"Revanda ...."
Bisik Raden Cakra ternganga. Semua hal tentang Bunga, selalu mengingatkan Raden Cakra pada Revanda, dan wajah dua wanita cantik serta imut ini sangatlah mirip bagaikan pinang di belah dua.
HUUUFFFFT....
Raden Cakra tidak mau ambil pusing, lalu dia menelfon anak buahnya untuk menjemputnya karna Bunga molor di boncengan motor gede Harley Davidson super keren milik Pangeran Kulkas Kutub Utara itu.
Tak lama kemudian, anak buah Raden Cakra datang ke tempat kejadian dan dengan sigap, Raden Cakra membopong tubuh Bunga dengan hati-hati dan memindahkannya ke dalam mobil.
Lalu Raden Cakra melemparkan kunci moge nya pada salah satu anak buahnya yang otomatis refleks menangkapnya.
Kemudian Raden Cakra menyuruh supirnya untuk membawanya ke apartemen pribadi miliknya.
Bunga masih saja tertidur dan ngorok pula. Dia kaget setengah mati saat terbangun dan tiba-tiba saja sudah ada di alam sebelah, ehh ada di tempat yang asing baginya.
"GUE ADA DIMANA???"
Teriak Bunga takut.bDia semakin syok karna Raden Cakra sedang menatapnya dengan sangat tajam setajam silet. Entah apa yang ada dalam pikiran cowok tampan di depannya ini.
"Lo punya mulut, kan? Gue ada dimana sekarang???"
Kali ini Bunga beneran panik.
"Sempak kadal, mendingan lo daftar jadi mafia aja deh, karena lo itu bakat banget nyulik anak orang!"
Ucap Bunga kesal karna omongannya sama sekali tidak ada respon.
"Siapa cowok yang tadi deketin lo?"
Akhirnya Pangeran Kulkas Kutub Utara itu bersuara.
"Cowok yang mana???"
Sahut Bunga bingung.
"Jangan pura-pura amnesia!!!"
Getak Raden Cakra marah. Wajahnya sampai memerah karena menahan emosinya.
"Cowok siapa sih? Gue nggak punya cowok, Bambang!"
Bunga nggak takut sama sekali dengan cowok di depannya.
"Yang tadi ngasih lo bunga di lapangan basket itu siapa?"
Desak Raden Cakra penasaran.
Bunga memutar bola matanya dengan malas.
"Ohh, dia si Aden! Anak pengusaha batu bara dari Kalimantan! Cukup ganteng juga sih, tapi gue ....."
MMMUACHTT....
Raden Cakra mencium bibir Bunga secepat kilat.
"Lain kali gue nggak mau dengar nama itu lagi!!!"
Ucapnya sambil ngeloyor pergi.
"Woy, burung unta! Kepala lo habis kepentok batu, ya? Kenapa jadi bahas cowok segala, sih?"
Bunga emosi. Dia mengejar Raden Cakra.
"Pertama, lo ngatain gue otak udang, burung unta, sempak kadal, dan lainnya sedangkan tadi lo baik dan manis banget sama cowok sialan itu!"
"Paijo, please ya, kapan gue bersikap manis sama dia? Perasaan gue biasa aja!"
Bunga nggak mau kalah.
"Lagian kalo misalkan gue baik sama dia dan deket sama dia, emangnya apa hubungannya sama lo?"
Raden Cakra berbalik secepat kilat dan dia langsung menatap tajam ke arah mata Bunga. Lama-lama Bunga jadi takut juga.
"KARNA LO, MILIK GUE!!! NGERTI??!"
Tandas Raden Cakra sambil menarik dagu Bunga lalu melepaskannya kembali.
"Milik lo dari mananya? Gue bukan barang yang bisa lo miliki seenak jidat lo, gerandong!!!"
Sahut Bunga yang mulai mewek-mewek karena takut dipelototin sama Raden Cakra.
"Lo ngatain gue gerandong???"
Ulang Raden Cakra marah.
"LO TUH BENER-BENER, YA?!!"
Raden Cakra menggebrak meja dengan keras membuat tangis Bunga akhirnya pecah juga.
HUWAAAAAA..............
😭😭😭😭😭😭
"Mamiiii, Cakra nakal, Miii....!"
Isak Bunga nelangsa.
Hal ini langsung membuat Raden Cakra panik. Dia udah bikin nangis anak orang di apartemen pribadinya.
HUUU....HUUU....HUUU...
Tangis Bunga semakin menjadi-jadi.
Namun tiba-tiba saja ada anak buah Raden cakra yang datang membawakan semua keperluan Bunga sesuai yang bos nya minta.
Raden Cakra membukakan pintu apartemen elitnya dan mengambil sebuah tas besar berisi semua keperluan Bunga yang baru dibelinya dari Mall.
Anak buah Raden Cakra mendengar suara tangis Bunga yang terdengar sangat memilukan itu.
"Non Bunga kenapa, bos?"
Tanya Asistennya kepo.
"Nggak apa-pa, kok! Dia cuman...."
Bisik Raden Cakra pelan.
"Lagi PMS!"
Lanjutnya lagi. Padahal Bunga nangis gara-gara takut dipelototin sama diomelin olehnya.
"Ohh, kirain dia diapa-apain lagi sama Den Cakra! Sama cewek itu nggak boleh kasar, Den!"
Jeplak Asisten Raden Cakra sambil ngintip ke arah Bunga.
"Busyet!!!"
Umpat Raden Cakra sebal karena semua tebakan asistennya itu benar semua.
"Gaji lo gue potong bulan ini!"
Ucap Raden Cakra sambil menutup pintu apartemennya dengan gemas.
"Yaaah.....Kok gitu sih, Den?!"
Protes Radit, asisten pribadi setia Raden Cakra yang sudah seperti kakaknya itu. Dia bodyquard sekaligus asisten pribadi Raden Cakra yang jarak umur mereka cuman beda lima tahun, lebih tua dari Raden Cakra Maheswara.
Raden Cakra mengulurkan tas besar hasil berburu asistennya dari Mall itu. Dia juga asal mengambil satu bungkusan dari dalam tas belanjaan itu.
"Ini, pake ini biar nggak tembus lagi!"
Ucap Raden Cakra yang mulai melunak. Namun dia belum minta maaf pada Bunga.
Bunga sama sekali tidak melihat ke arahnya. Dia masih nangis dipojokan kamar dan nongkrong kaya anak kecil. Nelangsa sekali.
"Bunga...."
Panggil Raden Cakra sambil mendekat ke arah Bunga.
"Lo jahat sama gue!"
Sahut Bunga sedih.
"Bisa nggak sih, lo itu nggak marah-marah sama gue? Bisa nggak kalo mata lo nggak melototin gue kayak tadi? Gue kan takut, sama lo!!!"
Jelas Bunga sambil terisak.
Raden Cakra membuang semua belanjaan di tangannya.
Dia langsung menarik tangan Bunga untuk berdiri dan dia langsung memeluk tubuh mungil Bunga.
"Maafin gue, ya sayang!"
Raden Cakra mengelus rambut Bunga dengan penuh kasih sayang. Membuat Bunga akhirnya luluh juga.
"Gue yang sejak awal lo lihat, gue yang kasar ini, adalah gue yang sesungguhnya! Gue nggak bisa pura-pura baik dimata lo, Bunga! Gue pengen lo menerima gue apa adanya karna gue termasuk introvert dan sulit untuk membangun hubungan dengan orang lain!"
Jelas Raden Cakra serius.
Bunga masih sesenggukan.
Sebenarnya dia bingung dengan status hubungan diantara mereka berdua karena jelas-jelas Raden Cakra itu belum secara resmi nembak Bunga.
Dia cuman bilang kalau Bunga miliknya, seakan-akan Bunga adalah barang mainan untuknya.
"Sayang...."
Panggil Raden Cakra sambil melepas pelukannya dan menatap wajah sembab Bunga.
Bunga hanya menatapnya saja.
"Jadi lo udah maafin gue?"
Tanya Raden Cakra khawatir.
"Lo bisa perlahan ngertiin gue, kan?"
Tanyanya lagi penuh harap.
"Enak aja lo minta gue maafin! Ada syaratnya!"
Sahut Bunga sambil cemberut.
Raden Cakra mendekat ke arah Bunga dan mau nyosor bibirnya yang lembut dan wangi itu.
"BUKAN ITU!"
Sambar Bunga secepat kilat.
"Terus apaan?"
Tanya Raden Cakra sambil tersenyum manis yang bikin hati Bunga meleleh.
"Beliin gue es krim!"
Ucap Bunga dengan wajah yang berbinar.
GEDUBRAK!!!
Raden Cakra hampir aja ngejengkang ke belakang.
Dia kira Bunga minta belanja di Mall atau minta apa gitu kek yang agak mahal dikit, ehh, ternyata cuman minta dibeliin es krim doang. Raden Cakra neplak jidatnya sendiri.
"Ya udah, lo mandi terus ganti baju ya, udah lengkap semuanya disini! Nanti gue ajak beli es krim!"
Ucap Raden Cakra akhirnya.
Bunga tersenyum sambil jingkrak-jingkrak kayak anak kecil yang bikin Raden Cakra geli.
Namun tiba-tiba saja dia syok saat melihat ada sebantal Pampers yang tergeletak di lantai.
"Ini apaan???"
Tanya Bunga heran.
"Lo kan lagi dapet, jadi gue beliin ini!"
Ucap Raden Cakra bangga.
"Gue bukan bayi, Bambang!"
Protes Bunga sebel.
"Jadi ini salah ya?"
Tanya Raden Cakra shock.
"Ini kan popok bayi! Lo mau gue pakai popok bayi???"
Sahut Bunga yang jengkel sekaligus bengek itu.
BWAHAHAHA....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Lalu dia ketawa ngakak diikuti oleh Raden Cakra yang merasa bodoh di depan Bunga karna salah beli keperluan buat ceweknya.
"Harusnya lo beli pembalut, bukannya pampers, sayang!"
Ucap Bunga yang langsung membuat Raden Cakra GR.
"Lo bilang apaan barusan? Coba ulangi lagi!"
Pinta Raden Cakra salah tingkah.
"Nggak ada, gue keceplosan tadi!"
Bunga tidak mau mengulangi kata sayang untuk Raden Cakra.
Apakah mereka berdua kembali damai???
Simak di bab selanjutnya!
❤️Kepincut Pangeran Kulkas❤️