5.Pangeran Kulkas Kutub Utara

1114 Kata
Keesokan harinya, Bunga terbangun dengan keadaan kaget karena dia dikelilingi oleh banyak orang yang sedang sibuk mendandaninya. Padahal dia masih dalam keadaan tertidur. "Ini apaan sih?" Teriak Bunga bingung. "Diem aja lo! Itu cuman rutinitas sebelum berangkat ke sekolah kok!" Jawab Raden Cakra enteng. Dia juga sedang dipakaikan baju oleh para asistennya. "Pakai baju aja harus dibantu sama asisten? Dasar cowok sultan emang lo ya!" Bisik Bunga sambil geleng-geleng kepala. Sepuluh menit kemudian, mereka berdua siap untuk turun ke lantai bawah. Namun Bunga tampak takut. Dia takut kalau sampai ketemu sama orang tua Raden Cakra karena dia kan temen cewek, masa' sampai nginep di rumah cowok, sih? Nggak etis banget. Walaupun tidurnya terpisah sih. "Kenapa lo, monyet?" Tanya Raden Cakra saat Bunga menarik-menarik lengan bajunya. Mereka sekilas malah mirip seperti kakak adik karena tubuh kekar dan tinggi Raden Cakra yang jauh diatas Bunga. "Gue takut!" Bisik Bunga panik. "Nanti kalo ketemu sama orang tua lo, gimana?" "Biar dinikahin sekalian!" Jeplak Raden Cakra enteng. "Gue serius nih!" Sungut Bunga sebel. Raden Cakra malah memencet hidung Bunga dengan gemas. "Sakit, tahu!!!" Bunga mendelik. Raden Cakra sama sekali tidak takut padanya. Malah semakin membuat wajah Bunga menggemaskan saat dia melotot. "Orang tua gue lagi ada di luar negeri, jadi nggak perlu khawatir!" Jawab Raden Cakra yang mengerti dengan kekhawatiran Bunga. Gadis manis dan imut ini. Mereka tiba di ruang makan yang super mewah. Segala hidangan untuk sarapan sudah tersedia. Bunga masih berdiri di pinggir meja. "Lo mau sarapan sambil berdiri?" Tanya Raden Cakra cuek. "Ehh, gue...." Bunga gugup karena dilihatin sama asisten Raden Cakra. Raden Cakra menuntun Bunga dan menuntunnya untuk duduk di sisinya. Dia bahkan menyiapkan roti bakar dan segelas s**u putih untuk Bunga. Hal ini membuat para asisten terbelalak melihat sikap manis Raden mereka. "Ternyata lo bisa baik juga ya!" Bisik Bunga pelan. "Bisa nggak kalo lo cukup bilang terimakasih aja?" Balas Raden Cakra dengan tatapan killernya. Bunga yang mulai terbiasa dengan tatapan mematikan itu sudah tidak takut lagi. "Buruan dimakan!" Perintah Raden Cakra galak. "Iya, galak banget sih lo?" Jawab Bunga sambil memakan roti bakar yang disiapkan oleh Raden Candra. "Ngomong-ngomong, tadi malam lo nggak ngapa-ngapain gue, kan?" Tanya Bunga penuh selidik. "Etdah, dasar gede rasa lo!" Sahut Raden Cakra sambil memakai kacamatanya lagi. Dia terlihat sangat keren dengan balutan setelan jasnya. Dia terpaksa harus memakai kacamata selama beberapa hari karena matanya yang lebam akibat diseruduk oleh Bunga kemarin. "Emangnya lo tahu dimana sekolah gue?" Tanya Bunga heran. Dia pikir, mungkin karena mereka searah, jadinya ya sekalian berangkat sekolahnya. "Gue ini Kakak Tingkat yang paling tampan di Kampus Bintang Mercusuar!" Sahut Raden Cakra serius. "APA???" Teriak Bunga syok. UHUGK!!! UHUGK!!!! Bunga terbatuk-batuk. Dia panik karena ternyata dia satu sekolah sama cowok tengil di depannya. "Males banget harus satu sekolah juga sama lo!" Protes Bunga sebel. "Itu sekolahan milik Kakek gue! Apa perlu gue pindah sekolah?" Tanya Raden Cakra sambil minum s**u putih miliknya. Bunga salah fokus saat melihat jakun milik Raden Cakra yang bergerak saat menelan s**u putih itu. Dia mendadak ingat kejadian semalam saat dia dan Raden Cakra saling berciuman mesra. Wajah Bunga langsung memerah seketika. Walaupun hanya dalam khayalan saja. "Kenapa lo? Pengen???" Goda Raden Cakra sambil diam-diam menjulurkan lidahnya nakal. "Dasar gila!" Sahut Bunga sebal. Akhirnya mereka berdua berangkat ke sekolah naik mobil bersama. Saat Bunga turun