Maaf

2039 Kata
Billy memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantor, karena perasaannya yang merasa tidak enak, sesampainya di rumah Billy merasa heran karena suasana rumah yang sepi, "Kenapa sepi sekali?" Gumamnya, Billy pun langsung masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Erina, Namun, Ia tidak menemukan siapapun di dalam rumah, asisten rumah tangganya pun bahkan tidak terlihat, Perasaan cemas Billy semakin menjadi, Ia pun mencari ke seluruh bagian rumah, hingga ia mendengar suara teriakan minta tolong dari dalam kamar mandi milik asisten rumah tangganya, Billy langsung membuka pintu kamar mandi tersebut dengan cara mendobrak nya karena pintu dalam keadaan terkunci, Ia terkejut melihat asisten rumah tangganya dalam keadaan kedua tangannya terikat, Billy pun melepas ikatan tersebut, "Mana Erina?" "Tuan, Nona dibawa pergi oleh Rendra!" "Apa?" Billy bergegas mencari keberadaan Rendra, Ia pun menghubungi Ryan untuk meminta bantuannya, Ryan segera pergi mencari Erina, **** Billy mencari Rendra ke alamat rumahnya yang tertulis dalam surat lamaran pekerjaannya, Setibanya di rumah tersebut, Billy tidak menemukan apapun, Ia hanya melihat bangunan kosong yang telah lama tidak dihuni, "Siaaaal!!" Teriak Billy. Billy pun mengusap kasar wajahnya dan kembali berpikir, Billy mencoba untuk melacak keberadaan Erina melalui gelang pemberian nya, namun hasilnya nihil. Tiba tiba, Terdengar suara ponsel berdering, Billy pun meraih ponselnya, dan menatap layar ponselnya, "Erina?" Billy segera mengangkat teleponnya, In Call "Erina? Kau kemana saja?" "Billy, tolong aku!" "Diam!" Bentak seseorang 'Degh' Sorot mata Billy langsung berubah ketika mendengar suara seseorang dari seberang sana, "Apa yang kau inginkan?"  Tanya Billy Terdengar suara tawa, "Mudah saja, temui aku di tempat yang akan aku kirimkan lokasinya, datanglah sendiri!" "Tut tut tut," Billy menggenggam erat ponselnya, rahangnya mengeras menahan amarah, Ia tidak habis pikir jika Rendra akan sanggup melakukan ini, **** Billy pun melangkah pergi terburu buru menuju ke sebuah tempat, Tak lama ia pun tiba di sebuah tempat seperti rumah kosong, dengan kayu kayu nya yang sudah lapuk, dan sarang laba laba yang memenuhi rumah tersebut, ia berjalan dengan sangat hati hati, Tiba tiba terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang, "Prok prok prok," Billy pun mengalihkan pandangannya ke arah belakang, "Kau? Apa yang kau lakukan pada istriku?!" Bentaknya, Tampak Rendra hanya tersenyum sinis menatap ke arah Billy, "Apa yang aku lakukan, tidak sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan pada orang tuaku!" Billy mengerutkan dahinya, Ia mencoba untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Rendra, "Apa maksudmu? Dimana Erina?" Rendra pun menatap ke arah lantai dua rumah tersebut, terlihat Erina dalam keadaan pingsan duduk di kursi dengan kedua tangan yang terikat, Billy yang hendak menyusul Erina tiba tiba, "Jangan coba coba! Jika kau masih ingin melihat istri kesayangan mu Itu masih bisa bernafas!" Langkah Billy pun langsung terhenti mendengar ancaman tersebut, "Apa masalahmu sampai kau melibatkan Erina?" Tanya Billy, Rendra pun tertawa keras mendengar ucapan Billy, "Ha ha ha ha, Kau tau, Erina memang tidak ada hubungannya dengan ini, tapi karena dia ada hubungannya denganmu, dia juga harus ikut menanggung akibatnya!" "Apa yang kau inginkan?!" Bentak Billy Rendra pun melangkah mendekat ke arah Billy, "Apa kau tidak ingat dengan sebuah keluarga bernama Anggara?" Billy pun terdiam berpikir, Perusahaan Anggara adalah sahabat dekat dari perusahaan milik keluarga Billy, namun sebuah kesalahpahaman menyebabkan dua perusahaan ini pun menjadi Rival, Rahasia perusahaan kuliner keluarga anggara telah bocor kepada pihak lawannya, dan disinyalir kebocoran itu disebabkan oleh keluarga Billy yang membocorkan informasi tersebut, itu menyebabkan kakek Rendra meninggal bunuh diri, perusahaannya pun bangkrut, hubungan antara keluarga anggara dan Billy pun terputus, Rendra yang baru berusia 7 Tahun belum mengerti dengan apa yang terjadi di keluarganya, Sejak kecil Rendra selalu ditanamkan membalas dendam oleh keluarganya kepada keluarga Billy, Rendra pun berjuang untuk mempertahankan satu satunya warisan keluarga yang tersisa yaitu kedai mie tersebut. Billy membulatkan matanya, "Apa kau?" Rendra pun menyunggingkan senyumnya, "Akhirnya kau ingat! Kau tau, aku tidak akan bersikap lunak padamu! Karena keluargamu, keluarga ku sekarang hancur dan menderita!" Billy menggeleng cepat, "Tidak! Semua kejadian di masa lalu itu sama sekali hanya kesalahpahaman! Kakekku tidak pernah membocorkan apapun!" "Huh, kau cucunya! Kau pasti membelanya!" Billy mencoba untuk tetap tenang, "Dengar! Jika kau memang ingin balas dendam, pukul aku sepuasmu, atau apapun itu, lakukanlah! Tapi, lepaskan Erina! Dia tidak tahu apa apa!" Rendra terlihat tertawa puas melihat Billy yang tidak berdaya, "Sayangnya, Aku tidak mau melepaskannya!" Rendra pun berjalan ke arah Erina, dan Ia pun membelai wajah Erina, Rendra kembali menatap ke arah Billy, "Setelah beberapa waktu aku bersamanya, Aku mulai tertarik dengan gadis ini," Billy pun tampak mengepalkan kedua tangannya, kesabarannya pun mulai habis "Aku akan menjadikannya milikku selamanya!" "Dasar sinting! Dia adalah istriku! Dan kau tidak boleh menyentuhnya sedikitpun!" Teriak Billy Rendra pun menunjukkan raut wajah sinis, "Kenapa? Aku rasa dia tidak benar benar mencintaimu, Aku tau, kau sama sekali belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya tubuh indahnya bukan?" Billy pun terdiam, Rendra semakin tertawa keras, "Aku sudah menduganya, kalian hanya terikat saja tapi seperti yang aku duga kalian sama sekali tidak benar benar saling mencintai!" Di tengah ocehan Rendra, Erina pun tersadar, Rendra tidak menyadari jika Erina mendengar semua perkataan dari mulut busuknya, Ketika Rendra lengah, Erina pun mendorong Rendra dengan kakinya hingga ia terjatuh, Billy pun berlari cepat menghampiri Erina, ketika Rendra kembali berdiri Billy pun menghajarnya, Terjadilah perkelahian sengit antara Billy dan Rendra, Hingga mereka berdua pun jatuh terguling guling di tangga, namun itu tidak menyurutkan mereka untuk kembali berkelahi, Mereka kembali berdiri dan melayangkan pukulannya, Billy dan Rendra yang sudah babak belur terus saja saling menghajar satu sama lain, Hingga Billy terpojok oleh Rendra yang memiliki senjata, Rendra memegang sebuah pisau berukuran sedang untuk mengancam Billy, "Ini sangat menyenangkan bukan? Aku tidak ingin kesenangan ini berakhir, Tapi dalam sebuah permainan harus ada pemenang bukan?" Rendra pun bersiap menghujam Billy dengan pisau nya,  Tiba tiba, 'Dorr!!' Sebuah timah panas mengenai tepat di d**a Rendra, Ia pun terjatuh Billy pun melihat kedatangan beberapa orang polisi bersama Ryan, Rupanya, Billy meninggalkan pesan untuk Ryan lewat asisten rumah tangganya, agar ia memanggil bantuan polisi. Ryan menghampiri Billy "Kau tidak apa apa?"  Billy pun mengangguk, ia bergegas menghampiri Erina dan membuka ikatannya, Erina langsung memeluk erat Billy dengan mata berkaca kaca, **** Mereka pun kembali ke rumah dengan selamat, Ryan masih belum mengerti apa yang terjadi, ia pun bertanya pada Erina, "Apa yang sebenarnya terjadi?" Erina yang baru saja selesai mengobati luka Billy pun mulai bercerita, #Flashback Erina yang tengah asik membaca buku di tepi kolam renang, dikejutkan dengan kedatangan Rendra. "Em, Ada apa?" Rendra pun tersenyum ramah, "Maaf nona, Tapi ada seseorang yang ingin menemui nona." Erina nampak mengerutkan dahinya, "Siapa?" Rendra pun berpikir sejenak, "Em, Itu rahasia nona." Erina menatap heran ke arah Rendra, namun tidak ada kecurigaan sedikitpun pada diri Erina, Ia akhirnya mau ikut bersama dengan Rendra, Erina yang melewati kamar asisten rumah tangganya, tidak mengetahui jika sebelumnya, Rendra sudah mengikat asisten rumah tangganya dan mengurungnya di kamar mandi, Namun sepanjang perjalanan, Erina merasakan ada sebuah keanehan, karena jalan yang ditempuh adalah jalan asing baginya, "Kita mau kemana?" Tanya Erina Rendra pun menatap sekilas Erina, "Kita akan menemui seseorang yang sangat ingin kau temui," Erina kembali mengernyitkan dahinya, Sesampainya di depan sebuah rumah kosong, Erina pun mulai merasa merinding dan ketakutan, Rendra pun meminta Erina untuk keluar dari mobil, Dengan langkah ragu Erina melangkah keluar, "Silahkan, Nona!" Rendra pun mempersilahkan Erina untuk masuk ke dalam rumah tersebut, Erina melihat ke arah sekitar, namun ia tidak melihat siapapun di dalam rumah itu, Erina pun mengalihkan pandangannya ke arah Rendra, namun tiba tiba Rendra membekapnya dengan sebuah kain yang sudah dibubuhi dengan obat tidur, Erina pun perlahan kehilangan kesadarannya, Rendra mengambil gelang milik Erina, Ia mengetahui jika gelang tersebut memiliki alat pelacak yang sengaja dipasangkan di gelang Erina, Rendra pun menghancurkan gelang tersebut,  *** Ditengah ketidakberdayaannya, Samar samar Erina mendengar suara yang tidak jauh dari tempatnya berada, "Bagus! Kali ini kau sudah melakukan pekerjaanmu jauh lebih baik dari dua cecunguk itu! Aku akan kirimkan sisa uang nya nanti, setelah kamu menyelesaikan pekerjaanmu," "Baik, terima kasih Nyonya!" Erina pun perlahan membuka matanya, ia melihat bayangan sosok seorang wanita yang tengah berjalan keluar, namun Erina kembali tidak sadarkan diri. **** Billy dan Ryan pun menatap bingung ke arah Erina, "Apa kau tau siapa dia?" Tanya Billy penasaran Erina pun menggeleng pelan, "Aku tidak yakin, tapi dari suara nya sepertinya aku tau orang itu," Billy dan Ryan pun saling menatap satu sama lain, Erina melangkah pergi meninggalkan Ryan dan Billy menuju ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat, Ryan menatap ke arah Billy, "Apa kau berpikiran seperti yang aku pikirkan?" Billy pun terdiam, **** Billy memutuskan untuk membawa Erina kemanapun ia pergi, Erina sudah menolaknya, namun Billy tetap bersikukuh untuk selalu membawa Erina kemanapun ia pergi. "Aku tidak mau! Aku bukan anak kecil yang harus mengekorimu!" Billy menatap tajam ke arah Erina, "Dengar, ini bukan kali pertama kau dalam bahaya! Aku tidak ingin kejadian yang lebih buruk dari ini terjadi padamu!" Erina pun berdecak kesal, "Ckk, Aku bisa menjaga diriku sendiri!" Billy pun melepas pegangan tangannya, dengan raut wajah kesal, Billy pun mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, Erina yang menyadari jika Billy tengah marah padanya pun membujuk Billy, "Maafkan aku," Namun tidak ada jawaban dari Billy, Billy malah melangkah pergi ke dalam kamarnya, Erina pun merasa bersalah, dan mengikuti langkah Billy. Billy terlihat duduk di birai kasur dan melamun, Erina pun menghampirinya dan duduk disampingnya, Erina meraih tangan Billy, "Maaf," Namun Billy malah melepas pegangan tangan Erina, dan berdiri. Erina tiba tiba menarik tangan Billy, hingga Billy terjatuh di atasnya, pandangan mereka pun bertemu, jarak mereka pun sangat dekat. Namun Billy, kembali berdiri dan hendak melangkah pergi "Tunggu," Erina mencoba untuk menghalangi langkah Billy. Erina memeluk Billy, "Jangan marah! Aku mohon! Aku tidak akan kuat jika kau mendiamkanku seperti ini," Billy yang terlanjur kecewa melepas pelukan Erina dan melangkah pergi. Erina terlihat menundukkan pandangannya, **** Billy yang merasa kesal pun memilih untuk duduk di bangku yang berada di taman depan rumahnya, Ryan yang baru tiba melihat raut wajah kecewa Billy, "Kau kenapa?" Tanya Ryan sambil menepuk bahunya Billy pun menatap ke arah Ryan, "Apa kau bertengkar dengan Erina?" Billy pun mengangguk pelan, "Kalian ini benar benar pasangan suami istri yang unik!" "Apa maksudmu?" "Dengar, kau lebih tua dari Erina, sudah seharusnya kau mengalah padanya, berbalik hati lah sedikit padanya," Billy menghela nafas panjang, "Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Erina, aku tidak bermaksud untuk overprotektif padanya, kau tau sendiri, ini bukan kali pertama Erina mengalami semua itu," Ryan pun tersenyum, "Bicaralah lagi dengannya nanti," **** Di lain sisi, Seorang wanita paruh baya sangat marah setelah mengetahui jika Rendra telah tertangkap oleh pihak yang berwajib, "Aarrgghh!!! Siaaaal!!" Teriak Wanita tersebut. "Rencana ku hancur!! Benar benar tidak berguna! Kenapa dia tidak bergerak lebih cepat melenyapkan gadis sial itu!!" Wanita itu pun membanting barang barang yang berada di sekitarnya, "Aku harus turun tangan sendiri untuk membersihkan hama ini!" **** Hingga Esok hari Billy masih merasa kesal pada Erina, Namun Billy tidak tega meninggalkan Erina sendirian, Billy memutuskan untuk mengambil cuti sementara agar bisa menemani Erina. Billy sedang asik memainkan ponselnya sambil bersandar di atas sofa panjang, Erina pun menghampiri, dan bergelayut di lengan Billy, "Sayang, Kau sudah makan?" Namun Billy tidak menggubrisnya, Erina pun menarik wajah Billy agar menatap ke arahnya, "Maafkan aku," Erina menatap dalam Billy, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Billy, Namun, Billy malah memalingkan wajahnya dan itu membuat Erina merasa kesal dan malu. Erina pun melangkah pergi, meninggalkan Billy. Billy tersenyum tipis melihat raut wajah Erina yang kesal karena sikapnya, Billy pun kembali memainkan ponselnya, **** Erina merasa sangat kesal dan malu karena sikap dingin Billy, "Iihhh menyebalkan!" Ia memukul mukul bantal dengan kedua tangannya, "Dasar bodoh!!!" Tanpa Erina sadari, Billy tengah memperhatikan nya di muka pintu, Billy tersenyum melihat tingkah polos Erina, Erina pun merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut, tiba tiba ia merasa ada seseorang yang berada di atasnya, Erina pun membuka selimutnya dan nampak Billy yang sudah berada diatas nya, Karena terkejut, Refleks Erina memukul wajah Billy cukup keras, sehingga menyebabkan Billy terjungkal ke lantai dan meringis kesakitan, "Aww!" Erina yang baru menyadari jika itu adalah Billy, bergegas menghampiri Billy, namun tanpa sengaja Erina tersandung oleh kakinya sendiri dan menyebabkan kepalanya terantuk ke kepala Billy, Keduanya pun meringis kesakitan, "Ya Ampun!, kenapa ceroboh sekali!" Erina hanya meminta maaf sambil memegang kepalanya yang kesakitan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN