Pertolongan Rendra

1624 Kata
Theo yang berniat memeriksa Erina dikejutkan dengan tidak ada nya Erina di dalam kamar, Ia hanya melihat bercak darah yang berhamburan dan juga pecahan kaca, Ia juga melihat langit langit kamar yang sudah berlubang, membuatnya semakin murka, "Erinaaaaa!!!" Teriaknya. **** Kevin yang baru saja tiba dikejutkan dengan suara teriakan sang adik dari dalam rumah, ia pun bergegas menghampirinya. "Ada apa? Kenapa kau berteriak?" Theo pun menatap kesal ke arah Kevin, "Erina, Dia kabur kak!" Kevin terkejut mendengar pernyataan dari Theo, "Apa?" Kevin pun menarik kasar baju Theo dengan mata yang membolak ia berkata, "Dasar bodoh!! Bisa bisanya kau membiarkan Erina lepas!" Theo pun menundukkan pandangannya, "Apa kau tau? Karena ulahmu ini, kita akan semakin kesulitan untuk menyingkirkan Erina!" Theo pun terdiam, Kevin melepas kasar pegangannya, "Lebih baik, cari dia sekarang!" Bentak Kevin. Theo pun langsung bergegas mencari keberadaan Erina. ****  Erina yang ketiduran di dalam truk sampah, tanpa ia sadari mobil yang ditumpangi semakin menjauh dari kota, Ia pun mengintip melalui celah celah kecil untuk mencari tahu dimana ia berada, Karena merasa cukup aman, Erina pun memberanikan diri untuk menyingkirkan kresek kresek sampah yang menutupi dirinya, Ia pun melihat ke arah sekitar, dan ia tidak mengenali daerah yang tengah ia lewati sekarang, Tiba tiba mobil yang ia tumpangi berhenti, Erina pun bergegas turun perlahan dari mobil tersebut  Erina berusaha untuk mencari jalan pulang, namun hingga malam menjelang ia tidak menemukan jalan pulang, ia pun mulai merasa kelaparan karena sejak kemarin ia tidak makan apapun, Karena mencium aroma sedap mie, Langkah Erina pun berhenti di depan sebuah kedai, sambil memegang perutnya yang lapar, ia hanya memperhatikan makanan itu dari arah luar, terlihat ia menelan salivanya. Seorang pemuda memperhatikan Erina dari dalam kedai, ia pun tersenyum tipis dan menghampiri Erina, Tiba tiba, "Apa kau lapar?" Tanya pemuda tersebut. Erina pun mengangguk pelan, "Baik, masuklah!" Namun, ajakan dari pemuda ini Erina tolak, karena merasa takut Erina pun memilih untuk melangkah pergi. Belum jauh dari kedai mie ini, pemuda tadi pun memanggil Erina, "Nona?" Erina pun berbalik, Pemuda itu pun menyodorkan sebuah kantong berisi makanan dan minuman, "Makanlah!" Erina pun kembali menolaknya, "Maaf, Aku bukan pengemis!" Pemuda itu pun tersenyum ramah "Maaf jika menyinggung mu, tapi anggap saja ini adalah hadiah dari seorang teman," Erina pun menatap wajah pemuda itu, Terlihat senyuman tulus yang terukir di wajahnya, tiba tiba ia mengernyitkan dahinya. "Emm, sepertinya aku pernah bertemu denganmu," Ujar Pemuda itu. "Benarkah?" Tanya Erina Pemuda itu pun tampak berpikir sejenak, mencoba untuk mengingat kembali wajah Erina. "Aah, bukankah kau gadis yang waktu itu hampir saja aku tabrak?" Erina pun nampak sedikit memiringkan kepalanya dan berpikir, "Ah, Apa jangan jangan anda yang menyelamatkan aku waktu itu?" Rendra pun tersenyum dan mengangguk pelan, **** Rendra mengajak Erina untuk masuk kedalam kedai, namun Erina menolak karena merasa tidak percaya diri dengan bau badannya setelah cukup lama berada di truk sampah, Rendra pun membujuk Erina, hingga Erina pun akhirnya mau mengikuti langkah Rendra ke dalam kedai, rupanya kedai mie tersebut adalah milik Rendra, Rendra memberikan baju ganti miliknya yang sudah kekecilan pada Erina, Setelan baju sweater yang masih terlihat kebesaran untuk Erina, namun terlihat lucu di kenakan olehnya. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Erina pun diajak untuk makan malam di kedai milik Rendra, Semangkuk Mie kuah hangat dengan telur rebus dan beberapa toping lainnya cukup membuat perut Erina kenyang dan membuat badannya hangat. "Oh ya, Kenapa kau bisa berada disini?"  "Aku, diculik oleh seseorang, dan Aku beruntung masih bisa melarikan diri," "Benarkah?" Rendra terlihat syok setelah mendengar pernyataan dari Erina. "Oh ya, Bolehkah aku meminta bantuanmu?" "Apa itu?" "Emm, Bisakah kau mengantarku pulang?" Rendra terdiam untuk sejenak, "Baiklah, aku akan mengantarmu!" Erina pun terlihat senang dan bernafas lega saat mendengar Ucapan Rendra. Ia merasa beruntung karena ada yang mau membantunya untuk bisa kembali pulang ke rumah. **** Di lain sisi, Billy masih berusaha untuk mencari Erina, ia mengerahkan orang orang suruhannya untuk mencari ke seluruh kota, begitupun dengan Ryan. Billy semakin khawatir saat satu persatu orang suruhannya memberikan hasil nihil atas pencarian mereka. "Erina, kau dimana sayang?" Gumam Billy. Kabar hilang nya Erina ternyata sampai ke telinga kedua orang tua Billy, hingga saat Billy hendak melangkah keluar dari rumahnya, Ia dikejutkan dengan kehadiran kedua orang tuanya yang tiba tiba berada di muka pintu, Dengan tatapan tajam, Diana dan William melangkah masuk diikuti oleh Billy, "Apa benar berita yang aku dengar? Jika Erina menghilang?" Tanya William sang ayah. Billy pun mengangguk pelan, Tiba tiba William berdiri dari duduknya, "Dan kau hanya duduk disini tanpa melakukan apa apa?" Billy menatap sang ayah, "Aku sudah menyuruh orang orang ku untuk mencari Erina, tapi belum ada yang menemukannya." "Kalau begitu, kami akan turun tangan!" William pun melangkah keluar rumah, Diana terlihat menepuk lembut bahu Billy, "Ayo, kita cari Erina bersama!" Billy pun mengangguk, **** Rendra bersama Erina dalam perjalanan menuju ke rumah Erina dengan menggunakan mobil pribadi milik Rendra. "Oh ya, Kenapa kau bisa diculik?" Erina pun mulai menceritakan, Bagaimana ia bisa diculik hingga ia  sampai ke daerah Rendra, Rendra terlihat syok mendengar apa yang dialami Erina, "Apa kau tidak berniat untuk melaporkannya ke pihak yang berwajib?" Erina pun menggeleng kepalanya pelan. "Kenapa?" Pandangan Erina terlihat menunduk "Karena Walau bagaimanapun, Dia tetap kakakku." Rendra pun menghela nafas panjang, "Aku mengerti perasaanmu, tapi.. Ini sudah termasuk tindakan kriminal yang harus mendapatkan tindak lanjut dari pihak yang berwajib," Erina pun terdiam, **** Erina tiba di depan rumahnya, Ia pun turun dari mobil milik Rendra, "Terima kasih sudah mengantarku," Rendra pun tersenyum seraya mengangguk pelan. "Kau mau mampir dulu?" "Tidak usah, terima kasih! Lagipula, Ini sudah malam." Erina pun tersenyum dan kembali mengucapkan terima kasih. Rendra pun berpamitan pulang, Erina melangkah masuk kedalam rumah, ia disambut oleh asisten rumah tangganya yang membukakan pintu untuknya. "Nona? Ya Tuhan, Nona dari mana saja? Semua orang mencari nona! Bahkan Tuan besar dan Nyonya besar pun ikut mencari nona!" Erina pun membulatkan matanya, "A-apa? A-ayah dan Ibu ikut mencariku?" Asisten itupun mengangguk cepat, "Lalu, dimana mereka sekarang?" "Mereka masih mencari nona di luar sana," Erina pun langsung masuk ke dalam rumah, dan meraih telepon yang berada di atas meja, Ia menekan beberapa nomor, Erina mencoba menghubungi Billy, In Call "Hallo, Billy?" "E-erina?" "Iya, ini aku." "Kau sudah pulang? Kau dari mana saja? Kami semua mengkhawatirkanmu!" "Pulanglah, aku akan menceritakan semuanya padamu!" **** Billy memutar balik mobil yang ia kendarai, tak lupa ia juga menghubungi ibunya untuk memberitahukan jika Erina sudah pulang, Tak selang berapa lama, Billy pun tiba di rumah, Ia langsung berlari mencari Erina. Hingga akhirnya ia menemukan Erina yang tengah mengganti pakaiannya di kamar, Erina yang hanya menggunakan dalaman terkejut dengan kedatangan Billy yang tiba tiba, ia berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya, Billy yang belum menyadari malah langsung memeluk Erina karena rasa khawatir nya yang sudah menggunung. "Kau dari mana saja?" "Em, A-aku akan cerita nanti, tapi.. Bisakah kau melepaskan ku dulu?" "Tidak!" Erina berusaha mendorong tubuh Billy, namun tidak berhasil "Emm, Bisakah kau melepaskan ku dulu? Biarkan aku memakai pakaian ku terlebih dahulu!" Mata Billy pun membulat sempurna saat mendengar ucapan Erina, Refleks Billy langsung melepaskan pelukannya, dan membalikkan tubuhnya. "M-maaf, Aku tidak tau.. Jika kau…" Ucapan Billy terpotong Setelah ia menyadari satu hal, "Eh, kenapa aku harus minta maaf? Erina kan istri ku, bukankah tidak apa apa jika seorang suami melihat istrinya seperti itu?" Gumamnya, Billy pun berbalik, dan melihat Erina masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Billy menggedor pintu kamar mandi itu, "Tok tok tok!!" "Erina, buka pintunya!" Teriak Billy Beberapa kali Billy mengetuk pintu kamar mandi, namun Erina tidak membukanya, hingga akhirnya Billy memutuskan untuk menunggu Erina di ruang keluarga, "Erina! Aku, Ayah dan Ibu akan menunggumu di ruang keluarga!" Imbuhnya Namun tidak ada suara yang terdengar dari dalam kamar mandi, Setelah Billy pergi, Erina pun perlahan membuka pintu kamar mandi dan melihat ke sekitar, "Akhirnya, dia pergi!" Erina menyelesaikan mengganti pakaiannya, kemudian Erina pun melanjutkan langkahnya menuju ke ruang keluarga, **** Setibanya di ruang keluarga, Erina langsung mendapat pelukan dari Diana, terlihat raut wajah cemas Diana dan William saat menatap Erina, "Kau tidak apa apa nak?"  Erina pun tersenyum dan mengangguk, Diana pun meminta Erina untuk duduk, dan menceritakan semuanya, dan bagaimana ia bisa sampai di sini. Erina mulai menceritakan semua kejadian yang Erina alami, dan itu cukup membuat Billy dan kedua orang tuanya syok, "Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus mengambil langkah hukum untuk menghukum mereka!" Terlihat William mengeraskan rahangnya dengan wajah yang memerah menahan marah. "Ibu setuju! Kita harus mencari mereka dan segera masukkan mereka ke dalam sel, kita tidak akan tenang jika terus seperti ini!" Ujar Diana "Ayah, Ibu yang terpenting aku baik baik saja! Jadi, tolong jangan bertindak apapun," Diana dan William pun menghela nafas panjang, "Ya sudah, Tapi aku akan memperketat semuanya memastikan kau tidak akan bepergian sendirian!" Erina pun mengangguk setuju. **** Sementara itu, Kevin sangat murka karena Erina yang berhasil meloloskan diri, Ia tidak menyangka jika Erina cukup cerdik untuk lepas dari tempat ia mengurung Erina. Theo yang menjadi sasaran kemarahan kevin pun mendapat ganjaran berupa pukulan pukulan yang cukup keras hingga keluar darah dari mulut Theo, "Huh, Aku tidak menyangka, Jika gadis itu ternyata lebih cerdas dari kalian!" Ucap seseorang yang tiba tiba muncul dari balik pintu. "Nyonya?" Kevin dan Theo terlihat bergemetaran melihat kedatangan seorang wanita paruh baya yang menggunakan rok selutut dan atasan blouse dengan lengan panjang dan rambut pendek. Ia nampak menyilangkan kedua tangannya, dengan tatapan tajam ia pun menghampiri Kevin dan Theo "Aku sudah memberikanmu kesempatan! Jadi, jangan salahkan aku jika justru kalian yang akan ku lenyapkan!" Kevin pun berlutut dan memohon, "Aku mohon Nyonya, berikan kami satu kesempatan lagi! Kali ini kami tidak akan mengecewakan Anda!" Wanita pun berdecak kesal, "Ckk, Aku benci pada pria lemah!" Wanita itu pun sejenak berpikir, "Baiklah, Aku akan memberikan kalian satu kesempatan lagi!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN