Hari itu langit Djogja sedang cerah.
Kipas angin angin sepoy-sepoy mengayun lembut daun jendela rumah tua. Raras, yang biasanya hanya berkeliling pasar dan pulang sebelum senja, hari ini memutuskan untuk menyusuri tepian Kali Code—tempat yang sering disebut ibunya sebagai “jalan pelipur sunyi”.
Di sana, di antara akar beringin tua dan suara gemericik air, duduk seorang pemuda dengan kemeja lusuh dan kuas di tangannya. Ia sedang melukis... air, batu, dan sehelai kain batik yang tergantung di ranting pohon.
Raras menatap dari kejauhan. Diam.
Bukan karena terpesona—tapi karena lukisan itu… memiliki pola batik milik Sekar, yang dulu biasa digunakan saat menjemur bunga.
Pemuda itu sadar sedang diperhatikan. Ia menoleh, lalu tersenyum singkat.
"Kain itu saya temukan minggu lalu, hanyut. Lalu saya lukis, karena ada yang terasa... hilang dari warnanya."
Raras berjalan mendekat. "Itu milik ibuku. Sekar Ayu."
Si pemuda mendongak. Terkejut.
"Jadi... kau Raras?"
---
Ia berdiri. Memperkenalkan diri.
Namanya Rana.
Pelukis jalanan yang sering berpindah-pindah tempat tinggal, tapi selalu kembali ke tepi Kali Code.
“Aku pernah bertemu ibumu sekali. Saat kecil. Dia menolongku saat aku tersesat di pasar. Waktu itu, dia memberiku air jahe dan bilang, ‘Dunia ini memang dingin, tapi jangan biarkan hatimu membeku.’”
---
Raras tersenyum. Itu kalimat khas ibunya.
Mereka duduk di batu besar, di bawah bayang-bayang pohon trembesi. Pembicaraan mereka mengalir—tentang lukisan, tentang kenangan, tentang bunga yang mekar malam hari.
Tak ada gombalan, tak ada paksaan. Hanya keheningan yang terasa tidak canggung.
“Menurutmu,” tanya Rana tiba-tiba, “apa yang lebih menyakitkan? Ditinggalkan, atau tidak pernah tahu kenapa seseorang tak datang?”
Raras menatap air sungai. “Kupikir... yang paling menyakitkan adalah saat kau menyadari seseorang pernah mencintaimu sepenuh hati... tapi semesta terlalu kejam untuk membiarkan kalian bersama.”
Rana hanya mengangguk. Tak membantah.
Lalu ia membuka buku sketsa, dan di sana ada satu lembar kosong. Ia menggambar cepat, dengan gerakan ringan tapi terarah.
Sepuluh menit kemudian, ia menunjukkan sketsa itu:
Wajah Raras, dengan bunga cempaka di rambutnya.
Tapi anehnya, di belakang kepala Raras, tampak samar... bayangan perempuan lain—mungkin Sekar.
“Kadang, cinta turun-temurun. Tapi belum tentu lukanya ikut hilang,” kata Rana lirih.
---
Hari itu, Raras pulang tanpa membawa bunga.
Tapi ia membawa sesuatu yang lebih berat—perasaan yang belum tahu namanya.
---