Bodyguard

1615 Kata
Pagi ini, Ryan mendapatkan kabar dari Billy jika Erina sudah kembali, Ia pun bergegas menemui Erina di rumahnya, tanpa sadar Ryan langsung memeluk Erina erat ketika melihat Erina berada di hadapannya, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang menatapnya tajam. Ryan pun melepas pelukannya dan memegang wajah Erina, "Apa kau baik baik saja?"  "Aku baik baik saja, kak!" Ryan pun tersenyum lebar dan kembali memeluk Erina, namun pelukannya kali ini membuat Billy kesal melihatnya, Billy pun menarik baju bagian belakang Ryan, "Heh! Apa kau sudah bosan hidup?" Ryan pun melepas pelukannya dan terkekeh menatap Billy, sedangkan Billy hanya menatap tajam ke arah Ryan, Ryan pun mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, "Oh ya, bagaimana bisa kau diculik?" Erina pun menceritakan tentang apa yang terjadi, Ryan pun tak kalah syok mendengar penuturan dari Erina, "Jika begitu, kamu harus lebih berhati hati sekarang," Billy pun menyahut, "Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan dia pergi sendirian! Aku akan menyewa seorang bodyguard yang khusus untuk menjaga nya!" Erina terlihat memanyunkan bibirnya karena mendengar hal itu, sedangkan Ryan hanya tersenyum menatap mereka. **** Ryan dan Billy berangkat ke kantor setelah berpamitan pada Erina, begitupun dengan kedua orang tua Billy yang harus pergi karena ada meeting mendadak, Billy pun menitipkan Erina pada asisten rumah tangga nya, Billy juga berpesan pada Erina untuk tetap berada di rumah, dan tidak melepas gelang pemberian darinya, saat itu. Billy merasa kesal pada Erina karena saat kejadian yang menimpa Erina, Ia justru tidak mengenakan gelang pemberian dari Billy, Erina beralasan jika ia lupa tidak mengenakan nya lagi setelah mandi. Billy pun dengan raut wajah kesal menerima alasan tersebut, **** Erina yang sendirian di rumah mulai merasa bosan, setelah beberapa hari ia sama sekali tidak bisa melangkah keluar rumah, "Membosankan! Aku merasa dipenjara!" Ujar Erina Seorang pelayan pun menghampiri Erina dengan membawa kan segelas jus jeruk segar untuk Erina yang tengah duduk di sebuah kursi santai di pinggir kolam renang, "Nona, saya bawakan jus untuk anda," Erina pun menoleh ke arah suara, "Iya bi, terima kasih!" Si pelayan pun kembali ke dalam, Erina pun meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Billy, "Billy, Bolehkah aku keluar?" Tak lama kemudian ia pun mendapat balasan pesannya, "Tidak!" Erina yang merasa kesal pun kembali mengirimi Billy pesan, "Ini membosankan! Aku merasa di penjara!" Namun kali ini Billy tidak membalas pesannya, Erina yang merasa kesal pun memukul mukul bantal yang tengah ia pegang dengan kedua tangannya, "Iih, Menyebalkan! Dia melarangku melakukan segala hal dan juga mengurungku seperti ini! Dasar pria tidak berguna! Iiihhh!!" Erina pun memutuskan untuk pergi tidur di kamarnya, **** Sore hari pun tiba, Billy yang baru saja tiba di rumah langsung mencari Erina, "Sayang! Aku pulang!" Namun tidak terdengar sahutan dari dalam rumah, Asisten rumah tangganya pun menghampiri Billy, "Dimana Erina?" "Nona berada di kamarnya Tuan," Billy pun melangkah menuju ke kamar Erina, saat Billy membuka pintu nampak Erina yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidurnya, Billy pun menghampiri Erina dan duduk di birai kasur, Ia menatap dalam Erina dan mengelus kepalanya lembut, kemudian Billy mencium pucuk kepalanya dan membiarkan Erina tertidur, **** Tak berselang lama, Erina pun terbangun ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, "Ya Ampun! Aku tertidur selama itu? Aku belum menyiapkan makan malam untuk Billy," Erina pun langsung terperanjat dari tidurnya, dan bergegas melangkah menuju ke