“Aku tidak tahu.” jawab Simon dingin.
Bagaimana bisa Xavier mempekerjakan pria dingin untuk menjadi sopir istri dan anak-anaknya ini?
Saat sampai di kafe Derotaria, Belinda keluar dari limusin hitam. “Tunggu aku di sini ya.”
Simon mengangguk.
Salah satu pegawai kafe melongo takjub melihat penampilan Belinda yang baru turun dari limusin. “Be-belinda...” Dia tampak tak percaya.
“Apa kamu bisa memanggilkan Alanda? Aku tidak bisa menemuinya.”
“Kamu tidak bekerja, beberapa hari menghilang dan kamu datang begitu saja.”
“Ceritanya panjang tolong panggilkan Alanda.”
Pegawai itu memutar bola mata jengah. “Ya, baiklah.”
Alanda tampak tak percaya dengan apa yang dikatakan pegawai kafe berkacamata itu. “Dia tidak mungkin naik limusin!”
“Alanda, kamu harus melihatnya sendiri.”
Alanda melangkah ke arah pintu kafe dan melihat Belinda tampak sangat berbeda. “Belinda...” Dia menatap takjub Belinda.
Belinda menarik tangan Alanda dan membawa Alanda ke limusin hitamnya. “Alanda, ayo ikut aku!”
Belinda membawa Alanda ke sebuah kafe yang sepi pengunjung. Dia menceritakan semua hal yang menimpa dirinya. Alanda terkejut dan tak percaya dengan apa yang dikatakan Belinda.
“Apakah mungkin Elena itu saudara kembarmu?”
“Aku tidak tahu. Aku belum menanyakan soal ini. Tapi, aku masih punya seorang bibi. adik dari ayahku. Dia membuangku ke panti asuhan saat usiaku masih bayi. Sebulan sekali bibi mengunjungiku. Setelah usiaku tiga tahun, bibi tidak pernah mengunjungiku lagi. Itu kata perawat anak-anak panti.”
“Kamu harus menemui bibimu, Belinda.”
“Ya, aku ingin tahu apakah Elena adalah saudara kembarku.”
“Kalau memang Elena saudara kembarmu berarti kamu adalah saudara kembar seorang wanita kaya.” Mata Alanda melebar berkilauan.
“Belum tentu Elena kaya. Tapi, mungkin Xavier yang kaya.”
“Suami Elena itu?”
Belinda mengangguk.
“Wow!”
“Aku takut bagaimana kalau Xavier menganggapku istrinya.”
“Ya, kamu hanya perlu berakting seolah-olah kamu Elena kan.”
“Bukan itu maksudku bagaimana kalau dia tiba-tiba—“
“Astaga! Kenapa kamu tidak berpikir sejauh itu, Belinda? Kamu tidak mungkin kan melepaskan pakaianmu di depan pria asing?”
***
“Mom, aku berhasil juara lomba mewarnai tingkat nasional!” seru Grey dengan binar cerahnya.
“Wow! Hebat sekali!” entah kenapa Belinda memeluk Grey bangga. Bukan hanya Grey yang dipeluk tapi juga Gretta meskipun Gretta tidak menang apa-apa.
“Mom, hari ini Mom stay di rumah?” tanya Gretta.
“Ya, memangnya kenapa?”
“Hehe, aneh saja. Biasanya jam segini Mom pasti pergi setelah Dad pergi ke kantor.”
“Oh, hari ini Mommy tidak ada acara. Bagaimana kalau kita merayakan keberhasilan Grey dengan makan bersama?”
“Boleh, tapi kita harus menunggu Dad, Mom.” Kata Grey.
“Oke! Kita beritahu Dad tentang keberhasilanmu, Sayang.”
“Bagaimana kalau kita memberikan Dad kejutan dengan datang ke kantornya.” Ide Gretta.
“Boleh juga!” seru Grey senang.
Aku sudah bertindak cukup jauh. Aku bukan ibu kalian. Aku bukan Elena.
***
Elena menenggak wine dengan perasaan bahagia terbebas sementara dari perannya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Sudah ada yang menggantikan peran dirinya sebagai istri dan ibu yang baik. Tidak ada kata yang bisa menjelaskan kebahagiaannya kini hidup sembunyi-sembunyi dengan kekasih gelapnya—Rocky.
Rocky adalah seorang pria tanpa pekerjaan tetap. Usianya dua tahun lebih muda dari Elena. Rocky adalah pria yang sesuai dengan keinginan Elena. Mencintai kebebasan dan melakukan apa pun sesuai keinginannya. Dan lagi, Rocky tidak menuntut Elena diam di rumah mengurusi keluarganya. Sebenarnya, Xavier pun memberikan ijin penuh pada Elena untuk bertemu teman-temannya, tapi, ya, Elena tidak pernah puas meskipun Xavier berusaha menjadi suami yang baik untuknya.
Dia sedang menonton drama seri favoritnya di ruang tamu sembari memakan camilannya. Rocky sedang pergi dengan teman-temannya dan meninggalkan Elena begitu saja.
Minggu lalu, Elena berbohong pada Xavier mengenai kepergiannya. Dia berdalih menemui teman semasa kecilnya tapi dia menemui Rocky di apartemen Rocky. Namun, sekarang dia tidak perlu berbohong pada Xavier lagi kalau ingin menemui Rocky. Rocky bisa tetap bersamanya selama dua puluh empat jam penuh. Hanya sesekali saja Rocky meninggalkan Elena. Sangat berbanding terbalik dengan Xavier yang bekerja terus-menerus dan mengabaikan Elena. Xavier tidak bermaksud mengabaikan istrinya tapi dia benar-benar sibuk dengan pekerjaannya.
Ponsel Elena berdering. Bukan Xavier yang menelponnya. Dia mengganti nomor ponselnya beberapa hari lalu agar Xavier tidak menghubunginya. Hanya Rocky yang menghubunginya. Ya, hanya pria itu.
“Honey, aku lupa tadi kalau aku bawa kartu kreditmu dan memakainya. Apakah kamu tidak keberatan, Honey.” Rocky berkata dengan nada yang menggelikan tapi Elena suka nada manja dari suara Rocky.
“Ya, Honey. Pakai saja, Tapi, jangan terlalu banyak ya, itu bisa membuat Xavier curiga.
“Oke, Honey!”
Elena kembali fokus pada camilannya lagi tanpa rasa bersalah karena sudah mengkhianati Xavier dan membuang uang Xavier pada sesuatu yang tak berguna. Elena adalah tipikal wanita yang impulsif. Berbuat sesukanya tanpa memikirkan resiko dari perbuatannya. Elena juga mudah dimanfaatkan seperti dia dimanfaatkan Rocky. Pria yang tidak memiliki pekerjaan apa pun hanya mengandalkan ketampanannya yang—mungkin sebagian orang akan menganggapnya biasa saja. Namun, Rocky memiliki sesuatu yang sulit Xavier berikan. Waktu dan kasih sayang sepenuhnya. Xavier terlalu sibuk kalaupun ada waktu dia lebih sering menghabiskan bersama anak-anak kembarnya. Elena merasa terabaikan.
“Siapa sebenarnya wanita itu?” dahi Elena mengernyit memikirkan Belinda. “Wajah kami sama persisi. Apakah dia...” Elena mencoba mengingat masa kecilnya. Dia tidak ingat apa-apa. Yang jelas hidupnya bahagia bersama kedua orang tuanya.
“Oh ya...” Elena teringat perkataan salah satu Tantenya. Wanita itu pernah sangat kesal pada Elena karena Elena menyiram putrinya dengan jus jeruk.
Kamu itu anak pungut, Elena, Tapi tingkahmu seperti ratu di rumah ini! Sialan kamu!
Kalimat itu diluncurkan Tante dari adik ibunya saat dia masih berusia delapan tahun.
“Tapi... bukankah Mom bilang kalau Tante hanya emosi dan dia hanya berbicara omong kosong.”
Dia diam sebentar sebelum berkata, “Aku harus menemui Tanteku yang paling berengsek itu.”
***
Belinda datang memberikan kejutan kecil yang berharga bagi Xavier. Grey dan Gretta memeluk ayah mereka. Belinda dapat merasakan kegembiraan dari apa yang dilihatnya. Xavier tersenyum lebar saat Grey mengatakan soal kemenangannya. Gretta tidak merasa tersaingi akan kehebatan kakaknya. Anak itu terlihat sangat bangga seakan kemenangan Grey adalah kemenangannya juga.
***
Belinda teringat pertemuannya dengan Elena.
“Aku memang sengaja pergi dari Xavier. Jadi, aku akan merepotkanmu dengan menyuruhmu menjadi diriku selama beberapa waktu ke depan.”
“A-apa?” Belinda ternganga dengan perkataan Elena.
“Aku jaga rahasiamu dan kamu jaga rahasiaku.”
“Aku tidak mengerti.”
“Kamu suka menjadi seorang Elena dengan segala kemudahan dan kemewahan yang aku miliki kan?”
“Apa maksudmu, aku masih tidak mengerti.”
Elena mengembuskan napas, bola matanya berputar jengah. “Kamu akan tetap jadi Elena sampai batas waktu yang aku tentukan. Kalau kamu menolak perintahku aku akan melaporkanmu pada Xavier dan polisi kalau kamu telah mengaku-ngaku menjadi diriku.” Katanya dengan tatapan mata tajam.
“Hah?” kata ‘hah’ yang meluncur dari kedua daun bibir Belinda terderngar nyaring.
Elena menyibakkan rambutnya dengan gaya angkuhnya. “Aku akan menjaga rahasiamu selama kamu menjaga rahasiaku. Kamu tahu apa yang akan terjadi kalau sampai rahasia kita terbongkar?” Elena tersenyum tipis. “Riwayatmu akan tamat di sel penjara. Atau kalau aku ingin kamu lenyap dari dunia ini aku bisa saja melakukannya. Jaga rahasia kita, mengerti, Belinda?”
Bagaimana bisa wanita itu memilih pergi dari suami dan anak-anaknya?
***