Wajah Billy berubah memerah karena menahan amarah, Ia pun berteriak
"Sialan!! Siapapun yang berani melukai istriku, Aku akan memenggal kepalanya dengan tanganku sendiri!" Teriak murka Billy.
Semua orang yang berada di ruang keamanan pun terkejut mendengar suara Billy,
Billy menarik kerah baju salah seorang keamanan,
"Kau! Apa pekerjaanmu sebenarnya? Kenapa kau membiarkan orang asing masuk dan keluar begitu saja dengan mudah, Hah!" Bentak Billy,
Ia terlihat ketakutan dengan tatapan Billy yang mengintimidasi,
"M-maaf Tuan! Saya benar benar tidak tahu jika mereka adalah penculik,"
Billy pun melepas pegangannya kasar,
Dengan nafas yang tidak teratur, Billy mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Tuan, Saya sudah menghubungi pihak kepolisian," Ujar sekretaris Billy,
Billy hanya terdiam, mengepalkan kedua tangannya.
****
Di lain sisi,
Erina yang berangsur sadar, ia merasa kesulitan untuk bergerak,
'Dimana aku? Kenapa gelap, sekali?' Batin Erina.
Erina mencoba meraba raba dan nyatanya Erina tetap tidak bisa menemukan jalan keluar,
Hingga Erina mulai memperhatikan, Ia baru menyadari jika ia mendengar suara mesin mobil.
'Apa mungkin?'
Erina mencari cara agar ia bisa keluar,
Ia menggedor gedor kap mobil yang berada di atasnya,
Namun, tidak ada yang mendengarnya.
Erina menggunakan tenaga yang tersisa untuk kembali menggedor gedor kap mobil.
Kedua orang pria yang menculiknya menyadari apa yang Erina lakukan, mereka melihatnya melalui kaca spion, namun mereka lebih memilih untuk membiarkan nya,
"Lakukan semaumu! Tidak akan ada yang menolongmu!"
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke suatu tempat,
****
Sementara itu,
Pihak kepolisian langsung bergerak untuk mencari keberadaan Erina, Billy yang tengah berada di ruangannya dengan buliran bening yang mengalir lolos begitu saja.
Tanpa ia sadari, Ryan yang sudah berada di belakangnya, Ryan mengetahui tentang Erina sesaat setelah ia sampai di kantor, sekretaris Billy menceritakan semuanya pada Ryan.
"Apa ini yang terbaik yang bisa kau lakukan?"
Billy mengalihkan pandangannya ke arah Ryan,
"Ayo, kita cari Erina! Kita tidak bisa diam saja disini!"
Billy pun jatuh terduduk dan menangis,
"Aku menyesal, menyuruh nya untuk menunggu disini!"
Ryan pun menarik kerah baju Billy,
"Kau tau! Aku merelakan Erina padamu karena aku tau kau bisa menjaganya dengan baik! Tapi melihatmu yang seperti ini, membuatku menyesal telah melepasnya untukmu!!"
Ryan melepas pegangannya kasar, Dan melangkah pergi meninggalkan Billy sendirian,
Perasaan bersalah yang Billy rasakan membuatnya tidak berdaya, semua ingatan tentang Erina terus berputar di otaknya,
****
Mobil Van yang dikendarai para pria itu pun tiba di sebuah gudang kosong yang sudah lama tidak digunakan, Erina pun diseret masuk ke dalamnya,
"Lepaskan! Lepaskan aku!" Teriak Erina sambil menangis
Namun kedua pria itu pun hanya tertawa dibalik bayangan,
"Siapa kalian!"
Mereka pun menghidupkan lampu gudang,
Mata Erina membulat sempurna saat ia mengetahui siapa yang menculiknya, tanpa terasa air mata itu pun mengalir begitu saja,
"K-kakak?"
Kevin dan Theo nampak tertawa puas karena telah berhasil membawa Erina,
"Kenapa kakak seperti ini padaku?!"
Kevin pun berdecih,
"Cih, Jangan sok polos! Kau tahu betul jika aku membencimu sejak awal kau datang ke dalam keluargaku! Kau penyebab kami kehilangan ayah dan ibu, dan kau juga penyebab kehidupan kami yang menderita seperti sekarang! Dan kau masih bertanya kenapa?" Bentak Kevin
"Jika saja kau tidak meminta permintaan konyol itu, orang tuaku tidak akan mengalami kecelakaan itu! Dan aku tidak rela kau bahagia sementara kami menderita disini!" Imbuhnya
Erina pun tergugu,
Sedangkan Kevin dan Theo memutuskan untuk melangkah pergi meninggalkan Erina sendirian di dalam gudang,
Dalam keadaan terikat Erina hanya bisa menangis, perasaan bersalah saat itu pun kembali lagi ia rasakan,
"Ayah.. Ibu.."
