Setelah kepergian Diana, Erina pun mendorong tubuh Billy dengan cukup kuat dan menyebabkan Billy terjatuh dari atas tempat tidurnya
"Sudah cukup aktingnya! Aku akan kembali ke kamarku."
Karena terburu buru, Erina pun tersandung kakinya sendiri dan jatuh ke pelukan Billy, Tatapan mereka pun saling bertemu, sesaat mereka pun mematung,
'Degh'
'Kenapa rasanya jantungku berdebar dengan cepat?' Batin Erina, hingga Erina tersadar
"Emm, Sebaiknya A-aku pergi." Ujar Erina.
Erina pun melangkah pergi meninggalkan Billy yang terlihat mengukir senyuman di balik punggung Erina, senyuman itu pun tiba tiba redup tatkala Billy mendapatkan panggilan dari seseorang yang tidak ingin ia temui.
Setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya Billy memilih untuk tidak menghiraukannya dan lebih memilih untuk pergi membersihkan dirinya.
****
Sementara itu, Di ruang makan terlihat
Diana yang tengah menyiapkan sarapan untuk putra dan menantunya, dikejutkan dengan suara bel yang terdengar berulang kali, Diana pun meminta bantuan seorang pelayan untuk membukakan pintu.
Tak lama kemudian, si pelayan datang bersama seorang gadis cantik yang mengenakan dress berwarna baby pink, dan rambut panjang terurai
"Hallo, selamat pagi!" Sapa ramah gadis itu.
Sontak Diana pun menghentikan pekerjaannya, menatap gadis yang sudah tidak asing lagi baginya dan menghampiri gadis itu, dengan menyilangkan kedua tangannya dan raut wajahnya yang sangat terlihat tidak menyukai kedatangan gadis itu.
"Untuk apa kau kemari?" Tanya sinis Diana
"Maaf bu, Tapi Aku kemari karena aku ingin menemui Billy."
Diana menggelengkan kepalanya, dan tersenyum sinis mendengar perkataan gadis itu.
"Huh, Tidak! Jangan dekati putra ku lagi!" Tegas Diana.
"Tapi bu, Aku…" Ucap Gadis ini terpotong karena melihat Erina yang menghampiri mereka.
"Ada apa bu?" Tanya Erina
Diana pun langsung merangkul Erina dan dengan lantang Diana mengatakan
"Ini adalah menantuku! Istri sah Billy!"
Gadis itu pun tergugu, ia langsung mengepalkan tangannya dan menatap sinis Erina, terlihat sekali jika ia tidak menyukai kehadiran Erina.
Di tengah tegangnya suasana tiba tiba
"Lisa?"
Terdengar suara seseorang yang memanggil nama gadis itu, mereka bertiga pun melihat ke arah suara, dan menampakkan Billy yang tengah berjalan menuju ke arah mereka.
Lisa pun langsung tersenyum melihat Billy, menghampirinya dan bergelayut di lengan Billy seraya bersikap manja terhadapnya.
"Sayang, Ayo kita pergi!"
Diana pun membulatkan matanya melihat Lisa yang berani melakukan hal itu di depannya dan Erina.
Diana pun menarik kasar tangan Lisa yang terus bergelayut di lengan Billy.
"Apa kau tidak malu berbuat seperti itu pada suami orang?" Teriak Diana.
Lisa pun mengeluarkan senyuman di ujung bibirnya
"Untuk apa aku malu? Lagi pula, Kami saling mencintai jauh sebelum bocah ingusan ini datang!"
Diana pun menggeleng pelan, merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Lisa.
Billy pun melangkah pergi bersama Lisa, namun siapa sangka saat tepat di muka pintu Billy justru mendorong Lisa keluar rumah hingga Lisa terjatuh dan meringis kesakitan
"Aww, Billy!!" Teriak Lisa.
Karena teriakan Lisa, Erina dan Diana pun menghampiri mereka.
Erina dan Diana menyaksikan Billy yang sedang menunjuk Lisa sambil berkata
"Jangan menghina dirimu sendiri, dengan mengejar suami orang lain!" Tegas Billy.
Diana pun memiringkan senyuman merasa puas melihat Lisa yang tengah meringis kesakitan, Diana pun terlihat menyukai pertunjukan di depan matanya itu.
Billy langsung menutup pintu rumahnya, dan membiarkan Lisa sendiri.
Lisa pun melangkah pergi.
****
Lisa merasa sangat kesal dengan kejadian yang baru saja ia alami, ia mengusap kasar wajahnya dan mengacak acak rambutnya karena frustasi dengan sikap Billy terhadapnya, Lisa tidak menyangka jika Billy akan begitu tega terhadapnya dan mempermalukan dia di hadapan Diana dan Erina.
Lilian yang melihat Lisa seperti itu pun langsung menahan tangan Lisa agar tidak menyakiti dirinya sendiri
"Hentikan! Ibu mohon, Hentikan!" Teriak Lilian.
Lisa pun menangis di pelukan sang ibu.
"Aku tidak mau kehilangan Billy, bu!"
Lilian pun hanya ikut bersedih melihat keadaan putri semata wayangnya.
****
Sementara itu, Billy tengah menikmati sarapannya bersama Erina dan ibu nya Diana, Diana yang masih merasa kesal dengan kejadian yang baru saja terjadi, ia akhirnya memberikan Billy peringatan
"Ibu harap, kejadian seperti tadi tidak terulang lagi Billy."
Billy pun mengangguk paham, sedangkan Erina hanya terdiam
'Jadi, gadis yang tempo hari bersama dengan Tuan itu bernama Lisa?' Batin Erina.
Diana yang melihat gelagat aneh Erina pun, memegang tangannya hingga lamunan Erina pun buyar.
"Erina?"
"Ya bu?"
Diana pun tersenyum hangat
"Jangan terlalu dipikirkan, Wanita itu hanya masa lalu Billy, jadi ibu akan pastikan dia tidak akan mengganggu kalian."
Erina pun hanya mengangguk pelan,
Diana menatap ke arah Billy yang terlihat datar dan memberi kode pada Billy untuk membujuk Erina, namun Billy menolaknya.
Tiba tiba terlintas sebuah ide, Diana pun mengatakan jika ia sudah menyiapkan semuanya untuk liburan bulan madu mereka selama dua hari, sebelum Erina kembali masuk ke sekolah
"Apa? Bulan madu?" Syok Erina dan Billy bersamaan.
"Iya, Ibu sudah menyiapkan semuanya, dari mulai tiket, penginapan dan yang lainnya."
"T-tapi…"
"Tidak ada penolakan!"
Diana pun melangkah pergi meninggalkan mereka berdua yang terlihat kebingungan.
"Bagaimana ini?" Ucap pelan mereka.
****
Erina sedang duduk terdiam di halaman belakang rumah, menatap kosong pemandangan yang berada di hadapannya, Erina masih tidak percaya jika ia terjebak disini dengan perjanjiannya bersama Billy.
Rasanya, baru kemarin Erina keluar dari yayasan yatim piatu yang selama hampir 9 tahun telah merawatnya dan hidup bersama kedua orang tua angkatnya, rasanya waktu terasa sangat singkat Erina jalani selama 8 tahun bersama orang tua angkatnya.
Ia benar benar merasa sangat merindukan kedua orang tua angkatnya Alan dan Amanda, ia juga sangat ia merasa benar benar bersalah karena telah meminta mereka untuk pulang, jika saja ia tahu jika kecelakaan itu akan terjadi, Erina akan menghalangi mereka untuk pulang, benar apa yang diucapkan oleh Kevin dan Theo kedua kakaknya, jika semua yang terjadi pada kedua orang tua mereka adalah kesalahan Erina pikirnya, Erina pu. Merindukan Ariana pengurus yayasan yang pernah menjadi tempat tinggalnya dulu yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri, namun karena jarak yang jauh membuat Erina tidak bisa berbuat apapun.
Airmata itu pun tanpa terasa mengalir begitu deras, Erina merasa benar benar kesepian dan tidak memiliki keinginan apapun untuk memperjuangkan kehidupannya, Ia bahkan merindukan kedua orang tua kandungnya yang bahkan belum pernah ia lihat selama hidupnya.
Erina pun terisak, perih dan sakit ia rasakan, Erina hanya memukul mukul dadanya berusaha untuk kuat.
"Kenapa? Kenapa hidupku se-sial ini!" Ucap pelan Erina.
Tanpa Erina sadari, Billy memperhatikan Erina yang tengah menangis tersedu sedu meratapi nasibnya, Billy pun hanya terdiam dan membiarkan Erina meluapkan kesedihannya.
****
Jam makan siang pun tiba, Diana baru kembali setelah mempersiapkan semuanya untuk bulan madu putra dan menantunya itu, diana pun menghampiri Erina dan Billy yang sedang menyantap makan siangnya,
"Hallo semuanya! Apa kalian sudah menyiapkan kopernya?"
Billy dan Erina pun saling menatap
"Jadi ibu serius menyuruh kami untuk berbulan madu?" Tanya Billy.
"Tentu saja! Semuanya sudah siap, dan mobil kalian sudah menunggu di depan."
"Apa tidak apa apa jika kami pergi bulan madu? Bukankah ibu sendiri yang bilang untuk menunda momongan sampai Erina menyelesaikan sekolahnya?"
Diana pun tersenyum mendengar perkataan Billy,
"Billy, kau itu benar benar polos atau pura pura tidak tahu?"
"Maksud ibu?"
"Kau kan bisa menggunakan penghalang saat akan melakukan itu,"
Billy pun langsung tersedak
"Ohook.. Ohook."
Diana tertawa melihat reaksi Billy yang terlihat canggung dan salah tingkah saat sang ibu mengatakan hal tersebut.
Sedangkan wajah Erina hanya tertunduk dan merah menyala karena menahan malu.
"Sudah, pergilah! Tidak usah berkemas, jika kalian membutuhkan pakaian, kalian bisa langsung membelinya di sana!"
"Maaf, Tidak bisa bu! Billy harus kembali ke kantor besok, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan! Nanti saja jika pekerjaannya sudah selesai"
Diana pun terlihat kesal dengan jawaban putranya itu, Saat itu Billy menatap ke arah Erina dan mengingatkan Billy dengan kejadian tadi pagi saat Erina menangis, Billy pun berpikir sejenak, Hingga Billy pun angkat suara kembali
"Baiklah, kami akan pergi!"
Seketika pandangan Erina pun langsung mengarah ke arah Billy karena merasa terkejut dengan ucapan Billy yang berubah pikiran, Diana yang langsung tersenyum senang mendengar perkataan Billy pun langsung menarik tangan Billy dan Erina dengan paksa, Erina dan Billy pun melangkah pasrah mengikuti langkah Diana.
****