Billy memperhatikan Erina yang terlihat salah tingkah pun kembali mencoba menanyakan keadaan erina,
“Apa kau baik baik saja?”
Erina hanya mengangguk pelan.
"Oh ya, Hari ini aku akan lembur, jadi jangan menunggu ku ya, tidur lah lebih dulu,"
Erina kembali mengangguk seraya tersenyum ke arah Billy.
****
Erina yang sudah berada di rumah, masih terlihat gelisah, ia takut jika Billy kecewa padanya, tapi ia juga takut untuk memulai nya.
Erina pun memutuskan untuk beristirahat di dalam kamarnya, namun tak lama kemudian suara notifikasi ponsel mengusik ketenangannya, ia pun meraih ponselnya dan membuka pesan yang masuk,
Tiba tiba mata Erina membulat sempurna saat ia melihat kiriman foto dari seseorang yang tidak ia kenal beserta dengan alamat yang tertera disitu,
"A-apa ini?"
Nampak sebuah foto Billy yang sedang bersama seorang wanita sedang berjalan menuju ke dalam hotel dengan mesra.
Erina pun mengambil tas kecil nya dan bergegas menuju alamat yang dikirimkan, dengan perasaan yang kacau Erina terlihat gelisah,
Erina pun tiba di tempat tujuan, terlihat sebuah gedung hotel di hadapannya, Erina pun berlari menuju nomor kamar yang diberikan melalui ponselnya.
Di Depannya ada sebuah pintu bernomor 345, dengan ragu ia pun menyentuh gagang pintu itu, ia membuka pintu tersebut, dan melangkah masuk kedalam.
Erina pun langsung meneteskan air mata karena melihat sang suami yang sedang bercinta dengan wanita lain, Dengan perasaan marah, Erina menghampiri mereka dan menarik selimut yang menutupi tubuh mereka.
"Kenapa kau tega berbuat seperti ini dibelakangku?" Teriak Erina.
"Kenapa kau menghianatiku? Kau mengatakan akan lembur, di kantor, tapi ini apa? Kau malah bermain dengan wanita lain di tempat terkutuk ini!" Imbuhnya.
Billy dan wanita itu pun berusaha menutupi tubuh mereka dengan selimut,
"Kau pikir, aku seperti ini karena apa? Aku juga pria yang normal, aku punya kebutuhan yang selama ini tidak pernah kau berikan!" Bentak Billy.
Erina berjalan mundur seraya menggeleng kuat, Ia memegang kepalanya dan terkulai lemas
"Tidak! Ini bukan salahku! Bukan salahku!" Teriak Erina.
Tiba tiba semuanya terlihat gelap,
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Billy sambil menepuk nepuk pipi Erina beberapa kali
Erina pun terbangun, dengan nafas terengah dan tubuh bergetar dan penuh keringat, Erina melihat ke arah sekitar, dan tatapannya berakhir pada sosok Billy yang berada di hadapannya.
Rupanya, Erina baru saja mengalami mimpi buruk, Erina pun langsung memeluk Billy erat sambil menangis,
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Billy yang merasa heran.
Erina pun melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Billy,
Billy yang merasa khawatir pun kembali mencoba untuk bertanya,
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
Erina pun mulai menceritakan tentang apa yang terjadi sebenarnya,
Seketika Billy tertawa mendengar cerita Erina, Sedangkan Erina pun merasa kesal dan memukul lengan Billy
"Kenapa kau menertawaiku?" Tanya Erina sambil memanyunkan bibirnya.
"Iya, Maaf! Aku hanya merasa itu lucu,"
Erina pun masih terlihat cemberut dan tidak mau melihat ke arah Billy,
Billy pun memegang wajah Erina lembut, sehingga Erina menatap Billy
"Kau tau, Aku begitu sangat mencintaimu! Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan hal yang kau sendiri belum mau melakukannya,"
Kedua mata Erina pun berkaca kaca..
Billy pun menempelkan dahinya ke dahi Erina,
"Aku akan melakukannya, ketika kau sudah merasa siap,"
Erina pun tersenyum menatap Billy.
****
Meskipun Billy sudah menghibur Erina dengan perkataannya, Namun Erina tetap saja gelisah, seperti saat ini..
Erina yang sedang membantu diana memasak pun terlihat sedang melamun,
Diana memperhatikan Erina, dan memegang bahunya
"Nak, Kau baik baik saja?"
Erina pun mengerjap karena terkejut,
"I-iya, bu."
"Apa kau ada masalah dengan Billy?"
Erina pun terdiam,
"Tidak usah ragu, kau bisa cerita pada ibu,"
Erina pun terdiam sesaat,
"Emm, Bu.. A- aku,"
Diana pun merasa paham dengan apa yang dimaksud oleh Erina,
"Jika ini masalah internal kalian, kau tidak boleh menceritakannya kepada siapapun, belajarlah untuk menyelesaikan nya sendiri, tapi yang jelas jalankan apapun yang menjadi kewajibanmu sebagai seorang istri."
Erina pun kembali terdiam
****
Setelah berpikir beberapa saat, Erina pun mengambil sebuah paper bag yang disimpan di bagian bawah lemari baju nya.
Ia pun membukanya, nampak sehelai baju tidur yang seksi dan terbuka hadiah dari sang ibu mertua saat pernikahannya.
Erina pun mengelus pakaian itu, dan memutuskan untuk mencobanya.
****
Billy yang baru saja tiba di rumah, ia pun menghampiri sang ibu yang tengah duduk santai di sofa panjang berwarna putih,
"Selamat malam bu?"
"Selamat malam nak!"
"Erina dimana?"
"Dia ada di kamarnya,"
"Baiklah bu, sampai jumpa!"
Diana pun hanya mengangguk dan tersenyum.
Billy pun melangkah menuju ke kamar Erina, Billy yang masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, di kagetkan dengan pemandangan tak biasa di hadapannya,
Ia melihat Erina dengan pakaian tidur yang terbuka, dan tengah memperhatikan dirinya sendiri di depan Cermin,
Erina yang tidak menyadari kehadiran Billy, Ia hanya berputar dan melihat bagaimana dengan penampilannya, dengan rambut terurai, di depan cermin.
Erina terus saja tersenyum, Hingga sepasang tangan kekar tiba tiba melingkar di pinggangnya, Erina pun merasa terkejut dan melihat ke arah belakang.
"K-kau?"
Billy memperlihatkan senyuman nakalnya, dan membuat Erina merasa salah tingkah.
"Emm, A- aku akan pergi ke toilet!"
Namun, Ucapan Erina tidak digubris oleh Billy, Billy pun berbisik di telinga Erina,
"Kau terlihat sangat seksi dengan pakaian ini, Aku menyukainya!"
Bisikan Billy, membuat Erina merinding dan mencoba untuk mendorong tubuh Billy,
"Awas, Aku mau ke toilet,"
"Untuk apa ke toilet? Apa kau ingin bermain di sana?"
Bisik Billy dengan nada sensual.
Erina pun mulai merasa ketakutan, Billy mendekatkan wajahnya ke wajah Erina,
'Degh degh'
Jantung Erina berdegup keras ketika Billy semakin dekat ke arahnya,
'Apa ini saat nya? Aduh, bagaimana ini? Aku harus bagaimana?' Batin Erina resah.
Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar,
"Billy, Erina, Ayo kita makan malam! Nanti keburu dingin,"
Seketika Erina langsung melepaskan diri dari Billy,
"Emm, Sebaiknya kita makan malam, kasian ibu sudah menunggu!"
Erina pun melangkah menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Sedangkan Billy terlihat menghela nafas kasar karena merasa kesal.
****
Saat makan malam, Erina dan Diana sangat menikmati makanan yang telah mereka buat, namun berbeda dengan Billy yang terlihat cemberut dan kesal.
Erina yang diam diam memperhatikan sikap Billy hanya terdiam, ia merasa bersalah pada Billy,
Erina teringat dengan perkataan asisten nya,
'Hubungan suami istri itu adalah bentuk cinta, jika sang istri tidak mau melayani suami nya, maka jangan salahkan jika ia berpaling ke wanita lain,'
Kata kata itu terus berputar di otaknya, ditambah lagi dengan mimpi buruk nya akhir akhir ini.
Erina semakin gelisah, ia takut jika Billy akan melakukan hal yang seperti dalam mimpinya.
****
Keesokan harinya,
Erina menemui Ryan yang tengah sibuk di Cafe,
"Kakak?"