Tangisan itu pun semakin menjadi, Rasa kehilangan itu semakin membuat lubang besar di dalam hatinya,
****
Selama berhari hari, Billy dan Ryan mencari Erina namun tidak ada titik terang dalam pencarian mereka, Kedua orang tua Billy yang ikut mencari Erina pun belum membuahkan hasil apapun,
Billy semakin dilanda kecemasan yang teramat sangat, Ia takut jika sesuatu yang buruk menimpa Erina.
Di lain sisi,
Erina menerima siksaan setiap harinya dari kedua saudara angkatnya itu, hingga wajah dan tubuhnya dipenuhi oleh lebam dan darah yang telah mengering.
Erina hanya bisa menjerit karena kesakitan,
'Bugg'
Satu pukulan kembali ia terima dari Kevin, Erina pun kembali menjerit kesakitan,
"Aaaa!"
Tangisan Erina tidak mampu meluluhkan hati mereka, semakin keras Erina menangis semakin puas mereka mendengarnya,
"Kak! Aku sudah mulai bosan, bagaimana kalau kita habisi saja dia!" Ujar Theo
'Degh'
Erina hanya bisa menangis saat mendengar Theo mengucapkan hal itu,
'Billy, tolong aku!' Batin Erina,
****
'Degh'
Billy merasakan sesuatu di hatinya, ia pun memegang d*d* nya,
Ryan yang melihat Billy bertingkah aneh pun bertanya,
"Ada apa?"
Billy menatap ke arah Ryan,
"Aku merasa, Erina memanggilku,"
"Apa?"
Tiba tiba terdengar suara dering ponsel Billy,
In Call
"Hallo?"
Mata Billy terbelalak saat mendengar suara dari seberang telpon,
"Baik, Aku kesana!" Ujar Billy,
End Call
Billy berjalan cepat menuju ke mobilnya, Ryan yang mengikuti langkah Billy hanya menatap heran.
"Tunggu! ada apa?" Tanya Ryan yang menghalangi langkah Billy,
"Orang orang ku sudah menemukan lokasi Erina di sekap,"
"Apa?"
"Orang orang ku sedang dalam perjalanan ke lokasi itu,"
"Kalau begitu, aku ikut denganmu!"
Billy pun kembali melanjutkan langkahnya bersama Ryan menuju lokasi yang dikirimkan oleh orang suruhannya.
Namun, perjalanan Billy terhalang oleh kemacetan karena adanya kecelakaan lalu lintas di Depannya.
"Sial! Bisa bisanya di situasi seperti ini," Gerutu Billy,
Billy pun mencari jalan pintas agar ia bisa lebih cepat sampai di lokasi tersebut.
****
Di lain sisi,
Erina kembali diseret oleh Theo menuju ke dalam mobilnya dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat hantaman dari Kevin,
Setelah memasukkan Erina ke dalam mobilnya, mereka pun bergegas membawa Erina ke suatu tempat.
Selang satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah pantai, mereka bergegas membawa Erina untuk menaiki salah satu kapal disana,
Sementara itu,
Billy yang baru saja tiba bersama Ryan di gudang, tidak mendapati siapapun disana, Ia memperhatikan sekitarnya namun tidak ada apapun disana, hingga tanpa sengaja pandangannya pun mengarah ke arah cairan merah yang berceceran di lantai gudang,
Cairan tersebut ada yang sudah mengering, namun ada pula yang masih segar, Billy pun semakin cemas memikirkannya,
Tiba tiba,
Salah satu orang suruhannya menghampirinya,
"Tuan, tadi aku melihat nona dibawa oleh kedua orang itu ke arah pantai,"
"Apa?"
Billy dan Ryan pun bergegas menuju kesana, dengan kecepatan penuh ia mengendarai mobilnya, Hingga membuat Ryan memegang erat pegangan yang berada disampingnya, Ryan melihat ke arah Billy, ia belum pernah melihat raut wajah Billy yang semarah itu,
Sesampainya disana,
Billy mendapati Kevin dan Theo yang baru saja turun dari kapalnya,
Namun kevin dan Theo yang menyadari kehadiran Billy langsung berlari cepat, untungnya mereka berhasil dihentikan oleh orang orang suruhan billy,
Mereka pun dibekuk, Billy menarik kasar baju Kevin,
"Dimana Erina!" Bentak Billy,
Namun, Kevin dan Theo malah menunjukkan senyuman di sudut bibirnya,
"Kau terlambat Tuan muda!" Ucap Kevin.
Billy perlahan melepas pegangannya,
"Istri tercinta mu itu, sudah menemui penciptanya!" Imbuh Kevin
Mata Billy membulat sempurna seketika saat ia mendengar pengakuan Kevin.
Ia menggeleng cepat,
"Tidak!"
Kevin kembali tertawa,
"Ha ha ha, Tapi Itu lah kenyataan nya Tuan! Mungkin sekarang jasadnya sudah menjadi santapan ikan predator dibawa sana!"
Billy yang tidak terima langsung menghajar Kevin habis habis an, hingga darah segar keluar dari mulut kevin,
Ryan pun memerintahkan orang orang Billy untuk membawa Kevin dan Theo ke kantor polisi,
Billy pun terduduk dan menangis menatap lautan di hadapannya, Tiba tiba ia berdiri dan hendak menceburkan dirinya ke lautan, namun Ryan mencoba untuk menghalanginya,
"Jangan bodoh!! Apa kau mau mati?" Bentak Ryan.
"Iya! Aku lebih baik mati saja! Daripada aku harus hidup tanpa nya!"
Ryan mencoba untuk menenangkan Billy,
"Dengar, Jika kau mati, para Penjahat itu tidak akan mendapat ganjaran dari perbuatan mereka! Mereka akan bebas dan hidup tenang begitu saja!"
Billy pun terdiam sejenak, ia memikirkan apa yang Ryan ucapkan.
"Aarrggghhhh!!" Teriak frustasi Billy.
****
Billy memutuskan untuk menyusul orang orang suruhannya ke kantor polisi,
Ia melaporkan mereka atas tuduhan penculikan dan pembunuhan berencana, Ia kemudian memberikan bukti bukti berupa rekaman CCTV pada saat Erina diculik,
Sepanjang proses pengadilan, Billy tidak pernah menunjukkan raut wajah ramah, Ia terus menuntut agar mereka berdua di hukum mati atas perbuatannya.
Namun, pengadilan nyatanya hanya menjatuhi mereka hukuman penjara seumur hidup, dan itu tidak membuat Billy puas.
Billy pun melangkah pergi meninggalkan ruang sidang dengan perasaan kecewa.
****
Sejak kepergian Erina, pribadi Billy berubah drastis, Ia menjadi sangat dingin kepada semua orang, ia tidak banyak bicara, dan fokus nya hanya pada pekerjaannya.
Jangankan untuk tertawa, sekedar tersenyum saja ia tidak mau melakukannya,
Hari harinya ia jalani seperti seorang mayat hidup,
Selama hampir dua tahun ini, Ryan dan kedua orang tua Billy mencoba untuk menjodohkan Billy dengan wanita yang lain, namun hasilnya tetap saja sama.
Seperti sore ini,
Ryan sudah mengatur pertemuan untuk perjodohan Billy dengan seorang wanita untuk kesekian kalinya, yang menurut nya wanita ini masuk ke dalam kriteria wanita idaman Billy,
Seorang wanita yang cantik, tinggi, putih, seksi, pintar dan menyenangkan untuk diajak bicara.
"Hallo, Namaku Claudia," Ucap seorang wanita berparas cantik ini,
Namun uluran tangannya tidak disambut baik oleh Billy, ia hanya menunjukkan raut wajah datar dan dingin nya pada wanita ini.
Billy hanya duduk dan diam,
Claudia pun menarik kembali tangannya, dan mencoba untuk kembali tersenyum
"Emm, Apa kau Billy?"
Billy pun menatap ke arah wanita tersebut,
"Bukankah sudah jelas? Tidak seharusnya kau menanyakan sesuatu yang sudah jelas di depan matamu," Ucap dingin Billy,
Claudia pun merasa salah tingkah mendengar jawaban Billy,
"Ah I-iya, Kau memang benar! Aku salah menanyakan hal ini padamu,"
Claudia pun terdiam untuk sesaat,
"Emm, ngomong ngomong Apa pekerjaanmu?"
Billy kembali menatap Claudia,
"Aku tidak suka berbasa basi, Aku yakin kau sudah tahu tentangku, jadi aku rasa sekarang hanya tinggal membuat keputusan ya atau tidak,"
Claudia pun tersenyum,
"Haa, Kau benar! Aku memang sudah mengetahui tentang dirimu dari Ryan, dan ternyata kau tipe orang yang tidak suka basa basi, baiklah! Aku menyukaimu, dan aku akan mengatakan ya untuk perjodohan ini,"
Billy pun berdiri dari duduknya, dan mengancingkan jas nya,
"Maaf, tapi tidak untukku!"
"A-apa?"
Billy pun melangkah pergi begitu saja,
****
Ryan dan kedua orang tuanya pun merasa khawatir melihat sikap Billy,
"Ryan, Apa kau tidak bisa mengajak bicara Billy, atau membawanya pergi?" Tanya Diana dengan mata berkaca kaca,
"Aku sudah mencobanya, tapi Billy selalu menolak!"
Diana pun terlihat bersedih melihat sang putra yang selalu murung.
Setiap malam, Diana beberapa kali memergoki Billy yang tengah menangis di sudut kamarnya, Ia menyalahkan dirinya setiap saat atas apa yang menimpa Erina,
Ibu mana yang tidak merasa sedih melihat anaknya terpuruk, Setiap saat Diana selalu menghibur dan memberi Semangat untuk Billy, namun Billy hanya tersenyum tipis, Billy terlihat kehilangan arah dan frustasi setelah kejadian itu.
****
Billy tengah dalam perjalanan menuju tempat pertemuan di salah satu hotel, namun ditengah jalan mobil yang ia kendarai mogok, dan itu sempat membuatnya kesal.
"Ckk, Menyebalkan!"
Decak kesal Billy,
Namun Billy memilih untuk turun dan mencari taksi,
Setibanya di lobby hotel, Billy yang terburu buru tanpa sengaja menabrak seorang gadis,
"Brukkhh"
Buku yang sedang di pegang gadis itu pun berjatuhan, Billy pun membantu memungutinya,
"Maaf, Aku tidak sengaja!" Ucap Billy tanpa menatap ke arah gadis itu.
"Tidak apa apa!" Jawab gadis itu.
Saat Billy menyerahkan buku tersebut, tangannya pun tiba tiba kembali menjatuhkan buku buku itu,
Ia terdiam mematung melihat sosok gadis di hadapannya,
Gadis itu merasa aneh, dan ia pun memungut buku buku nya yang terjatuh,
Dengan bibir bergetar, Billy mencoba mengucapkan sesuatu.
"E-erina?"
Gadis itu pun menatap aneh ke arah Billy,
"Maaf, Apa aku mengenalmu?"
Tiba tiba..
"Grepp"
Billy langsung memeluk erat gadis yang hanya membulatkan matanya karena terkejut dengan perlakuan Billy,
Billy pun menangis sambil terus memeluk gadis itu,
"Aku merindukanmu! Aku sangat merindukanmu!"
Gadis itu pun merasa risih dan mencoba untuk melepas pelukan Billy,
Namun Billy semakin erat memeluk gadis itu,
"T-tuan! Bisakah kau melepaskan pelukan mu?" Pinta gadis itu,
Billy menatap ke arah gadis tersebut, Ia mengelus lembut wajah Gadis itu,
"Ini benar benar nyata? Kau benar benar kembali!"
Gadis itu pun mencoba menjelaskannya pada Billy, Namun Billy tidak mau mendengarkan,
Karena kesal dengan sikap Billy, gadis itu pun menginjak kaki Billy hingga Billy meringis kesakitan, dan berkata,
"Hey Tuan! Nama ku Kirana bukan Erina! Anda sudah salah mengenali seseorang!" Bentak Kirana
Billy pun menggeleng cepat seraya menahan rasa sakit nya,
"Tidak, Aku yakin kau adalah Erina, Istriku!"
Kirana pun berdecak kesal,
"Ckk, Benar benar keras kepala! Aku masih single dan belum menikah, lihat saja bahkan jari ku masih kosong!" Ucap Kirana sambil menunjukkan jarinya.
"Dasar aneh!"
Kirana pun melangkah pergi melewati Billy begitu saja, meninggalkan Billy yang terdiam mematung.
****
Setelah pertemuannya dengan Kirana, Billy terlihat tidak berkonsentrasi saat meeting, dan membuat Ryan menatap heran padanya,
"Kau Kenapa?"
Billy pun menghela nafas panjang,
"Tadi, Aku bertemu dengan Erina." Ucap Billy tanpa menatap ke arah Ryan
"Apa?" syok Ryan
Ryan begitu terkejut sehingga ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Billy,
"Kau tidak sedang sakit, kan?" Tanya Ryan
Billy pun menepis tangan Ryan,
"Aku tidak apa apa!"
"Kau tidak percaya? Yang aku lihat benar benar Erina, Ia memakai rok pendek kotak berwarna coklat dengan sweater berwarna abu, sepatu kets, dengan rambutnya yang pendek dan senyumnya... Aku masih ingat itu adalah senyuman milik Erina," Imbuhnya
Ryan mengernyitkan dahinya, di dalam hatinya Ryan takut jika Billy mulai berhalusinasi tentang Erina.
Ryan hanya menatap Billy yang tersenyum senyum sendiri,
****
Ryan memutuskan untuk menceritakannya kepada kedua orang tua Billy,
Kedua orang tua Billy syok mendengar cerita Ryan,
"Apa kau yakin, Jika yang dilihat oleh Billy adalah Erina?"
Ryan menggeleng pelan,
"Aku belum pernah bertemu dengan gadis yang Billy maksud,"
Ryan terdiam sesaat,
"Aku takut, Jika Billy ternyata depresi karena kejadian yang menimpa Erina."
William pun mengangguk pelan