Sudah lima hari Raras menetap di rumah tua peninggalan Sekar.
Setiap malam ia menyalakan lampu teplok di kamar ibunya. Tak untuk penerangan, tapi sebagai penghormatan diam kepada kenangan.
Di pojok kamar, ia mulai menulis surat-surat.
Bukan untuk dikirim, tapi sebagai caranya memahami. Surat untuk almarhumah ibunya. Untuk Tama. Bahkan untuk Pak Wira. Ia ingin memahami semuanya. Bukan sebagai anak kecil yang ditinggalkan, tapi sebagai perempuan yang mencoba memaafkan.
---
Suatu malam, saat hujan turun rintik-rintik dan suara kentongan ronda menggema jauh di luar, Raras mendengar bunyi gesekan dari jendela belakang.
Ia membuka tirai, dan aroma wangi tajam langsung menyeruak.
Di halaman belakang, mekar satu bunga cempaka putih malamâyang tak pernah berbunga sejak ibunya meninggal.
Raras turun, melangkah hati-hati di antara tanah basah.
Bunga itu berdiri sendiri di bawah cahaya lampu remang, dan di bawahnya... ada sesuatu.
Sebuah kotak kecil berbalut kain batik. Terkubur dangkal, seolah sengaja ditinggalkan untuk ditemukan.
Raras membukanya.
Isinya:
Cincin perak bermata biru
Gunting rambut kecil dari perunggu
Dan selembar kertas yang sudah mulai usang
Ia membalik kertas itu, dan dengan susah payah membaca tulisan tangan yang mulai memudar:
> Jika suatu saat kau membaca ini, artinya kau telah menemukan luka yang sama seperti aku.
Cinta kami adalah kesunyian yang dirawat dalam diam. Tapi ini bukan tentang siapa yang paling lama tinggal. Ini tentang siapa yang paling lama menunggu.
> âS
---
Raras menggenggam cincin itu. Dingin.
Namun ada sesuatu di dalamnyaâsebuah nama kecil terukir halus di bagian dalam:
"Tama & Sekar, 1947."
Air mata Raras mengalir lagi.
Untuk ibunya. Untuk Tama. Untuk cinta yang tak sempat selesai.
---
Esoknya, Raras menaruh kotak itu di atas meja Sekar. Ia menaruh kembang cempaka segar di sampingnya.
Dan sejak malam itu, bunga itu selalu mekar, tepat pukul dua pagi. Setiap malam. Tanpa pernah absen.
---
Di tempat lain, Tama duduk diam di barak lamanya. Ia menatap langit malam Djogja yang bersih, dan pelan-pelan, ia menulis sesuatu untuk Raras. Bukan surat.
Tapi sebuah lagu.
> Serenade untuk langit Djogja,
Untuk perempuan yang mewarisi mata ibunya,
Dan untuk janji yang akhirnya menemukan tempatnya.
---