dari mobil, dia merasa seperti menjadi artis dadakan karena semua orang sibuk menatap ke arahnya dengan tatapan heran. Pakai susuk apaan sih Bunga kok sampai bisa berangkat sekolah bareng sama Raden Cakra??? Waahh ke dukun mana tuh bocil sampai bisa bikin Raden Cakra kesengsem sama dia??? Jurus semar mesem apa yang dia pakai hingga si Pangeran Kulkas Kutub Utara luluh sama dia??? Sumpah demi lakik gue Lee Meen Hoo, kenapa Bunga bisa jalan bareng sama Raden Cakra??? Nggak beres ini anak nih!!! Suara ribut para cewek-cewek satu sekolahan yang protes dan mendadak ghibah massal melihat pemandangan Bunga si gadis dari kalangan menengah itu jalan bareng Pangeran Kulkas Kutub Utara. Disisi lain, para cewek juga sibuk berteriak heboh mengelu-elukan Raden Cakra yang sama sekali tidak menggubris mereka semua. "Bungaaaaaa!" Panggil Frena dengan suara tujuh oktafnya. Bunga menengok ke arah suara. "Ya ampuun, lo nggak ada yang lecet dan masih utuh semua, kan???" Tanya Frena heboh. "Lo nggak diapa-apain sama dia, kan???" Tanya Frena masih heboh. "Jangan keras-keras, anjir!" Ucap Bunga sebel. EKHEM!!! Raden Cakra berdehem hebat yang malah membuat para cewek teriak histeris. Bahkan kaca mata hitam yang berfungsi untuk menutupi luka lebam di area mata Raden Cakra itu terlihat sangat keren di mata mereka semua. Bunga memutar bola matanya dengan malas lalu dia ngeloyor pergi tanpa mengucapkan apapun pada Raden Cakra. Frena mengikutinya dan bertanya seperti wartawan kepo mengenai kejadian kemarin malam. Bunga sama sekali tidak menjawabnya karena dia sangat malas untuk menceritakan itu semua. Saat mereka berjalan ke arah lapangan basket karena akan menyebrang menuju kelas mereka, tiba-tiba saja ada Aden Aldara, cowok yang naksir sama Bunga sejak lama. Bunga jadi tambah malas karena hari ini moodnya benar-benar jelek dan tidak ingin terlibat dengan siapapun juga. "Bunga, kenapa chat gue nggak dibalas semalam?" Tanya Aden dengan manja. "Penting banget emang ya?" Jawab Bunga malas. "Ya penting lah, gue kan calon suami lo!" Jeplak Aden dengan pedenya. "Suami matamu!!!" Sahut Bunga galak. "Semakin lo galak dan jutek, semakin gue jatuh cinta sama lo!" Ucap Aden serius. "Dasar gila!" Kali ini Bunga shock saat dia melihat si Pangeran Kulkas Kutub Utara berjalan ke arahnya. Membuat semua cewek iri melihatnya. Diluar dugaan, Raden Cakra malah memeluk Bunga dari belakang sambil mengalungkan jaket miliknya di rok pendek selutut milik Bunga. Tentu saja hal ini membuat semua orang tercengang heran. Lalu Raden Cakra memeluk Bunga sambil menatap sinis ke arah Aden yang langsung membanting bunga di tangannya ke lapangan basket. "Lo ngapain anjir?" Protes Bunga kesal. Dia nggak mau jadi pusat perhatian gara-gara deket sama Raden Cakra si pemilik sekolah elit Mercusuar ini. "Lo mendingan diem aja karena kalo kebanyakan gerak, akan semakin tembus!" Bisik Raden Cakra di telinga Bunga. "Untung aja kemarin lo nggak gue hamilin, kan lo lagi dapet!" Tambahnya lagi dengan nada nakal. Bunga pengen nyakarin muka cowok tengil yang sedang memeluknya ini namun disisi lain, dia juga butuh bantuannya untuk menutupi darah mens yang tembus membasahi roknya sebelum ada orang lain yang melihatnya. Tangan Raden Cakra tak sengaja menyenggol si kembar milik Bunga yang membuat Bunga kebakaran jenggot. "Lo pengen gue hajar, ya?" Ancam Bunga serius. "Jangan mentang-mentang lo anak orang kaya terus bisa seenak jidat sama gue, ya?" Kini kesabaran Bunga mulai habis, dia bersiap akan menampar Pangeran Kulkas dihadapannya hingga membuat semua orang menahan nafas karena ngeri. Apa yang terjadi selanjutnya??? Simak di bab berikutnya ya! ❤️Kepincut Pangeran Kulkas❤️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN