Luka Hati Sahabat

1027 Kata
Ting.. Notifikasi hp Aida berbunyi. Aida yang sedang tidur tiduran sehabis pulang bekerja membuka hpnya. Ternyata pesan dari Firman. Tumben dia menghubunginya ? Bergegas dia buka isinya. Firman : Assalamualaikum Aida. Lagi santai ? Aku sama Yoga sedang di Gresik ya dari pagi tadi. Aku mampir ke kost anmu bisa ? Aida : Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bisa Fir, aku santai kok sepulang kerja ini. Firman : Ok, aku langsung ke kost anmu yaa. Mumpung urusanku sudah selesai sore ini, aku pingin lihat keadaanmu. Aida : Alhamdulillah, baik Fir. Hati hati di jalan yaa. Nyess....adem rasa hati Aida. Firman masih memperhatikannya. Terus terang dia terkadang ingin menghubungi Firman. Sekedar bercerita atau apalah. Secara mereka sudah begitu lama tidak bertemu. Tapi Aida sadar, waktu yang lama bisa mengubah seseorang. Mereka sudah dewasa apalagi Firman sudah berkeluarga. Tentu tidak elok jika tanpa sebab dia menghubunginya. Dia segera mandi dan berdandan ala kadarnya. Dia poles bibirnya dg lipstic warna yg lembut agar terlihat agak cerah wajahnya . Tok..tok..tok. ".Assalamualaikum ". Waalaikumussalam warahmatullaahi wabarakatuh. Masuk Fir, Yoga ", Aida mempersilahkan kedua tamunya. Dia mengenal Yoga meski tidak terlalu akrab. Karena kalau libur sekolah Yoga selalu diantar orang tuanya menginap di rumah budhenya, yaitu Bu Dyah ibu Firman. " Kalau ketemu di jalan pasti aku nggak tahu kalau itu kamu Da ", Yoga tersenyum dan duduk di sebelah Firman. " Aku juga pangling sama kamu Ga ", Aida tersenyum tipis. " Bagaimana kerjaanmu sekarang ? betah nggak ?" tanya Firman. " Alhamdulillah, aku cocok kok. Suasana kerjanya enak dan teman tamannya baik semua ", jawab Aida. " Syukurlah. Semoga kamu kerasan dan mantan suamimu tidak bisa menemukanmu disini ", Firman memandang Aida. Sahabatnya itu jauh berubah dibanding dulu. Aida kecil adalah anak yang ceria dan cerewetnya minta ampun. Selalu mengekori kemanapun dia pergi bermain. Tetapi yang terlihat sekarang adalah Aida yang pemalu dan tidak banyak berbicara. " Oh yaa, ibu titip salam buat kamu. Kata ibu kalau kamu ke Surabaya disuruh mampir ke rumah. Ibu kangen lama tidak bertemu denganmu ", Firman menatap Aida yang sebentar sebentar melihat ke arah rok kembang kembangnya sambil memilih milin ujung blousenya. ", Iya, InsyaAllah kalau aku ke Surabaya tak mampir ke ibuk Fir. Aku juga kangen dengan suasana rumahku dulu. Bagaimana ya sekarang ?" Aida mengangkat wajahnya menatap Firman dan Yoga sekilas. " Eh sebentar, aku buatin minum ya. Sampai kelupaan ", Aida tertawa kecil dengan wajah malunya karena lupa membuatkan minuman untuk tamunya. " Santai aja Da, aku sama Firman juga barusan makan sebelum kesini tadi ", Yoga menolak halus tawaran Aida. Mereka berbincang cukup akrab. Meskipun didominasi suara Firman dan Yoga. Terlihat sesekali Aida tersenyum tipis ketika mereka berdua menyinggung kisah konyol mereka ketika masih kecil. " Masih ingat nggk kamu Aida, waktu naik pohon jambu pak Dullah. Sudah sampai atas, eh giliran turun kamu nggk berani ha..ha..ha..", Yoga mengingatkan cerita lucu itu yang membuat semua tertawa. " Iyaa, nangis kejer diatas padahal habis makan jambu banyak ", sambung Firman. " Habis ngeri banget pas lihat bawah. Pas naik kan nggk terasa ", Aida merona wajahnya diingatkan kelakuannya waktu masih kecil. " Untung saja pangeranmu lekas naik dan membantu menurunkanmu ha..ha..ha..", Yoga tertawa sambil memandang ke arah Firman. Firman pun terkekeh ingat cerita itu. Firman lihat Aida juga ikut tertawa kecil mendengar ocehan Yoga. Dulu mereka sering bermain peran saat masih kecil. Begitu menginjak SMP permainan itu sudah tidak pernah dilakukan lagi. Firman serta Aida jadi Putri dan pangerannya karena saking lengketnya mereka berdua kemana mana. Firman dan Yoga pun pamit sesaat setelah adzan Maghrib berkumandang. Mereka akan sholat di masjid terdekat saja di perjalanan pulang nanti. Aida terkesiap ketika firman mengulurkan amplop ketika pamit pulang. " Terima saja buat tambah tambah kalau belanja nanti ", kata Firman pelan. Sejujurnya dia terketuk hatinya melihat kondisi Aida sekarang. Karena itulah pas ada project ke Gresik dengan Yoga dia mampir sebentar untuk memastikan keadaan Aida baik baik saja . Aida terharu menatap Firman dan Yoga. Terlihat sekali raut wajah terimakasihnya pada mereka berdua. Dia merasa tidak sendiri lagi. " Terima kasih, hati hati di jalan ya . Salam buat istri kalian berdua ", Aida melepas kepulangan sahabatnya sampai di teras rumah. Begitu mobil itu menghilang dari pandangan, dia segera masuk dan mengunci pintunya. Dia pegang erat amplop tersebut di dadanya. Sebetulnya dia memang lagi kesulitan uang. Kontrakan yg di Surabaya sudah dia bayar 3 bulan di muka, ternyata baru sebulan dia tinggalkan. Dan akhirnya dia pindah kesini. Meski kemarin kontrakannya sudah dibayarkan oleh Firman selama setahun, tetapi dia harus membeli beberapa perlengkapan yang dia butuhkan meskipun hanya yang benar benar diperlukan saja. Firman dan Yoga usai menjalankan sholat Magrib di masjid pinggir jalan arah ke Surabaya. Sepanjang perjalanan mereka berbincang tentang keadaan Aida sekarang. Aida kelihatan kurus dan sepertinya dia kurang merawat badannya. Dulu kulitnya kuning langsat bersih dengan rambut lurus sepunggung yang suka di ekor kuda. Wajahnya ceria membuat dia banyak temannya dulu. Sekarang kelihatan kusam meski raut manis wajahnya masih terlihat. Mungkin benar, penderitaannya selama bersuamikan seorang lelaki yang temperamental mengubah Aida yang lincah, ceria dan banyak cerita jadi sosok yang pendiam dan tertutup. Semoga saja Aida menemukan kebahagiaannya disini, doa Firman dalam hati. Sedangkan Aida dalam sujud panjangnya dia meminta Allah kuatkan hatinya dan dijauhkan dari segala yang tidak baik untuknya. Terus terang, dia khawatir kalau kalau mantan suaminya bisa menemukannya. Dia tidak ingin diajak rujuk kembali. Cukup sudah penderitaannya selama 7 tahun bersuamikan dia. Airmatanya meleleh ketika mengingat 2 calon bayi dalam perutnya yang terpaksa keluar karena tindakan suaminya yang kalap ketika itu. Meski setelah kejadian itu Bayu menangis nangis mohon maaf dan terlihat terpukul sekali dengan kehilangan janin di perut istrinya, tapi itu tidak bertahan lama. Tabiatnya kembali seperti semula ketika dia dihadapkan kepada suatu masalah. Aida memikirkan nasibnya sekarang ini. Dia sudah berumur 34 tahun. Masa subur seorang wanita itu juga terbatas. Ingin sekali dia menimang bayi yang lahir dari rahimnya sendiri. Sering dia menangis ketika membayangkan betapa lucunya seharusnya anak anak mereka apabila terlahir di dunia. Ah..Aida sudahi semua kilas masa pahitnya dahulu. Karena tidak ada kalimat andai dalam Islam. Seolah dia tidak bisa menerima takdir yang Allah berikan. Semoga saja kelak Allah takdirkan lelaki baik untuk suaminya kelak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN