Ancaman

1006 Kata
Setibanya di rumah, Billy langsung bergegas menanyakan keberadaan Erina pada bodyguard nya, "Dimana Erina?" Tanya Billy "Nona, ada di kamarnya Tuan!" Billy pun bergegas menghampiri Erina, Setelah mengetahui dimana keberadaan Erina, Dengan langkah cepat Ia pun tiba di depan pintu kamar Erina, Ia mendapati Erina yang tengah berada di kamarnya sambil memainkan ponselnya, Erina yang melihat raut wajah cemas Billy pun bertanya, "Ada apa? Kenapa kau terlihat cemas?" Billy pun langsung memeluk erat Erina Tubuh billy bergetar, membuat Erina merasa heran, Erina pun melepas pelukannya, "Apa kau sakit?" Tanya Erina Billy menatap dalam Erina, Ia memegang wajah Erina, "Aku tidak ingin kehilanganmu, Apapun akan aku lakukan untuk menjagamu!" Erina hanya menatap aneh ke arah Billy, "Sebenarnya, Ada apa?" Billy mengalihkan pandangan ke arah lain, Ia tampak ragu untuk menceritakan segala nya pada Erina, "Aku, mendapat pesan dari nomor yang tidak kenal," Erina mengerutkan dahinya, "Apa?" Billy pun mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Erina, dan Erina pun membaca nya, "Ini, Siapa yang mengirimkan pesan ini?" Billy pun menggeleng pelan, Ia kemudian menggenggam tangan Erina, "Jaga dirimu baik baik, Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjagamu," Erina pun mengangguk paham seraya tersenyum menatapnya, **** Billy melangkah menuju ke arah Rendra yang tengah duduk santai di belakang rumah, "Rendra!" Rendra pun mengerjap terkejut dan langsung berdiri, "Iya Tuan?" Billy menatap tajam ke arah Rendra, "Tolong ikuti kemanapun Erina pergi," Rendra mengangguk cepat, "Baik Tuan!" Billy pun melangkah pergi meninggalkan Rendra, Namun Rendra terlihat menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, **** Di sudut kamar, Erina terlihat sedikit melamun, ia terus berpikir siapa yang mengirimkan pesan seperti itu pada Billy, Erina mulai sedikit takut jika pesan itu dikirimkan oleh kakak angkatnya Kevin atau Theo, "Apa mungkin?" Gumam Erina. Lamunannya pun buyar karena kedatangan Billy, Billy yang peka dengan perasaan cemas Erina yang sama dengan yang ia rasakan, mencoba untuk menghiburnya, Ia memeluk Erina dari belakang, dan meletakkan dagunya di bahu Erina, "Jangan khawatir, Aku akan menjagamu!" "Bagaimana jika ternyata itu adalah ulah kakak ku?" "Kau tidak perlu khawatir, Aku akan bertindak lebih kasar lagi jika dia berani melukaimu," Erina pun hanya diam mematung, **** Tengah malam ini, tidak seperti biasanya, Erina tidak bisa tidur karena dirundung oleh kecemasannya yang berlebih, "Issh, Benar benar tidak bisa tidur," Ujar Erina sambil menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, Erina menatap Billy yang tertidur di sampingnya, Billy terlihat lelah hingga ia tertidur pulas di samping Erina, Erina pun mengusap lembut kepala Billy, "Kau pasti lelah, sudah bekerja seharian." Ucap pelan Erina, Erina pun memutuskan untuk pergi ke balkon kamarnya dan menghirup udara malam, menikmati indahnya gemerlap bintang, "Wah, Indah sekali malam ini," Namun, perhatian Erina tiba tiba teralihkan ke salah satu sudut taman yang berada di depan rumahnya, ia melihat sosok seorang pria yang tengah memperhatikan sekitar dan melangkah mengendap endap, "Siapa?" Erina pun mencoba memfokuskan pandangannya, "Apa itu Rendra?" Sosok pria itu pun mengalihkan pandangannya ke arah Erina, namun dengan segera Erina membungkuk dan menyembunyikan dirinya dibalik tanaman tanaman hias yang berjejer di balkon kamarnya. Jantung Erina pun berdegup