JeKo dan Jovanka. Keduanya bertengkar entah bagaimana dan darimana asal mulanya.
"APA SIH BAGUSNYA CITRA ITU?! KENAPA KAMU JADI BERUBAH SEJAK MENGENAL CITRA?!" teriak Jovanka yang akhirnya semakin membuat penasaran semua peserta meski mereka hanya mengintip saja dari tenda, begitupun kelompok Aqilla yang langsung menatap ke arah Citra. Citra bingung tidak tahu apapun.
"JO! AKU BERUBAH ATAU TIDAK BUKAN URUSANMU! KITA INI CUMA SAHABAT! TIDAK PERNAH LEBIH DARI ITU! JADI BERHENTILAH MENJADI POSESIF TERHADAP AKU! DAN INI SEMUA TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN GADIS BERNAMA CITRA ITU! INI HIDUPKU! INI KEPUTUSANKU! BERUBAH ATAU TIDAK, INI KEPUTUSANKU!" balas JeKo juga dengan berteriak.
"APA SALAHKU?! NGOMONG JEKO! APA SALAHKU?! SAMPAI KAMU BERUBAH SIKAP TERHADAP AKU?!" tanya Jovanka sudah mulai menangis meski dia masih berteriak.
"AKU NGGAK MAU LAGI KAMU POSESIF SAMA AKU! AKU MAU BEBAS! BEBAS BERGAUL DAN BERTEMAN DENGAN YANG LAINNYA JUGA! KENAPA AKU HARUS SELALU KEMANAPUN SAMA KAMU?!" sahut JeKo yang akhirnya membungkam mulut Jovanka, karena dia semakin tidak kuat menahan tangisnya.
Ardi mengajak Vika untuk memisahkan keduanya, tidak baik menjadi tontonan drama Korea bagi peserta MOS malam ini.
"JeKo, ayo ikut aku!" ajak Ardi yang langsung menarik lengan J-Ko.
"Jo, balik ke tenda dulu yuk." ajak Vika merangkul pundak Jovanka.
Mereka berjalan ke arah yang berbeda. Tontonan selesai, namun topik pertengkaran itu masih belum selesai dibahas oleh para peserta MOS yang ada, meski hanya di tenda mereka masing-masing.
"TIDUR! SEMUANYA TIDUR!!!! BARANGSIAPA MASIH TERDENGAR BERSUARA, MAKA BESOK SIAP-SIAP MENJALANI HUKUMAN FISIK!" teriak Bram menghentikan segala gosip di tengah malam, dan semua kembali hening.
Citra sungguh tak bisa memejamkan matanya, begitu juga dengan Aqilla. Mereka berdua hanya saling menatap dalam kediaman sambil tiduran saling berhadapan.
"Tidurlah." bisik Aqilla.
"Kenapa aku? Apa yang sudah aku lakukan?" tanya Citra juga dengan berbisik. Aqilla hanya menggelengkan kepalanya, dia juga nggak ngerti kenapa harus ada nama Citra di tengah pertengkaran dua senior idola sekolah itu.
"Tidurlah, kamu harus istirahat." bisik Aqilla lagi. Citrapun menganggukkan kepalanya dan memejamkan matanya, meski dia tidak merasa tenang, tapi dia harus membuat Aqilla tenang. Aqilla pun mulai terlelap saat merasa Citra juga sudah terlelap.
Secara perlahan, Citra meraih lampu senternya, mencoba untuk keluar dari tenda dan mencari Ardi juga JeKo.
"Sepertinya tadi mereka ke arah sini. Mungkin mereka masih ada di balik toilet umum."
Batin Citra lalu berjalan perlahan.
"Itu mereka, sedang bicara serius sepertinya." Batin Citra. Dia mengendap semakin mendekat untuk mendengarkan pembicaraan mereka, mencari tahu apa alasan pertengkaran tadi hingga membawa namanya.
