Senin, pukul 09.00 Takim terkejut mendapati rumahnya berantakan seperti diaduk maling ketika pulang. Plastik keresek hitam yang tengah dijinjingnya kuat-kuat mendadak lepas. Ia tertegun sejenak di depan pintu yang terbuka, lalu dengan cepat menyadari sesuatu, Rani. Dia merangsek masuk. Tak dipedulikannya pintu yang terbanting ke dinding akibat tersenggol lengannya. Panik adalah satu-satunya rasa yang mendominasi dirinya sekarang. Begitu pula rasa cemas yang seolah menjadi jantung kedua dalam dadanya. Ditelusurinya setiap ruangan dari depan hingga belakang sambil teriak-teriak memanggil nama anaknya seperti berada di tengah hutan. Penyesalan kemudian datang menyerbu sehingga tak sadar membuat matanya agak berair. Tinggal sedikit lagi airmata itu akan jatuh. Andai saja dia tidak meningg

