Kegiatan hari ini adalah pelatihan fisik, yang masih bisa dianggap level standar saja bagi para peserta yang lain, tapi tidak bagi Citra yang tidak pernah sekalipun melakukan kegiatan outbound seperti ini. Hari ini Citra harus berhadapan dengan berbagai tantangan outbound yang kotor, membutuhkan kekuatan fisik, berhubungan dengan ketinggian, basah dan juga menebak teka-teki demi mampu melanjutkan ke pos berikutnya.
"Kamu baik-baik aja?" cemas Aqilla saat melihat Citra sangat kelelahan dan entah memang pucat atau kulit Citra terlihat semakin putih di bawah terik cahaya matahari.
"Aku baik-baik aja." senyum Citra sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Sebaiknya kamu tidak melanjutkan kegiatan ini, aku takut kamu sakit, Citra..., please... di depan adalah pos kak Ardi, kamu istirahat saja disana ya..." saran Aqilla cemas.
"Tersisa 2 pos lagi, aku pasti bisa Aqilla! Aku harus bisa! ini pengalaman pertamaku yang tidak akan bisa terulang seumur hidupku." sahut Citra berusaha tetap kuat, padahal dia sungguh-sungguh sudah dibatas minimal sisa tenaganya.
"Tapi Citra..., kamu bisa...."
"Please Aqilla...." Citra langsung memohon dan menyela ucapan Aqilla.
"Baiklah, kita lakukan perlahan saja, biarkan kelompok lain yang menang." sahut Aqilla pada akhirnya.
"Aqilla, kita ini satu kelompok berdelapan, mana mungkin aku menjadi egois dan membuat perjuangan kelompok ini menjadi sia-sia di saat-saat akhir?! Kita harus terus berjuang Aqilla! Ayo! kita segera lanjut!" ucap Citra lalu mengajak kelompok mereka kembali lanjut ke pos berikutnya.
Aqilla hanya bisa menghela napas panjang dan berdoa dalam hatinya, supaya sahabat baiknya itu tetap sehat sampai semua ini selesai.
Ardi juga mencemaskan kondisi Citra saat kelompok adiknya itu tiba di pos yang dia jaga, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena Ardi dan Aqilla sudah membuat kesepakatan untuk menyembunyikan status hubungan kakak adik diantara mereka. Aqilla tidak ingin mendapat perlakuan khusus dari para senior, jika mereka tahu dia adalah adik dari Ardi.
Kelompok itu terus melanjutkan ke pos terakhir. Pos yang dijaga oleh JeKo dan Jovanka. Pos ini sudah terkenal sangat tidak mudah untuk diselesaikan oleh para peserta, karena teka-teki nya selalu sangat sulit ditebak. pada tahun sebelumnya, para peserta akhirnya memilih tantangan fisik untuk dapat mengakhiri perjalanan mereka dan menyelesaikan pos akhir.
"Astaga! kenapa harus kelompok gadis itu lagi sih yang pertama kali sampai disini?!" omel Jovanka saat melihat kelompok Citra berjalan ke arah pos mereka.
JeKo segera menoleh dan tersenyum lebar, entah rasa bangga atau rasa senang lainnya yang membuat senior idola itu tersenyum melihat Citra dan kelompoknya yang pertama kali tiba di pos yang dia jaga.
"Ayo Jovanka, kita harus profesional! Lagipula kali ini hadiah bagi kelompok yang menang hanyalah pin bintang kehormatan, yang membuat mereka dapat menikmati semua fasilitas di sekolah ini dengan gratis selama satu tahun." ucap JeKo lalu berdiri untuk bersiap menerima kelompok Citra di pos nya.
Kelompok Citra pun memberikan salam hormat dan menyanyikan yel-yel kelompok mereka saat awal tiba di pos akhir.
"Hebat! kalian adalah kelompok pertama yang tiba di pos akhir ini. Aku sungguh tidak percaya kalian bisa tiba di sini lebih cepat dari catatan waktu peserta tahun lalu. Hebat! Terima kasih sudah berjuang sejauh ini. Apa kalian siap menyelesaikan teka-teki terakhir? atau kalian akan langsung memilih tantangan?" sapa JeKo.
"Kami memilih teka-teki, senior." sahut Aqilla segera membuat keputusan, karena melihat kondisi Citra yang tidak akan mungkin kuat menyelesaikan tantangan fisik lagi.
"Baiklah, sekarang ambillah satu amplop dan tebaklah teka-teki yang ada di dalamnya." ucap JeKo. Jovanka pun menyodorkan beberapa amplop untuk dipilih oleh Aqilla sebagai ketua kelompok.
"Waktu kalian hanya 30 menit, jika tidak berhasil maka secara otomatis kalian harus menerima tantangan fisik untuk bisa menyelesaikan pos ini." ucap Jovanka dan Aqilla pun mengangguk paham.
Aqilla kembali pada kelompoknya, lalu meminta Citra untuk istirahat saja, sementara Aqilla dan anggota yang lainnya mulai membaca teka-teki di dalam amplop itu. Mereka segera berpikir bersama untuk menjawab 3 teka-teki itu.
1. Ada tengahnya, tapi tidak pernah ada pinggirnya, apakah saya?
2. Tidak pernah sakit, tapi selalu dikasih obat setiap hari. apakah saya?
3. Selalu berdiri tegak, disukai pasangan romantis, dan dimimpikan oleh banyak wanita. apakah saya?
Ketiga teka-teki itu, mulai dipikirkan oleh kelompok itu. Beberapa kali mereka mencoba menyerahkan jawaban mereka tapi selalu saja salah.
Aqilla mendekati Citra yang sedang bersandar di tembok, beristirahat.
"Citra, waktu kita tinggal 10 menit, kalau terpaksa harus melanjutkan tantangan, sebaiknya kamu tetap istirahat saja ya, aku akan minta ijin untukmu." ucap Aqilla.
"Aku sudah cukup istirahat barusan, Aqilla. Terima kasih selalu memikirkan aku. Bagaimana? kalian sudah berhasil menjawab berapa pertanyaan?" sahut Citra tersenyum, menyembunyikan rasa pusing dan gejala dehidrasi dalam dirinya.
"Belum satupun." keluh Aqilla sambil manyun lelah dan menatap anggota kelompoknya yang juga sudah menyerah dan hanya menunggu tantangan diberikan pada mereka.
"Aku boleh tahu pertanyaannya? siapa tahu aku bisa membantu di pos ini. Kamu tahu kan aku sudah bermain teka teki sejak umur 7 tahun?" ucap Citra tetap berusaha tersenyum.
Aqilla menyerahkan lembar pertanyaan itu pada Citra dengan pasrah. Citra tersenyum lagi saat membaca semua pertanyaan itu, lalu mengeluarkan alat tulisnya dan mulai menjawab pertanyaan teka-teki itu.
"Selesai!" ucap Citra dan menyerahkannya pada Aqilla lagi. Anggota yang lain segera mendekati keduanya dan penasaran.
"Kamu gila! apa kamu yakin ini jawabannya?!" tanya seorang anggota meragukan jawaban Citra.
"Tidak ada salahnya mencoba, kita masih ada waktu 5 menit lagi. Lagipula jawaban ini salah atau benar, bukankah kita sudah siap untuk menerima tantangan???" sahut Aqilla.
"Ya, tidak ada salahnya mencoba. Ayo! kita coba keberuntungan kita yang terakhir!" ucap anggota yang lainnya, Aqilla pun segera maju dan menyerahkan jawaban itu pada JeKo.
Seketika wajah J-Ko langsung tersenyum lebar membaca jawaban-jawaban itu.
"Hebat! Siapa yang memberi ide kalian untuk menjawab dengan jawaban ini?" tanya J-Ko pada Aqilla.
"Citra..." sahut Aqilla sambil menoleh hendak menunjuk ke arah Citra, namun justru terkejut karena dia justru melihat sahabatnya itu terkulai lemas dan jatuh pingsan di pinggiran tadi dia duduk bersandar.
"CITRAAAA..!!!!!" teriak Aqilla dan segera berlari menghampiri Citra diikuti oleh JeKo yang tak kalah cepat ikut melesat menghampiri Citra.
"Citra! Citra! bangun Citra! bangun!" panggil Aqilla dengan sangat panik.
JeKo segera mengangkat tubuh Citra dan membawanya ke ruang kesehatan.
"Jo! kamu lanjut menjaga pos ini! aku akan mengurus anak ini!" seru JeKo sambil membawa tubuh Citra berlari ke ruang kesehatan.
"CK! selalu saja anak itu yang lebih dibelanya!" kesal Jovanka.