"Kenapa? Lo nyerah bocah?" "Gue nyerah? Ckck, mungkin itu hanya harapan lo doang. Selama Riana masih berstatus sebagai istri gue. Harapan selalu ada bagi gue!" Hanya terdengar decakan sinis nan muak Pradana di ujung telepon. "Jika sampai Riana tidak pulang malam ini. Lo akan menerima hadiah spesial dari gue besok! Camkan!" Seru Dion mengancam, lalu menutup sambungan telepon dengan kasar. "s**l!!" Dion lepas kendali. Ia belum pernah seemosi ini sebelumnya. Di mata keluarga dan sahabat, Dion merupakan sosok yang kalem dan jarang marah. Akan tetapi malam ini berbeda, apalagi jika sudah berkaitan dengan Riana. Emosi dan rasa cemburunya tidak dapat terelakkan. "Riana, apa aku harus mulai rela melepaskanmu?" tanya Dion jengah. Wanita itu jelas-jelas telah menolak perasaannya dengan mutlak.

