54

760 Kata

Di sisi lain, Riana terlihat membelalakan kedua mata. "Dalam mimpimu," balasnya ketus. Masih disertai delikan maut. "Wanita yang sedang hamil tidak boleh marah-marah loh, Nak Riana," pesan Bik Weni berusaha mencairkan suasana hati Riana. "Habisnya dia menyebalkan, Bik." Riana membela diri. Ayolah, Dion tak ada puas-puasnya melancarkan keagresifan dan godaan sedari tadi. "Suami menggoda istrinya sendiri bukan sesuatu yang salah kan, Bik?" Dion tidak mau kalah. Bik Weni menganggukkan kepala yang menandai kesetujuannya pada ucapan Dion. "Tuh dengar, Sayang. Kamunya aja yang sensitif," ejek laki-laki itu. Lalu mengacak rambut Riana gemas. "Nak Riana, sup ini belum matang tolong diaduk-aduk ya. Bibi mau menyapu di halaman depan sebentar." Bik Weni mencari alasan agar bisa meninggalkan mer

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN