"Ardi, cepat berikan padaku!" paksa JeKo.
"Tidak perlu, ini tugasku JeKo." tolak Ardi.
"Aku ketua disini!" tegas JeKo lagi sambil menunjuk ke dadanya sendiri dengan jempolnya.
"Baiklah, asal kamu mau berjanji bahwa kamu akan melindungi peserta ini dari Jovanka, bagaimana?" sahut Ardi membuat sebuah kesepakatan, karena dia merasa bertanggung jawab atas keselamatan Citra.
"Aku hanya memberikan hadiah pemenang, Jovanka tidak akan berbuat apa-apa padanya." ucap JeKo, Ardi pun akhirnya menyerahkan hadiah itu pada JeKo.
"Terima kasih. Ayo kita briefing! aku akan memberikannya nanti." lanjut JeKo sambil tersenyum dan merangkul Ardi untuk bersama masuk ke basecamp mereka.