Ryan tersenyum menatap ke arah Erina,
“Bagaimana keadaanmu?”
“Baik kak,”
“Tumben sekali kau menghubungiku, Ada apa?”
Erina terlihat ragu untuk berbicara pada Ryan, Ia pun menggenggam tangan Erina dan menatapnya lekat.
“Tidak apa, bicaralah.” Ujar Ryan diiringi senyuman.
“Em, Aku.. ingin menanyakan pendapatmu,”
Ryan mengerutkan dahinya,
“Tentang apa?”
“Kakak kan sudah lama mengenal suamiku, menurutmu, suami ku itu tipe suami yang seperti apa? Apakah dia tipe pria setia atau...”
Ryan pun terlihat tersenyum, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Erina, Erina yang merasa aneh dengan reaksi Ryan pun bertanya,
“Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?”
“Seharusnya, kau sudah tau seberapa besar rasa cintanya terhadap mu, dan kau tidak perlu mempertanyakan nya lagi, dia bahkan rela terluka untukmu.”
“Begitu ya,”
Erina Pun terdiam sesaat
“Lalu, bagaimana jika aku tidak bisa melayani Billy dengan Baik?”
“Apa maksudmu?”
Pandangan Erina pun tertunduk terlihat wajah Erina yang memerah menahan malu,
"M-maksudku, Aku… itu.. Emm,"
Ryan yang melihat gelagat aneh Erina pun mendorong Erina untuk lebih memperjelas pertanyaan Erina.
"Jika kamu tidak mempertanyakan sesuatu dengan jelas, bagaimana mungkin aku bisa membantumu, dan memberi masukan,"
Erina pun terdiam dan berpikir, ia merasa apa yang dikatakan oleh Ryan memang masuk akal,
"Emm, Kak! Selama dua tahun lebih aku menikah dengan Billy, Aku belum pernah melayaninya dengan baik, Aku.. Belum pernah berhubungan suami istri dengan Billy,"
Ryan yang tengah menyeruput teh nya seketika menyemburkan teh yang berada di dalam mulutnya karena merasa terkejut dengan kepolosan Erina, Ia tidak menyangka Erina akan menceritakan tentang hal pribadinya bersama Billy.
'Uhuk uhuk'
Erina panik melihat Ryan yang tersedak karena nya, Erina pun menepuk punggung Ryan lembut.
"Kakak baik baik saja kan?"
"Hm"
Ryan kembali menatap ke arah Erina, Ia sedikit kebingungan bagaimana cara menjawab pertanyaan Se-pribadi itu pada Erina.
"Emm, Begini.. Dulu, mungkin wajar jika kau tidak melayani Billy, karena memang kalian menikah karena perjanjian bukan rasa cinta, tapi sekarang ceritanya sudah berubah, Kalian sudah saling mencintai dan itu artinya, sudah menjadi kewajiban seorang istri melayani suami nya dengan baik, termasuk saat di atas tempat tidur."
Erina pun kembali terdiam,
"Jika kau memang belum siap, kau bisa membicarakan nya dengan Billy,"
"Aku takut, Jika Billy mencari pelampiasan kepada wanita yang lain karena aku tidak melayaninya,"
Ryan kembali tersenyum melihat raut wajah khawatir Erina,
"Kau tidak perlu khawatir, Aku tau bagaimana Billy, dia tidak akan seperti itu pada gadis yang ia cintai,"
Erina pun mengangguk pelan.
****
Setelah pertemuannya bersama Ryan, Erina pun mencoba untuk menemui Billy di Kantor nya,
Namun, ketika ia akan menggunakan lift menuju lantai dimana ruangan Billy berada, Tanpa sengaja di sebelah lift yang berlawanan, ia melihat sosok Billy yang tengah berjalan berdampingan bersama seorang gadis dari arah belakang,
Erina yang merasa penasaran pun akhirnya mengikuti Billy dan Wanita tersebut.
Erina sangat gelisah, ketakutan nya akan mimpinya yang menjadi nyata membuatnya 'paranoid'.
Benar saja, Billy dan wanita tersebut terlihat melangkah masuk ke dalam hotel, perasaan campur aduk membuat Erina tidak jernih dalam berpikir, Ia pun terus saja mengikuti langkah Billy dan wanita itu.
Hingga tiba di depan sebuah pintu, Billy yang mempersilahkan wanita tersebut untuk masuk tiba tiba dikejutkan oleh suara Erina,
"BILLY!!" Teriak Erina,
Billy pun menoleh ke arah Erina, dan menghampirinya,
"Sayang, sedang apa disini?" Tanya Billy heran.
Erina dengan wajah merah menahan marah, dan tangan mengepal,
"Sedang apa kau disini?"
"Aku.." Ucap Billy terpotong.
"Apa kau mau tidur dengan wanita ini?" Bentak Erina.
Billy pun mengerutkan dahi nya,
"A-apa maksudmu sayang?"
Billy mencoba memegang lengan Erina bermaksud untuk menenangkannya, namun Erina menghempaskan kasar.
"Tenang lah, Ada apa sebenarnya?"
Erina menatap tajam Billy,
"Jangan memintaku untuk tenang! Aku tau kau akan tidur dengan wanita ini! Benar kan?"
"Erina, dengar! Wanita ini adalah rekan kerja ku yang berasal dari paris, dan dia kesini untuk mengikuti meeting yang memang diadakan di ballroom hotel ini,"
"Bohong!"
"Kau tidak percaya? Baik, lihat lah sendiri!"
Billy pun membuka pintu yang berada di hadapan mereka, dan nampak sebuah ruangan yang besar dengan meja panjang dan kursi yang mengelilingi nya, terlihat pula beberapa yang duduk disitu sambil menatap ke arah mereka.
"Kau lihat sendiri kan?"
Erina yang memperhatikan sekitarnya, membuat Erina menyadari jika semua itu hanyalah ketakutan nya saja.
Billy kembali menutup pintu dan memegang wajah Erina.
"Aku tau kau cemburu, tapi lain kali, lihatlah dulu siapa yang kau cemburui,"
Erina pun tertunduk malu,
"Ya sudah, apa kau mau menunggu di sini atau mau ikut ke dalam ruangan?"
Karena tidak ada jawaban dari Erina, Billy pun berinisiatif membawa Erina untuk ikut dalam meeting nya.
"Kalau begitu, kamu ikut saja ke dalam, bagaimana?"
"A-apa? Aku ikut ke dalam?"
"Hmm, Agar kau bisa tahu apa yang sedang ku kerjakan,"
"Tapi aku.."
Ucapan Erina terpotong seketika tatkala Billy mendorong tubuh Erina masuk ke dalam ruangan meeting.
Erina pun duduk disamping Billy, hingga semua orang yang berkepentingan dalam meeting tersebut datang, meeting pun dimulai,
****
Selesai meeting, Billy pun berpamitan dan menarik tangan Erina untuk pergi dari sana,
Setelah keluar dari ruangan, Billy merangkul bahu Erina dan menatapnya lekat,
"Karena kita sudah berada disini, bagaimana jika kita menyewa salah satu kamar hotel agar kita bisa berduaan?"
"Tapi, kenapa tidak di rumah saja? Jarak rumah ke sini juga tidak terlalu jauh,"
Billy pun melipat kedua tangannya,
"Itu memang benar, tapi.. Menurutku di rumah kita tidak akan merasa bebas karena ada ibu di sana, sedangkan disini kita bisa melakukan apapun semau kita!"
Erina pun mengangguk setuju dan itu membuat Billy tersenyum,
****
Billy menyewa sebuah Suite room untuk nya bersama Erina,
Erina terpesona dengan isi suite room tersebut.
Billy memeluk Erina dari belakang,
"Kau menyukainya?"
"Hmm."
"Emm, Kenapa kau bisa berpikiran jika aku akan tidur dengan wanita lain?"
"Itu karena…" Ucapan Erina terpotong.
"Apa karena kau tidak mempercayaiku?"
Erina pun berbalik menghadap ke arah Billy, Ia menatap dalam Billy
"Aku sangat mencintaimu, karena itu aku takut kehilanganmu,"
"Benarkah?"
Erina pun mengangguk cepat,
Tiba tiba..
Billy menggendong Erina dan membaringkan Erina di tempat tidur.
'Degh degh'
'Mungkinkah ini saat nya? Tapi, aku harus bagaimana?' Batin Erina.
Billy pun mulai menarik resleting baju Erina perlahan, lalu menyentuh wajah Erina dengan ujung jarinya hingga terus turun ke bawah..
Namun tiba tiba..
Terdengar suara dering ponsel berbunyi cukup keras, Billy yang awalnya tidak menghiraukannya pun akhir nya merasa terganggu dengan suara dering itu, Ia kemudian mengangkat telpon nya
In Call
"Hallo, Ada apa?" Tanya sinis Billy
"Maaf Tuan, Tapi saya ingin memberitahu jika ada seseorang yang ingin bertemu, beliau sudah menunggu di rumah hampir dua jam Tuan,"
"Siapa?"
"Saya kurang Tau Tuan!"
"Baiklah, Suruh dia untuk menunggu,"
****
Billy terlihat sangat kesal setelah mendapat telpon,
"Menyebalkan!! Mengganggu saja!"
"Kenapa?" Tanya Erina yang tengah mencoba menarik resletingnya
Namun Bukannya menjawab, fokus Billy justru teralihkan pada punggung Erina,
"Kenapa kau mau menutup nya?"
"Memangnya kenapa?"
Billy pun mendorong Erina dan menindihnya,
"Ayo, Kita lanjut kan!" Ujar Billy sambil mengangkat sebelah alisnya.
Billy yang hendak mencium Erina, tiba tiba Erina menghalanginya dengan jari telunjuknya.
"Bukankah kau harus pergi?" Ucap Erina mengingat kan.
"Aku tidak peduli, itu bisa nanti saja."
Erina pun mencoba untuk mendorong tubuh Billy,
"Minggir! Sudah sana!!"
Billy pun berbaring di samping Erina,
"Sudah sana! Bukankah ada yang harus kamu kerjakan?
Billy pun terlihat cemberut, Erina pun duduk di birai kasur, seraya terus mencoba menutup resleting bajunya,
Tiba tiba…
'Cupp'
Billy mengecup lembut punggung Erina, yang membuat Erina langsung terdiam.
Melihat Erina yang tidak bereaksi, Billy kembali mencoba mencium punggung nya berkali kali,
"Hentikan!" Ucap Erina.
Billy menyadari Erina yang sudah mulai b*******h, ia kemudian melanjutkan permainan nya, namun tiba tiba ponselnya kembali berdering, Billy pun terpaksa menghentikan aksinya
****
Dalam perjalanan pulang terlihat jelas Billy yang merasa kesal dan marah karena merasa terganggu oleh panggilan tersebut.
Sedangkan Erina hanya tersenyum melihat wajah Billy,
"Kau masih menertawaiku?" Tanya Billy kesal
Erina menggeleng cepat,
"Tentu saja tidak,"
"Seandainya tidak ada gangguan! Aku sudah menerkammu!" Ucap Billy dengan ujung bibir menyunggingkan senyuman.
"Huu, Aku takut sekali, kau seperti singa yang siap menerkam mangsanya, Haumm." Ujar Erina dengan tawa nya.
"Awas saja nanti! Jika sudah selesai, Jangan harap kau bisa berjalan normal!"
Erina pun mengernyitkan dahinya,
"Apa maksudmu? Kenapa bisa seperti itu?"
Billy kembali menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.
****
Setibanya di rumah,
Billy langsung menuju ke ruang tamu, dan mendapati Amanda yang sedang menunggunya.
"Ada apa?" Tanya Billy langsung.
"Em, Aku kesini ingin memberitahukan pada mu tentang masalah yang terjadi pada perusahaan kuliner baru milik kita."
Erina mengerutkan keningnya,
"Kita?"
Billy pun menatap ke arah Erina,
"Iya, karena dia sudah membantu rencana ibu, sekarang giliran ku membantunya yang sedang kesulitan dalam bisnisnya, Aku ikut bergabung dalam pengembangan restoran miliknya." Jelas Billy
"Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Aku berencana memberitahumu saat semuanya telah siap,"
Erina pun terlihat memanyunkan bibirnya dan raut wajah sedihnya.
Billy pun menghampiri Erina yang terdiam di muka pintu dan melewati Amanda begitu saja,
"Sudahlah, tidak apa apa! Aku minta maaf karena tidak memberitahumu."
Billy pun memeluk erat Erina dan mengelus lembut rambut panjangnya,
Sementara itu, Amanda terlihat menatap tajam mereka dengan raut wajah tidak suka.
Amanda pun berpura pura tersenyum,
"Em, Maaf Erina! Tapi, Kami merahasiakan ini karena ingin membuat kejutan untukmu nanti, karena restoran ini Billy peruntukkan untukmu."
"Benarkah?"
Amanda pun mengangguk,
"Terima kasih,"
Amanda pun menatap ke arah Billy,
"Oya, Billy! Aku harap kau bisa ikut bersamaku setidaknya untuk dua hari ini, karena restoran kita akan melakukan Kerjasama untuk acara olahraga nasional yang akan dilaksanakan mulai pekan depan, kita akan mempresentasikan apa saja yang terbaik di restoran kita,"
Billy pun mengangguk paham,
"Baiklah!"
Kemudian, Billy menatap ke arah Erina.
"Kau tidak apa apa kan, disini bersama ibu?"
Erina pun mengangguk seraya tersenyum.
****
Amanda yang baru saja pulang dari kediaman Billy, sesaat setelah tiba di rumahnya, Ia langsung membanting kan semua barang yang berada disekitarnya dan berteriak,
"Aaaaarrrghhhhh!!"
Teriakan Amanda terdengar oleh kedua orang tuanya yang tengah berada di ruang keluarga,
"Ada apa? Kau kenapa?" Tanya sang ibu
"Kenapa bu? Kenapa Billy sama sekali tidak menatapku? Kenapa Billy lebih memilih gadis b******k itu daripada aku? Apa kurangnya aku?" Teriak Amanda.
Sang ibu pun mencoba untuk menenangkan Amanda,
"Aku menyesal telah membantu ibu diana untuk melihat seberapa besar cinta mereka! Aku pikir, Erina tidak mungkin mau memperjuangkan Billy, karena usianya yang masih muda, dan dia akan tergiur dengan uang pemberian dari Ibu Diana, tapi nyatanya apa? Semua yang aku harapkan hancur berkeping keping!!" Teriak Amanda.
"Tenanglah nak!"
"Bertahun tahun aku menunggu Billy! Dan dia melewatiku begitu saja hanya untuk bocah ingusan seperti dia!!" Imbuhnya.
Amanda menangis tersedu sedu di pelukan sang ibu.
'Lihat saja, Apa yang akan kulakukan!' Batin Amanda.
****
Di lain Sisi…
Dua orang pemuda tengah berada di sebuah supermarket, salah satu dari mereka memasukkan beberapa barang ke dalam pakaiannya, sedangkan seorang yang lain mengamati sekitar dan menutupi perbuatan rekannya,
"Ini benar benar memalukan, hanya untuk makan saja kita sampai harus mencuri seperti ini!" Gumam pria yang memperhatikan keadaan sekitar.
"Dengar Theo! Jika bukan karena gaya hidupmu yang sok sok an kaya itu, kita tidak akan terlibat dengan rentenir b******k itu! Dan uang yang kita dapatkan dari hasil menjual Erina, tidak akan habis sia sia!" Lawan Kevin
Theo pun menatap kesal kakaknya itu,
"Aku lagi yang kau salahkan? Apa kau tidak berkaca pada dirimu sendiri? Kau juga ikut menikmati uang itu!"
"Sudahlah! Lebih baik kita selesaikan dengan cepat, jangan sampai kita ketahuan!"
Theo dan Kevin bergegas mempercepat tindakannya, setelah dirasa cukup, mereka pun bergegas untuk pergi, tanpa disadari, gerak gerik mereka telah diawasi oleh CCTV yang menempel di salah satu sudut ruangan, saat akan keluar dari pintu, tiba tiba bel peringatan pun terdengar, Kevin dan Theo pun berlari cepat untuk menghindari kejaran pihak keamanan.
Adegan kejar kejaran pun terjadi, Theo dan Kevin memilih untuk berpecah agar bisa mengecoh para keamanan.
"Jangan lari!!"
Teriakan para keamanan terdengar di telinga mereka, hingga mereka semakin mempercepat langkahnya.
Kevin pun bersembunyi di salah satu tong sampai berukuran besar yang berada di pinggir toko, sedangkan Theo berlari ke sebuah gang, disitu ada sebuah tangga, dan Theo pun memilih bersembunyi di balik tangga.
Dengan nafas terengah, Theo pun mencoba untuk tenang dan meredam suara nafas nya agar tidak terdengar oleh mereka.
"Dimana mereka?" Ucap salah seorang keamanan sambil melihat ke arah sekitar.
"Kurang ajar! Ayo, kita cari ke sebelah sana,"
Setelah kepergian mereka, Theo pun bernafas lega, Theo pun memutuskan untuk menghampiri Kevin, dia melangkah perlahan sambil memperhatikan sekitar, hingga perhatiannya pun tertuju pada seseorang yang tengah berjalan cepat,
Matanya terbelalak karena ia tidak mempercayai apa yang ia lihat,
"E-Erina?"
****