Kebenaran

961 Kata
Semua orang yang hadir dalam pesta pernikahan tersebut mulai berbisik bisik membicarakan tentang mereka, Hingga Diana pun tiba tiba menepukkan tangannya seraya tersenyum bahagia. Tentu saja sikap Diana membuat semua orang merasa heran dan tidak mengerti, Diana pun angkat suara, "Sudah cukup Amanda! semuanya sudah cukup membuktikan! Sekarang lebih baik kita akhiri semuanya," Erina dan Billy mengerutkan dahinya karena merasa tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Diana. "Apa maksud ibu?" Tanya Billy Diana pun menghampiri Erina dan Billy, yang masih terbengong-bengong. Diana menghela nafas panjang, "Dengar, Kalian lolos dalam ujian yang ibu ciptakan." Billy terlihat semakin kebingungan dengan yang diucapkan Diana, "Billy, Semua yang terjadi hanyalah sebuah rekayasa," Imbuh Ryan "Rekayasa? Apa maksud kalian? Aku benar benar semakin tidak mengerti," Ujar Erina. Diana pun mulai menceritakan tentang semua yang terjadi, "Semenjak kau menjadi pemurung dan sering menyebut nama Erina saat tidur, sejak itu ibu bertanya tanya apa tindakan ibu pada kalian sudah benar? Ibu tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, karena itu, ibu membuat sebuah rencana untuk melihat benarkah kalian benar benar saling mencintai? ibu tidak ingin billy kembali hancur sama seperti saat Lisa menghancurkan hati Billy, Karena itu Ibu meminta bantuan Amanda untuk menjalankan rencana itu, dengan izin dari kedua orang tuanya, kami pun mulai menjalankan rencana itu." "Itu artinya, Perceraian itu tidak benar?" Tanya Billy Diana pun mengangguk, "Jadi, sebenarnya ibu merestui hubungan kami?" Diana kembali mengangguk dan tersenyum, "Tapi pernikahan ini?" Tanya ragu Erina. "Pernikahan ini adalah akhir dari rencana kami, kami sengaja menyiapkannya untuk melihat bagaimana perjuanganmu untuk mempertahankan hubungan kalian." Erina pun menghampiri Diana dan memeluknya erat, "Terima kasih bu," Diana pun membalas pelukan Erina, mengelus lembut punggungnya "Aku titipkan satu satunya putraku padamu," Billy dan Erina pun tergugu, seketika air mata mereka pun kembali mengalir, Billy dan Erina berpelukan bahagia saat mendengar Ucapan dari sang ibu. **** Pesta pun berlanjut, Erina didandani dengan begitu cantik hingga membuat para tamu terpesona. Amanda menghampiri Erina yang tengah bersama Billy, ia pun mengulurkan tangannya, "Aku minta maaf, atas semua perlakuanku padamu,"  Erina menyambut uluran tangan Amanda, "Tidak apa apa, terima kasih karena sudah mau memenuhi permintaan ibu," Ucap Erina diiringi senyuman. Erina pun diajak oleh Billy untuk menemui tamu yang lain, Amanda yang tengah sendiri tiba tiba dihampiri oleh seseorang, "Aku harap tidak ada yang menyadari dengan yang kau rasakan sebenarnya," Amanda pun menatap ke arah suara, "Apa maksudmu?" "Mungkin mereka akan percaya dengan semua aktingmu, tapi aku.. Aku sudah tau apa yang sebenarnya." Pria itu pun melangkah pergi meninggalkan Amanda yang menatapnya dengan sorotan mata yang tajam. **** Billy dan Erina tengah bersama, sambil menatap pemandangan malam hari, dengan banyak bintang dan sinar bulan yang terang memunculkan suasana romantis di antara mereka, "Kau tau?" "Hm?" "Saat Ibu mengatakan, Kau sudah menandatangani surat perceraian, dan bahkan mengambil uang itu, itu membuatku hampir gila dan frustasi, hatiku tidak ingin mempercayainya, tapi aku melihat sendiri tanda tangan yang tertulis jelas di berkas itu," Erina pun menatap lekat ke arah Billy, "Aku tidak mungkin melakukan semua itu, karena aku mencintaimu," Billy tersenyum menatap Erina,  "Benarkah? Kau sedang tidak merayu kan?" "Apa maksudmu? Aku adalah seorang wanita yang tidak suka merayu seorang pria! Selama ini, semua pria yang selalu merayuku," Billy pun tertawa, "Iya, iya," Billy menggenggam erat tangan Erina. "Aku sangat mencintaimu," **** Semenjak kejadian itu, Hubungan Erina dan Billy pun semakin harmonis, **** Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Namun Erina masih hanyut dalam mimpinya, Billy yang sudah bangun dan rapi, tersenyum melihat Erina yang masih tertidur, Ia hendak berpamitan pada Erina untuk berangkat kerja, Namun tiba tiba saat Erina berbalik, terlihat baju tidur yang digunakan Erina menyingkap, Billy yang tidak sengaja melihat posisi seperti itu pun hanya menelan kasar salivanya. Selama menikah, Billy memang belum pernah menyentuh Erina, Walau bagaimanapun Billy tetaplah seorang pria normal yang membutuhkan sentuhan. Billy tiba tiba menghampiri Erina, ia melihat lebih dekat bagian kaki Erina, ia pun mencoba untuk mengelusnya. Namun elusannya membuat Erina terbangun dan mengerjap karena terkejut, "Ya Ampun! Kau mengagetkanku!" Ucap Erina. Billy yang terlihat salah tingkah karena ketahuan, ia pun hanya berdehem, "Ehm, Emm, Aku pergi dulu ke kantor!" Billy pun mencium kening Erina, dan melangkah pergi meninggalkan Erina yang terheran heran. **** Siang hari, Erina sedang mempersiapkan makan siang untuk Billy bersama dengan asisten rumah tangga nya. Saat Erina memotong sayuran karena sedikit melamun ia pun tanpa sengaja melukai jarinya, "Aww," Asisten itu pun langsung menghampiri Erina, "Nona, tidak apa apa?" Erina pun mengangguk, asisten itu pun bergegas membawa obat luka untuk mengobati Erina, saat tengah membersihkan luka Erina, Erina pun berkata, "Bi?" "Iya non," "Emm, Bibi sudah menikah kan?" "Iya non," Erina pun terdiam, sang asisten yang merasa heran pun mencoba untuk bertanya "Ada apa nona? Apa ada yang bisa saya bantu?" Erina terlihat ragu, namun juga ingin mengucapkan sesuatu. "Menurut Bibi, Apa melakukan hubungan suami istri itu penting?" Sang asisten pun tertawa "Maaf nona, tapi kenapa nona bertanya seperti itu?" "A-aku hanya ingin tau saja," Sang asisten pun menatap lekat Erina, "Nona, semua itu sudah kewajiban kita sebagai seorang istri! Suami kita akan sangat bahagia jika kita juga bisa melayaninya dalam hal berhubungan," "Tapi, jika kita tidak mau melakukan nya?" Asisten tersebut pun tersenyum, "Jika memang sudah menikah dan saling mencintai, tidak ada alasan lain untuk menolak, karena itu adalah salah satu bentuk cinta, jika kita tidak mau melayani suami kita, Jangan silahkan sang suami jika mereka justru melakukan nya dengan wanita lain." 'Degh' **** Mendengar penjelasan Asisten itu, Erina menjadi kepikiran, dia terus saja melihat ke arah Billy yang berada di hadapannya yang tengah menikmati makan siangnya. Billy yang merasa di perhatikan pun balik menatap Erina, "Ada apa?" Erina pun memberanikan diri untuk bertanya, namun lidahnya terasa tertahan untuk mengatakannya. Hingga Erina pun mengurungkan niatnya untuk bertanya, Billy pun hanya mengernyitkan dahinya nya melihat tingkah Erina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN