"Citra, apa kamu yakin akan berangkat berkemah? karena mommy takut terjadi sesuatu yang buruk padamu disana." keluh mommy pada putrinya itu.
"Mom, kita kan sudah bicarakan semuanya sejak awal, Citra sungguh nggak mau melewatkan masa muda Citra dan akhirnya nggak punya cerita apapun untuk dibagikan ke anak cucu Citra di masa depan nanti mom.... Please, doakan Citra aja ya." pinta Citra sambil memeluk lengan mommy.
"Tapi kamu juga tidak lupa dengan perjanjian antara kamu dan daddy kan? kalau kamu sampai masuk rumah sakit sekali aja, maka kamu harus kembali private homeschooling. Kamu harus ingat itu Citra!" ucap Mommy mengingatkan putrinya.
"Iya mom, Citra janji akan baik-baik aja dan selalu menjaga diri Citra. Lagipula ada kak Ardi dan Aqilla yang selalu jagain aku, mom." sahut Citra.
"Baiklah, kalau sudah selesai berkemas, segera istirahat ya, sayang." ucap mommy lalu mengecup pipi Citra dan melangkah keluar dari kamar putrinya itu.
"Mom, boleh nggak kalau besok selama perkemahan aku nggak ada pengawalan?" tanya Citra langsung menghentikan langkah mommy.
"No! kamu tahu kan? Daddy bisa marah besar jika kamu pergi tanpa pengawalan!" tolak mommy dengan tegas.
"Tapi mom, sehari aja deh tanpa pengawalan, lagipula Daddy kan masih di luar negeri, please mom...." bujuk Citra lagi.
"No!" sahut mommy tetap tegas pada pendiriannya.
"Tapi mom...." wajah citra lebih memelas lagi saat memohon yang kali ini.
"Oke, Oke, tidak pakai pengawalan seperti biasa, tapi tetap ada pengawal! mereka akan mengawasi dari jarak yang aman dan tidak akan mengganggu ruang gerakmu." sahut mommy akhirnya sedikit memberi kelonggaran pada permohonan Citra.
"Oke mom, thank you for your support." sahut Citra dan kembali lanjut berkemas setelah memeluk dan mencium mommy lagi.
Mommy pun tersenyum menggelengkan kepalanya, menatap putrinya sejenak sebelum keluar dari kamar itu. Putri kecilnya kini tanpa terasa sudah menjadi seorang gadis remaja.
"Aku harus membawa vitamin dan suplemen ini, supaya kejadian siang tadi nggak terulang lagi." Batin Citra meraih dua botol obat-obatan dan memasukkannya ke dalam ransel. Citra pun segera tidur setelah selesai berkemas dan memastikan semua kebutuhannya sudah ada di dalam ranselnya.
******
@ Boulevard School
Citra dan Aqilla sedang duduk bersama dengan anggota kelompoknya, sambil menunggu waktu keberangkatan mereka.
"Eh, kalian tahu nggak sih? menurut tradisi, acara api unggun malam nanti itu setiap peserta diminta untuk membuat surat harapan, dan akan dipilih tiga harapan terbaik." ucap Rheina memberi informasi.
"Waaahhh..! kelompok kita harus ada yang berhasil menang lagi nih! supaya kelompok kita besok di acara penutupan akan diumumkan sebagai The Best Team of The Year! Ayo! kita mulai pikirkan harapan terbaik untuk kita tulis malam nanti!" sahut Vita dengan antusias dan mendapat anggukan setuju dari teman-temannya satu tim.
Suara senior Ardi sudah terdengar memanggil para peserta untuk segera masuk ke dalam bis sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan.
"Ardi, kamu lihat JeKo nggak?" tanya Jovanka, saat mereka sedang bertugas mengawasi peserta yang akan naik ke dalam bis.
"JeKo sudah berangkat dulu menggunakan mobilnya, bersama anak-anak perlengkapan dan konsumsi, supaya semua tenda dan makan siang sudah siap saat para peserta tiba di sana." sahut Ardi.
