AKU 17 TAHUN DAN SUAMIKU 40 TAHUN
Part 11
[Jaga ibu baik-baik ya] Pesan singkat dari Mas Joko masuk ke ponselku.
[Kenapa tidak pulang?] Balasku
[Apa kamu menginginkan aku pulang?]
Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu, tentu saja aku menginginkannya dia pulang aku tidak mau ditinggal lama-lama lagi.
Tapi tidak mungkin juga aku bilang kalau aku tidak mau ditinggal bisa bisa nanti dia malah kepedean.
Aku tak membalas lagi pesan dari Mas Joko, karena aku malu jika harus mengakui nya.
"Hih! Kenapa malah bertanya seperti itu? Dan kapan pulangnya?" Gumamku.
Rasanya aku ingin menangis kencang mungkin, apakah dia di sana tidak merindukanku dan ibu di sini.
Aku sampai lupa kalau ibu sendirian di depan, jadi aku langsung buru-buru menemaninya.
"Bu, maaf ya tadi Dinda tinggal soal nya ibu masih tidur," kataku pada ibu yang sedang duduk di kursi.
"Oh iya tidak apa-apa nduk," jawabnya.
"Ibu sudah makan?" Tanyaku pada ibu.
"Belum nduk," jawab ibu.
"Ayo kita makan bersama Bu," kataku sambil menggandeng tangan ibu untuk pergi ke dapur.
Sepertinya ada yang aneh saja jika Mas Joko tidak dirumah, meskipun aku jarang bicara padanya tapi aku sedikit merasa kehilangan.
Tidur malampun kini aku sendiri, harusnya aku senang karena tidak ada yang bisa mengganguku lagi.
[Apa kau tidak merindukanku?] Baru saja aku memikirkan eh tiba-tiba mas Joko mengirim pesan lagi.
[Tidak] Balasku singkat.
[Yasudah aku tidak akan pulang] membaca balasan dari mas Joko rasanya aku ingin membanting HP ini.
[Apa aku harus merindukanmu dulu, baru akan pulang?]
[Emm, sepertinya begitu]
Tak mungkin juga aku mengungkapkan kalau aku benar-benar merindukan mas Joko, ah tidak-tidak sudahlah aku tak akan membalasnya lagi.
Tidur tak pulas, makanpun aku sudah tak slera, kenapa aku jadi memikirkan Mas Joko terlalu dalam begini, tak mungkin aku mulai mencintai laki-laki tua dan keriput itu.
"Din, ibu ke kamar dulu ya, oh iya besok telepon Joko ya ibu mau bicara dengannya," kata ibu.
"Oh iya Bu," kataku.
Biasanya malam begini ibu menonton tv dulu tapi kali ini ibu tidur lebih awal dari biasanya, jadi aku juga masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
[Kenapa tidak balas?] Akhirnya dia mengirim pesan lagi kepadaku.
[Aku harus balas apa? Percuma saja dibalas kalau tidak pulang] balasku.
1 menit, 2 menit, 3 menit sampai 10 menit tidak ada balasan lagi dari Mas Joko, aku semakin khawatir dibuatnya.
"Sedang apa dia disana?" Aku bertanya-tanya sendiri.
Aku justru membayangkan kalau malam ini Mas Joko tidur dengan wanita lain dan.....
"Tidak-tidak aku tidak boleh berfikiran seperti itu," gumamku.
Aku berusaha tidur memejamkan mataku tapi memang sangat susah, tapi lama kelamaan akhirnya aku ketiduran.
***
Tok..tok... pagi-pagi sekali siapa tamu yang datang, langsung saja aku membuka pintu dan ternyata itu adalah ibuku.
"Ibu ada apa, pagi-pagi kemari?" kataku pada ibu sambil mencium tangannya.
"Ibu mau minjam beras Din, dirumah habis," jawab ibu tanpa rasa malu sedikit pun.
Aku malu pada ibu mertuaku saat ibu datang meminta beras, aku yakin pasti ibu mertua aku mendengar semua itu.
"Eh besan datang," kata Ibu mertuaku dan langsung menyambut ibuku.
"Iya Bu Roros, saya mau pinjam beras," jawab ibu dengan santai.
"Oh iya-iya, Din ambilkan beras sekarung ya," perintah ibu mertuaku.
Tak lama aku mengambil kan berasa satu karung yang ada di dapur, sebenarnya itu adalah beras cadangan di rumah.
"Eh kok banyak sekali ini Bu?" Ucap ibu senang.
"Tidak apa-apa, nanti bisa suruh Joko beli lagi," kata ibu mertuaku.
"Oh iya Joko kemana Bu, kata Dinda dia pergi mendadak?" Tanya ibu basa-basi.
Akhirnya ibuku dan ibu mertuaku bercerita panjang kali lebar, sampai tak terasa hari semakin siang.
"Ayo Bu kita makan siang dulu disini," ajak ibu mertuaku pada ibuku.
Tanpa penolakan ibu dan Salsa langsung mengikuti mertuaku ke meja makan.
"Ini Salsa makan yang banyak ya," Ibu sedikit berbisik pada Salsa dan menuangkan nasi yang cukup banyak, padahal porsi makan Salsa tidak sebanyak itu.
"Iya makan saja yang banyak Bu," kata ibu mertuaku mempersilahkan.
"Oh tidak usah Bu Roros, biar nanti di bawa pulang saja untuk suami saya," kata ibu dan sambil menikmati makan dengan lahapnya.
Kini ibu membuatku malu lagi di hadapan ibu mertuaku.
"Ibu tidak usah begitu, nanti biar Dinda beliin saja," Aku sedikit berbisik pada ibuku.
"Tidak apa-apa Din, bungkus kan ya nanti ayamnya sama sayurnya," kata ibu mertuaku, Ternyata ibu mertuaku mendengar nya, aku sangat malu dengan tingkah ibu yang seperti meminta-minta ini.
Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku dan menahan rasa malu atas perlakuan ibuku.
Setelah semuanya selesai ibuku berpamitan untuk pulang dengan membawa satu karung beras dan makanan di kantong plastik.
"Saya pamit pulang dulu ya Bu, maaf kalau sudah merepotkan," ucap ibuku.
"Tidak kok Bu, sering-sering main ke sini sama Salsha ya," ujar ibu mertuaku.
Jujur saja sampai sekarang aku masih malu atas sikap ibuku, menurutku itu terlalu berlebihan dan menampakan tidak tahu malu.
***
"Ibu, ini Mas Joko katanya mau teleponan," kataku.
Aku langsung menyerahkan telepon yang sudah tersambung dengan Mas Joko.
"Hallo Joko," ucap ibu.
Aku sengaja mengerahkan loudspeaker agar terdengar olehku.
"Hallo ibu, apa kabar?" Tanya Joko.
"Kapan pulang? Apakah di sana baik-baik saja?" Tanya ibu.
"Tentu Bu, di sini baik-baik saja," jawab Mas Joko.
"Sudah selesai Pak, mari silahkan kita ke ruangan sebelah," aku mendengar seorang wanita berbicara ditelepon.
'Siapa itu?' gumamku dalam hati.
"Ibu, itu suara siapa?" Bisikku pada ibu.
"Joko itu siapa? Dan kamu lagi di mana?" Tanya ibu.
"Joko lagi di kota Bu, oh iya sekarang Joko sedikit sibuk bagaimana kalau dilanjutkan nanti saja," kata Mas Joko.
Akhirnya kita tidak bisa berbuat apa-apa dan panggilan pun terputus, sebenarnya sedang sibuk apa sih? Apa sibuk dengan wanita lain?
[Lanjut nanti saja ya Din, masih sibuk ini] tak lama Mas Joko mengirimkan pesan singkat padaku.
[Padahal ibu sudah kangen] balasku.
[Ibu apa kamu?]
[Ibu lah]
***
"Mas Joko sudah pulang?" Tanyaku.
Aku langsung memeluknya dengan sangat erat, aku sangat merindukannya aku tak sanggup lagi jika harus terpisah meskipun sehari.
"Dinda sayang, sekarang Mas sudah pulang kamu jangan sedih lagi ya," kata Mas Joko sambil mengelap air mataku.
Mas Joko kini terlihat lebih menyayangiku aku berjanji akan memperlakukan nya dengan baik dan tidak cuek lagi.
"Mas, aku mencintaimu!" Kataku.
"Iya, aku tau itu dari dulu," katanya.
Kami berdua saling menatap dan tersenyum tak perlu berbicara tapi kami tahu apa isi hati masing-masing.
"Din, Mas mau pergi dulu sebentar," katanya.
"Tidak! Tolong jangan tinggalkan aku lagi," kataku memelas.
"Sebentar saja!" Katanya.
Mas Joko melangkah pergi keluar dari kamar, aku berusaha memanggilnya untuk tidak pergi tapi dia tidak mendengarnya.
"Massss ...Mas Joko!" Teriakku.
Mataku langsung terbuka keringatku bercucuran sebesar biji jagung, ternyata tadi aku hanya mimpi.
"Din, kamu kenapa teriak-teriak?" Tanya ibu dari luar kamar.
Tiba-tiba ibu membuka pintu dan masuk, ibu melihatku ketakutan dengan wajah pucat.
"Bu, Dinda mimpi!" Kataku.
Ibu memelukku dan berusaha menenangkan, aku menarik nafas dalam-dalam agar pikiranku menjadi lebih tenang.
"Bu, kapan Mas Joko pulang?" Tanyaku.
Entah kenapa aku menangis di pelukan ibu, aku bertanya soal kepulangan Mas Joko.
"Ibu juga tidak tahu Din," ucap ibu.
"Bu, bujuk Mas Joko agat cepat pulang!" Kataku lagi.
"Iya, nanti telepon lagi Joko dan ibu akan membujuk nya untuk cepat pulang," kata ibu.
Semoga kali ini Mas Joko luluh dan mau mendengarkan apa yang ibunya ucapkan, entah kenapa tidurku menjadi selalu terganggu seperti ini.
Bayang-bayang ya selalu menghantuiku setiap hari, kerinduan ini sangat menyiksaku.
Ibu langsung mengambilkan air hangat untukku, aku disuruhnya untuk langsung menghabiskan.
Eh kok sepi, jangan lupa like dan komen ❤️