"J, sudah sering aku katakan padamu, Jovanka itu menyukaimu! Dia itu mencintaimu! Jangan terus menutup matamu!" ucap Ardi menasehati JeKo.
"Aku nggak menutup mata! aku menegaskan ke semuanya bahwa Jovanka tidak mencintaiku itu juga sekaligus untuk menegaskan padanya, bahwa kami ini memang hanya bersahabat! tidak lebih!" sahut JeKo.
"Tapi sikapmu masih terlalu perhatian padanya, kamu juga selalu mengutamakan dia selama ini, dan sekarang sejak Citra itu berdiri di hadapanmu, kamu jadi mengutamakan Citra dibanding Jovanka. Itu salahmu, J!" tegur Ardi.
"Aku nggak merasa mengutamakan Citra." sahut JeKo membantah pernyataan Ardi.
"Waahh..., nggak sadar nih anak! Hei! coba kamu ingat lagi ya, selama tiga hari MOS ini, sudah berapa kali kamu ninggalin dan nggak peduli pada Jovanka, hanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan Citra? coba diingat!" ucap Ardi mulai kesal.
"Sudah ingat?!" tanya Ardi setelah beberapa saat ada keheningan diantara dirinya dan JeKo.
"Aku ingat semua kejadian 3 hari ini, Ardi. Tapi aku tetap tidak merasa kalau aku sudah mengutamakan gadis itu dan nggak peduli pada Jovanka hanya demi gadis itu!" sahut JeKo dan membuat jengah Ardi.
"Astaga! dasar nggak peka!" rutuk Ardi kesal
"Ardi, pertama aku hanya mengobrol dengan gadis itu sebentar, itupun aku langsung memanggil Jovanka untuk bergabung. Lalu kedua, aku menolongnya ke ruang kesehatan saat dia pingsan di pos aku, ya memang aku meninggalkan Jovanka saat itu, tapi kamu pun pasti akan melakukan hal yang sama denganku kan? aku tanya padamu, jika kamu ada di posisiku saat itu, apakah kamu masih akan mengajak Jovanka ikut ke ruang kesehatan? lalu siapa yang akan menjaga pos? kamu ini aneh! bagian mana yang aku lebih mengutamakan gadis itu dan nggak peduli pada Jovanka?! coba katakan padaku!" ucap JeKo memberi penjelasan secara subyektif.
"Kalau dipikir seperti itu memang sih kamu nggak kelihatan lebih mengutamakan Citra dan nggak peduli sama Jovanka. Tapi, bagi kami semua yang kenal siapa kamu dan bagaimana karaktermu selama ini, maka semua sangat terlihat berbeda! Apa kamu ingat saat MOS tahun lalu dan ada seorang peserta pingsan di hadapanmu? dia juga seorang gadis cantik, tapi apa yang kamu lakukan? kamu justru berteriak memanggil aku dan Varrel untuk mengangkat dan membawanya ke ruang kesehatan! aneh kan?!" sahut Ardi.
"Kalian hanya berpikir terlalu jauh! aku satu-satunya laki-laki di pos itu! lalu kalau aku harus meminta semua gadis itu mengangkat tubuh temannya, apa kata dunia??! aku bukan laki-laki selemah itu, Ardi!" ucap JeKo.
"Oke, baiklah! sekarang aku tanya, kenapa kamu sering memandang ke arah Citra? secara level 1 sampai 10, seberapa level rasa sukamu terhadap Citra?! Jujur saja! aku sangat melihat kamu menyukai gadis itu." sahut Ardi tak mau berdebat panjang dengan JeKo.
"8 mungkin 9." jawab JeKo dan Ardi pun terkekeh.
"Hei, jangan menertawakanku!" kesal JeKo.
"Astaga! ini gila! bagaimana bisa dia menyukaiku?"
Batin Citra yang sedari tadi bersembunyi dan menguping pembicaraan kedua senior itu.
Ardi masih terus tersenyum lebar menatap ke arah JeKo.
"Kenapa kamu terus tertawa?! nggak salah kan kalau aku menyukai gadis itu?! dia cerdas, dia memiliki wajah yang manis, dia kaya tapi tetap sederhana, dia unik, dia berbeda, dia sungguh sempurna, wajar jika aku menyukainya! laki-laki normal pasti mudah menyukainya, Ardi!" ucap JeKo.
"Ya, dia memang berbeda dari gadis lainnya, dia gadis yang sempurna, tapi sebaiknya kamu bicarakan dengan Jovanka secara baik-baik, jangan sampai Jovanka melakukan hal yang buruk pada Citra. Aku nggak mau kamu terus tutup mata terhadap segala perbuatan Jovanka yang mengganggu siapapun gadis yang terlihat suka padamu. Kamu bisa tutup mata karena mereka tidak masuk dalam hitunganmu, tapi jika Citra memang gadis yang kamu sukai, maka kamu harus mampu melindunginya! Berjanjilah! aku nggak mau ada korban Jovanka lagi mulai sekarang." sahut Ardi menasehati JeKo.
"Gadis itu selalu menolakku, Ardi. Bagaimana aku bisa melindunginya? Itulah yang membuatku kesal sejak kemarin." keluh JeKo.
"Aku tidak perlu dilindungi oleh senior!" sahut sebuah suara gadis yang mengejutkan keduanya. Citra keluar dari persembunyiannya.
"Citra???" sebut keduanya terkejut dan bingung.
"Sejak kapan kamu ada disana?!" tanya JeKo kesal karena malu dan gugup.
"Sejak kapan itu nggak penting! yang jelas aku dengar semua sebelum kalimat 8 sampai 9 tadi." sahut Citra membuat JeKo semakin terkejut, Ardi hanya tersenyum lebar melihat interaksi keduanya.
"Kembali ke tendamu sekarang! atau besok kamu akan mendapat hukuman fisik?!" perintah JeKo dengan ancaman terhadap Citra.
"Aku pasti kembali ke tendaku, tenang saja! senior nggak perlu mengancamku seolah aku ini anak kecil!" sahut Citra.
JeKo menghela napas panjang dan berat.
"Ardi, sebaiknya kamu aja yang bicara padanya! aku sungguh nggak bisa sabar menghadapi gadis ini!" keluh JeKo pada Ardi.
"Citra, kamu mau ngomong apa?" tanya Ardi lembut.
"Senior, nggak perlu cemas bagaimana menjaga diriku, aku sungguh bisa menjaga diriku sendiri. Kurasa senior tidak lupa bagaimana pengawalan ketat yang diberikan keluargaku padaku kan? bahkan sampai saat ini aku pun sebenarnya membawa beberapa pengawal yang senior tidak sadari. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih sudah menyukaiku, aku juga menyukai senior sama seperti peserta yang lainnya. Tapi bagaimanapun senior lebih serasi dengan senior Jovanka. Dia gadis yang sangat baik, lebih baik jangan sia-siakan dia dan terlambat menyadarinya." jelas Citra.
"JeKo, ada yang ingin kamu katakan?" tanya Ardi seolah sedang menjadi mediator bagi keduanya.
"Maaf, bukan urusanmu dalam hubunganku dengan Jovanka. Sekarang kembalilah ke tendamu!" sahut JeKo merasa ditolak lagi oleh Citra.
Citra pun tanpa bicara lagi, segera berbalik dan berjalan menuju ke tendanya. Ardi hanya tersenyum dan menghela napasnya panjang.
"J, aku harus bicara serius padamu tentang Citra." ucap Ardi lebih serius.
"Ada apa? Apa kamu sudah mengenal gadis itu sebelumnya? atau jangan-jangan dia mantan pacarmu?!" tanya JeKo dengan tatapan curiga.