"Maaf, Aku tidak sengaja!"
Erina pun mencoba untuk berdiri namun lagi lagi ia tidak sengaja menginjak tangan Billy, Billy pun kembali meringis kesakitan,
"Aww,"
"Ah, Maaf.. Aku benar benar minta maaf, Aku tidak sengaja!"
Billy pun beralih duduk di birai kasur sambil memegang wajahnya yang kesakitan, terlihat sedikit luka lebam di wajahnya, dengan kepala yang masih terasa linu.
Erina pun bergegas mengambil es batu dan kain bersih, Ia mengompres luka yang dialami oleh Billy,
"Maaf, Aku tidak sengaja!" Ucap Erina seraya mengompres luka Billy,
Billy pun menahan tangan Erina dan menatap nya dalam, wajahnya pun semakin mendekat ke arah wajah Erina.
Pandangannya tertuju pada bibir mungil berwarna merah muda itu,
Mata Erina pun terpejam, dan sentuhan manis bibir Billy pun terasa oleh Erina.
Wajah Erina merah merona menahan malu, Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Billy hanya tersenyum menatap Erina,
****
Keesokkan harinya,
Billy kembali mencoba membujuk Erina untuk ikut bersamanya,
"Ayolah, Aku benar benar tidak tenang jika meninggalkanmu sendirian disini,"
Billy terus mengikuti langkah Erina menuju ke ruang makan,
"Aku hanya tidak ingin dianggap mengekorimu, lagipula aku tidak apa apa sendirian disini, aku bukan anak kecil."
Billy pun terlihat memasang wajah masam, dan melangkah pergi.
Erina terdiam sejenak, ia akhirnya menemui Ryan untuk meminta pendapatnya tentang keinginan Billy.
Di sebuah tempat biasa mereka bertemu, Erina terlihat menunggu.
Sudah lebih dari lima belas menit Erina menunggu, akhirnya seseorang yang sedari tadi ia tunggu datang juga.
Tanpa basa basi lagi, Erina langsung menceritakan tentang sikap Billy padanya.
"Menurutku, ikuti saja keinginan Billy, bukankah semua itu untuk kebaikanmu juga? Lagipula, Billy seperti itu karena dia sangat menyayangimu," Terang Ryan.
Erina pun terdiam, Ia meraih secangkir coklat hangat dan menyeruput nya.
Erina berpikir cukup lama hingga ia kembali menatap ke arah Ryan,
"Terima kasih, setelah kupikir pikir, kakak memang benar,"
Ryan pun tersenyum,
****
Erina pun memutuskan untuk pergi menemui Billy di kantor nya,
"Tok tok tok"
Erina mengetuk pintu ruangan Billy sambil tersenyum senyum,
"Masuk,"
Terdengar suara Billy yang menyuruh nya untuk masuk, Erina pun melangkah masuk dan menyapa Billy,
"Selamat siang!" Sapa Erina.
Billy pun mengalihkan pandangannya ke arah Erina yang tengah tersenyum ke arahnya sambil membawa sebuah paper bag,
"Aku membawakan makan siang untukmu,"
Erina mendekat ke arah Billy dan menyimpan paper bag tersebut di atas meja nya,
"Apa ini?" Tanya Billy,
"Aku membeli ini di tempat biasa aku bertemu dengan kakak,"
Billy pun mengerutkan dahinya,
"Kau bertemu dengan Ryan tanpa memberitahuku?"
Billy terlihat sedikit kesal, namun Erina yang tahu itu langsung bergelayut manja di lengan Billy,
"Maaf, Aku hanya mengobrol sebentar dengannya,"
Billy pun terlihat memanyunkan Bibirnya,
Tiba tiba..
"Cupp"
Erina mencium nya begitu saja, membuat Billy berubah raut wajah kesalnya menjadi senang,
"Sekali lagi!" Pinta Billy,
Erina pun menggeleng cepat,
Billy menyentuh hidung Erina dengan jari telunjuknya,
"Dasar manja!"
Erina pun tersenyum bahagia menatap Billy,
Tiba tiba, sekretaris Billy pun masuk,
"Maaf Tuan, Meeting akan segera dimulai."
"Baik, tunggu sebentar!"
Sekretaris itu pun melangkah keluar,
Billy pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping milik Erina,
"Perbuatan mu barusan itu harus dipertanggung jawabkan,"
Erina mengernyitkan dahinya,
"Apa maksudmu?"
Billy pun berbisik di telinga Erina,
"Kau sudah menabuh gendang peperangan, jadi.. Jangan harap kau bisa berjalan normal besok!"
Erina pun mengalungkan kedua tangannya di leher Billy,
"Aku akan menunggu saat itu!"
Erina tersenyum menatap ke arah Billy,
"Hey, Kau benar benar membuat Tuan Muda Billy Owent ini tidak sabar untuk melakukannya,"
"Kalau begitu lakukanlah!" Tantang Erina
Billy pun menggendong Erina dan membaringkannya di atas kursi, Billy pun mulai menciumi Erina, namun tiba tiba suara ketukan pintu kembali terdengar,
"Maaf Tuan, klien kita sudah menunggu." Ucap sekretaris dari balik pintu.
Billy pun berdecak kesal,
"Ckk, Mengganggu saja!"
Erina pun tertawa dan mendorong tubuh Billy,
"Sudah sana! Selesaikan dulu pekerjaanmu!"
Billy pun tersenyum,
"Baiklah, Jangan kemana mana! Aku akan kembali! Tunggu aku! Oke? Kita akan lanjutkan permainannya selesai meeting,"
Erina pun tertawa melihat tingkah Billy,
"Iya, iya.. Aku akan menunggumu!"
Billy pun mencium kening Erina dengan perasaan yang dalam sebelum ia melangkah pergi.
****
Erina menunggu di ruangan Billy sendirian, karena bosan ia pun memainkan ponselnya.
Tanpa ia sadari, sejak di tempat ia bertemu dengan Ryan, dua orang pria tengah mengincarnya, dan mengikutinya hingga ke kantor Billy,
Melihat kantor Billy dalam kondisi sepi, dua orang pria yang mengenakan topeng ini pun memanfaatkan kondisi ini, mereka kemudian masuk ke dalam kantor Billy tanpa permisi dengan membawa sebuah koper berukuran besar yang cukup untuk membawa seorang manusia di dalamnya,
Erina sangat terkejut dengan kehadiran mereka yang tiba tiba ada di hadapannya,
"S-siapa kalian?"
Kedua orang pria itu pun mendekat ke arah Erina,
Erina melangkah mundur, rasa takut nya membuatnya berteriak meminta pertolongan,
"Tolong! Siapapun tolong aku!!"
Namun, karena suasana kantor yang memang sedang sepi karena letak kantor Billy yang berada di ujung, terpisah sedikit jauh dengan ruangan para staff, suara Erina pun hampir tidak terdengar.
Erina mencoba untuk mempertahankan diri, Ia melemparkan semua benda yang ada disekitarnya ke arah mereka,
Namun sayangnya, itu tidak melukai mereka sedikitpun,
Mereka semakin mendekat ke arah Erina dan..
'Greepp,'
Salah satu dari mereka pun menangkapnya dan membekapnya dengan kain yang sudah dibubuhi dengan obat tidur,
Erina yang awalnya memberontak perlahan kehilangan kekuatannya dan akhirnya kehilangan kesadarannya,
Mereka pun memasukkan Erina ke dalam koper tersebut, dan melepas topeng mereka,
Setelah dirasa aman, mereka pun menarik koper itu keluar dan berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang terjadi.
Dengan santainya, mereka melewati para karyawan disana, mereka tidak terlihat mencurigakan sama sekali di depan para karyawan, hingga di tempat parkiran mereka pun memasukkan koper tersebut ke dalam mobil van miliknya.
Salah seorang dari mereka menyunggingkan senyuman licik nya,
"Huh, Kali ini! Kau tamat!" Gumamnya.
Mereka pun bergegas pergi meninggalkan perusahaan Billy,
****
Meeting masih berlangsung hampir dua jam, namun tidak ada tanda tanda meeting akan segera selesai, itu membuat Billy mulai gelisah,
Ia merasakan perasaan yang tidak enak sejak ia meninggalkan Erina di ruangannya,
'Ckk, Kapan meeting ini selesai!' Batin Billy,
Billy terus saja memainkan bolpoin yang ada di hadapannya,
Ia pun meminta sekretarisnya untuk memeriksa Erina di ruangannya,
****
Di tengah meeting, tiba tiba terdengar suara langkah kaki cepat menerobos masuk ke dalam ruangan meeting, Semua orang pun terdiam, dan menatap ke arah sekretaris Billy,
Dengan nafas terengah engah, Sekretaris Billy mencoba untuk berbicara,
"T-tuan!"
Billy menatap heran sekretaris nya,
"Ada apa?"
Sekretaris Billy pun mengatur nafas nya agar ia bisa lebih tenang,
"Nona, Nona tidak ada di ruangan Tuan! Ruangan Tuan pun sangat berantakan!"
Billy tersentak kaget dan langsung berdiri dari duduknya,
"Apa?"
Billy langsung meninggalkan ruangan meeting menuju ke ruang kantor nya,
Dengan langkah cepat Billy akhirnya sampai di ruangannya,
Matanya terbelalak, saat ia melihat ruangannya yang awalnya di tata rapi, kini terlihat sangat hancur, seolah menggambarkan telah terjadi sesuatu disana.
Billy melihat ke arah sekeliling, kertas yang berhamburan hingga beberapa barang pecah seperti Vas bunga pun berserakan di lantai,
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Gumam Billy,
Billy pun mematung sejenak, hingga ia membalikkan langkahnya menuju ke ruang keamanan.
Ia meminta rekam CCTV yang ada disana,
Setelah diperiksa, Billy mengepalkan kedua tangannya karena ia melihat dengan matanya bagaimana Erina di bekap dan di masuk kan kedalam tas koper.