Sepanjang perjalanan pulang Erina terlihat melamun sambil terus memperhatikan liontin pemberian dari pengganti Ibu asuh nya Ariana.
Billy yang melihat Erina melamun pun mencoba untuk bertanya
"Apa ada yang sedang kau pikirkan?"
Erina pun menatap ke arah Billy,
"Tidak apa apa, hanya saja ada yang mengganggu pikiran ku,"
"Apa itu?"
"Kenapa ibu baru sekarang memberi tahu tentang liontin ini? Kenapa tidak sejak dulu saat aku masih tinggal di sana?"
Billy pun terdiam dan baru menyadari apa yang diucapkan oleh Erina ada benarnya,
Namun Erina tidak ingin ambil pusing dengan pemikirannya yang terlalu jauh.
****
Setiap hari Erina selalu mengenakan liontin tersebut berharap jika suatu hari ia akan bertemu dengan keluarga kandungnya dan mengenalinya melalui liontin tersebut,
Hari ini, Erina menemani Billy untuk menghadiri sebuah pesta peresmian cabang perusahaan milik teman Billy, Erina yang menggunakan dress berwarna putih selutut tanpa lengan dengan rambut panjang sedikit bergelombang dan menggunakan make up yang natural terlihat sangat menawan, dan Billy yang menggunakan setelan jas berwarna hitam dan dasi yang berwarna senada, mereka terlihat sangat serasi sehingga menjadi perhatian semua mata.
"Sayang, Aku ke toilet dulu sebentar! Tunggulah,"
Billy berpamitan pada Erina untuk pergi ke toilet, Erina pun menunggu Billy sambil memilih cemilan untuknya dan Billy,
Tanpa sengaja Ia menabrak seorang wanita paruh baya yang berada di hadapannya yang juga sedang memilih cemilan.
"Ah, M-maaf.. Aku tidak sengaja!"
Wanita paruh baya itu pun hanya terdiam dengan wajah datar nya, matanya memperhatikan Erina dari bawah hingga pandangannya terhenti pada sebuah liontin yang Erina kenakan, raut wajahnya pun berubah ketika ia melihat liontin yang digunakan oleh Erina, Ia terlihat terkejut,
"Dari mana kau dapat liontin itu?"
Erina refleks memegang liontin dan melihatnya,
"Oh , Ini.. Ini pemberian dari orang tuaku!"
Wanita paruh baya itu pun tiba tiba menarik liontin itu dari leher Erina, dan memperhatikannya dengan seksama,
Erina dibuat sangat terkejut oleh sikap wanita itu,
Terlihat matanya membola saat ia mendapati satu hal yang ia yakini liontin ini adalah liontin asli, Ia melihat angka 121201 yang tersusun di liontin tersebut, dengan inisial AKL.
"Tolong kembalikan! Itu milikku!" Pinta Erina,
Erina yang hendak mengambil kembali liontin nya pun tidak mampu mengambilnya, karena dipegang erat oleh Wanita itu.
"Aku mohon, itu satu satunya peninggalan keluargaku."
Wanita paruh baya itu pun kembali memberikan liontin tersebut pada Erina, dan pergi begitu saja, Sedangkan Erina hanya memiringkan kepalanya dan menatap heran ke arah wanita tersebut,
Tiba tiba,
"Hey!"
Billy yang tiba tiba datang membuat lamunan Erina pun buyar,
"Mengagetkan saja!"
"Kau melihat apa?"
"Aku tadi bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang aneh,"
"Aneh? Aneh Kenapa?"
"Itu karena, dia… Ah sudahlah! Ayo kita makan!"
Billy dan Erina pun menikmati makanan yang disajikan,
****
Setelah acara selesai, Erina yang tengah menunggu Billy mengambil kendaraannya di parkiran, tiba tiba kembali dihampiri oleh wanita paruh baya yang tadi,
Erina pun menatapnya lekat dengan sedikit rasa takut, tangannya pun memegang erat dompet kecil miliknya,
"Aku ingin berbicara sebentar denganmu," Ujar wanita paruh baya tersebut,
Awalnya Erina ingin menolak ajakan wanita itu, namun ia juga merasa penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh wanita paruh baya tersebut
Wanita paruh baya itu pun membawa Erina ke sebuah Cafe dekat tempat acara,
"Langsung saja, Apa kau berasal dari panti asuhan?"
Erina pun mengangguk pelan,
Wanita paruh baya itu pun tersenyum,
"Sudah bisa dipastikan, Kau adalah Kirana, bukan?"
Erina mengernyitkan dahinya, heran melihat wanita paruh baya tersebut, karena tiba tiba ia mengatakan hal yang tidak dipahami oleh Erina.
"M-maaf, Tapi aku bukan Kirana!"
Wanita Itu pun menghela nafas kasar seraya tersenyum sinis,
"Ha, Iya.. Nama mu pasti bukan Kirana! Seseorang pasti sudah mengganti namamu,"
'Degh'
Erina mencoba untuk mencerna perkataan dari Wanita tersebut.
"Tunggu, Apa maksud anda?"
Wanita itu pun tertawa,
"Aku tidak tahu sama sekali, kenapa Tuhan menakdirkan ku untuk kembali bertemu denganmu, Tapi aku harap tidak lebih dari ini, karena hidupku sudah bahagia sekarang,"
Erina semakin tidak mengerti arah pembicaraan wanita ini.
"Apa sebenarnya maksud Anda?"
Tiba tiba wanita itu pun mengulurkan tangannya,
"Nama ku Lilian, dan aku adalah ibu kandungmu!"
Mata Erina membulat sempurna mendengar pengakuan dari wanita paruh baya ini,
"K-kau adalah i-ibu ku?"
Lilian pun mengangguk diiringi senyuman,
Erina menggeleng kuat,
"Tidak mungkin! Aku tidak akan percaya begitu saja pada ucapan seseorang yang tidak aku kenal,"
Lilian pun kembali tertawa,
"Ha ha-ha, Kau pikir, apa untungnya untukku mengaku seperti itu? Aku tidak akan mengenali itu kau jika aku tidak melihat liontin itu,"
"Di dalam liontin itu tertulis angka 121201, itu adalah tanggal kelahiranmu, dan AKL adalah gabungan inisial nama ayahmu, namamu, dan namaku," Imbuhnya,
Erina pun memeriksa liontin nya, dan menemukan angka dan inisial yang dikatakan oleh Lilian,
Rasa haru pun menyelimuti Erina, Erina langsung merasakan rasa sayang sebagai seorang anak, Ia yang ingin langsung memeluk sang ibu tiba tiba ditahan oleh Lilian,
"Huh, Kau tidak usah menyentuhku! Karena, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai putri ku!"
'Degh'
Ucapan Lilian sontak membuat Erina mematung, kedua tangan yang tadinya ingin merangkul sang ibu pun terhenti, Mata Erina terlihat berkaca kaca,
Saat saat yang Erina nanti kan apabila ia bertemu dengan sang ibu kini telah melebur bersama dengan rasa kecewa yang harus ia telan, Ia tidak menyangka jika sang ibu akan berbuat sekasar itu padanya di hari pertama ia mengenal siapa ibunya,
"I-ibu?"
Lilian pun berdiri dari duduknya, dengan tatapan sinis nya ia berkata,
"Aku tidak tahu apa tujuanmu datang kembali ke dalam kehidupanku, Tapi yang jelas Aku tidak akan pernah menerimamu kembali dalam kehidupan ku!"
Lilian pun melangkah pergi meninggalkan Erina dengan pandangan tertunduk menahan tangis.
****
Billy yang tidak mendapati Erina setelah kembali dari mengambil mobilnya, memutuskan untuk mencari Erina di sekitar area acara, namun ia tidak menemukan nya,
Billy pun mencoba untuk menghubungi Erina, tetapi ponselnya tidak aktif, Billy yang merasa khawatir terus saja mencari keberadaan Erina,
Hingga ia melihat, sosok Erina yang tengah duduk di bangku sendirian sambil menangis,
"Erina?"
Erina pun melihat ke arah Billy,
Billy pun langsung memeluk Erina erat dan mencoba menenangkan nya.
Billy pun membiarkan Erina menangis untuk beberapa saat
****
Setelah melihat Erina yang berangsur tenang, Billy pun mencoba untuk bertanya tentang apa yang terjadi,
"Ada apa?" Tanya Billy.
Erina pun kembali menghapus kasar air matanya,
"Aku, Aku tadi bertemu dengan ibu kandungku sendiri,"
Terlihat raut wajah bahagia Billy mendengar ucapan Erina,
"Benarkah? Itu adalah berita yang membahagiakan, tapi kenapa kau malah menangis?"
"Karena, Karena.. Ibuku.."
Erina yang berbicara terbata bata tak mampu mengatakan apa yang terjadi,
Billy pun membelai lembut kepala Erina,
"Ceritakan pelan pelan, Ya?"
Erina pun mengangguk,
"Ibu, Ibu tidak mau menerimaku sebagai anaknya! Dia bahkan tidak menginginkan ku! Dia sengaja membuang ku ke panti, tapi dia tidak memberitahuku alasannya, kenapa dia bisa sangat membenciku, aku sendiri tidak tau,"
Tangis Erina pun pecah,
Billy menarik Erina ke dalam pelukannya, dan mencoba untuk kembali menenangkan Erina.
"Kenapa ibu jahat padaku? Kenapa Ibu tidak menginginkan ku? Apa aku anak yang lahir dari hubungan terlarang? Apa Salahku?"
Billy mengeratkan pelukannya,
"Kenapa?" Teriak Erina,
Billy pun menarik Erina ke dalam pelukannya, menepuk punggung nya lembut mencoba untuk menenangkan Erina.
****
Keesokkan harinya, Erina terlihat melamun dan tidak keluar dari kamarnya, karena merasa khawatir Billy pun memutuskan untuk menemani Erina,
Billy yang membawa se nampan makanan kembali membujuk Erina agar ia mau makan, Namun Erina hanya menggelengkan kepalanya.
****