"Tumben sih dia nggak ngajak aku?!" kesal Jovanka mengeluhkan sikap JeKo.
"Waaahh..., aku juga nggak paham tuh." sahut Ardi dengan tidak peduli.
Wajah Jovanka pun semakin manyun dengan sikap cuek Ardi terhadap dirinya.
Rombongan pun mulai berangkat menuju ke tempat perkemahan setelah semuanya dipastikan telah masuk ke dalam semua bis.
Perjalanan yang sangat panjang dan berkelok-kelok, membuat Citra dan Aqilla memilih untuk tidur. Ardi pun tetap mengawasi kedua adiknya itu, dia sengaja mengatur kelompok Citra dan Aqilla itu ada di dalam bis yang sama dengan dirinya.
*******
Eeeuuughhhh....
Para peserta dan Senior pun menggeliatkan tubuh mereka saat akhirnya turun dari bis yang sudah tiba di lokasi perkemahan, setelah 3 jam perjalanan.
"Ayo bergerak! berbaris sesuai dengan kelompok kalian masing-masing!" seru Ardi dan para peserta pun segera berbaris rapi untuk mendengarkan Ardi.
"Baiklah, setiap kelompok sudah disediakan satu tenda untuk kalian gunakan bersama. Toilet umum ada di bangunan sebelah sana itu. Area makan ada di dekat tenda panitia konsumsi di sebelah sana. Setiap peserta wajib menjaga kebersihan area perkemahan termasuk toilet umum! Sekarang kalian bisa langsung mencari tenda kelompok kalian, dan 15 menit lagi kita akan berkumpul lagi disini untuk melakukan kegiatan awal. Mengerti?!" ucap Ardi dan serentak dijawab oleh para peserta.
"Mengerti."
Aqilla sebagai ketua kelompok segera memimpin kelompoknya untuk mencari tenda mereka.
"Waaahhh...! tenda kita bersebelahan dengan Tenda Senior JeKo! Lihat deh!" bisik Rheina dengan antusias dan sangat senang, diikuti oleh kebahagiaan seluruh anggota kelompok itu kecuali Citra dan Aqilla, yang sangat tidak tertarik dengan JeKo.
JeKo sempat beradu tatap dengan mata Citra sesaat, memberi senyuman pada gadis itu, namun Citra memilih segera masuk ke dalam tenda, sedangkan teman kelompoknya yang lain justru heboh merasa mendapatkan senyuman dari JeKo.
JeKo yang merasa senyumannya justru disalahartikan oleh teman-teman Citra, langsung memilih pergi dari tendanya.
"Sudahlah! ayo segera berbenah! Katanya mau menjadi kelompok yang terbaik, kalau begitu kita nggak boleh terlambat!" Ucap Aqilla mengingatkan anggota kelompoknya yang justru menatap kagum pada JeKo yang sudah melangkah menjauh.
Kelompok Aqilla itu kini sudah kembali berbaris di tempat yang sudah ditentukan.
"Kamu masih kuat kan?" tanya Aqilla saat mereka sedang menunggu kelompok lain yang belum datang berbaris.
"Tenang aja, aku sudah minum suplemen dan vitamin tadi pagi." sahut Citra tersenyum.
"Anak pintar!" puji Aqilla pada sahabatnya itu juga tersenyum lega. Citra pun kembali ikut tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Dengarkan semuanya! kita akan mulai menelusuri jejak di dalam hutan perkemahan ini! Ada beberapa petunjuk yang sudah disiapkan oleh para panitia dan tetap dalam pengawasan panitia dari tempat tersembunyi. Kalian cukup untuk menelusuri saja sesuai petunjuk supaya tidak tersesat. Selama kalian menyusuri akan terdapat kata-kata yang harus kalian kumpulkan, dan kalian rangkai menjadi sebuah kalimat dengan menggunakan kata-kata yang kalian kumpulkan itu. mengerti!" ucap Ardi memberikan arahan pada para peserta, dan mereka pun kembali menjawab dengan serentak.
"Mengerti."
