Nadia kembali terdiam untuk mengatur emosi dan menarik nafas. Sedangkan Rey, dia dengan setia mendengarkan. Tidak ada sepatah kata pun komentar yang terucap dari bibirnya. Dia dengan sabar menunggu Nadia melanjutkan dan menyelesaikan ceritanya sampai akhir. "Waktu itu gue lagi duduk di depan ruang operasi dan nungguin Marko dengan rasa penuh khawatir yang bener-bener menuhin isi kepala gue. Gue seorang diri nungguin dia di sana dengan kondisi tubuh yang juga berantakan." "Darah ngotorin seragam gue..., lengan sama kaki kiri gue patah dan luka-luka. Dan lo tau? Gue ngga peduli sama sekali. Bahkan, gue sama sekali ngga ngerasain rasa sakit sedikit pun pada kala itu karna yang ada di otak gue cuma ada Marko, Marko, dan Marko." "Menurut gue Marko lebih penting dari apa pun termasuk diri gu

