31 Pukul 22.00 Dewa duduk di sebuah kursi kayu yang terdapat di balkon apartemennya. Dinginnya udara malam yang menusuk kulitpun diabaikannya. Sembari menikmati sekaleng minuman soda dingin dan sebatang rokok, pandangannya menerawang jauh kedepan saat mengingat semua perkataan Gadis sore tadi. Dia sama sekali tidak menyangka jika kehidupan Gadis begitu berat. Apalagi diusianya yang masih sangatlah muda. Nyatanya semua yang diceritakan Gadis tadi sore mengenai dirinya, membuat Dewa berpikir... betapa kehidupannya jauh lebih baik ketimbang Gadis. Dimana diusia Gadis yang sangatlah muda itu, harus sudah bergelut dengan tanggung jawab yang tiada habisnya. Sedangkan dirinya saja, masih sering mengeluh dengan masalah kecil seperti saat ia bertengkar dengan sang ayah dan membuat Dewa sa