"Satu lagi tugas kalian! Malam nanti di upacara api unggun, kalian semua wajib menulis dan mengumpulkan sebuah surat yang berisi harapan di hidup kalian. Kami akan memilih tiga harapan yang terbaik dan akan diumumkan besok saat penutupan acara MOS. Sekarang silahkan kalian mulai kegiatan telusur hutan. Bagi yang sudah selesai bisa langsung ke bagian konsumsi dan makan siang disana lalu istirahat sebelum acara api unggun. Silahkan bubar dan selesaikan tugas kegiatan kalian!" ucap Ardi lagi.
Para peserta pun segera mulai berjalan setelah mengambil perlengkapan mereka untuk perjalanan di dalam hutan ini.
Ardi sejak tadi memperhatikan JeKo selalu saja mengikuti pergerakan Citra dan Aqilla dari kejauhan. Ardi pun menghampiri JeKo.
"Hei! kerja! bengong aja! ketua tapi malah santai disini!" tegur Ardi menepuk pundak JeKo yang duduk di kursi di bawah pohon.
"Sial! aku sudah bekerja sejak kalian bahkan belum bangun tidur! Wajar jika sekarang waktunya aku istirahat!" sahut JeKo tidak terima. Ardi pun terkekeh mendengarnya.
"Ada apa? Jovanka kenapa ditinggal? sedang marahan?" tanya Ardi
"Apaan sih?! Aku sama Jovanka itu nggak ada hubungan apapun selain sahabat dekat dari kecil! Kenapa juga sih dia harus selalu ikut aku?!" protes JeKo masih dengan kesal.
"Trus kenapa kesal begitu daritadi? Apa ini ada hubungannya dengan peserta bernama Citra itu?" goda Ardi.
"Apa sih?!" bantah JeKo mengingkari dugaan Ardi.
"Hei! Kelihatan banget tahu nggak sih?! dipandang terus gitu emangnya kenapa?! takut hilang?!" goda Ardi terus mengganggu JeKo.
"Apaan sih?! ganggu aja deh! Aku capek tahu?! Sana lanjut ngawasin peserta!" sahut JeKo mengusir Ardi.
"Hei! ingat! Jovanka bisa ngamuk dan memperlakukan Citra dengan buruk lho kalau tahu perhatianmu sekarang sudah berpaling pada yang baru!" nasehat Ardi.
"Astaga nih anak! siapa juga sih yang mikirin Citra?! Tuh hadiah ponselnya kamu aja yang kasih ke dia!" sahut JeKo.
"Astaga! belum kamu kasih ke orangnya?! Kenapa sih?!" tanya Ardi bingung.
"Tuh anak, nggak pernah mau menerima apapun tawaran baik dari aku! aku nggak jadi kasih ini hadiah ke dia! karena ujung-ujungnya pasti ditolak sama tuh anak! Udahlah, ini kamu aja yang kasih ke dia!" sahut JeKo sangat kesal.
"Astaga! ada juga gadis yang nolak kamu?!" ucap Ardi tak percaya.
"Dia aja tuh yang aneh!" kesal JeKo.
"Jangan gitu.... ntar suka, trus cinta.... eh jatuhnya malah cinta mati yang nggak terlupakan, gawat deh!" nasehat Ardi menggoda emosi JeKo.
Ardi pun segera berlari menjauh sambil tertawa saat JeKo sudah mengangkat bogem ke arahnya.
Semuanya tetap berjalan baik, kondisi Citra juga tetap baik bahkan hingga acara api unggun selesai. Selama sehari ini beberapa kali sudah JeKo berusaha untuk mendekati dan menyapa Citra, namun gadis itu terus menghindarinya. Sebaliknya Jovanka terus berusaha mengobrol dengan JeKo namun laki-laki itu justru terus menghindarinya tanpa alasan.
Semua peserta sudah beristirahat di dalam tenda masing-masing, begitu juga dengan Aqilla dan Citra. Namun keheningan malam itu hilang karena ada sepasang panitia yang terus saling membentak dan berteriak.
JeKo dan Jovanka. Keduanya bertengkar entah bagaimana dan darimana asal mulanya.