dapur, Setibanya di dapur, Ia dikejutkan dengan sosok seorang pria yang tengah sibuk memasak di dapur, Erina pun mengukir senyuman manisnya, kemudian ia menghampiri pria itu dan memeluknya dari belakang, "Maaf, Aku tidur terlalu lama," Billy pun membalikkan tubuhnya dan menatap lekat Erina, "Kau pasti merasa bosan di rumah?" Erina pun mengangguk pelan, "Aku punya kejutan untukmu," "Apa itu?" Billy pun menarik lembut tangan Erina menuju ke ruang tamu, Erina mengikuti langkah Billy sambil menatapnya heran. Setibanya di ruang tamu, Erina dikejutkan dengan seseorang yang sudah tidak asing lagi untuknya, begitupun dengan pria itu yang sama terkejutnya dengan Erina, "Kenalkan! Dia adalah bodyguard mu yang akan menjagamu kemana pun! Jadi, mulai sekarang kau bisa pergi kemanapun kau mau," Terang Billy Billy merasa aneh dengan raut wajah Erina, "Ada apa? Apa kalian sudah saling mengenal?" Erina pun menatap ke arah Billy, "Dia, adalah orang yang menolongku dua kali, yang pernah aku ceritakan padamu waktu itu," "Benarkah?" Erina pun tersenyum seraya mengangguk pelan, "Maaf Tuan, Saya tidak mengetahui jika nona Erina adalah.." Ucapan Rendra pun terpotong, "Tidak apa, terima kasih sudah menolong istriku! Itu artinya, aku tidak salah telah memilihmu sebagai bodyguard istriku," Rendra pun tersenyum menatap Billy **** Setelah hari itu, Billy menitipkan keselamatan Erina pada Rendra, "Apa tidak apa apa, kau menitipkan Erina pada bodyguard baru itu?" Tanya Ryan tiba tiba Ryan yang tengah bersama dengan Billy untuk urusan bisnisnya, baru saja mengetahui hal itu dari Billy, "Seharusnya tidak apa apa, lagipula pemuda itu lah yang menolong Erina saat itu," Ryan terdiam sejenak, 'Entah kenapa, aku memiliki perasaan yang tidak enak dengan bodyguard itu,' Batin Ryan. **** Erina tengah berada di dalam mobilnya bersama Rendra, Ia berniat untuk pergi ke supermarket membeli beberapa kebutuhan di rumah, sepanjang perjalanan mereka mengobrol dengan sangat nyaman,  "Oh ya, kenapa kau bisa bekerja menjadi seorang bodyguard? Bukankah, kau memiliki kedai mie?" Rendra pun menatap Erina sekilas, "Kau tau, dunia bisnisku tidak berjalan dengan baik, kedai yang aku miliki hanya berjalan di tempat, tidak ada kemajuan yang signifikan, lagipula secara teknis kedai itu sebenarnya bukanlah milikku sepenuhnya," Erina mengerutkan dahinya, "Maksudmu?" "Kedai itu adalah milik turun temurun dari keluarga ayahku, dulu pada masa jaya nya, kedai kami bisa menjual hingga ratusan piring setiap harinya, tapi, teman kakek ku melakukan sabotase pada kedai milik kami, yang menyebabkan kedai kami menjadi sepi dan kehilangan banyak pelanggan," "Benarkah? Jahat sekali," Rendra pun mengangguk pelan, "Begitu lah, Ayah memintaku untuk meneruskannya, dan tidak menjualnya, karena itu untuk mempertahankan kedai itu dan mengubah beberapa hal, Aku membutuhkan modal yang cukup besar, Itu lah sebabnya aku memutuskan untuk bekerja sebagai Bodyguard," Erina pun mengangguk paham, "Lalu, Apa yang terjadi dengan kedai mu, jika kau disini?" "Temanku yang mengurus nya," "Oh, Begitu ya!" Percakapan mereka pun terus berlanjut, Hingga tidak ada lagi jarak antara atasan dan bawahan diantara mereka, mereka terlihat berteman baik, hingga Erina pun tak sungkan untuk menceritakan masalah nya bersama sang ibu Lilian, "Jadi, Nyonya Lilian adalah ibu kandungmu?" Erina pun mengangguk pelan, "Apa kau tidak ingin berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari Ibumu? Karena Walau bagaimanapun dia tetap Ibumu yang harus kau sayang, sebelum nanti kau menyesalinya," Pandangan Erina pun tertunduk, Ia memikirkan perkataan yang baru saja di lontarkan  Rendra yang melihat kesedihan di mata Erina mencoba untuk menghibur nya, "Sudahlah! Tidak apa apa, Aku akan membantumu mencari tahu tentang Ibumu," Erina hanya terdiam, **** Setibanya di supermarket, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Lilian di parkiran supermarket, Namun Lilian melangkah melewati dirinya begitu saja tanpa menatapnya sekalipun, Mata Erina terlihat berkaca kaca, ia pun membalikkan tubuhnya dan menghampiri sang ibu, "Bu?" Lilian pun menghentikan langkahnya, "Bu, Apa tidak bisa ibu memeluk ku sekali saja?!" Lilian pun menyunggingkan senyuman tipis nya, "Huh, untuk apa? Kau bukan putri ku!" Erina pun menggeleng kepalanya, "Bu, setidaknya lihat aku bu! Aku sama sekali tidak tahu apa apa! Tapi kenapa ibu menghukumku seperti ini?!" Namun, Lilian tidak menggubris ucapan Erina, dan kembali melangkah melewati nya. Erina pun tak mau kalah, ia kembali mendahului langkah Lilian, "Bu! Setidaknya ibu beritahu aku, apa yang salah denganku hingga ibu sama sekali tidak ingin aku berada di hadapan ibu!" Lilian mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Salahmu adalah karena kau telah lahir ke dunia ini! Dan aku menyesali itu!" Hati Erina hancur berkeping keping hingga ia tak mampu lagi berkata, ia hanya tertegun dan mematung. Sedangkan Lilian terus melangkah pergi, Rendra yang baru saja tiba dari memarkirkan mobilnya melihat Erina terpaku sendiri, ia langsung menghampiri Erina, "Ada apa? Apa ada yang menyakitimu?" Erina pun tiba tiba menangis dan menyandarkan kepalanya di d*d* Rendra, Ia menangis sejadi jadinya, Rendra pun membiarkan Erina, **** Setelah berangsur tenang, Rendra pun memutuskan untuk membawa Erina pulang kembali ke rumah, sepanjang perjalanan Erina hanya diam, "Kau tidak apa apa?" Tanya Rendra. Erina pun hanya menggeleng pelan, "Kau tau, Aku sudah tidak memiliki keluarga, sejak kecil aku hidup sendiri, Kau beruntung masih memiliki seorang ibu," Erina pun menatap ke arah Rendra, "Dibenci oleh ibu mu sendiri adalah hal yang paling menyakitkan," Ujar Erina Rendra pun tersenyum, "Jika aku jadi kamu, Meski aku di benci oleh ibu ku sendiri, aku akan tetap menyayanginya, dan berjuang untuk kasih sayangnya, karena ketika ia tiada disitulah penyesalan akan terasa menyakitkan dibandingkan kemarahannya," Erina tampak terdiam mendengar ucapan dari Rendra, **** Dilain sisi, Kevin terlihat tengah bersama dengan Theo, mereka tampak serius membicarakan sesuatu, "Kali ini, Rencana kita tidak boleh gagal!" Ujar Kevin "Aku janji ka, akan lebih mempersiapkan segala nya!" "Ingat! Erina adalah seorang yang cerdik, jadi kita tidak bisa meremehkannya begitu saja!" Theo menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, "Tenang saja, kali ini dia tidak akan lolos!" Kevin pun menunjukkan senyum tipis jahatnya, **** Sementara itu, Di sebuah ruangan, terlihat seorang pria yang menatap serius layar laptop yang berada di hadapannya,  Billy yang tengah sibuk dengan pekerjaan di kantornya, dikejutkan dengan sebuah pesan ancaman yang datang dari nomor yang tidak dikenal. "Jaga lah istrimu dengan baik, selagi kau masih bisa bersamanya," Billy pun langsung mencoba menghubungi nomor yang tidak kenal tersebut, namun nomor tersebut justru tidak bisa dihubungi, konsentrasinya pun buyar, ia memutuskan untuk menemui Erina, Ia takut jika sesuatu terjadi padanya, **** Setibanya di rumah, Billy langsung menanyakan keberadaan Erina pada bodyguard nya, "Dimana Erina?" "Nona, ada di kamarnya Tuan!" Billy pun bergegas menghampiri Erina, Ia mendapati Erina yang tengah berada di kamarnya sambil memainkan ponselnya, Erina yang melihat raut wajah cemas Billy pun bertanya, "Ada apa? Kenapa kau terlihat cemas?" Billy pun langsung memeluk Erina
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN