Bab 8 Kecewa

1893 Kata
Davka tergesa masuk ke dalam ruang security yang berada di sebelah teras pintu masuk basement parkiran di gedung perusahaannya ini, karena Reno mengirimi pesan singkat Irma menunggunya di sana. Reno terpaksa membawa gadis malang itu ke sana, sebab jika ke ruangan tamu di dalam gedung akan mengundang mata-mata tak terlihat yang diupah Iryana mengawasi perusahaan atasannya ini. Begitu si bos masuk ke dalam ruangan, Reno membawa keluar Rika dan Memet, agar sang atasan berdua saja dengan Irma. Davka melihat Irma duduk di kursi besi panjang merasa tidak percaya karena gadis yang diketahuinya berkondisi babak belur, lantas disekap di dalam gudang pembekuan, masih hidup. Hatinya saat ini merasa lega karena wanita yang dicintai masih hidup. “Mas Davka,” terdengar pelan suara Irma menyebut nama Davka, “Apa Mas yang datang kah?” lantas memberi pertanyaan sebab penglihatannya masih berbayang, sehingga tidak melihat jelas kedatangan kekasih tercintanya. Davka terheran mendengar semua perkataan Irma, mengapa gadisnya tidak mengetahui dia yang datang? Apakah si nona tidak melihat sosoknya? Pelan dia mendekati Irma, lantas satu tangannya dilambaikan tepat di depan kedua mata gadisnya, ingin tahu apakah gadis ini melihat lambaian tangannya. Namun yang dilihat Irma hanya satu objek yang kabur bergerak seperti angin. Lantas hidungnya mencium parfum maskulin yang biasa dipakai Davka. “Mas,” kembali terdengar suaranya, “Kamu di mana?” lantas bertanya di mana Davka, sebab penglihatannya masih kabur, padahal kekasihnya itu berdiri di depannya. Davka terkesiap mendengar pertanyaan ini, lantas kedua matanya menatap Irma tidak percaya. Apakah saat ini kedua mata kekasihnya mengalami kebutaan? Belum sepenuhnya mengalami hal itu, karena Irma masih bisa melihat meski semuanya tampak berbayang atau kabur. ‘Tuhanku,’ bisik hati pria itu, ‘Apa Irma menjadi buta? Apa Yana merusak kedua mata Irma sebelum menyekapnya di dalam gudang itu?’ dia menjadi bertanya-tanya dan menganalisa mengapa kekasihnya tidak bisa melihat dirinya. Kini tampak kedua tangan Irma terulur ke depan, bergerak mencari-cari Davka, “Mas Davka! Mas, kamu di mana?” Mendengar ini Davka menjadi miris, karena dia ada dihadapan Irma, tapi gadisnya tidak menemukan dia. Pelan diraih kedua tangan gadis itu, lantas duduk di sisi sang nona. “Aku di sini, Irma.” Terdengar suaranya yang bernada pilu, “Kamu kenapa menemuiku?” ditanyanya si nona, di mana pertanyaan itu mengandung arti dia tidak suka ditemui sang gadis, “Bukannya kamu masih sakit?” imbuhnya memberi pertanyaan lanjutan. “Yana memukulimu waktu itu kan?” Irma tersenyum mendengar ini sedikit mendapat angin segar karena Davka masih ada perhatian ke dia. “Aku udah tidak apa-apa, Mas,” Irma mulai bersuara, “Mas jangan khawatir.” Davka menghela napas, bagaimana dia tidak khawatir. Kedua matanya melihat sendiri saat Iryana memukuli, merenggut rambut Irma, dan menyeret kekasihnya berjalan keluar dari rumah istrinya itu. Lantas Reno pun memberitahu Iryana menyekap Irma di dalam gudang pembekuan agar ke alam abadi. “Mas?” Davka kembali menghela napas, lantas, “Harusnya kamu tidak menemuiku lagi, Irma.” Irma terkesiap mendengar ini, “Mengapa Mas mengatakan itu?” “Karena hubungan di antara kita sudah berakhir, dan memang dari awal tidak ada hubungan apa pun, kecuali hubungan antara kakak ipar dengan adik ipar.” Si nona tersentak kaget mendengar ini, lantas menggelengkan kepala, “Tidak Mas, tidak,” terdengar suaranya, “Kamu mengatakan itu karena Mbak Yana pasti mengancammu kan?” “Tidak Irma, semua ini dari diriku sendiri, “ Davka merasa hatinya menyesak karena kembali dia menolak Irma, padahal kemarin betapa dia ingin memeluk gadis ini, menyembunyikan di satu tempat yang aman. “Kamu kan sudah melihat, saat Yana memergoki kita, aku mengatakan kamu yang menggodaku, lantas kubiarkan Yana memberimu pelajaran,” imbuhnya menjelaskan mengapa dia mengatakan semua hubungan mereka sudah selesai, lantas sebenarnya mereka tidak ada hubungan asmara sama sekali. “Tidak! Mas mengatakan ini karena pasti diancam Mbak Yana!” “Cukup Irma!” Davka terpaksa menghardik Irma, dilepas kedua tangannya dari tangan Irma, “Baiknya kamu kembali ke tempat orang yang menyelamatkanmu.” Irma terhenyak mendengar ini, “Mas tahu ada yang menyelamatkanku? Aku saja tidak tahu diselamatkan. Yang kutahu, saat aku terbangun, aku ada di ICU.” Davka terkaget mendengar ini, lantas tampak raut wajahnya pilu. Ternyata Irma sempat mati suri saat di sekap itu sehingga tidak tahu sudah diselamatkan seseorang. “Mas,” terdengar lagi suara Irma, “Aku ingin bersamamu, karena saat ini aku hanya ada kamu,” ujarnya mengutarakan isi hatinya, “Lantas aku beritahu kabar gembira ke kamu. Aku mengandung anakmu.” Dhuar, Davka bagai diledakan granat mendengar ini, meski dia sudah mengetahuinya. Namun dapat kah dia memeluk Irma seperti keinginannya? Sementara dia masih berstatus suami Iryana, lantas sang istri memperketat pengawasan ke dia? Sangking ketatnya, dia tidak kembali ke Malaysia untuk mengawasi barang-barang perusahaannya yang ikut pameran di negeri Jiran tersebut. “Mas,” kembali terdengar suara si nona, “Aku bicara sebenarnya. Aku mengandung anakmu. Cintamu ke aku,” ujarnya dengan raut wajah gembira. Davka melihat wajah itu, menghela napas pelan, lantas membantu Irma berdiri, “Aku antar kamu ke orang-orang yang menemanimu kemari,” ujarnya hendak membawa si nona berjalan. “Aku tidak mau!” terdengar pekikan Irma, “Aku mau bersamamu, Mas.” “Irma, tidak kah kamu dengar kita tidak ada hubungan apa pun lagi.” “Mas mengatakan ini karena takut dicerai Mbak Yana kan?” “Sudah hentikan, Irma!” hardik Davka dengan suara sedikit keras, “Ayo kuantar kamu ke orang-orang itu,” dipaksa si nona berjalan dalam papahannya. Air mata Irma mulai meleleh, dia mengira Davka akan senang, lantas membawa dia bersama sang kekasih, tapi teryata pria itu menampik dirinya. Saat mereka berada di luar ruangan, Rika segera mendekati Irma karena telinganya sudah mendengar sang atasan diantar ke dia dan memet oleh Davka. “Mari Tuan,” terdengar suaranya di mana menuju ke Davka, “Biar saya yang papah dokter Irma,” ujarnya meminta pria itu melepas mengamit tangan Irma. Davka segera melepas tangan Irma, membiarkan Rika yang memegang tangan gadis itu, lantas dipandang asisten itu yang sudah dikenalnya selama ini, “Kamu rawat baik-baik dokter Irma,” diberi pesan ke asisten agar merawat baik-baik Irma, “Nasehatin dia agar melupakan saya, karena saya suaminya Iryana Kertanegara,” ujarnya, “Lantas mengenai janinnya, lebih baik digugurkan saja, agar dia membuka lembaran baru yang aman,” imbuhnya minta janin dalam rahim Irma digugurkan. Irma mendengar semua ini merasa dunianya hancur seketika. Harapannya untuk membuat Davka kembali memeluknya dan sang janin hilang sirnah. Rika tidak bisa berkata apa pun selain hatinya jengkel karena begitu teganya Davka mengatakan semua itu ke Irma. Dia mengenal Irma adalah perempuan baik, tulus mencintai Davka, tapi apa balasannya? “Mari, Tuan,” terdengar suara si asisten, “Saya bawa dokter Irma pergi,” ujarnya berpamitan, “Semoga Anda diberkahi Tuhan karena menghancurkan hidup dokter Irma,” ujarnya dengan berani, lantas mulai memapah Irma berjalan. Memet segera ke sisi lain si nona, mengamit tangan gadis malang itu yang semakin berlinang air mata. Kedua manusia tersebut memapah Irma ke mobil milik Rika yang sudah dibawa Reno ke depan ruang security ini. Sang asisten sempat meminjam kunci mobil agar memindahkan kereta besi tersebut ke dapan ruang security, agar lebih mudah membuat Irma masuk ke dalam mobil. Tadi pun Rika sudah mengatakan ke dia bahwa kedua mata Irma cepat atau lambat akan mengalami kebutaan. Semua ini akibat Irma mengalami shock sangat berat. Reno lantas membukakan pintu mobil, membantu Irma masuk ke dalam mobil. Pria ini sangat tidak tega melihat si nona menangis karena Davka kembali menolaknya. Ketika dia hendak menutup pintu mobil, sebuah jip Mercy dan ambulans berhenti tidak jauh dari mobil tersebut. Tidak lama datang Bisma ditemani Alensky, Vian, dan beberapa ajudan. Setelah Bisma mengetahui Irma menemui Davka, langsung memacu jipnya ke gedung perusahaan milik Davka, juga meminta Alensky menyusul membawa Ambulans untuk Irma. “Dokter!” terdengar suara Rika yang mengenali sosok Bisma khususnya, “Syukurlah anda datang,” dia merasa lega karena sang dokter datang di saat Irma dibenamkan ke dalam kekecewaan mendalam oleh Davka. Bisma tidak bersuara, hanya segera mendekati Irma yang duduk di dalam mobil, lantas perlahan diraih tubuh mungil tersebut yang terluka luar dalam, dibawa keluar dari mobil, dan dalam gendongannya. “Rika,” kini terdengar suaranya, “Kamu ikut saya ama Alen di Ambulans,” ujarnya menyuruh si asisten ikut dengannya dan Alensky yang disisinya saat ini ke dalam Ambulans, “Mobilmu biar Vian yang kemudikan.” Imbuhnya melanjutkan perkataannya bahwa mobil sang asisten biar dibawa Vian. “Baik, dokter,” Rika setuju, lantas segera mengeluarkan kunci mobil dari saku depan jeans di badannya, diberikan ke Vian, “Silahkan Pak Vian.” “Makasih Rika.” Sahut Vian ramah. Tidak lama Bisma membawa Irma masuk ke dalam Ambulans bersama dirinya, Alensky, dan Rika. Sedangkan Vian dan Memet masuk ke dalam mobil milik Rika, sisanya masuk ke dalam jip Mercy milik sang dokter. Lantas ketiga mobil itu meninggalkan basement ini, tiada berpamitan dengan Davka dan Reno yang melihat semua hal tadi. ‘dokter Bisma,’ bisik hati Davka yang mengenali siapa Bisma, ‘Apakah kamu yang menyelamatkan Irma kemarin?’ *** Irma berjalan merayap dengan memegang tiap dinding di sepanjang selasar jalan, menjauhi ICU Rumah Sakit Harapan. Setelah Bisma mengembalikan dia ke ICU, lantas meninggalkan gadis ini bersama Rika, karena dia harus miting sesuatu bersama Alensky, Vian, dan para Ajudan di ruang tindakan, Irma mencopot semua alat medis. Saat itu Rika sedang berada di toilet, lantas dua suster jaga sedang menangani pasien lain di ICU. Langkah Irma sedikit cepat meski berjalan merayap, karena kedua matanya masih buram. Dia menuju jalur evakuasi, karena dinding yang dipakai untuk merayap menuju ke arah jalur evakuasi. Setibanya di sana, dia segera mengotrek pintu, lantas saat berhasil membuka pintu, cepat merayap masuk, sambil menutup rapat pintu tersebut. Dia karena sudah lama bekerja di rumah sakit ini, hapal tiap ruangan, dan meski penglihatannya semakin buram, dia mampu berada di jalur evakuasi. Lantas dengan susah payah menaiki tiap anak tangga yang mengarah ke ruangan paling atas gedung rumah sakit yaitu menara. Menara itu tempat landasan helipad milik Bisma, lantas ada ruang utama security, gudang barang, dan lainnya. Mau apa dia ke menara? Setelah dia ditampik lagi oleh Davka, merasa tiada guna tetap hidup di dunia bersama janinnya. Apalagi dia merasa kedua matanya akan segera menjadi buta. Bagaimana bisa dia tetap hidup dengan kedua mata tidak bisa melihat? Irma berhasil sampai ke menara, lantas saat itu berpapasan dengan dua security. “Astaga, dokter Irma!” Dudung salah satu security mengenal siapa Irma, “Anda mengapa kemari? Apa ada perlu sesuatu?” dia mengira sang nona ada keperluan ke menara, meski sebenarnya yang menara hanyalah Bisma, Alensky, dan beberapa dokter tertentu. “Minggir!” terdengar suara hardikan sang gadis minta Dudung dan rekannya berada di depan jalannya yang mulai melepas kedua tangan dari dinding, lantas tampak tangan-tangan tersebut menggapai-gapai ke arah depan. Dudung dan rekannya terpaksa menjauh dari Irma. “San,” terdengar suara Dudung, “Kamu awasi dokter Irma, saya menemui dokter Bisma,” ujarnya memutuskan menemui Bisma untuk membawa Irma keluar dari menara ini, karena selama ini dia tahu sang dokter sangat menjaga nona malang tersebut. Samsuri si rekan menganggukan kepala, lantas membiarkan Dudung bergegas meninggalkan menara ini untuk menemui Bisma. Dia segera menyusul Irma yang tampak beberapa kali terjatuh saat berjalan. Dia segera menolong nona ini berdiri, tapi kerap kali ditampik sang gadis dengan kasar. Akhirnya dia hanya mengawasi sambil mengikuti diam-diam si nona yang ternyata menuju salah satu tepi menara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN