BAB 5

1271 Kata
Xavier menghela napas. Dia berdiri di samping Belinda dan menyuruh kedua anaknya duduk di loby kantor. Grey dan Gretta menuruti perintah ayahnya. Binar kebahagiaan itu masih terlihat jelas dari kedua mata anak-anak polos itu.  “Aku senang kamu datang ke kantorku bersama anak-anak.” Katanya sembari menoleh pada Belinda.  “Mereka ingin memberi kejutan padamu dengan kemenangan Grey.”  Belinda menatap Xavier dengan agak ragu dan takut. Xavier hanya tersenyum melihat wanita asing yang dianggap istrinya itu.   “Oh ya, soal semalam lupakan saja. aku mengerti dengan kondisi mentalmu, Sayang.”  “Men-tal?” Belinda mengatakannya dengan ekspresi seakan dia orang gila.  “Ya, setahun yang lalu orang tuamu berpisah dan aku mengerti kalau trauma itu belum bisa hilang darimu. Mungkin kamu ingin berkonsultasi dengan psikolog yang lain.”  “Hmmm, akan aku pikirkan.” Belinda harus ingat kalau dia harus menjadi Elena. Anacaman Elena terdengar tidak main-main meskipun dalam kepura-puraan ini Belindalah yang dirugikan.  “Sayang, sebenarnya hari ini aku sangat sibuk. Aku akan bertemu beberapa klien tapi aku akan berusaha untuk pulang cepat ya. Aku ingin makan malam bersamamu dan anak-anak.” Kata Xavier dengan matanya yang indah.   Belinda tidak sanggup menatap mata indah itu berlama-lama. Xavier sangat menawan dengan semua yang ada pada dirinya. Elena sangatlah beruntung tapi wanita itu bahkan tidak mensyukuri apa yang Tuhan berikan padanya. Suami dan anak-anak yang luar biasa.   Jika dibandingkan dengan kehidupan Belinda yang kesulitan, pas-pasan dan tidak memiliki apa-apa Elena sangatlah beruntung.  Xavier mengecup bibir Belinda. Belinda dapat merasakan getaran yang dikirim Xavier melalui bibirnya. Getaran itu mengaliri darahnya.  “Pulanglah dan bermainlah dengan anak-anak, Sayang. Aku senang kamu menghabiskan waktu bersama anak-anak. I love you.” Xavier menarik lembut anakan rambut Belinda ke belakang telinga.  Belinda tidak mengatakan apa-apa. Dia terkesima pada sikap Xavier padanya.   Apakah dia akan terus membohongi Xavier atau dia harus berterus terang pada Xavier mengenai siapa dirinya? Apakah jika dia jujur Xavier akan berada di pihaknya mengingat betapa liciknya Elena.  ***  “Apa kabar, Elena?” Leonardo menyapanya saat Belinda sampai di lobby. Belinda hendak menyusul Grey dan Gretta.  “Baik.” Belinda dengan bersusah payah mencoba menghilangkan ketakutannya. Leonard pernah melihatnya di klub dan kalau sampai Belinda tidak bisa bersikap sama persis seperti Elena, Leonard bisa mencurigainya.  “Senang bertemu denganmu di kantor suamimu.” Dia menyeringai.  Belinda mengangguk. “Ya. Aku harus pergi, senang melihatmu, Leonard.”  Sebelah alis Leonard melengkung ke atas. Leonard? Elena selalu memanggilnya dengan panggilan ‘Singa’ atau ‘Leo’ setiap kali mereka bertemu tanpa Xavier. Elena akan memanggilnya seperti dan berkata kasar.  “Kamu tampak anggun hari ini.”   “Oh ya? Terima kasih.” Belinda berkata dengan ekspresi dan nada datar.  “Maukah kamu makan malam denganku dan Marissa? Dia bilang dia ingin mengajakmu makan malam.”  “Aku rasa aku sibuk akhir-akhir ini. Ma’af.” Belinda segera mendekati Grey dan Gretta. Dia berusaha untuk segera menghindari Leonardo.  Pria itu menatap Belinda hingga wanita itu lenyap dari pandangan matanya.   “Kenapa Elena berbeda begitu ya.”  Leonardo teringat Elena yang dulu pernah menghabiskan waktu bersamanya sebelum wanita itu dipersunting Xavier.   “Kamu akan menjadi singa jantanku, Leo.” Elena setengah mabuk mengatakannya.  “Bukannya kamu akan menikah dengan Xavier?”  “Ya, Xavier akan menjadi suamiku.”  “Dan kamu mengatakan aku akan menjadi singa jantanmu?”  “Persetan dengan Xavier malam ini. Dia selalu saja sibuk entah bagaimana nanti setelah aku menikah dengannya.”  “Dia seorang pekerja keras, Elena.”  “Apakah kamu mau menemaniku malam ini?” tanya Elena. Saat itu Leonard masih memiliki seorang kekasih dan dia menolak Elena. “Aku harus pergi dari sini. Kekasihku sedang menungguku.”  “Dasar kamu, pria bodoh!”   Sejak penolakan itu setiap kali bertemu Leonardo bertemu Elena maka yang ada hanyalah sindiran pedas Elena dan celotehan yang bisa menyakitinya. Bahkan kalau Elena yang datang ke pesta yang diadakannya kemungkinan besar Marissa akan diolok-olok Elena. Marissa akan balas mengolok-oloknya dan kemungkinannya mereka akan berseteru. Sejauh ini Elena memang selalu datang ke pestanya tapi dia lebih sering menghindari Leonard atau sekadar mengatakan tak enak badan pada Xavier atau pergi entah kemana dan Xavier tidak terlalu memusingkannya.  ***  Saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Belinda mengirimi pesan pada Xavier.  Apa kamu masih sibuk?  Tanpa diduga Xavier menelponnya hinggaa Belinda salah tingkah. Grey dan Gretta sudah tertidur sejam lalu. Dia hanya mengkhawatirkan keadaan Xavier meskipun dirinya bukanlah siapa-siapanya Xavier.  “Apa kamu merindukanku?”  Pertanyaan itu membuat Belinda menelan ludah.  “Ya,” sahutnya ragu.  “Aku masih ada pekerjaan, Sayang. Aku belum bisa pulang. Mungkin jam dua belas malam nanti. Apa anak-anak sudah tidur?”  “Ya, mereka tidur sejam lalu. Apa kamu sudah makan, Xavier?”  Elena tak pernah menanyakan hal seperti yang ditanyakan Belinda. Bagi Elena, Xavier sudah dewasa dan pertanyaan remeh seperti itu sangatlah tidak penting. Tapi, bagi Xavier yang sangat sibuk pertanyaan remeh yang tidak penting itu menghangatkan hatinya. Dia jarang sekali mendapatkan perhatian Elena. Mereka jarang bertemu dan jarang mengobrol.   “Aku sudah makan.” Xavier makan jam tiga siang tadi. Itu adalah makanan setelah seharian bekerja. Dia belum makan malam. “Elena, kalau kamu mengantuk kamu tidur saja. Aku akan pulang nanti.”  “Oke. Berhati-hatilah saat pulang.”  “Iya, Sayang.”  Belinda mematikan ponselnya. Dan dia merasa bersalah karena telah berpura-pura menjadi isrti Xavier.  ***   Xavier menatap wajah istrinya yang tertidur pulas. Dia menatap untuk beberapa saat sampai dia merasakan koneksi yang cukup kuat antara dirinya dan Belinda. Tangannya meraba bagian kepala Belinda. Rabaan itu berubah menjadi elusan lembut. Dia membuka kancing piyama Belinda perlahan hingga dua kancing. Matanya menyipit tapi dia masih tampak tenang meskipun dadanya bergejolak. Gejolak itu bukan keinginan untuk tidur bersama Belinda tapi keterkejutannya.   Dia bukan istriku.  Elena memiliki tahi lalat di d**a sebelah kirinya tepat di p******a sebelah kiri. Dan Belinda jelas tidak memilikinya. Elena adalah pribadi yang ceroboh, tidak berpikir panjang dan mengira hal-hal kecil tidak akan menjadi boomerang atas penyamaran wanita polos ini.  Saat tangan Xavier tidak sengaja menyentuh dadanya, mata Belinda terbuka. Dia terbangun seketika. Duduk dengan napas memburu ketakutan. Mengetahui dua kancing piyamanya terbuka dia segera menutupnya kembali.   “Ka-kamu sudah pulang?” dia bertanya gugup.  Xavier menatap tajam Belinda namun setelah beberapa detik kemudian dia tersenyum. “Ya, Sayang. Ma’af, aku menganggetkanmu.”   “Kamu mau makan? Akan aku siapkan.” Belinda segera berdiri dan hendak menyiapkan makan malam untuk Xavier.  Elena tidak mungkin melakukan hal ini kan. Dia bahkan akan bersikap cuek kalau suaminya datang.  “Aku mau mandi, Elena. Kamu bisa menyiapkan aku air panas?”  Belinda mengangguk. “Ya, baik.” Meskipun bukan istrinya Belinda begitu gesit menuruti perintah Xavier.  Xavier ingin sekali menginterogasi wanita asing ini. bagaimana bisa dia menjadi Elena? Lalu, dimana istrinya sekarang. Tapi, Xavier menahan diri dan tetap berpura-pura tidak tahu. dia ingin tahu motif wanita asing yang tidur di atas ranjangnya. Yang menyiapkan keperluan putra-putrinya dan yang peduli padanya ini.  Xavier membuka kemejanya tepat di hadapan Belinda saat wanita itu sudah menyiapkan air hangat di bath. Untuk beberapa saat Belinda dan Xavier saling menatap hingga Belinda menyadari pria itu mungkin akan melucuti semua pakaiannya dan pakaian dirinya.   Belinda mempercepat langkahnya. “Tunggu!” Xavier menarik tangan Belinda.  Belinda merasa urat nadinya putus. Dia tidak tahu harus bagaimana jika Xavier memintanya...  “Terima kasih. Kamu bisa tidur lagi. Aku sudah makan di kantor.”  Belinda bernapas lega saat Xavier memberikannya pernyataan melegakan itu.   Xavier melepaskan tangan Belinda dan membiarkan wanita asing itu pergi dari hadapannya. Xavier hanya mengkhawatirkn Elena. Apakah wanita ini berniat jahat padanya. Atau Elena menjadi korban agar dia bisa menjadi istri Xavier. Xavier menelpon seseorang.  “Tolong cari Elena, Bryan.”  *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN