Penjelasan

1093 Kata
"Ada apa? Apa kamu sudah mengenal gadis itu sebelumnya? atau jangan-jangan dia mantan pacarmu?!" tanya JeKo dengan tatapan curiga. "Maaf, aku menyembunyikannya darimu dan kalian semua. Aqilla sebenarnya adalah adik kandungku, sedangkan Citra adalah sahabatku dan Aqilla sejak kami kecil dulu. Rumah kami juga bersebelahan, karena itulah aku sangat mengenal siapa Citra dan bagaimana karakternya dan seluruh hidupnya. Aku memang sangat menyayanginya, sama seperti aku menyayangi Aqilla. Aku sudah menganggapnya sebagai adik kandungku sendiri, nggak pernah ada sedikitpun rasa cinta dan sayangku padanya selain sebagai seorang kakak." cerita Ardi. "J, jujur, aku lah yang memintanya untuk berhati-hati dan menjaga jarak denganmu dan Jovanka. Aku nggak mau terjadi hal buruk padanya, sudah terlalu banyak hal buruk yang pernah dia alami, J. Aku nggak mau saat dia akhirnya bisa bebas dari sangkar emasnya itu, justru dia mengalami hal yang jauh lebih buruk lagi. Ini adalah pertama kalinya dia bisa sedikit dilepas oleh keluarganya dari sangkar emasnya. Aku sangat melihat binar kebahagiaan di wajahnya, karena itu jugalah aku berani menjadi jaminan bagi keselamatannya di sekolah ini." Lanjut Ardi. "Apa yang sudah terjadi padanya?" tanya JeKo. "Apa kamu tahu siapa sebenarnya dia?" Ardi balik bertanya dan JeKo menggelengkan kepalanya. "Dia putri tunggal dari Bapak Mahardika Hartawan Jaya, pengusaha yang masuk dalam urutan 3 besar orang terkaya di Asia Tenggara. Banyak lawan bisnis Daddy nya yang selalu mengincar dia sebagai bahan untuk ancaman atas segala bisnisnya. Sebenarnya dia bukanlah putri tunggal, dia memiliki dua orang kakak lagi. Sayang sekali, saat dia berumur 5 tahun, sebuah penculikan telah membunuh seorang dari kakaknya dan yang satu lagi menghilang tanpa jejak hingga saat ini. Citra lah satu-satunya yang mampu diselamatkan dan kembali ke keluarganya. Baru saja dia berhasil melewati trauma penculikannya, suatu hari saat usianya 12 tahun, dia yang masih polos itu harus menjadi korban kekerasan seksual oleh seorang tukang kebunnya yang sudah lansia, ya meskipun dia berhasil diselamatkan sebelum kehilangan kegadisannya, tapi kejadian itu semakin menambah traumanya pada orang lain di luar keluarganya dan keluargaku. 11 tahun lamanya, dia selalu sekolah private homeschooling, selama itu jugalah hanya aku dan Aqilla yang diijinkan untuk berteman dengannya dan pergi bersamanya, terlalu besar trauma dalam dirinya, J. Terlalu besar juga ketakutan keluarganya terhadap keselamatan dirinya. Hal itu jugalah yang membuat aku dan Aqilla juga takut dan nggak mau terjadi hal buruk pada Citra. J, dia itu gadis yang rapuh dalam jiwanya, meski dari luar dia terlihat tangguh dan kuat." jelas Ardi panjang. "Aku akan ikut menjaganya, Ar." sahut JeKo membuat Ardi tersentak kaget. "Bantu aku ya..." pinta JeKo lagi dan Ardi hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. "Kamu sedang jatuh cinta ya? aku belum pernah lihat kamu seperti ini sejak 5 tahun yang lalu aku mengenalmu." tanya Ardi. "Bukankah itu hal baik? aku akhirnya bisa jatuh cinta untuk pertama kalinya, jadi kamu dan Varrel juga Bram nggak akan lagi meragukan kesehatanku sebagai laki-laki." sahut JeKo. "Bagaimana dengan Jovanka?" tanya Ardi kembali serius. "Aku akan bicara baik-baik dengannya, kuharap dia bisa membebaskan aku dalam meraih kebahagiaanku." sahut JeKo. "Apa kamu sanggup lebih membela dan menjaga Citra saat Jovanka mulai berlaku seperti dulu lagi?" tanya Ardi. "Jovanka seharusnya sadar, bahwa usianya saat ini sudah masuk dalam usia dewasa, usia yang sudah bisa dijatuhi hukuman penjara karena sebuah penganiayaan. Dulu dia tetap lepas bebas karena usianya masih sangat dibawah umur saat melakukan penganiayaan gila itu." sahut JeKo. "Dia posesif terhadapmu, J. Terlalu posesif! Itu sangat berbahaya bagi Citra, J. Terlalu berbahaya!" ucap Ardi. "Aku tahu, aku akan menjaga jarak dengan Citra, selama aku belum bisa meyakinkan Jovanka untuk melepaskan posesifnya terhadap aku." sahut JeKo. "Thank you, J. Sekarang sebaiknya kita lihat kondisi Jovanka, supaya besok kegiatan dapat kembali normal dan kalian nggak menjadi gosip murahan di antara peserta." ucap Ardi dan JeKo pun mengangguk setuju serta mengucapkan terima kasih juga pada sahabatnya itu. Keduanya pun melangkah bersama menuju ke tenda Jovanka. Terlihat disana Jovanka masih saja menangis dalam pelukan Vika. "Maaf, bisa aku dan Jovanka bicara berdua saja?" ucap JeKo meminta waktu pada panitia lainnya. Ardi pun mengangguk saat mereka menatapnya seolah bertanya pada Ardi. Semua panitia pun melangkah keluar bersama Ardi dan membiarkan keduanya bicara. "Jo, maaf ya. Aku sudah bentak kamu tadi. Maaf ya Jo." ucap JeKo dan Jovanka pun segera merajuk masuk memeluk tubuh JeKo. JeKo tidak pernah menolak sejak dulu, Jovanka selalu manja dan merajuk padanya sejak dulu. JeKo hanya menganggap itu hal wajar karena Jovanka nggak memiliki saudara kandung dan orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan sosialitanya masing-masing. "Kamu jahat! kamu sudah bikin aku malu! Kamu sekarang sudah mulai bentak-bentak dan marah-marah sama aku! aku nggak suka! aku nggak mau kamu seperti itu!" omel Jovanka dengan manjanya menangis dalam pelukan JeKo. "Iya maaf, aku nggak akan bentak dan marah sama kamu lagi. aku janji! tapi kamu juga harus janji, kalau kamu nggak bakal nuduh aku macam-macam! aku paling nggak suka difitnah, apalagi fitnah itu dari kamu, beneran menyakitkan tahu nggak?!" sahut JeKo. Jovanka menarik dirinya keluar dari pelukan JeKo dan menatapnya bingung sekaligus binar bahagia. "Apa benar kamu nggak ada hubungan apapun dengan siswi baru itu?" tanya Jovanka. "Kami nggak ada hubungan apapun Jo, kan aku sudah ngomong ke kamu, tapi kamu nggak percaya!" sahut JeKo. Jovanka pun tersenyum lebar, semudah itu dia dihibur oleh JeKo. "Jo, kita sudah bukan anak kecil lagi. Aku dan kamu sudah sama-sama semakin dewasa, suatu saat kamu akan mencintai seorang laki-laki dan aku akan mencintai seorang wanita. Sebaiknya kita mulai membaur dengan yang lainnya juga Jo, nggak baik kalau mereka selalu salah mengartikan persahabatan kita." ucap JeKo. "Biarin aja! aku cuma merasa nyaman sama kamu, J! asal ada kamu, aku nggak butuh semua orang di dunia ini, termasuk kedua orangtuaku sekalipun!" sahut Jovanka. JeKo pun hanya menghela napas panjang dan tersenyum menatap Jovanka. "Tidur ya, besok masih harus kegiatan penutupan lagi." ucap JeKo mengusap puncak kepala Jovanka, memilih mengakhiri pembicaraan mereka, karena Jovanka masih belum bisa diajak berbicara dengan baik. Jovanka pun mengangguk tersenyum dan sekali lagi merasuk memeluk pinggang JeKo. "Sudah ya, aku juga butuh tidur, ngantuk." ucap JeKo lagi sambil melepaskan pelukan Jovanka. JeKo pun keluar dari tenda itu sambil menghela napas panjang dan memaksa dirinya sendiri untuk tersenyum pada beberapa panitia yang menunggu di luar tenda itu dengan cemas. Para panitia itupun menghela napas lega melihat senyuman JeKo, namun tidak dengan Ardi. Ardi tahu masalahnya belum selesai, dan JeKo pasti kembali memilih mengalah pada Jovanka. Ardi segera merangkul pundak JeKo saat laki-laki itu sudah berada di dekatnya. "Bobo yuk." ajak Ardi, dan langsung mendapat tonjokan di perutnya dari siku lengan JeKo. Dugh! "Apaan sih?!" omel JeKo lalu keduanya terkekeh bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN