Malam ini, gerimis hujan membasahi sudut sudut kota, tampak seorang wanita paruh baya yang tengah duduk di salah satu kursi di dalam sebuah restoran cepat saji, udara dingin yang menusuk kulit tak menyurutkan niatnya untuk menemui seseorang.
Tak lama, Sudut matanya pun mendapati seseorang yang telah ia tunggu sejak dua puluh menit yang lalu, seorang pemuda nampak berjalan ke arahnya, dan Ia terlihat menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya,
"Selamat malam Nyonya,"
"Selamat malam,"
Mereka pun duduk berhadapan, tanpa basa basi wanita paruh baya ini menceritakan sesuatu pada seorang pemuda yang ia temui, Hingga akhirnya sebuah kesepakatan pun disetujui oleh kedua belah pihak dengan diakhiri jabat tangan,
Sebuah rencana besar mereka susun untuk seseorang, dengan keuntungan untuk kedua belah pihak.
Pertemuan ini pun tidak berlangsung lama, wanita paruh baya ini pun langsung berpamitan Setelah menemukan kesepakatan.
"Ini akan sangat menyenangkan," Ujar si pemuda yang langsung meneguk segelas minuman yang ada di hadapannya.
****
Ryan sepagi ini sudah berada di rumah Erina, Ia datang untuk menemui Billy di rumahnya, Terlihat Ryan yang tengah menunggu si empunya rumah di ruang tamu,
Tak lama kemudian, seseorang yang ia tunggu pun datang menghampirinya dengan masih mengenakan baju piyama dan wajah bantalnya,
"Ada apa, sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu yang penting sampai sepagi ini kau membangunkan ku?"
Ryan pun menyilangkan kedua kakinya dan menatap lekat Billy,
"Billy, Apa kau tidak ingin tahu, kebenaran tentang Nyonya Lilian?"
Billy menatap heran ke arah Ryan,
"Maksudmu?"
Ryan Menghela nafas kasar,
"Apa yang kau jelaskan kemarin kepada Erina, itu hanya sebatas kesimpulan saja, tapi kita masih belum menyelidiki sejauh itu,"
Billy terlihat mengacak ngacak rambutnya,
"Sudahlah! Lagi pula, Erina sudah melupakan hal itu,"
Billy pun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Ryan.
'Entah kenapa, Aku merasa apa yang dialami Erina saat sekolah waktu itu ada hubungannya dengan kemunculan Lilian yang tiba tiba.' Batin Ryan
****
Erina yang tengah menyiapkan sarapan pagi, di kejutkan oleh sebuah tangan kekar yang tiba tiba melingkar di pinggangnya,
"Ha, Kau mengagetkanku!"
Billy tersenyum melihat reaksi Erina, Ia mencium bahu Erina,
"Apa yang kau buat?"
"Aku hanya sedang membuat pancake untuk sarapan,"
"Sepertinya enak,"
Billy pun mencoba pancake tersebut tanpa menggunakan sendok hingga membuat Erina menepis tangan Billy kasar,
"Jangan seperti itu! Gunakan sendok ini!"
Billy pun terkekeh dan menggunakan sendok yang disodorkan oleh Erina,
"Ternyata benar, Ini enak sekali!"
Erina pun tersenyum menatap Billy,
"Oh ya, Dimana kakak? Ajaklah dia untuk sarapan bersama kita,"
"Tidak usah! Lagi pula dia sudah pergi,"
Erina mengubah raut wajah nya dan menatap tajam Billy,
"Kau tidak boleh bersikap seperti itu! Biar aku yang mengajaknya sarapan,"
Billy pun hanya menatap kepergian Erina,
****
Sesampainya Erina di ruang tamu, Ia tidak melihat sosok Ryan disana, Ia pun kembali ke ruang makan, Billy yang melihat raut wajah sedih Erina pun bertanya,
"Kau kenapa?"
"Aku tidak melihat kakak disana,"
Billy pun tersenyum,
"Aku sudah mengatakannya pada mu, jika memang Ryan sudah pergi tapi, kau tidak percaya padaku,"
"Kenapa dia tidak berpamitan dulu?"
Erina pun memanyunkan bibirnya dan kembali melangkah menuju ke kamarnya,
Billy yang tidak tega melihat Erina kecewa pun, Ia mengikuti langkah Erina,
"Sayang, Apa kau ingin bertemu dengan Ryan?"
Erina pun mengangguk pelan,
"Sepertinya, Aku bisa jadi cemburu, melihat Kedekatan kalian,"
Erina pun mengalihkan pandangannya ke arah Billy
"Maaf,"
Billy pun menarik Erina ke dalam pelukannya,
"Dengar, Aku tidak masalah jika kau ingin bertemu dengan Ryan, tapi kau juga harus mengerti Walau bagaimana pun Aku bisa saja cemburu melihat Kedekatanmu dengannya,"
Erina pun mengangguk pelan,
"Oh ya, Mobil mu sedang berada di bengkel, nanti kau tidak perlu mengantarkan makan siang jika memang mobil mu belum selesai diperbaiki, Biar aku akan memesan makanan di luar,"
****
Siang ini, seperti biasanya Erina tengah bersiap untuk mengantarkan makan siang untuk Billy, namun sudah hampir setengah jam Erina menunggu mobilnya yang sedang diperbaiki tak kunjung datang, Erina teringat akan pesan Billy untuk tidak bepergian sendirian karena kecemasannya terhadap kakak angkat Erina Theo dan Kevin, Namun, keyakinan Erina jika semua akan baik baik saja membuat Erina memutuskan untuk pergi menggunakan kendaraan umum,
"Aduh, kemana bis nya? Makanannya nanti keburu dingin, Billy pasti sudah lapar,"
Karena lama menunggu bis, Akhirnya Erina menaiki sebuah taksi untuk pergi ke kantor Billy,
Alangkah terkejutnya Erina, saat ia menyadari supir taksi tersebut nyatanya bukanlah orang asing bagi Erina,
"Dunia ini memanglah sangat sempit, benar kan? Erina?" Ucap seseorang sambil melihat ke arah Erina lewat kaca spion depan.
Mata Erina terbelalak saat melihat sang kakak Theo lah yang menjadi supir taksi tersebut,
Erina berusaha untuk membuka pintu mobil taksi,
"Ceklek,"
Pintu dan jendela sudah dikunci oleh Theo,
Erina pun terlihat panik, Theo nampak mengeluarkan sebuah kain yang sudah dibubuhi obat tidur, Ia langsung membekap Erina dengan kain tersebut, sehingga membuat Erina tidak sadarkan diri,
****
Terdengar Suara dering ponsel memecah keheningan meeting siang ini, Billy yang nampak berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya pun buyar karena suara dering ponselnya,
Ia kemudian mengangkat telepon tersebut, dan melihat nama yang tertulis di layar ponselnya,
"Bibi?"
Billy pun mengangkat telepon tersebut,
"Iya, hallo?"
"Tuan, Apa Nona sudah sampai di kantor?"
Billy mengernyitkan dahinya,
"Apa maksudmu?"
"Maaf Tuan, tadi sebelum jam makan siang nona mengantarkan makan siang untuk tuan menggunakan kendaraan umum,"
"Apa? Jangan bercanda denganku! Erina sama sekali tidak kesini, Bukankah tadi aku juga sudah melarangnya?"
"Iya Tuan, Tapi Nona memaksa Tuan!"
Billy yang mendengar informasi dari asistennya pun bergegas mencari Erina, ia meninggalkan ruang meeting dan berlari menuju ke mobilnya,
****
Dilain sisi,
Theo membawa Erina ke tempat tinggalnya, Erina dikurung di kamar dalam keadaan tangan terikat,
Tak lama kemudian Erina pun sadar, Ia mendapati dirinya tengah terbaring diatas tempat tidur, Ia pun melihat ke arah sekitar,
"Aku di mana?" Ucap pelan Erina.
Erina memegang kepalanya karena merasa pusing,
Tiba tiba,
Pintu pun terbuka, dan menampakkan Theo sang kakak berdiri di muka pintu sambil menyilangkan kedua tangannya,
"Kau sudah sadar?"
Erina hanya terdiam,
"Huh, Aku tidak menyangka jika tindakan kak Kevin itu justru malah membuat kehidupanmu jadi jauh lebih baik, Kau jadi ratu di rumah besar itu, sedangkan aku dan kakak hidup sengsara dan harus mencuri hanya untuk sekedar makan!" Bentak Theo.
Theo menghampiri Erina dan menarik rambut Erina kasar, hingga kepala Erina pun terdongkak ke atas
"Gara gara kau, Aku kehilangan kedua orang tuaku" Imbuhnya.
Theo pun melepas kasar pegangannya,
"Sampai kapanpun, aku tidak rela, kau hidup bahagia!"
"Plakk Plakk!"
Tamparan demi tamparan Erina terima, hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah segar, Namun Erina tidak mampu melawan, Ia hanya terdiam menerima perlakuan Theo terhadapnya.
Mata Erina terlihat berkaca kaca, mengingat bagaimana Erina kehilangan kedua orang tua angkatnya.
Theo pun meninggalkan Erina sendirian,
****
Hari menjelang malam, Erina masih terkurung di dalam kamar tersebut, Erina pun memikirkan cara untuk melarikan diri dari sana, ia memperhatikan semua barang yang berada di kamar itu, namun ia tidak menemukan apapun,
Tiba tiba terdengar suara pintu terbuka,
Theo datang dengan membawa sepiring makanan dan segelas air ditangannya,
Theo meletakkan kasar piring dan gelas tersebut di depan Erina,
"Makanlah! Aku tidak ingin kau mati dulu! Tidak untuk saat ini!"
Theo pun pergi meninggalkan Erina,
Erina melihat gelas yang terbuat dari kaca dan memberikannya sebuah ide,
Erina pun memecahkan gelas tersebut, dan menggunakan serpihan kaca itu untuk memutuskan tali yang mengikat tangannya,
Ketika Erina menggesekan pecahan kaca tersebut ke tali yang mengikatnya, tanpa sengaja ia terluka oleh ujung kaca yang ia pegang,
Namun Erina tetap bertahan dan terus mencoba memutuskan ikatannya, hingga akhirnya ia berhasil.
Erina pun mencari cara untuk keluar dari kamar tersebut, namun jendela yang berada di kamar itu menggunakan teralis, pintu pun terkunci, Erina terus berpikir bagaimana caranya ia bisa keluar,
****
Sudah hampir seharian Billy mencari Erina, namun tidak ada jejak apapun yang didapat oleh Billy,
Billy pun mencoba meminta bantuan Ryan, namun Ryan pun tidak mendapat hasil apapun,
Kekhawatiran Billy semakin menjadi saat ia teringat tentang kakak angkat Erina yang bisa berbuat apa saja untuk mencelakakan Erina.
"Kemana lagi, aku harus mencarimu?"
Ryan pun menghubungi Billy
In Call,
"Apa kau sudah menemukannya?" Tanya Billy
"Belum!"
"Emm, Apa kau tahu dimana kakak angkat Erina tinggal?"
"Tidak,"
Ryan pun menghela nafas kasar,
****
Erina menemukan sebuah ide untuk melarikan diri saat ia menatap langit langit kamar,
Erina menumpuk barang barang yang yang bisa digunakan untuk membantunya menaiki lemari baju, setelah ia berada di atas lemari baju, kemudian Ia mencoba untuk membolongi langit langit atap dengan menggunakan garpu yang tadi diberikan oleh Theo,
Perlahan namun pasti, Erina berhasil membuat sebuah lubang kecil di langit langit, ia kemudian membuat lubang tersebut menjadi lebih besar, seukuran dengan tubuh kecilnya.
Setelah dirasa cukup, Erina kembali memperhatikan sekitar, dengan perlahan ia naik ke atas,
Ia merayap perlahan, hingga ia sampai ke ujung rumah, ia pun membuka perlahan beberapa genteng yang terpasang disitu, lalu keluar secara perlahan sambil memperhatikan sekitar,
Dengan rasa ketakutan yang besar, Erina mencoba untuk tetap melangkah, Ia terlihat kebingungan mencari cara untuk turun dari atap rumah,
Ia mengelilingi atap rumah, mencari posisi yang tepat untuknya, hingga ia mendapati sebuah truk sampah yang terparkir di dekat pagar rumah,
Erina pun nekad meloncat ke truk tersebut, dan..
"Hap!"
Ia berhasil mendarat dengan baik ke atas truk tersebut, Ia pun langsung bersembunyi dibalik kresek kresek besar berisi sampah, berharap tidak ada yang menyadari jika Erina bersembunyi di sana.
Tiba tiba terdengar suara teriakan dari dalam rumah,
"Kurang ajar!! Awas Kau Erina!!!!"
Erina yang mendengar teriakan kemarahan Theo pun langsung menyembunyikan dirinya dengan baik, mobil pun mulai bergerak dan meninggalkan rumah tersebut.
****
Theo yang berniat memeriksa Erina dikejutkan dengan tidak ada nya Erina di dalam kamar, Ia hanya melihat bercak darah yang berhamburan dan juga pecahan kaca,
Ia juga melihat langit langit kamar yang sudah berlubang, membuatnya semakin murka,
"Erinaaaaa!!!" Teriaknya.