Petunjuk

2080 Kata
Semua orang pun terdiam, "Ya, Awalnya aku memang hanya ingin membantu Ibu, Tapi berjalannya waktu, Aku merasakan perasaan cinta yang begitu besar padanya! apa aku salah? Katakan, Salahku dimana? Ini semua bukan keinginan ku! Perasaan cinta itu tiba tiba saja ada!" Teriak Amanda sambil meneteskan air mata. "Aku sudah mencoba untuk membunuh Cintaku! Tapi perasaan ini malah semakin kuat padanya!" Imbuhnya. "Sejak kecil, Aku sudah menyukai Billy, Tapi dia tidak pernah menatapku, dia malah memilih Lisa saat itu, dan sekarang ketika Lisa sudah tidak bersamanya lagi pun, dia malah lebih memilihmu daripada aku! Apa kurangnya aku?" Amanda memegang d*d* sebelah kanannya sambil menangis, "Aku hanya lelah mencintaimu dalam diam, Aku bahkan tidak diberikan waktu untuk memperjuangkan perasaanku!" Amanda pun terduduk lemah sambil menangis tersedu sedu, Mereka pun terdiam untuk sesaat, Tiba tiba Diana angkat suara, "Kau bertanya apa salahmu? Kesalahanmu karena kau mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain, dan kau mengatakan seolah kau adalah korban yang paling menderita, tanpa berpikir jika perbuatanmu juga melukai hati orang lain, terutama istri Billy! Sejak awal aku sudah memberi tahu padamu agar kau jangan sampai jatuh hati pada Billy, dan saat itu kau menyetujuinya, jadi jangan salahkan siapapun jika kau merasakan luka saat ini," Amanda hanya terdiam dan menangis, **** Setelah kejadian itu, Billy memutuskan semua hubungan dengan Amanda karena ia tidak ingin ada kesalahpahaman yang terjadi lagi diantara mereka. Billy pun kembali harmonis menjalani kehidupan berumah tangga bersama Erina. "Sayang, Aku berangkat dulu ke kantor! Jaga dirimu baik baik, Ibu sudah kembali ke rumah, jadi kau hanya ditemani oleh bibi." Erina pun mengangguk paham, Billy mengecup kening Erina dalam, kemudian ia melangkah pergi. Erina pun memutuskan untuk pergi ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari hari, Ia memutuskan untuk pergi sendiri, karena asisten rumah tangganya tengah sakit, Erina yang sedang asyik memilah milah barang, tanpa ia sadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Tiba tiba orang tersebut menghampiri Erina, dengan senyuman di sudut bibirnya, ia kemudian menyapa Erina, "Bagaimana kabarmu, Erina?" Erina yang tidak asing dengan suara sapaan tersebut pun menoleh ke arah suara, ia sangat terkejut karena mendapati sosok yang dulu menjualnya kepada Billy, "K-kakak?" Erina terlihat gugup dan ketakutan, keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya. Kevin memperhatikan Erina dari atas hingga bawah kaki, dan terlihat Kevin kembali tersenyum miris melihat Erina, "Jadi, kau sekarang berprofesi sebagai pembantu?" Tanya Kevin, Erina hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan sang kakak. Kevin pun mendekat ke arah Erina, "Ternyata Tuan muda itu tau bagaimana cara memperlakukan perempuan sepertimu?" "Kenapa kau ada disini?" Tanya Erina tiba tiba, "Huh, Memangnya kenapa? Kau tidak perlu tau kenapa aku ada disini, tapi yang jelas, sekarang aku tau kau dalam keadaan baik baik saja!" Kevin pun mengitari Erina dan diam diam ia terlihat memasukkan sesuatu ke dalam tas kecil Erina, kemudian Ia pun melangkah menjauhi Erina sambil memiringkan senyuman di sudut bibirnya. Erina terlihat bernafas lega melihat Kevin yang sudah pergi menjauh, Erina sama sekali tidak menyangka jika ia akan dipertemukan kembali dengan kakak angkatnya, Erina pun bergegas melanjutkan belanjanya, setelah semua kebutuhan dibeli, Erina pun melangkah menuju kasir, setelah selesai saat ia melangkah keluar, tiba tiba ada dua orang pihak keamanan yang menghalangi langkahnya, "Maaf, Anda harus ikut kami!" Erina merasa kebingungan dengan ucapan satpam tersebut. "Untuk apa?" "Karena Anda sudah mencuri barang di supermarket ini!" "Eh, mencuri? Aku tidak mencuri apapun!" "Sudah, Ayo ikut!" "Eh, lepas kan aku!!" Kedua satpam itu pun menarik paksa Erina menuju pos keamanan, Mereka menggeledah Erina, dan mereka menemukan sekaleng produk makanan yang berharga cukup mahal. "Ini apa? Dasar pencuri!" Bentak satpam tersebut. "Bukan! Bukan aku! Aku tidak pernah melakukannya!" Jawab Erina. Namun satpam itu pun tidak mendengarkan penjelasan Erina, semua bukti sudah ada di tangannya, dan bukti tersebut cukup untuk mereka membawa Erina ke sel tahanan. "Aku mohon, biarkan aku menghubungi suamiku! Aku tidak bersalah!" Ujar Erina sambil meneteskan air mata. Satpam itu pun mengizinkan Erina untuk menghubungi Billy, Billy yang mendengar cerita dari Erina pun merasa marah dan murka. "Apa? Dituduh mencuri? Kurang ajar!!" Billy melangkah cepat menuju mobilnya, dan bergegas menuju pos keamanan di supermarket tersebut. Tidak butuh waktu yang lama untuk Billy tiba di supermarket tersebut. Setibanya di pos keamanan, "Erina?" Panggil Billy, Billy pun mendapati Erina yang tengah duduk di kursi dengan tangan terikat, Billy langsung murka melihat istrinya diperlakukan seperti itu, "Kurang ajar!! Apa yang kalian lakukan. Pada istriku, Hah?!" Billy berteriak kepada kedua satpam itu, ia pun menarik kerah salah satu satpam, "Tuduhan mu terhadap istriku sama sekali tidak masuk di akal!" bentak Billy, "Aku bahkan bisa membeli supermarket ini dan memecat mu dari sini!!" Imbuhnya. Dengan mata yang mem-bola, dan amarah yang meledak ledak, Kedua satpam itu mencoba untuk menenangkan Billy, "Maaf pak, tapi ini sudah ketentuan dari pihak supermarket, nona ini telah mencuri salah satu produk, jadi dia akan kami bawa ke kepolisian," Billy pun menghubungi seseorang, setelah itu tidak lama datanglah orang yang Billy hubungi. Seorang pria paruh baya yang berperawakan tinggi besar, putih dan memakai setelan jas. "Maaf Tuan, Mereka adalah satpam baru, jadi Mereka belum tau!" Ucapnya diiringi senyuman. Pria itu pun menghampiri kedua satpam tersebut, "Lebih baik kalian minta maaf, atas kesalahan kalian, jika kalian tidak ingin mati sia sia!" Bisik manajer. "Tapi manajer, dia.." Ucap satpam terpotong "Apa kau percaya istriku mencuri barang murahan itu? Aku bahkan bisa memberikannya satu gudang penuh hanya untuk makanan seperti itu!!" Tegas Billy. "Kalian tidak tau dengan siapa kalian berhadapan? Beliau adalah Tuan Muda Billy, beliau memiliki perusahaan kuliner ternama, dan juga beberapa perusahaan yang lainnya, dan produk yang kalian temukan itu adalah salah satu produk milik Beliau!" Ucap pelan Manager. Salah satu satpam pun bergegas melepaskan borgol yang melingkar di tangan Erina, "Maafkan kami Nona, Kami tidak tahu jika Nona adalah istri Tuan Billy!" Ucap kedua satpam tersebut. Billy pun menarik tangan Erina untuk pergi dari sana, **** Setibanya di rumah, Billy tak Henti hentinya menggerutu atas sikap kedua satpam itu kepada Erina, "Sembarangan saja mereka dalam menangkap orang lain! Mereka pikir siapa mereka!" Erina mencoba menenangkan Billy, dan memegang tangan nya. "Tenanglah, Aku rasa bukan sepenuhnya kesalahan mereka," Erina pun menatap ke arah Billy, "Aku rasa, Kakak lah yang menjebakku!" "Kakak? Maksudmu Kevin? Yang menjualmu padaku?" Erina pun mengangguk pelan, Pandangan Erina pun tertunduk, perlahan pegangan tangannya pun melonggar, "Aku tadi bertemu dengan kakak saat di supermarket," Billy pun memegang kedua bahu Erina, "Apa yang dia katakan?" Erina kembali menatap ke arah Billy, "Tidak ada, Dia hanya bertanya kabarku, dan… Kakak menyangka jika aku adalah pembantu mu." Billy pun memeluk Erina erat, "Tidak apa apa, Aku akan menjagamu! Aku berjanji padamu!" Erina pun mengangguk, **** Di lain sisi… Kevin terlihat sedang tertawa terbahak bahak bersama sang adik Theo di sebuah rumah yang kecil, "Ha ha ha.. Kau benar benar gila kak!" Ujar Theo, "Ha ha ha… Itu adalah akibat karena dia sudah menghancurkan keluarga kita! Karena anak pungut itu, Ayah dan Ibu meninggal!" Ungkap Kevin. Untuk sesaat mereka terdiam, Tiba tiba raut wajah Theo berubah sedih, Ia teringat dengan bayang bayang orang tuanya, Pandangan Theo pun tertunduk, dan terlihat sesekali ia menghapus air matanya kasar dengan kedua tangannya. "Aku.. Merindukan Ayah dan Ibu," Kevin pun menepuk lembut bahu Theo, Ia mencoba untuk tidak ikut hanyut dalam kesedihan itu, "Seandainya, Ayah dan Ibu masih ada, mungkin sekarang kita tidak akan hidup dalam kesengsaraan seperti ini," Pandangan kevin pun ikut tertunduk, "Seandainya, Aku bisa menjaga adik kita saat itu, mungkin ayah dan ibu tidak akan mengadopsi anak lain, dan kita tidak akan kehilangan kedua orang tua kita hanya karena permintaan konyol dari Erina!" #Flashback Kevin yang berusia delapan tahun, saat itu sedang bermain dengan adiknya yang masih bayi di taman dekat rumahnya, sementara sang ibu sedang mengantar Theo untuk membeli es krim, Tiba tiba datanglah seorang wanita paruh baya menghampirinya, "Nak, Apa dia adikmu?" Kevin pun mengangguk, "Oh ya, Apa kau tahu? Ibumu tadi menyuruhku untuk memanggilmu, Karena Ibumu tidak tahu harus membeli yang mana?" Tanya wanita itu "Kau siapa?" Tanya Kevin seraya memperhatikan penampilan wanita itu. Wanita itu terlihat sedikit gugup, "Emm, Aku adalah teman ibu mu!" "Oh, Begitu ya? Baiklah, Aku akan pergi ke tempat ibuku dulu, Bibi tolong titip adikku ya!" Kevin yang polos bergegas menemui sang ibu, Setibanya di tempat es krim, "Kevin, dimana adikmu?" Tanya sang ibu. "Aku meninggalkannya bersama Bibi," "Bibi?" Sang ibu pun syok mendengar perkataan dari Kevin, hingga es krim yang ia pegang pun jatuh berserakan. Sang ibu pun berlari menuju ke tempat bayinya, namun sesampainya disana, Ia tidak menemukan apapun, Sang ibu pun mencari cari ke sekeliling tempat namun Ia tidak menemukan apapun. "Putriku!!!" Teriak Sang ibu, **** Kevin pun menghela nafas kasar, mengingat kejadian itu. "Benar benar menyebalkan! Aku tidak ingin menangis lagi seperti ini!!" Kevin menghapus air matanya kasar, **** Setelah mendengar dari Erina, jika Kevin sudah pernah menemuinya tanpa sepengetahuan Billy, Billy pun memperketat penjagaan, Hingga tanpa sepengetahuan Erina, Billy memberikan sebuah gelang untuk memberikan alarm yang terhubung ke ponselnya jika ia dalam bahaya, "Kenapa aku harus menggunakan gelang ini?" Tanya Erina, Billy yang tengah memasangkan gelang tersebut pun menjawab "Sudahlah, pakai saja! Lagipula gelang aneh seperti ini, lebih cocok untukmu!" "Apa?!" Teriak Erina. "Hehe," Billy terkekeh melihat reaksi Erina. Erina pun menepis kasar tangan Billy, "Sudah!" Erina hendak melepas kembali gelang tersebut, namun dihalangi oleh Billy "Jangan!" Erina menatap ke arah Billy, "Gunakan gelang ini, jangan pernah lepaskan apapun yang terjadi! Berjanjilah!" Billy menatap Erina dalam, terlihat keseriusan dari mata Billy, hingga membuat Erina tidak jadi melepas gelang itu. **** Di kantor, Billy terlihat cemas dan tidak berkonsentrasi saat meeting, Ryan yang menyadari itu pun mencoba bertanya "Kau tidak apa apa?" "Aku, khawatir pada Erina." "Ada apa?" "Kemarin Lusa Kakaknya menemui Erina." "Apa?" Ryan terlihat syok sama seperti Billy, Ryan tahu jika Kevin orang yang cukup berbahaya, apalagi kemungkinan Kevin untuk menyakiti Erina sangat besar. "Lalu, bagaimana tindakanmu sekarang?" Billy pun terlihat menarik nafas panjang, "Aku sudah memperketat penjagaan, tapi aku rasa itu saja tidak cukup!" Billy melihat ke arah Ryan, "Aku akan mengambil cuti untuk menjaganya, setidaknya untuk sementara waktu," Ryan pun mengangguk pelan, "Jika itu memang perlu dilakukan, kenapa tidak? Lakukan saja," Billy pun terdiam, **** Sementara itu, Kevin dan Theo yang sedang menikmati makan siang, tiba tiba teralihkan perhatiannya saat melihat Billy di televisi, "Oh, Jadi dia mendapat penghargaan pengusaha muda terbaik tahun ini? Boleh juga, tapi sayang, publik tidak tahu seberapa b***t nya dia, Huh!" Kevin dan Theo tiba tiba dikejutkan dengan wajah Erina yang ikut tampil di televisi tersebut, terdengar di berita jika Erina adalah istri sah Billy. Seketika sendok yang sedang ia pegang pun jatuh ke lantai mendengar berita itu, Theo pun langsung menggebrak meja di hadapannya, "Kurang ajar!! Jadi dia bukan menjadi pembantu seperti yang kau kira kak! Dia justru yang menjadi ratu di rumah Tuan Muda kaya raya itu!" Bentak Theo Kevin terlihat diam dengan raut wajah kesal, "Huh, Selama ini kita menderita dan harus mencuri hanya untuk sepiring makanan, Tapi, gadis sialan itu, malah jadi ratu?!!" Tukas Kevin "Lihat saja, Aku tidak akan membiarkan itu! Dia harus lebih menderita daripada kita!! Aku akan buat dia menyesal karena sudah menjadi penyebab tidak adanya ayah dan ibu!" "Aku juga tidak rela, jika dia lebih berbahagia daripada kita kak!" Teriak Theo. Kevin pun mengepalkan tangannya kuat, dan rahangnya yang mengeras, Ia menahan Amarahnya yang seakan ingin meledak. **** Erina sedang menikmati makan malam bersama Billy, hingga suara dering ponselnya terdengar, Erina pun meraih ponselnya dan mengangkat telepon tersebut, Erina terlihat syok setelah mengangkat telepon itu, "Ada apa?" Tanya Billy "I-ibu?" "Ibu? Siapa?" "Ibu Ariana, dia meninggal!" Erina pun meminta Billy untuk mengantarnya ke yayasan yatim piatu tempatnya dibesarkan dulu. Setibanya disana, Erina melihat tubuh kaku Ariana yang terbaring, dan tertutupi kain. Erina pun menangis tersedu sedu, "Bu! Kenapa ibu meninggalkan ku? Aku sudah tidak punya siapa siapa, hanya ibu satu satunya ibu ku!" Erina memeluk erat jasad yang terbujur kaku tersebut, Tiba tiba seseorang menghampiri Erina, dan ia adalah pengganti Ariana dalam mengurus yayasan yatim piatu tersebut. "Maaf, Erina?" Erina pun menatap ke arah suara, "Ibu Ariana menyampaikan sesuatu tentang informasi kedua orang tuamu," **** Erina pun duduk bersama pengurus yatim piatu yang baru, Ia menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang dan Erina pun mengambilnya "Ini apa?" "Bukalah," Erina pun membukanya, Terlihat sebuah liontin berbentuk bulat dengan permata berwarna merah di tengahnya, "Ibu ariana mengatakan jika kalung itu ada bersama dengan mu saat bayi, Ariana berharap dengan itu kau bisa menemukan siapa ibu dan ayahmu!" Erina pun memeluk erat liontin tersebut, "Terima kasih bu," Gumam Erina. Billy pun memeluk erat Erina, dan mengelus lembut punggungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN