Bab 8: Surat-Surat yang Tak Pernah Sampai

425 Kata
Malam itu, angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Raras duduk di ruang tengah rumah tua itu, membuka laci-laci yang belum pernah disentuh sejak ibunya wafat. Di pojok lemari rotan, ia menemukan sebuah kotak kaleng tua berkarat—tertutup debu dan dilapisi selimut tipis waktu. Ia membuka perlahan. Di dalamnya, tertumpuk rapi puluhan surat—semuanya ditujukan kepada Sekar Ayu, dengan cap pos dari berbagai kota: Garut, Bandung, Salatiga, dan Jakarta. Tulisan tangan pengirimnya sama: Tama. Raras menggigit bibir. Ini surat-surat ayahnya. Yang selama ini tak pernah sampai. --- Ia membuka satu per satu. > Sekar, aku masih hidup. Hari ini, aku berdiri di pinggir peron, mengharap kau datang seperti dalam mimpi-mimpi kita. Tapi kau tak pernah muncul. Aku menunggumu, dan hari makin larut... > Aku tahu kau marah. Tapi aku bersumpah, aku tidak pernah berhenti mencoba kembali. Surat-suratku... entah sampai atau tidak. Tapi kau, Sekar… kau selalu jadi rumah yang kutuju. --- Tangannya gemetar. Air matanya jatuh menimpa amplop-amplop tua itu. Namun satu surat, berbeda. Kertasnya lebih baru, tulisannya tidak seindah yang lain. Nama pengirimnya: Sekar Ayu. Tapi bukan untuk Tama. Surat itu ditujukan kepada: > Anakku, jika kau membaca ini, maka aku gagal menjagamu dari luka yang seharusnya bukan milikmu. Dengan napas tercekat, Raras membuka surat itu. > Aku mencintai ayahmu, Tama. Tapi aku tidak pernah kuat menghadapi perpisahan. Saat dia hilang tanpa kabar, aku rapuh. Dan di saat aku lemah... Wira datang. Ia baik, sangat baik. Tapi hatiku sudah mati. > Lalu aku tahu kau tumbuh dengan wajah Tama, dan tatapan mata Wira. Mungkin ini adil. Mungkin ini tidak. Tapi kamu adalah pengingat luka sekaligus hadiah terbesarku. > Maafkan Ibu. Karena tak pernah menjelaskan apa pun saat kamu mulai bertanya. Aku terlalu takut kamu akan membenciku. Tapi kamu lebih kuat dari Ibu. Kamu akan mengerti, meski tak pernah memaafkan sepenuhnya. > —Ibumu, Sekar Ayu. --- Raras menutup surat itu dengan tubuh gemetar. Setiap bagian dirinya terasa sesak—seperti sedang mencoba menampung badai dalam tempurung hati. Wira bukan penjahat. Tapi juga bukan ayah. Tama bukan pelupa. Tapi juga bukan pahlawan. Dan dirinya? Ia hanyalah hasil dari cinta yang setengah selesai. --- Keesokan paginya, Raras pergi ke tepi Kali Code. Ia berdiri di sana, tempat Rana biasa melukis. Tapi pemuda itu tidak ada hari ini. Hanya ada lukisan yang ditinggalkan, menempel di pohon dengan paku kecil. Lukisan dirinya, dengan latar rumah tua. Tapi kini, di langit lukisan itu, ditulis tangan: > "Kita tidak bisa memilih dari mana kita datang. Tapi kita bisa memilih ke mana hati ini berlabuh setelah semua luka ditinggalkan." ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN