"Selamat siang CEO Samudera," sapa Sean dengan santai masuk keruangan Faris tanpa mengetuk pintu. "Berkas yang disana, cepat seleksi!" tunjuk Faris hanya dengan dagunya. "Buset, gue baru datang langsung disuruh-suruh. Tawarin kopi kek," keluh Sean mendekati berkas-berkas tersebut. "Bagas mana? Emang kebiasaan telat, tuh anak!" ucap Faris tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Sean menghela napas mengurungkan niatnya untuk mengurus berkas-berkas itu. Ia melangkah menghampiri Faris kemudian menarik pelan laptop temannya itu. "Santai, jangan panik. Lo masih terlalu muda buat marah-marah," kekeh Sean. Faris memijat pelipisnya kemudian melonggarkan dasinya. "Buatin kopi, tiga." Ucap Faris bersuara lewat telephone yang ada dimejanya. Pintu terbuka, Bagas tiba dengan pandangan

