"Aku sudah menalakmu, Janah!" tegasku dengan lantang. Aku sungguh baru sadar, kalau ternyata Janah adalah wanita yang tidak tahu malu. Bisa-bisanya dia masih membandingkan dirinya dengan Sinta. "Tidak, Mas!! Jangan lakukan itu!" Dia malah semakin berteriak dan bersujud memegang kakiku yang hendak melangkah. "Stop, Janah. Di antara kita sudah tidak ada ikatan!" "Tidak, Mas. Dulu, tujuanku masuk ke dalam keluarga ini memang hanya untuk menguasai pondok. Tapi sekarang, aku sudah terlanjur mencintaimu, Mas," Janah semakin meraung. Hati nuraniku sama sekali tidak iba melihatnya seperti ini. Justru hati kecilku tersenyum, mungkin ini adalah yang terbaik dan cara Allah membalaskan rasa sakit Sinta yang dulu pernah aku lukai. "Cinta?" Aku mengangkat badannya agar menyingkir dari jalanku. Namu