kencang saat ia memperhatikan lewat celah celah diantara tanaman, pria itu terlihat menatap ke arah balkon kamarnya. Tak lama kemudian, Pria itu pun melangkah pergi setelah meletakkan sesuatu di depan rumahnya, Erina pun bergegas kembali masuk ke dalam kamarnya, dengan membungkukkan tubuhnya ia bergegas masuk ke dalam menutupi dirinya dengan selimut, Dengan nafas terengah engah, ia mencoba kembali mengingat siapa yang tadi ia lihat, 'Siapa pria tadi?' Batinnya, Tiba tiba ia dikejutkan dengan seseorang yang memeluknya, refleks Erina pun berteriak, "Aaaaaaaaa," Teriakan Erina membuat Billy langsung terkejut dan menyalakan lampu kamarnya, "Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Billy panik Erina pun langsung terduduk dengan nafas yang terengah engah, "T-tadi a-apa yang memelukku," Billy pun tersenyum, "Aku pikir ada apa, aku yang memelukmu! Kenapa? Apa kau lupa kalau kau sudah bersuami?" Erina pun menundukkan pandangannya, Ia merasa sangat bodoh karena melupakan hal itu, "Ya ampun! Aku pikir pria tadi! Jantungku hampir saja copot," Gumam Erina. Billy pun menarik wajah Erina agar menatap ke arahnya, "Apa kau bermimpi buruk?" Erina menggelengkan kepalanya, "Bagaimana aku bermimpi buruk, tidur saja belum," Gumam Erina. Billy pun melambaikan tangannya di depan wajah Erina, "Kau melamun?" Erina kemudian menatap lekat ke arah Billy, "Tidak! Ah sudahlah!" Erina pun kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sedangkan Billy hanya mengangkat kedua bahunya, dan kembali tidur. **** Pagi ini, Erina masih terlihat melamun, ia terus memikirkan siapa pria yang ia lihat semalam dan apa yang ia letakkan di depan rumah, seketika ia langsung pergi ke depan rumah, saat menyadari hal itu. Ia mencari ke seluruh halaman rumah, hingga ia menemukan sebuah kotak kayu berwarna coklat, ia pun memberanikan diri untuk membuka kotak tersebut, Ia sangat terkejut melihat isi di dalam kotak itu hingga refleks Erina melemparkan kotak tersebut, Itu membuat Erina bergemetaran, Erina tidak mampu mengucapkan apa apa, seolah bibirnya kelu, Erina pun berlari masuk ke dalam rumah, dan menghampiri Billy yang tengah memakai kemeja, Billy terkejut melihat Erina yang berlari ke arahnya, "Erina, ada apa?" Dengan nafas terengah engah, Erina pun berkata, "A-ada itu?" Erina menunjuk ke arah luar rumah, Billy mengernyitkan dahinya, "Apa maksudmu?" Erina menarik tangan Billy, dan Billy pun mengikuti langkah Erina, Sesampainya di depan rumah, Erina langsung menunjuk kotak itu, Billy pun menghampiri dan melihat isi kotak itu, Terlihat ada foto Erina di dalamnya dengan cairan berwarna merah seperti darah, Billy tak kalah terkejutnya seperti Erina saat ia melihatnya. Billy merasa sangat marah karena seseorang telah berani meneror sang istri tercinta Billy pun segera memerintahkan Rendra untuk membakar kotak tersebut, **** Ryan yang mengetahui ceritanya pun ikut merasa merinding, "Benar benar mengerikan! Apa kau sudah mengeceknya CCTV nya?" Tanya Ryan pada Billy "Semua CCTV yang kupasang tidak ada yang merekam kejadian itu," Jawab Billy heran Ryan pun mengerutkan dahinya, "Apa mungkin, itu dilakukan oleh orang dalam?" Billy pun tersentak dan menatap ke arah Ryan, "Dengar, ini sudah termasuk kriminal karena mengancam kehidupan orang lain, cobalah untuk pindah dari sana sementara, mungkin kau bisa tinggal bersama ibumu, aku takut, sesuatu yang lebih buruk terjadi." Billy kembali terdiam dan memikirkan ucapan Ryan. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN