Masa laluku

1627 Kata
Billy yang melihat Erina murung setiap harinya, akhirnya membujuk Erina dengan sebuah idenya, "Bagaimana jika kita mencari tahu sendiri kenapa Ibumu bersikap seperti itu padamu?" Erina pun menatap lekat Billy, "Setidaknya setelah kau tau, kau bisa melanjutkan kembali kehidupan mu bersamaku tanpa harus merasa sedih seperti ini," Ujar Billy seraya mengelus rambut Erina. Erina pun mengangguk setuju, "Kalau begitu, untuk mencari tahu sebuah informasi kau memerlukan tenaga bukan?" Billy mengambil mangkok yang berada di atas meja kecil, "Sekarang, kau harus makan dulu, ya?" Ucap Billy sambil menyuapi Erina, **** Beberapa hari berlalu, namun Erina belum menemukan petunjuk apapun tentang sang ibu, Billy pun menghubungi temannya yang mengadakan acara peresmian kemarin, meminta data orang orang yang diundang, karena menurut Erina ibu nya itu menjadi salah satu orang yang diundang dalam acara tersebut. Billy pun meminta bantuan Ryan untuk mencari data dari nama nama tamu yang ia terima. Ryan pun mengumpulkan nama nama tamu beserta foto mereka, butuh waktu yang cukup lama untuk Ryan mengumpulkannya, Setelah selesai, Ryan pun bergegas menghubungi Billy dan Erina, Mereka pun bertemu di Cafe milik Ryan, "Jadi, bagaimana? Kau sudah mendapat informasinya?" Tanya Billy, Ryan pun mengangguk, dan memberikan sebuah map berwarna merah yang ditaruh diatas meja, Billy pun memberikannya pada Erina, "Diantara mereka, coba kau perhatikan mana yang mirip dengan ibumu?" Ujar Billy, Erina pun meraih map itu dan membuka satu persatu lembaran kertas itu, Ia melihat sebuah foto beserta identitas di sampingnya. Hingga pada lembaran berikutnya, Ia melihat foto seorang wanita paruh baya yang mirip dengan seseorang yang menemuinya beberapa hari yang lalu, Erina pun memperhatikan identitas wanita itu, dan ternyata namanya persis dengan yang ia dengar dari wanita itu, Erina pun menunjuk foto tersebut, "Ini, ini ibuku!" Pandangan Billy dan Ryan pun langsung tertuju pada foto yang Erina tunjuk, mereka pun terkejut dan saling menatap satu sama lain, rupanya wanita paruh baya ini bukanlah orang asing bagi mereka, mereka sangat mengenal wanita ini. "I-ini tidak mungkin!" Billy menggeleng kuat, Ia tidak percaya jika wanita yang ia kenal itu adalah Ibu dari Erina, "Ada apa?" Erina menatap heran melihat reaksi Billy dan Ryan, "Apa kalian mengenal nya?" Billy dan Ryan pun terdiam, "Katakan! Apa kalian mengenalnya?" Ucap Erina dengan nada tinggi. Ryan pun menarik nafas panjang, "Iya, kami sangat mengenal Nyonya Lilian." "Dia adalah ibu Lisa, mantan kekasih Billy." Terang Ryan Erina pun mengalihkan pandangannya ke arah Billy, Billy terlihat tertunduk. "Apa, Itu benar?" Billy pun mengangguk pelan, **** Erina mengetahui alamat tempat tinggal Lilian dari Ryan, kemudia Ia berusaha untuk menemui Lilian di rumahnya, namun Lilian selalu menolak untuk bertemu, Erina yang tidak berputus asa, ia terus membujuk Lilian untuk mau menemui Erina, Hari ini pun, Erina kembali datang ke rumah Lilian, "Kau lagi? Untuk apa kau datang kesini setiap hari?" Ucap sinis Lilian, "Bu, Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar saja," "Huh, mau seperti apapun, aku tidak akan pernah mengakuimu!" Erina menggeleng cepat, "Bukan itu bu, Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, sampai ibu tega membuang ku?" Namun, Lilian hanya memutar kedua bola matanya, malah hendak menutup pintu rumahnya, Erina pun menghalangi pintu itu dengan kakinya, "Bu, tolong jelaskan!" "Huh, Aku tidak ingin membahas tentang hal itu!" Lilian pun mendorong Erina hingga ia jatuh tersungkur dan Lilian membanting pintu rumahnya hingga tertutup rapat. Erina menangis dan kembali menggedor pintu rumah Lilian, "Bu! Aku mohon, bicaralah! Aku butuh penjelasan bu!" Teriak Erina. Namun, pintu tetap tertutup rapat. **** Erina melangkahkan kaki untuk pulang, dengan pandangan yang kosong ia terus melangkah dengan air mata yang terus mengalir begitu saja, Erina yang tidak memperhatikan jalan, Tiba tiba… "Titt.. Titt.." Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti mendadak tepat di hadapan Erina, seseorang pun keluar dari mobil tersebut dan menghampiri Erina, dengan raut wajah kesalnya, "Apa kau tidak melihat jalan hah?!" Bentaknya, Erina hanya terdiam dengan pandangan tertunduk, Melihat Erina yang tidak bereaksi dan terlihat seperti seorang yang depresi, Orang itu pun tiba tiba merasa iba melihat raut wajah Erina yang kacau, Ia kemudian membawa Erina ke taman terdekat, memberikannya minuman dan mencoba untuk menenangkannya. "Ini, minumlah!" Ucapnya sambil menyodorkan minuman kaleng bersoda pada Erina, "Terima kasih," Tanpa menatap wajahnya, Erina mengambil minuman kaleng itu dan meminumnya, Kemudian, Erina mendongakkan kepalanya dan melihat pemuda itu mengulurkan tangannya, "Nama ku Rendra," Erina pun menjabat tangan pemuda itu, "Aku Erina," Ia kemudian duduk disamping Erina, "Sepertinya, kau sedang memiliki masalah yang berat?" Tanya Rendra Erina hanya mengangguk pelan tanpa menatap pemuda itu, "Baiklah, kalau begitu apapun masalah yang sedang kau hadapi, tetaplah berpikir jernih, dan tersenyumlah meskipun kau tidak mampu," Erina pun melihat ke arah Rendra, tanpa mengeluarkan kata apapun, Rendra pun berdiri dan kembali menatap Erina, "Baiklah, Aku pergi dulu! Sampai jumpai!" Rendra pun melangkah pergi begitu saja meninggalkan Erina, **** Billy yang sudah mencoba menghubungi Erina lebih dari sepuluh kali, membuatnya semakin khawatir karena ponsel Erina yang tidak aktif, Ia kemudian mencoba mencari keberadaan Erina, "Sayang, kau dimana?" Gumamnya, Hingga sudut matanya menangkap sosok seorang gadis yang tengah duduk termenung di pinggir taman dengan sekaleng minuman ringan, di tangannya, "Erina?" Billy pun memutar balik kendaraan nya, dan bergegas menghampiri Erina, Ia langsung memeluk Erina dengan erat, "Kau kemana saja? Aku sudah mencarimu kemana mana!" Billy melepas pelukannya, dan melihat Erina yang meneteskan air mata begitu saja. "Tenanglah," Billy melihat Erina yang begitu frustasi akan masalah nya bersama Lilian, membuatnya merasa sangat sedih. Billy pun membawa Erina kembali pulang ke rumah. **** Melihat keadaan Erina yang terpuruk, membuat Billy mengambil tindakan sendiri. Tanpa sepengetahuan Erina, Billy meminta bantuan Ryan untuk mencari tahu kebenaran tentang Lilian, "Ryan, Aku harap kita bisa segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Aku tidak ingin melihat Erina menjadi terpuruk seperti itu," "Baiklah, Aku akan menyelidiki secepatnya," Ryan dan Billy pun memulai penyelidikan tentang masa lalu Lilian, mereka mengorek informasi dari beberapa orang terdekat Lilian, Hingga mereka pun menemukan sebuah kenyataan yang cukup mengejutkan mereka, Billy mengusap wajahnya kasar, "Aku tidak menyangka, ternyata itu yang terjadi, dan Erina benar benar adalah adik Lisa?" Ujar Ryan Billy pun menghela nafas kasar, "Aku tidak tahu, bagaimana cara untuk menjelaskannya pada Erina," Ucap Billy "Jika Erina tahu, Apa itu tidak akan membuatnya semakin terpuruk?" "Lalu, Bagaimana sekarang kita menjelaskan pada Erina tentang ini?" Billy dan Ryan pun kembali terdiam, "Menjelaskan apa?" Erina tiba tiba masuk ke dalam ruangan Billy, dan mendengar pembicaraan mereka. Billy dan Ryan pun saling menatap, begitu pula dengan Erina yang menatap mereka bergantian, "Apa? Katakan! Apa yang ingin kalian jelaskan?" Tanya Erina penasaran Namun, Billy dan Ryan tetap terdiam, terlihat raut wajah bingung mereka. "Apa kalian akan terus diam?" Erina yang merasa kesal pada mereka pun akhirnya melangkah pergi setelah meletakkan paper bag berisi makan siang untuk Billy. "Erina, Tunggu!" Panggil Billy Billy pun mengikuti langkah cepat Erina, dan berhasil mendahuluinya. Billy memegang lengan Erina, Namun Erina menghempaskan kasar pegangan Billy, Ia kemudian memegang kedua bahu nya, "Dengar, Aku akan menjelaskan semua yang aku tahu padamu! Tapi jangan seperti ini!" Erina pun menatap tajam ke arah Billy sambil melipat kedua tangannya di d*d*nya. "Kalau begitu, jelaskan padaku!" Billy menghela nafas kasar, "Dari informasi yang aku tahu, Nyonya Lilian dulu pernah memiliki skandal dengan seorang pria beristri bernama Alan, padahal dia sudah memiliki seorang suami dan juga seorang putri berusia 8 Tahun saat itu, dan dari hubungannya itu, Ia memiliki seorang putri, awalnya Nyonya Lilian akan bercerai dengan suami nya dan menikah dengan Tuan Alan, namun ternyata Tuan Alan lebih memilih istri dan anak anaknya, itu membuat Nyonya Lilian depresi dan hampir gila, tapi beruntung suami nya tidak meninggalkannya, dan mau memaafkan nya, namun dengan syarat putri dari hasil hubungannya bersama Tuan Alan harus dibuang," "M-maksudmu? A-aku adalah…?" Mendengar penjelasan Billy, Erina langsung diam terpaku, buliran bening itu pun kembali lolos membasahi matanya, perlahan tubuhnya pun terasa lemas, hingga ia ambruk jatuh terduduk. Erina tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Tangis Erina pun semakin pecah disaat Billy memeluk nya erat. **** Pagi ini, Erina seperti biasa menyiapkan sarapan untuk Billy, namun karena melamun tanpa sengaja jarinya teriris, "Aww," Ringis Erina Billy yang baru saja tiba di dapur langsung menghampirinya saat mendengar ringisan Erina. "Kau tidak apa apa?" Billy melihat jari Erina yang berdarah, dan langsung membasuh darah itu dan mengobatinya. "Lain kali, berhati-hati lah!" Erina hanya mengangguk, Billy pun memegang wajah Erina, "Jangan bersedih lagi! Aku tidak tahan melihatmu bersedih seperti itu!" Erina pun menundukkan pandangannya, "Bagaimanapun masa lalumu, itu tidak akan mengubah rasa sayangku padamu, Kau akan tetap menjadi istriku, Nyonya Billy Owent" Mendengar itu, Erina pun tersenyum tipis. "Berjanjilah, Kau akan melanjutkan hidupmu bahagia bersamaku, tanpa memikirkan masa lalumu," Billy menatap dalam mata Erina, Hingga wajahnya pun semakin mendekat, dan kecupan lembut itu pun terasa oleh Erina. Wajah Erina pun terlihat memerah menahan malu, "Kau masih saja merasa malu seperti itu, padahal aku kan suamimu," Goda Billy Erina pun mencubit perut Billy, hingga Billy meringis kesakitan. "Aww," Erina pun tertawa melihat reaksi Billy, **** Dilain sisi, Lilian menghampiri Lisa yang tengah melamun di kamarnya, Setelah putusnya hubungan Lisa dan Billy, Lisa hampir tidak pernah terlihat tersenyum lagi, Lilian pun mengelus lembut rambut Lisa, "Sayang, Ayo kita makan!" Lisa menatap sendu sang ibu, dan mengangguk pelan Lisa terlihat seperti mayat hidup bagi ibu nya, tidak ada lagi keceriaan dan senyuman manis putrinya yang menghiasi hari harinya, Lilian memperhatikan sang putri dengan mata berkaca kaca, Ia tahu benar kesakitan yang dialami oleh putrinya. 'Aku akan memastikan, kebahagiaan itu kembali lagi padamu.' Batin Lilian. **** Setiap hari Billy selalu meluangkan waktu berdua untuk menemani Erina, dan itu membuat Erina bahagia dan perlahan melupakan kesedihannya. "Bagaimana jika hari ini, kita pergi ke taman hiburan?" Ajak Billy. Erina pun berpikir sejenak, "Emm, Baiklah! Ayo!" Billy pun menggandeng tangan Erina lembut, Di taman hiburan Billy terus saja menggandeng tangan Erina, dan menggoda sehingga membuat Erina tertawa, Mereka menghabiskan waktu bersenang senang dan tertawa bersama,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN