Bulan madu

1176 Kata
Lebih dari dua jam perjalanan yang Erina dan Billy tempuh dengan menggunakan pesawat pribadi mereka, tidak ada obrolan yang berarti diantara Erina dan Billy, mereka hanya fokus pada ponsel nya masing masing, hingga seorang pramugari menghampiri mereka dan memberi tahu jika mereka telah sampai di sebuah pulau yang telah disewa khusus untuk mereka dan akan segera mendarat. "Permisi Tuan dan Nyonya, pesawat akan segera mendarat mohon gunakan sabuk pengamannya." Billy dan Erina pun mengangguk paham, "Emm, ngomong ngomong kenapa kau berubah pikiran tadi?" Tanya Erina menatap Billy. "Anggap saja, ini sebagai hiburan untukmu," "H-hah?" **** Mereka pun telah sampai di sebuah penginapan yang cukup besar dengan pemandangan pantai di depannya, seorang pelayan mengantar mereka ke sebuah kamar. Erina begitu terkejut saat ia melihat hanya ada satu buah tempat tidur di hadapan mereka, "A-apa kita akan tidur disini?" "Iya, memangnya kenapa?" Billy pun melangkah santai dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, "Apa kau hanya akan berdiri saja?" Tanya Billy menatap Erina. Erina tidak menjawab perkataan Billy, ia  lebih memilih untuk duduk di teras dan memandang birunya lautan dan sedikit melamun, Karena merasa bosan ia memutuskan untuk menghubungi seseorang, namun belum sempat Erina menekan angka, Billy tiba tiba datang menghampirinya dan mengambil ponselnya "Eh, berikan padaku! Itu milikku!" Ucap Erina sambil melompat berusaha mengambil ponselnya yang berada di tangan Billy. "Kau tidak boleh menghubungi siapapun termasuk Ryan!" Seketika Erina pun berhenti melompat, dan memasang wajah kesal "Apa hakmu melarangku seperti itu? Kau memeluk Lisa saja, Aku tidak marah!" Billy pun terdiam mendengar ucapan Erina dan menyodorkan kembali ponsel itu kepada Erina Erina pun mengambil kembali ponselnya "Aku hanya tidak ingin mengecewakan ibu, jika kau menghubungi Ryan maka Ryan pasti akan menyusul kita kemari dan tidak menutup kemungkinan Lisa juga akan melakukan hal yang sama," Billy pun melangkah pergi meninggalkan Erina yang terdiam karena perkataan Billy. **** Malam pun tiba, Erina yang baru saja selesai membersihkan dirinya dikejutkan oleh beberapa orang yang telah menunggunya di kamarnya "K-kalian siapa?" "Maaf nona, Kami diutus oleh Nyonya besar untuk mempersiapkan penampilan anda malam ini," "Pe-penampilan apa?" Tanpa banyak bicara orang orang itu pun langsung menarik Erina untuk duduk di depan meja rias, mereka memakai kan make up untuk Erina, dan memakai kan Erina sebuah gaun berwarna soft yang sangat indah dan membuat Erina semakin terlihat cantik dan segar. Sementara itu, Billy tengah menunggu di sebuah meja yang telah dihiasi banyak bunga dan lampu lampu kecil yang menyala dan terletak di pinggir pantai, suasana romantis sangat terasa sekali malam ini. Pandangan nya pun teralihkan oleh langkah seorang gadis, Billy terpana melihat penampilan gadis tersebut. "Cantik," Ucap pelan Billy. "Kau bilang apa?" Tanya gadis tersebut yang ternyata adalah Erina Billy pun mengalihkan pandangannya "Tidak!" Erina pun duduk berhadapan dengan Billy, dan melihat sekitarnya, "Suasana nya menyenangkan, Apa kau yang menyiapkan semua ini?" "Bukan! Ibu yang menyiapkan nya, ku rasa ibu ingin memberikan kesan malam romantis untuk kita," "Begitu ya? Tapi aku menyukai nya, ini benar benar indah." "Sudah lah, lebih baik kita makan!" Billy dan Erina pun mulai menyantap hidangan yang telah disediakan dengan lahap, Erina terlihat tidak terlalu canggung bersama Billy, karena ia memang sudah mulai terbiasa dengan sikap dingin dan datar Billy. Makan malam pun telah selesai begitu saja, mereka kembali ke penginapan untuk beristirahat. Namun, saat Erina berada di kamar tiba tiba Erina merasa kepanasan, meski AC sudah dinyalakan Erina tetap merasa kepanasan. "Ada apa denganku? Kenapa rasanya panas sekali?" Semakin lama, rasa panas itu pun semakin menjadi, sehingga Erina berteriak untuk meminta pertolongan. Teriakan itu pun terdengar oleh Billy, Billy pun berlari menuju kamar Erina karena khawatir jika terjadi sesuatu. Billy terkejut melihat Erina dalam kondisi setengah sadar di lantai. Billy pun menghampiri Erina dan menepuk nepuk pipi Erina "Kau kenapa?" panik Billy. Erina pun sedikit membuka matanya dan tersenyum lebar menatap Billy, Erina mengelus lembut pipi Billy. "Tampan, Tolong aku!" Ujar Erina dengan nada menggoda. Tangan Erina mulai mengelus d**a bidang Billy dengan tatapan sayu. Billy pun merasakan ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada Erina karena sikap Erina yang tidak biasa. Billy pun memangku Erina dan masuk ke dalam kamar mandi, ia membaringkan Erina di bathtub, dan menyiramnya dengan air dingin secara terus menerus. Sontak Erina menjerit karena terkejut. "Argh! Apa yang kau lakukan?" "Hanya dengan cara ini kau bisa kembali sadar!" Hampir satu jam Billy mengguyur Erina dengan air dingin, hingga perlahan kesadaran Erina pun pulih. "Hentikan! Aku kedinginan!" Billy pun menghentikan nya, dan menatap Erina lekat "Kau sudah sadar sekarang?" Erina pun mengangguk pelan, Erina yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, mencoba untuk bertanya pada Billy "Sebenarnya, ada apa dengan ku?" Tanya Erina. "Lebih baik ganti baju mu!" Billy pun tanpa menjawab pertanyaan Erina, ia langsung pergi menemui kepala pelayan yang melayani mereka selama bulan madu. Billy pun memergoki kepala pelayan tersebut tengah menghubungi seseorang "Saya sudah melakukan perintah Anda," Billy pun merebut ponsel tersebut dari si pelayan, dengan raut wajah marah Billy pun berkata "Bu! Jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi! Itu akan membahayakan Erina!" "Billy? Billy, dengarkan ibu nak! Ibu hanya…" Karena kesal, Billy langsung mematikan ponselnya sepihak dan menunjuk sang pelayan "Sekali lagi aku pergoki kau melakukan kesalahan, aku tidak akan segan segan membunuhmu!" Ancam Billy. Si pelayan itu pun memohon maaf pada Billy atas kesalahan yang ia berbuat, saat pelayan tersebut mohon maaf, Erina pun datang menghampiri mereka "Ada apa? Apa yang terjadi? Kau tidak boleh seenaknya mengancamnya seperti itu!!" Billy pun terdiam.. "Katakan! Ada apa ini!" Teriak Erina Karena masih merasa kesal, Billy pun angkat suara "Apa kau tau, makan malam yang kau santap tadi, sudah dicampurkan dengan obat perangsang! Dan itu yang membuatmu jadi seperti tadi!" Jelas Billy. "A-apa?" Syok Erina. Erina menatap tajam sang pelayan "Maaf kan saya, saya hanya mencoba menuruti perintah Nyonya besar, itu saja nona! Tolong maaf kan saya!" Jelas si pelayan sambil berlutut memohon. Billy yang masih merasa kesal pun langsung melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. **** Keesokan harinya, Billy sedang duduk di tepi pantai sedikit melamun, ia tidak habis pikir jika ibu nya akan bisa berbuat seperti itu, untung saja Billy bisa menahan godaan tersebut, jika saja ia tidak bisa menahannya Billy tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Billy pun mengambil sebuah batu kecil dan melemparnya sejauh mungkin yang ia bisa. "Kau masih marah pada ibu?" Billy pun mengalihkan pandangannya ke arah suara "Itu bukan urusanmu!" Billy pun hendak melangkah pergi "Jangan memendam kemarahan terlalu lama, apalagi terhadap ibumu, dia melakukan semua itu pasti ada alasan nya." Billy membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Erina "Apapun alasan nya, itu tidak akan membenarkan tindakannya!" "Tapi apapun tindakan seorang ibu, ia melakukan nya karena rasa Sayangnya, terhadap anak nya. Kau beruntung, memiliki seorang ibu yang menyayangimu yang masih bisa kau peluk, jangan sia siakan itu hanya karena emosi sesaat. Lagipula, yang terpenting aku baik baik saja." Billy pun melangkah pergi.. Tak lama Erina pun menerima sebuah panggilan dari seseorang "Hallo,Kak Ryan?" "Bagaimana kabar mu?" "Baik Kak," "Ku dengar, kalian sedang bulan madu?" "Hmm," "Ada apa?" Erina pun menceritakan kejadian yang ia alami semalam, Ryan terdengar syok saat mendengar penuturan dari Erina. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN