Disaat Theo akan mengejar langkah Erina, namun langkahnya terhenti karena melihat para polisi yang tadi mengejarnya, ia pun memilih untuk kembali ke tempat Kevin.
"Kau tidak apa apa?" Tanya Kevin,
Theo pun mengangguk dengan pandangan yang sedikit kosong, Kevin yang menyadarinya pun langsung bertanya
"Ada apa?"
Theo terdiam sejenak,
"Kak, Tadi aku melihat Erina di sana," Ujar Theo sambil menunjuk ke arah di depannya
"Erina? Apa kau yakin?"
Theo pun mengangguk cepat,
"Dia terlihat seperti nyonya besar, dan dia Terlihat sangat bahagia," Imbuh Theo.
"Itu tidak mungkin, Nasib Erina jauh lebih mengenaskan dari kita, dia pasti dijadikan pelampiasan para p****************g, setelah Tuan muda itu bosan, Erina pasti dibuang ke club untuk dijadikan wanita penghibur," Sarkasnya
Theo pun terdiam mendengar ucapan sang kakak, Ia merasa sangat yakin dengan apa yang ia lihat.
****
Billy sedang menantikan balasan pesan dari Erina, setelah sebelumnya ia mengirimkan pesan pada Erina, dengan perasaan gelisah Billy terus saja memeriksa ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Amanda
"Emm, Tidak! Apa meeting nya harus dua hari?"
"Kenapa?"
"Apa tidak bisa diwakilkan olehmu saja?"
"Maaf Billy, Tapi tidak bisa."
Billy pun menghela nafas kasar,
"Apa kau merindukan Erina?"
Billy pun mengangguk pelan, Amanda pun tersenyum.
"Kita belum sampai sehari disini, tapi kau sudah merindukan nya sampai seperti ini,"
Billy pun terkekeh, tiba tiba notifikasi pun terdengar, Billy bergegas membuka isi pesan itu,
'Aku juga merindukanmu Sayangku'
Billy tersenyum senyum sendiri membaca pesan tersebut,
Selama hampir setiap jam Billy terus berkirim pesan dengan Erina, hingga terkadang jika Erina telat memberikan jawaban, maka Billy akan langsung menghubunginya karena khawatir, Erina pun hanya tertawa melihat tingkah sang suami.
Di malam terakhir,
Billy, Amanda dan rekan kerja nya yang lain merayakan kerjasama mereka di sebuah Club, Karena terlalu banyak minum, Billy pun mabuk dan berpamitan untuk kembali ke hotel lebih dulu.
"Maaf semuanya, Aku pergi dulu! Kepalaku sudah pusing sekali!"
Dengan berjalan sedikit terhuyung huyung Billy berjalan menuju ke kamarnya,
Sesampainya di kamar, ia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan tertidur,
Tanpa ia sadari, rupanya langkahnya diikuti oleh Amanda dari belakang, Amanda pun berhasil masuk ke dalam kamar Billy, dan dalam keadaan tidak sadar, Amanda melepas kemeja yang dipakai Billy hingga Billy kini bertelanjang d**a.
Amanda yang sudah merencanakan dengan matang pun, Ia mengunci kamar Billy, dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang terbuka, Ia pun berpura pura tidur di pelukan Billy, Bahkan berpura pura seperti Billy yang menciumnya terlebih dahulu,dan memfoto kebersamaan mereka,
Tidak lupa Amanda meninggalkan bekas lipstiknya di kemeja Billy, dan memberikan gigitan kecil di leher Billy sehingga meninggalkan bekas merah keunguan disana.
Amanda pun menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.
"Kita lihat, seberapa kuat cintamu itu Erina?" Gumam Amanda.
****
Pagi yang cerah,
Billy terbangun dari tidurnya setelah Amanda membangunkannya,
Billy yang masih merasa sedikit pusing pun tidak menyadari dengan tanda yang ditinggalkan oleh Amanda.
Setibanya di rumah, Billy yang disambut oleh Erina pun langsung memeluknya erat,
"Kau tau sayang, Aku sangat merindukanmu! Lain kali kau harus ikut bersamaku jika ada perjalanan bisnis lagi,"
Erina pun tersenyum dan melepas pelukan Billy, Namun fokus nya teralihkan dengan tanda merah keunguan yang berada di leher Billy.
Erina pun menyentuh nya dan mengusap nya berharap itu hanya noda, namun nyatanya itu adalah kissmark yang ditinggalkan oleh seseorang.
Erina terlihat syok saat melihatnya, Billy yang merasa aneh melihat reaksi wajah Erina pun bertanya,
"Ada apa?" Tanya Billy,
Erina menatap tajam Billy,
"Apa itu di lehermu?" Tanya Erina.
Billy pun berjalan menuju cermin kecil yang berada di dinding, Ia melihat dan menyentuh tanda itu.
"I-ini?"
Tatapan Erina pun kini tertuju pada kemeja di bahu kanan Billy,
"Bibir siapa ini?" Tanya Erina menahan Amarah
"Ini? A-aku tidak tau! Aku benar benar tidak tau!"
Billy syok melihat bekas lipstik di kemeja nya dan juga kissmark di lehernya.
Erina pun melangkah cepat meninggalkan Billy dengan perasaan kecewa dan sakit.
Billy pun mengejar Erina,
"Sayang! Dengarkan aku! Aku tidak tahu apa apa mengenai ini! Aku berani bersumpah!!" Teriak Billy,
Teriakan Billy pun terdengar oleh ibunya Diana,
"Ada apa? Apa kalian bertengkar lagi?"
"Bu, Erina salah paham padaku! Aku…"
Ucapan Billy terpotong karena sang ibu yang tiba tiba menyentuh tanda merah keunguan itu di leher Billy.
"Apa kau selingkuh?" Tanya Diana langsung.
"Tidak bu! Aku tidak.."
Ucapan Billy kembali terpotong,
"Dengar! Ibu tidak pernah mengajarimu untuk mempermainkan hati seorang wanita, tapi melihat bukti di lehermu itu, itu cukup menunjukkan dengan jelas kalau kau sudah melakukan kesalahan terbesar!" Bentak Diana
"Bu! Aku tidak tahu apa apa soal ini!"
"Bagaimana mungkin kau tidak tahunmu?"! Sedangkan buktinya sudah terlihat jelas! Pantas saja jika Erina kecewa dan marah padamu!"
"Bu!"
"Kali ini, ibu tidak ikut campur urusan kalian! Selesaikan semuanya secara baik baik!"
Diana pun melangkah pergi meninggalkan Billy yang berdiri di depan pintu kamar Erina sendirian.
Billy beberapa kali menggedor pintu kamar Erina, namun Erina tidak membukanya, yang terdengar hanyalah suara isak tangis dari dalam kamar.
"Sayang, kau harus percaya padaku! Aku tidak melakukannya!" Jelas Billy.
****
Erina hanya terus menangis di dalam kamarnya, terdengar Billy yang masih berteriak dan mencoba untuk menjelaskan semuanya.
Tiba tiba, Erina mendapat notifikasi pesan dari ponselnya,
Beberapa foto muncul setelah Erina membuka pesan pesan tersebut, mata Erina terbelalak melihatnya, hingga tangisnya pun kembali pecah.
Erina memutuskan menghampiri Billy yang masih berteriak dari luar,
"Untuk apa kau masih disini?" Teriak Erina sambil menangis.
"Sayang, tenanglah! Aku bisa menjelaskan semuanya! Aku benar benar tidak tahu apa apa soal ini!"
"Bohong!! Lalu ini apa, Hah?"
Erina menunjukkan beberapa foto yang berada di ponselnya kepada Billy, Billy terlihat semakin syok.
Ia meraih ponsel Erina dan melihat foto dirinya yang tengah bersama Amanda di dalam kamar hotel miliknya tanpa memakai baju, Amanda yang tidur di pelukannya, hingga fotonya yang sedang mencium bibir Amanda.
Billy menggeleng cepat,
"Tidak! Ini tidak benar sayang! Ini hanya editan!"
"Baik, jadi menurutmu, ini hanya foto editan? Kalau begitu kita buktikan! Apa ini hanya editan ataukah kenyataan!"
Erina pun menarik tangan Billy ke sebuah tempat,
Tibalah mereka ke rumah seorang ahli telematika, Erina pun menunjukkan foto foto Billy padanya.
"Jadi bagaimana pak, apa ini foto hasil editan?" Tanya Erina.
"Foto ini adalah foto foto asli, bukan Editan,"
"Terima kasih, pak."
****
"Erina tunggu! Aku bersumpah, aku tidak pernah melakukannya!" Ujar Billy dengan mata berkaca kaca.
Namun, Erina hanya berlalu begitu saja sambil menghapus air matanya kasar.
Setelah hari itu, Erina selalu menghindari Billy, jangankan untuk berbicara untuk sekedar bertemu pun Erina tidak mau.
Billy yang merasa kesal pun memutuskan untuk menghampiri Amanda di restorannya.
"Manda!" Teriak Billy
Amanda pun menatap ke arah Billy,
"Ada apa?"
"Kamu pasti sengaja menjebakku untuk menghancurkan rumah tangga ku kan?!" Bentak Billy.
Amanda pun menyunggingkan senyuman,
"Menurutmu begitu? Tapi menurutku, Aku hanya sedang mencoba untuk menyelamatkanmu dari pernikahan main main kalian, dan juga dari bocah ingusan itu!"
"Bocah ingusan?" Ucap pelan Billy,
Amanda pun menggebrak meja nya seraya menatap tajam ke arah Billy
"Iya! Dia itu hanyalah bocah ingusan yang tidak pantas bersanding denganmu! Sadar lah! Aku lebih baik daripada dia!" Bentak Amanda.
Billy pun tersenyum dingin menatap Amanda,
"Oh, jadi akhirnya kau menunjukkan juga siapa sebenarnya dirimu? Menjijikkan! Jika harus dibandingkan, kau bahkan tidak ada apa apanya dibandingkan dengan Erina!"
"Jaga bicara mu!" Teriak Amanda.
"Asal kau tau, Kau itu benar benar menyedihkan Karena mengemis cinta dari seorang pria yang bahkan tidak akan mungkin mencintaimu!"
"Oh ya? Kita lihat saja nanti,"
****
Billy yang telah mengetahui bagaimana licik nya Amanda pun merasa kesal dan akhirnya ia berteriak di dalam mobilnya.
"Argh!!"
Billy pun mencoba mencari cara untuk membuktikan pada Erina, jika ia hanyalah di jebak.
Sementara itu,
Erina sedang merapikan barang barangnya, Diana pun masuk ke dalam kamarnya setelah mendengar izin dari Erina untuk masuk,
"Kau mau kemana?"
Erina pun melihat ke arah Diana,
"Aku mau pergi bu,"
"Kenapa kau pergi? Apa hanya sampai disini cintamu bertahan?"
Erina pun menatap ke arah Diana,
"Bu, Jika dalam sebuah hubungan ada pengkhianatan apa aku masih harus bertahan? Jika Billy memang sudah tidak mencintaiku lagi, apa aku masih harus ada disini?"
Tiba tiba,
"Harus! Kau harus tetap disini, dan tetap bertahan untukku! Seburuk apapun sikapku terhadapmu, kau harus tetap bertahan!"
Erina pun kembali membereskan barangnya, dan berpura pura tidak mendengar perkataan Billy.
Diana pun menghampiri Billy,
"Selesaikan masalah kalian,"
Diana kemudian pergi meninggalkan Billy dan Erina, Billy pun menutup pintu kamar Erina.
"Erina?"
Tangan Erina pun terhenti,
"Dengar, beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah!"
Erina pun menatap ke arah Billy dan berpikir sejenak,
"Aku mohon!" Imbuhnya.
Erina pun mengalihkan pandangannya ke arah lain,
"Baiklah! Aku akan memberikanmu satu kesempatan untuk membuktikan apa yang kau katakan."
Billy pun tersenyum senang mendengarnya,
****
Tanpa membuang waktu, Billy kembali ke hotel yang sama, tempat ia menginap, ia mencoba mencari petunjuk dan meminta CCTV milik hotel agar ia bisa memeriksanya.
"Maaf pak, tapi kami tidak bisa memberikan rekaman CCTV kami jika bukan pihak yang berwenang yang memintanya," Jelas Resepsionis
Billy pun menarik kerah pegawai hotel tersebut,
"Dengar! Ini adalah masalah hidup dan mati ku, jika kau tidak bisa memberikannya aku akan menemui pemilik hotel ini!"
"Maaf pak, tapi ini sudah ketentuan dari pihak hotel!" Terlihat wajah ketakutan pegawai tersebut.
Billy pun menghempaskan kasar kerah pegawai itu,
Billy pun berinisiatif untuk menemui pemilik hotel,
Perlu waktu berjam jam untuk bisa menemui si pemilik hotel tersebut.
Hingga sore hari, Billy akhirnya bisa menemui pemilik hotel tersebut.
****
"Saya dengar, Anda ingin menemui saya, Ada apa?" Tanya pemilik hotel
"Maaf pak, tapi saya kesini untuk meminjam CCTV bapak yang merekam kejadian tiga hari yang lalu,"
Si pemilik pun mengerutkan dahinya,
"Kejadian? Kejadian apa itu?"
Billy pun menceritakan tentang apa yang terjadi, sehingga membuat si pemilik hotel memahami situasi yang dihadapi oleh Billy, si pemilik hotel pun mengizinkan Billy untuk memeriksa rekaman CCTV tiga hari yang lalu,
Setelah berjam jam memeriksa, akhirnya Billy menemukan dimana ia masuk ke dalam kamar hotel diikuti oleh Amanda, namun itu tidak cukup bukti untuknya pada Erina, Billy pun kembali berpikir keras bagaimana caranya untuk mendapatkan bukti jika dirinya dijebak.
****
Billy terlihat frustasi, ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya dengan pandangan yang menunduk ke bawah,
"Kau terlihat sangat frustasi Billy? Apa karena kau tidak mendapat jawaban apa apa?" Tanya seseorang yang tiba tiba berada di hadapannya.
Billy yang sudah tidak asing lagi dengan suara itu pun melihat ke arah suara,
"Semua ini gara gara kau!" Bentak Billy.
Amanda menyunggingkan senyuman di ujung bibirnya,
"Sudahlah! Akhiri saja hubunganmu dengan bocah ingusan itu, untuk apa kau bersusah payah mempertahankan hubungan yang tidak sepadan ini,"
Billy pun terdiam untuk sesaat, Ia kemudian menghela nafas dan mengusap wajahnya kasar,
"Kau benar, Aku rasa percuma menjalin hubungan dengan seorang anak kecil,"
Amanda pun menghampiri Billy, dan mengelus lembut punggung Billy.
"Akhirnya, Kau menyadari itu! Setelah terpaksa aku melakukan jebakan untukmu di hotel, rupanya itu bisa membuatmu tersadar dari kesalahan memilih bocah ingusan seperti itu! Kenapa tidak dari dulu aku melakukannya,"
Amanda pun tersenyum penuh kemenangan, Ia kemudian memeluk Billy dari belakang,
Namun, Tiba tiba terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang mereka.
"Prok prok prok,"
Amanda pun melihat ke arah suara, Matanya membulat sempurna saat melihat Diana yang bertepuk tangan diikuti oleh langkah Erina.
"Bravo! Bravo! Aktingmu benar benar sangat bagus sekali Amanda!" Ucap Diana.
Amanda pun melepas pelukannya,
"I-ibu?"
Erina pun menghampiri Amanda dengan raut wajah menahan amarah, tiba tiba..
"Plakk"
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Amanda,
"Itu adalah hukuman bagi orang bermuka dua sepertimu!" Bentak Erina.
"Sebelumnya aku sangat berterima kasih padamu karena kau telah mau membantuku untuk menyatukan Billy dan Erina, juga meyakinkanku jika Erina memanglah yang terbaik untuk Billy, tapi kenapa kau malah berbuat semurahan ini hah?!" Bentak Diana.
Amanda terdiam karena menahan malu,
"Aku pikir, kau benar benar malaikat yang diutus Tuhan untuk menyatukan aku dan Billy, tapi ternyata kau justru menjadi penghalang besar bagi hubungan kami!" Bentak Erina.
"Cukup!!" Bentak Amanda,
Semua orang pun terdiam,
"Ya, Awalnya aku memang hanya ingin membantu Ibu, Tapi berjalannya waktu, Aku merasakan perasaan cinta yang begitu besar padanya! apa aku salah? Katakan, Salahku dimana? Ini semua bukan keinginan ku! Perasaan cinta itu tiba tiba saja ada!" Teriak Amanda sambil meneteskan air mata.
"Aku sudah mencoba untuk membunuh Cintaku! Tapi perasaan ini malah semakin kuat padanya!" Imbuhnya.
"Sejak kecil, Aku sudah menyukai Billy, Tapi dia tidak pernah menatapku, dia malah memilih Lisa saat itu, dan sekarang ketika Lisa sudah tidak bersamanya lagi pun, dia malah lebih memilihmu daripada aku! Apa kurangnya aku?"
Amanda memegang d*d* sebelah kanannya sambil menangis,
"Aku hanya lelah mencintaimu dalam diam, Aku bahkan tidak diberikan waktu untuk memperjuangkan perasaanku!"
Amanda pun terduduk lemah sambil menangis tersedu sedu,