Taka

1130 Kata

TakaAku sangat menyukai angin, tetapi dia selalu berubah-ubah. Kadang dingin, kadang panas. Kadang ada, kadang pergi. Hingga aku sadar beberapa hal hanya cocok untuk bertemu, tidak untuk dimiliki. Taka masih menatap sendu layar ponsel yang menampilkan pesan mutiara di sebuah aplikasi. Bersama angin yang menerpa wajahnya sore ini, dia mengingat wajah Anes. Sedikit pun takkan pernah bisa dia hapus dari ingatan. Bagaimana hidung mancung wanita itu, kulitnya yang putih bersih dan pernah dia sentuh. Lekuk wajah, tangan, bahkan kakinya begitu terpatri di ingatannya. Kedua sepatunya basah karena angin membawa hujan menerpa dedaunan yang memberi tumpangan untuk berteduh bagi burung gereja yang tidak ingin basah. Dia persis di bawah pohon, di dekat halte kampus. Berteduh dari hujan cukup deras ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN