Sabtu, pukul 20.00 Iwan berjalan sempoyongan menuju Muara Rapak. Uangnya telah habis tak bersisa karena ia pakai berfoya-foya dan pesta miras. Sekarang yang dirasakannya adalah tubuhnya gemetaran. Di pinggir jalan ia mengisap berpuluh-puluh batang rokok yang jika dihitung dengan ukuran kotak setara dengan tiga bungkus rokok. Di daerah ini sebenarnya terdapat sebuah kantor kepolisian tapi Iwan tak peduli jika ia harus tertangkap. Yang terpenting sekarang adalah musti ada sesuatu yang bisa mengobati ketagihan sabu-sabunya. Untuk itu, dia akan ke rumah Eting selaku pengedar meski cuma kelas teri. Kebetulan saat itu Eting sedang berada di tempat tapi tak punya barang. "Ting, tolong, Ting, utangkan aku barang dulu!" begitu kata Iwan ketika Eting membukakan pintu kosannya. "Kamu ini!" Eti

