POV Firman

903 Kata
Ada hal yang belum berani kuceritakan kepada istriku masalah kepergianku di Surabaya yang tidak ada kabar kemarin. Aku takut kalau dia salah paham dengan maksud baikku menolong seseorang. Aku sedang berada di parkiran sebuah mall di pusat kota Surabaya ketika tiba tiba ada seorang wanita yang meminta tolong padaku dengan menghiba. " Tolong saya pak, saya sedang dikejar seseorang. Tolong bawa saya keluar dari sini secepatnya ", sambil wajahnya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan sorot mata ketakutan. " Loh...kamu Aida ya ?" kaget aku ketika memperhatikan wajahnya dengan seksama. " Mas Firman kah ? mas..ayo keluar dari sini dulu. Nanti aku ceritakan kepadamu di jalan. Cepat..tolong aku !" pintanya dengan panik setelah menguasai keterkejutannya menyadari dengan siapa dia minta tolong. Segera kubuka pintu mobilku dan dia juga cepat cepat masuk mobil dan menundukkan badan ke bawah. Aku melihat lelaki tinggi besar sedang berjalan dengan tergesa gesa sambil menoleh ke sembarang arah. Apa mungkin orang itu yang ditakuti Aida ? Kustarter mobil dan berjalan melewati orang itu yang kelihatan gusar wajahnya. Setelah mobil berjalan agak jauh, barulah Aida duduk di kursi dengan menghela nafas lega. " Itu tadi mantan suamiku mas ", jelasnya setelah hening sesaat. " Aku baru bercerai 2 bulan kemarin dengan dibantu oleh pengacara prosesnya. Ini tadi pertemuan pertamaku dengannya setelah bercerai ". " Kenapa kamu kok lari menghindar darinya ?" aku bertanya heran dengan sikapnya. " Aku bercerai dengannya karena dia selama ini sering KDRT dalam rumah tangga kami. Puncaknya ketika aku lari dari rumah dan pulang balik ke orang tuaku. Disana aku diminta visum oleh bapakku dan dengan bukti itu aku disuruh menggugat cerai suamiku. Bapak sangat murka ketika melihat aku datang dengan keadaan kacau dan tubuh babak belur karena kekejamannya ", Aida mengusap air mata yang meleleh di pipinya. " Astaghfirullah...suamimu kenapa kok seperti itu ?" aku shock dengar penjelasannya. " Dari awal menikah memang dia temperamental orangnya. Tapi itu semakin parah ketika dia di PHK dari pekerjaannya karena bertengkar dengan teman kantornya yg berakibat temannya masuk rumah sakit. Sejak itulah perangainya menjadi semakin parah. Aku jadi sansak bulan bulanannya ketika dia sedang tinggi emosinya ", suaranya bergetar menahan tangis ketika menceritakan kekejaman suaminya. Aida adalah tetangga dan temanku sekolah. Dari TK, SD, dan SMP kami selalu satu sekolahan. Oleh karena itu kami begitu dekat. Pulang pergi sekolah selalu bareng dengan sepeda mininya warna hijau dengan aku membonceng di belakang sambil membantu mengayuhnya. Lulus SMP mereka pindah ke Jogjakarta dan setelah itu aku tidak pernah ketemu lagi dengannya. Aku hanya pernah lihat sss temanku SMA yang ternyata satu kampus dengannya. Makanya aku masih ingat wajahnya. Kaget sekali aku bertemu dengannya lagi tetapi dalam situasi seperti ini. " Terus selama ini kamu tinggal dimana ?" " Aku kost di daerah Gubeng. Setelah bercerai aku pindah kesini dan mencari pekerjaan baru. Aku takut kalau dia masih mencari cari aku karena tidak terima aku gugat cerai kemarin. Dan ternyata memang sesuai prediksiku, dia mencari keberadaanku. Aku tahu dari teman kerjaku yang lama kalau mas Bayu mencariku ", Aida minum air mineral dalam botol perlahan lahan. " Aku antar kemana sekarang ?" setelah jeda sejenak kutanya dia. " Ke kost an ku saja. Mas Bayu masih belum tahu tempat kerja dan kediamanku kok ", jawabnya. " Baiklah ", kupacu mobil menuju arah Gubeng. Setelah ini aku juga harus mengunjungi pabrik ku karena dari Jakarta kemarin aku belum sempat kesana. Kost annya berupa rumah petak berderet yang kelihatannya banyak dihuni oleh pasangan muda. Setelah turun dia bilang terimakasih dan aku pun bergegas melanjutkan perjalananku. Sempat tadi bertukar no hp karena senang sekali bertemu sahabat masa kecilku. Aku tidak menyangka bahwa malamnya dia meneleponku dengan ketakutan. Ternyata suaminya dia lihat mondar mandir di gang kost annya sore tadi. Dia minta aku kesana untuk mengantarnya mencari tempat yang lebih aman. Akupun bergegas kesana sampai lupa tidak membawa serta hpku. Padahal aku seharian juga belum sempat buka hp dan telpon Shakira gara gara menolong Aida dan lanjut ke pabrik. Begitu mobil berhenti kulihat Aida langsung keluar rumah sambil membawa tas besar. Dia langsung masuk mobil dan minta dijalankan ke arah Gresik. Karena aku capek seharian belum istirahat, maka sesampai di Gresik aku cari hotel untuk istirahat. Aku sewa 2 kamar terpisah. " Terimakasih ya Fir, kau masih sama seperti dulu. Ringan tangan dengan kesulitan temanmu ", dia tersenyum menatapku. Rambut sebahunya tertiup angin menutup wajahnya sebagian. Dia tidak banyak berubah, perawakannya kecil dengan wajah manis tanpa polesan make up. " Sama sama. Semoga kamu cocok dengan pekerjaan barumu ", aku pun tersenyum menatapnya. Kasihan sekali dia harus lari lari terus sembunyi dari mantan suaminya. " Alhamdulillah, semoga saja temanmu cocok dengan kerjaanku Fir ", tukasnya. " Aamiin .. kalau ada kesulitan tidak apa apa hubungi aku. Semoga aku bisa membantumu ". " Baik, hati hati ya balik ke Surabayanya. Maaf aku mengganggu waktu kerjamu ", wajahnya terlihat tidak enak menatapku. " Tidak apa apa. Sudah kewajibanku menolong selama aku bisa ". Aku pun segera meninggalkan Gresik. Seharian urusanku hanya mengurus Aida. Kuhubungi temanku yang punya usaha disini dan aku menitipkan Aida untuk kerja dengannya. Kubilang kalau dia adalah sepupuku. Alhamdulillah Andri tidak banyak tanya. Setelah itu baru aku cari tempat kost untuknya. Alhamdulillah..lega setelah memastikan dia aman aman saja. Aku kepikiran sama istriku. Pasti dia bingung karena dari kemarin aku tidak menghubungi. Ehm..istriku itu mesti tegas dan mandiri, tetapi dia bawel dan perhatian kalau aku jauh darinya. Ini yang bikin aku cinta sama dia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN